NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 8

"Jadi semua utang saya ditanggung sama Pak Hugo?" Asia ternyata hanya fokus pada hal itu. Itu wajar karena dia terbelenggu oleh utang ayahnya. Jadi otaknya memang terpikir hanya bagaimana caranya dapat uang untuk bayar utang.

"Ya. Semua," jawab Kapten Hugo singkat.

Asia diam. Matanya melihat ke Gilang dan Pak Hugo bergantian. Menimbang keputusannya dengan cepat.

"Saya sanggup. Karena kondisi saya, saya butuh uang banyak. Tapi apa Anda tidak apa-apa?"

Kapten Hugo mengerjap, sedikit terkejut dengan pertanyaan balik dari Asia.

"Istri kontrak itu terlalu ekstrem," bisik Asia.

Gilang yang mendengar hal itu tersenyum. Menurutnya, Asia ini tipe wanita blak-blakan tapi masih penuh dengan perhitungan. Semua hal yang kurang nyaman tetap ia utarakan, tapi dengan intonasi yang dibuat halus agar terasa tepat di telinga.

"Saya tidak tahu pasti, tapi kalau sekarang perwira seperti Anda punya istri kontrak, apa enggak apa-apa?" tanya Asia lagi.

"Itu urusan saya dan Anda tetap menutup mulut," jawab Kapten Hugo tegas.

"Ah, iya. Benar." Asia manggut-manggut. Ia mengerti.

"Anda setuju?" tanya Kapten Hugo balik. "Saya harus memastikan dulu Anda setuju atau tidak. Karena jika Anda tidak setuju, bisa saja Anda akan membocorkan hal ini ke publik."

Asia paham. Pertemuan perwira dengan orang biasa saja sudah aneh, apalagi jika membahas urusan seperti ini.

"Saya tidak seperti itu. Tidak peduli bagaimana, saya lebih memilih tidak mencampuri urusan orang lain. Saya sudah terlalu lelah dengan masalah saya sendiri, jadi tidak perlu menambah masalah milik orang lain."

Kapten Hugo dan Gilang mendengarkan. Sorot mata Asia tampak jujur dan tidak sedang bersandiwara. Namun, Kapten Hugo wajib memastikan segalanya aman.

"Anda setuju? Jika setuju, kita akan bahas selanjutnya."

"Utang saya lunas dan kehidupan saya terjamin, kan?" Asia memastikan untuk terakhir kali.

"Ya."

"Baik. Saya setuju."

Kapten Hugo memberi kode pada Gilang. Pria itu mendekat dan menyodorkan berkas di atas meja ke hadapan Asia.

"Ini kontrak yang hanya diketahui kita bertiga," ujar Gilang. "Baca dan tanda tangani."

Asia tidak langsung mengambil pena. Dengan tenang, dia membalik lembar demi lembar berkas tebal itu secara cepat. Dia melewati pasal-pasal hukum yang bertele-tele dan langsung mencari halaman yang memuat poin paling krusial bagi hidupnya. Nominal pelunasan utang, hak perlindungan, dan besaran gaji yang akan diterimanya.

Setelah matanya memastikan semua angka dan poin utama itu tertulis dengan benar dan sesuai dengan kesepakatan lisan mereka, barulah Asia mengambil pena dan membubuhkan tanda tangannya di lembar terakhir.

"Anda membacanya dengan sangat cepat," komentar Gilang.

"Saya hanya membaca apa yang perlu saya baca," jawab Asia lugas. "Buat orang yang punya utang seperti saya, memastikan angka-angka ini tertulis dengan benar adalah hal yang paling penting. Urusan lainnya, saya percaya pada Pak Hugo."

Cara pikir yang sangat praktis dan penuh perhitungan. Kapten Hugo menatap Asia dengan sorot mata yang semakin yakin bahwa wanita di depannya ini memang orang yang tepat. Dia cerdas, tahu posisinya, dan tidak membuang waktu.

"Lalu, jika masa kontrak dua tahun ini selesai dan saya sudah tidak diperlukan lagi?" tanya Asia, beralih ke konsekuensi jangka panjangnya.

Kapten Hugo menipiskan bibir. "Cerai. Karena saya sudah tidak memerlukan Anda untuk status dan pengasuh Nero, sudah pasti cerai jalan keluarnya."

Asia manggut-manggut. Dia mengerti. Status janda akan menempel padanya nanti. Namun bagi Asia, itu bukan masalah besar selama dalam dua tahun ini dia bisa mengumpulkan uang untuk hidup mandiri setelah kontrak berakhir.

"Baik. Ini kesepakatan yang adil."

****

Kesepakatan berjalan dengan cepat. Kapten Hugo menyiapkan segalanya untuk segera membawa wanita ini masuk ke dalam rumahnya. Namun, ada satu hal lagi yang ingin ia lakukan sebelum semuanya diresmikan. Restu ibu.

Sebenarnya rasanya berat karena ini bukan pernikahan sesungguhnya. Namun, Hugo perlu sedikit berbohong untuk membahagiakan semua orang, kecuali dirinya sendiri. Ini seperti bentuk pengorbanan dari Hugo demi status dan ketenangan keluarganya.

"Menikah?" Nyonya Malinda terkejut mendengar penuturan putranya.

"Ya," Hugo menjawab dengan senyum tipis, mencoba terlihat meyakinkan di depan sang ibu.

"Siapa wanita itu? Kenapa tidak dibawa langsung ke rumah untuk dikenalkan pada Ibu?"

"Dia orang biasa. Aku tidak ingin Ibu terkejut, jadi aku harus memberi tahu Ibu terlebih dahulu."

"Kenapa begitu? Kamu tahu Ibu tidak pernah membedakan soal status atau latar belakang. Yang Ibu inginkan hanya melihat kamu bahagia. Anak-anak juga punya ibu nantinya," ujar Nyonya Malinda sambil mengelus lengan putranya dengan penuh kasih sayang. "Bawalah dia menemui Ibu."

Di balik dinding ruang tengah, Jenny yang hendak melangkahkan kaki langsung urung. Gadis kecil itu adalah putri pertama Kapten Hugo. Dia tidak sengaja mendengarkan seluruh pembicaraan antara papa dan omanya.

"Papa akan menikah?" bisik Jenny terkejut.

Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Wajahnya ditekuk menahan amarah yang mendalam. Air matanya hampir menetes karena rasa tidak terima yang bergejolak di dadanya.

"Jadi papa mau menikah?" tanya Jenny tiba-tiba. Dia memilih bertanya langsung daripada diam.

Nyonya Malinda dan Hugo serentak menoleh ke arah sumber suara.

"Oh, Jenny. Ya. Adikmu butuh seorang ibu," jawab Hugo berusaha setenang mungkin, meski hatinya berdesir tajam. Padahal bicara dengan anak-anaknya adalah langkah selanjutnya. Sepertinya dia harus membereskan ini semua sekarang.

"Tidak! Nero enggak butuh siapa-siapa. Dari bayi dia sudah bisa hidup tanpa Mama, jadi kenapa Papa harus menikah lagi?" Suara Jenny meninggi. Dia yang sudah kelas 3 SMP tentu sudah paham dengan hal-hal seperti ini. Pikirannya sudah bisa mencerna arti dari kehadiran seorang ibu tiri.

Hugo menghela napas berat, mencoba meredam emosi putrinya. "Kamu belum sadar kalau adikmu itu sebenarnya butuh seorang ibu, Sayang."

"Kan ada Nenek yang mengasuh kita!" Jenny menunjuk omanya, mencari pembelaan.

"Nenek sudah tua, Jenny. Papa enggak mau membuat Oma sakit-sakitan karena harus terus mengurus kalian," jawab Hugo logis, mengutarakan alasan fisik ibunya.

Air mata Jenny akhirnya luruh. Dia menatap papanya dengan tatapan kecewa yang mendalam. "Papa ini... sudah enggak sayang lagi ya sama Mama?"

Hugo terdiam. Dia menahan gejolak marah, sedih, sekaligus rasa bersalah yang bercampur aduk di dalam dadanya. Pertanyaan Jenny menghantamnya tepat di ulu hati.

Nyonya Malinda yang paham betul bagaimana hancurnya perasaan putranya langsung mengusap bahu Hugo, lalu menatap sang cucu dengan lembut.

"Maaf, Sayang. Papa menikah lagi bukan karena sudah tidak cinta sama mama kamu lagi. Papa kamu ini... sangat mencintai mama kamu, sampai sekarang," ujar Nyonya Malinda mencoba memberi pengertian.

"Buktinya apa?!" sahut Jenny dengan suara bergetar, air matanya kian deras. "Kalau Papa masih cinta sama Mama, seharusnya Papa enggak usah bawa mama baru ke rumah ini!"

Melihat putrinya semakin emosional dan tidak terkontrol, Hugo mengeras. Dia harus menghentikan perdebatan yang melingkar ini sebelum rahasia kontrak mereka tidak sengaja bocor.

"Jenny!" potong Hugo dengan nada suara yang meninggi dan tegas. "Soal ini, biar Papa yang berpikir. Kamu cukup berpikirlah untuk sekolahmu saja!"

Gadis ini menekuk wajahnya lagi. "Aku kesal sama papa!" Jenny pergi menjauh dari hadapan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!