NovelToon NovelToon
Bos Kucing Oranye

Bos Kucing Oranye

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:955
Nilai: 5
Nama Author: La Runa

Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.

​Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.

​Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjamuan Malam Di Lereng Merbabu

Senja telah mati di lereng Merbabu, meninggalkan kegelapan pekat yang merayap di antara jajaran pohon pinus. Kompleks joglo modern milik Faksi Selo Atmojo kini menyala terang, memancarkan pendar lampu kuning hangat yang kontras dengan kabut gunung yang semakin tebal. Bau tanah basah berbaur dengan aroma samar yang langsung membuat bulu kuduk Kinanti berdiri: bau melati yang membusuk.

Kantil Sungsang.

Kinanti refleks menyentuh pergelangan tangan kanannya. Aksara emas di bawah manset jaketnya mendadak berdenyut panas, memancarkan getaran peringatan yang kuat. Ia menoleh ke arah Arkananta. Rahang sang CEO mengeras, dan matanya memancarkan kilatan hijau zamrud yang lebih pekat dari biasanya. Pengaruh lingkungan spiritual Faksi Selo mulai menekan sisi manusiawinya.

"Bara, posisi," bisik Arkan ke arah mikrofon tersembunyi di kerah jaketnya.

"Delta Satu di sini, Pak," suara Bara terdengar melalui alat penerima mini di telinga Arkan. "Kami sudah melumpuhkan sistem pengawas luar dan mengisolasi sirkuit listrik cadangan di rumah kaca belakang. Kami siap bergerak dalam hitungan tiga puluh detik jika situasi memburuk."

"Tahan posisi sampai ada perintah dariku. Kami akan masuk lewat pintu utama," jawab Arkan dingin.

Ia menatap Kinanti, lalu mengulurkan lengan kirinya. "Siap untuk menghadiri perjamuan, Nona Amalia?"

Kinanti menarik napas dalam-dalam, mengencangkan ikatan rambutnya, lalu menyambut lengan Arkan dengan senyuman profesional terbaiknya. "Saya selalu siap mendampingi Bapak, bahkan jika menu malam ini adalah racun silsilah."

Mereka berdua melangkah keluar dari kegelapan hutan, berjalan mantap menuju teras luas joglo utama yang pintunya sudah terbuka lebar. Dua penjaga berseragam hijau di depan pintu gerbang kayu jati tidak bergerak untuk menghentikan mereka; mereka justru membungkuk hormat, seolah-olah kedatangan Arkan dan Kinanti memang sudah dijadwalkan dalam agenda malam ini.

Di dalam joglo utama, suasananya megah namun mencekam. Lantai marmer hijau tua memantulkan pendar lampu kristal kuno yang menggantung di langit-langit kayu berukir rumit. Di tengah ruangan, sebuah meja makan panjang dari kayu log utuh telah dipenuhi oleh berbagai hidangan tradisional Jawa.

Di ujung meja, duduk sesosok wanita paruh baya berpenampilan sangat anggun. Ia mengenakan kebaya beludru hitam dengan rambut yang disanggul rapi, dihiasi oleh tusuk konde perak berbentuk bunga kantil. Wajahnya yang masih menyisakan kecantikan masa muda menatap kedatangan Arkan dengan senyuman yang tenang—senyuman seorang ratu laba-laba yang melihat mangsanya masuk ke dalam jaring.

Dialah Sekar Selo Atmojo, pemimpin tertinggi Faksi Selo saat ini.

"Arkananta Mahardika," suara wanita itu mengalun merdu, menggema di ruang joglo yang sunyi. "Dan Kinanti Amalia, Sang Penjaga Takdir yang legendaris. Silakan duduk. Angin malam di Merbabu terkenal sangat tidak ramah bagi mereka yang memiliki darah... sensitif."

Arkan tidak langsung duduk. Ia menarik kursi untuk Kinanti terlebih dahulu sebelum menduduki kursi di samping sekretarisnya. "Saya tidak datang untuk makan malam, Ibu Sekar. Permainan Hariman sudah selesai di Jakarta, dan saya ke sini untuk mengambil kembali apa yang dicuri dari perpustakaan keluarga saya."

Sekar terkekeh pelan, sebuah suara renyah yang terdengar sangat kontras dengan atmosfer ruangan. Ia menuangkan teh melati hangat ke dalam dua cangkir porselen di hadapan mereka. "Hariman hanyalah pion tua yang terlalu serakah, Arkan. Dia mengira bisa memiliki kekayaan Mahardika untuk dirinya sendiri. Padahal, dia tidak pernah memahami esensi dari Sumpah 1845."

Sekar mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya yang berwarna cokelat terang—warna yang persis sama dengan mata si penyusup di perpustakaan bawah tanah—menatap tajam ke arah Kinanti. "Sumpah itu adalah tentang keseimbangan. Keluarga Mahardika mendapatkan cahaya, kejayaan, dan takhta bisnis di atas panggung dunia. Sementara keluarga Selo? Kami dikutuk untuk tinggal di dalam bayang-bayang, menjadi jangkar gaib yang menanggung seluruh beban energi negatif dari keserakahan leluhurmu. Apakah menurutmu itu adil, Arkan?"

"Leluhur kita mengikrarkan sumpah itu bersama, dengan sukarela," jawab Arkan dengan nada suara yang berat dan berwibawa. "Jika faksimu merasa tidak puas dengan pembagian itu, kalian bisa menyelesaikannya lewat jalur dewan adat silsilah, bukan dengan meretas sistem pertahanan dan mencoba meracuni pelindung saya."

"Jalur adat?" Sekar tersenyum sinis. "Jalur adat itu sudah mati saat ayahmu memutuskan untuk mengubur Serat Jayaning Mahardika bagian kedua di bawah fondasi rumah Menteng. Kalian ingin memutuskan hubungan jangkar kami agar kami lenyap ditelan sejarah, sementara Mahardika tetap berjaya di SCBD."

Sekar melambaikan tangannya di udara. Mendadak, dari balik gorden sutra di sisi ruangan, muncul tiga orang pria bertubuh tegap yang mengenakan pakaian taktis serba hitam—salah satu dari mereka memegang perangkat tablet militer yang menampilkan barisan kode enkripsi yang sedang berjalan cepat.

"Kami sudah menyelesaikan enkripsi sepertiga bagian serat yang kami salin dari Cikarang," ujar Sekar dengan nada kemenangan. "Malam ini, dengan kelembapan Merbabu yang mencapai delapan puluh persen, dan dengan bantuan bunga Kantil Sungsang yang mekar di rumah kaca kami... kutukanmu akan diaktifkan secara permanen, Arkananta. Singa Mahardika akan menjadi kucing rumahan selamanya, dan kendali atas seluruh aset holding akan beralih ke tangan kami melalui surat kuasa yang sudah ditandatangani oleh Hariman sebelum ia tertangkap."

Kinanti yang sejak tadi mendengarkan dengan tenang tiba-kira meletakkan cangkir tehnya dengan ketukan yang cukup keras di atas meja.

"Maaf memotong pidato kemenangan Ibu Sekar yang sangat dramatis ini," kata Kinanti, suaranya terdengar sangat santai hingga membuat Sekar tertegun. Kinanti membuka laptopnya yang sejak tadi diletakkan di bawah meja, lalu memutarnya menghadap Sekar. "Tapi tampaknya tim IT Faksi Selo perlu mengambil kelas sertifikasi ulang tentang keamanan siber."

Layar laptop Kinanti menampilkan visual radar digital yang memperlihatkan bahwa seluruh data yang diunduh oleh tablet militer milik anak buah Sekar baru saja dialihkan secara otomatis ke dalam jaringan karantina (sandbox) milik Mahardika Security.

"Apa maksudnya ini?!" bentak pria berbaju hitam yang memegang tablet, wajahnya mendadak panik saat melihat layar perangkatnya mendadak menampilkan gambar animasi kucing jingga yang sedang menari dengan tulisan: [ ACCESS DENIED - MEOW! ].

"Saat saya menyedot data dari server Cikarang kemarin," Kinanti menjelaskan dengan senyum manis khas sekretaris korporat, "tanda di pergelangan tangan saya tidak hanya menyalin informasinya, tapi juga menanamkan virus stuxnet modifikasi kosmis ke dalam setiap baris kode silsilah digital tersebut. Begitu tablet kalian mencoba menyelesaikan enkripsinya di sini, virus itu aktif dan justru mengunci seluruh sistem peladen lokal Faksi Selo. Singkatnya... kalian baru saja memberikan kami alamat IP seluruh jaringan rahasia kalian di Indonesia."

Sekar Selo Atmojo bangkit dari kursinya dengan wajah yang memerah karena murka. "Kurang ajar! Habisi mereka!"

Namun, sebelum tiga pria berbaju hitam itu sempat melangkah, Arkananta sudah bergerak lebih cepat. Ia menggebrak meja makan kayu log tersebut hingga hidangan di atasnya melompat. Gelombang energi intimidasi murni dari wujud manusianya meledak di dalam ruangan, membuat lampu kristal di atas mereka bergoyang hebat dan bergemerincing keras.

"Bara, matikan lampunya," perintah Arkan melalui kerah jaketnya.

KLIK!

Seluruh sistem pencahayaan joglo utama padam total, melemparkan ruangan ke dalam kegelapan malam gunung yang absolut. Di dalam kegelapan itu, sepasang mata hijau zamrud milik Arkananta menyala terang seperti sepasang lampu badai di tengah kabut—menandakan bahwa sang predator sejati kini telah lepas dari kekangannya.

1
Ana Dww
😭
Ana Dww
Wait, 6 Kilogram?
Ana Dww
😭Sama seperti Cleo—Kucing oranyeku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!