Shen Yunan mengalami kematian tragis. Dikhianati keluarga, dikhianati pria yang dia cintai, menghabisii orang yang mencintainya dengan tulus.
Mendengar tawa sang putra mahkota yang baru naik tahta, dengan pedang di tangan yang telah menusuknya, bersama Shen Yuxiao, putri palsu yang mencuri tempatnya di kediaman Marquis selama 17 tahun. Shen Yunan bersumpah, dia akan membalas mereka semua. Dia akan membuat semua orang yang menertawakan kematiannya menangis.
'Jika ada kehidupan kedua, aku akan habisi kalian semua!'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Wajah pria tua itu sangat terkejut mendengar ucapan Yunan.
"Kenapa?" tambah seorang wanita tua yang juga tertatih keluar dari rumah reot nya.
"Nenek...hiks!"
Yunan berlari ke arah nenek itu, merangkulnya dan pura-pura sangat ketakutan.
"Ada mayat nenek, di rumah ada mayat. Matanya terbuka, aku takut..."
"Mayat siapa?" tanya kakek tua itu penasaran.
Yunan segera membelalakkan matanya yang sudah penuh dengan air mata itu.
"A... ayah..."
"Hah, bagaimana bisa? tadi baru saja Yanhui lewat sini..."
"Kakek, ada satu lagi. Aku terlalu takut untuk melihat siapa itu!"
"Anak manis, kasihan sekali. Kakek, cepat panggil kepala desa!"
Yunan tersenyum menyeringai. Dia dulu menjadi tontonan semua orang ketika ayah palsunya itu memergoki Sufeng yang melecehkannyaa. Tapi sekarang, dia akan mengaturnya sedemikian rupa. Hingga pada akhirnya orang-orang yang berniat menjebaknya itu yang akan celaka.
Kakek itu pun segera pergi ke rumah kepala desa. Sementara si nenek, berusaha untuk menenangkan Yunan.
Tak lama rombongan kepala desa datang. Orang-orang di desa itu sudah tidak terkejut lagi bagaimana mereka melihat Yunan setelah hari menangis.
Kedua orang tuanya memang selalu memperlakukan dirinya dengan sangat tidak baik. Kadang di depan warga desa yang lain, Mo Bian, ibu palsu Yunan itu kerap memukul dan mencambuk Yunan. Masalahnya selalu sepele, kadang tidak banyak mendapat jamur di hutan, kadang salah memotong sayuran. Bahkan hanya untuk kesalahannya menyapu terlalu berisik saja, orang tua Yunan kerap memukul.
Tapi, setahu warga desa. Yunan paling hanya menangis. Gadis itu tidak pernah melawan. Setahu mereka, Yunan adalah gadis yang sangat lemah.
Melihat Yunan menangis terisak dan ketakutan, warga desa agak penasaran. Apalagi kepala desa.
"Yunan, kata kakek Sun kamu melihat mayat?" kepala desa datang dan bertanya dengan cepat.
Yunan yang masih terisak segera menganggukkan kepalanya, membenarkan hal itu.
"Iya pak kepala desa, di rumah... di rumah, a... yah mati!"
Seluruh warga desa yang ikut dengan kepala desa tercengang. Dan langsung bergunjing satu sama lain.
"Yunan, ayo kita lihat!" anak kepala desa.
"Kasihan sekali anak itu!"
"Tapi kenapa Chao Yanhui bisa mati? bukannya tadi sore masih mencari ikan di sungai?"
"Entahlah!"
Terdengar para warga yang sibuk berspekulasi. Yunan masih terus merangkul lengan nenek Sun dan berjalan mengikuti kepala desa menuju ke rumahnya.
"Anak ini tadi berlari ketakutan, dia berteriak minta tolong. Pas aku tanya, di rumahnya ada mayat katanya. Mayat ayahnya matanya terbuka" jelas kakek itu pada kepala desa.
Kepala desa mengangguk pelan. Dan terus berjalan ke arah rumah Chao Yanhui, orang tua palsu Yunan.
Kepala desa membuka pintu. Dan rumah itu gelap sekali.
"Nyalakan lilin!" perintah kepala desa.
Dan seorang pria menyalakan lilin. Warga desa langsung terkejut, di kamar itu tergeletak Chao Yanhui dengan mata terbuka. Dan tak jauh dari sana, seorang pria juga tampak sudah tergelak.
"Siapa lagi itu?"
"Ada dua mayat!"
"Bagaimana bisa?"
Warga kembali bergunjing. Dan seorang pemuda yang tadi menyalakan lilin memeriksa mayat yang satunya lagi.
"Ini Sufeng!" teriaknya yang juga terkejut.
Kepala desa mendekat, warga sudah menjadi ramai. Mereka cukup terkejut. Kenapa Sufeng mati di tempat itu.
Namun yang mencengangkan kepala desa, ketika dia memeriksa mayat itu dan menemukan pakaian dalam wanita.
"Ini, milik siapa?" tanya kenapa desa menunjukkan pakaian dalam itu pada Yunan.
Yunan segera berakting sangat terkejut.
"Hah, itu... itu punya ibu!"
"Hah, punya Mo Bian. Jangan-jangan mereka berkelahi karena Mo Bian dan Sufeng ketahuan selingkuh oleh Chao Yanhui"
Yunan tersenyum puas dalam hatinya. Memang seperti itulah para warga desa. Mereka selalu bicara sesuai dengan apa yang mereka lihat. Mau itu benar atau salah, mereka selalu percaya pada apa yang mereka lihat sebagai bukti.
Itulah kenapa, Yunan sengaja mengeluarkan pakaian dalam ibu palsunya dan menyisipkan di pakaian Sufeng.
"Ternyata ibu..." Yunan kembali menangis di pelukan nenek Sun.
"Yang sabar ya anak baik!" kata nenek Sun berusaha menghibur Yunan.
"Ini keterlaluan pak kepala desa!" seru seorang warga.
"Benar, Mo Bian sudah mencemari desa kita. Dia itu seorang wanita bersuami. Bikin malu saja dia berselingkuh dengan mata keranjang Sufeng itu!"
"Benar kepala desa!"
"Masukan dia ke keranjang babi!"
"Bakar saja, supaya tidak ada yang seperti ini lagi"
Yunan memeluk nenek Sun dengan erat.
"Pantas saja belakangan ayah dan ibu sering bertengkar. Rupanya ibu berselingkuh hiks hiks!"
Yunan sengaja mengatakan semua itu supaya api kekesalan dan kemarahan warga desa semakin besar. Sebelum Mo Bian dan Chao Yanhui nanti menjadi pemicu kekesalan orang tua kandungnya, seperti di kehidupan lalunya. Yunan memang harus menyingkirkan mereka. Gara-gara dua orang jahat itu juga, selama 17 tahun lebih kehidupannya di masa lalu dia menjadi budak dan selalu mendapatkan siksaan.
"Keterlaluan sekali! dimana Mo Bian!" pekik kepala desa yang juga sudah terpengaruh dan menjadi geram atas kelakuan salah satu warganya.
Yunan menggelengkan kepalanya.
"Tidak tahu pak kepala desa, sebelum ibu pergi dia hanya memintaku membersihkan kandang. Katanya jangan kembali sebelum tengah malam, tapi aku haus... " ucapnya ketakutan.
Nenek Sun mengusap lembut kepala Yunan.
"Tidak apa-apa nak, tidak apa-apa!" ujar nenek tua itu.
Hingga beberapa saat kemudian, salah satu warga yang ada di luar melihat Mo Bian mengendap-ngendap. Warga itu pun merasa aneh.
"Pak kepala desa, itu Mo Bian datang. Tapi kenapa dia mengendap-ngendap?"
Pertanyaan warga itu membuat Yunan semakin puas. Bukankah cara masuk ke dalam rumah sendiri yang dilakukan Mo Bian sangat mencurigakan.
"Sufeng, bagaimana?" Mo Bian langsung bicara seperti itu begitu mendekati kamar Yunan.
Dia ingin tahu apa Sufeng sudah berhasil melecehkann Yunan.
"Jadi memang kamu yang meminta Sufeng menghabisi suamimu sendiri?" tanya kepala desa.
Kepala desa dan para warga keluar. Mo Bian terkejut bukan main.
"Kalian! apa yang kalian lakukan di rumah ku?" tanya wanita yang mungkin sebentar lagi tinggal nama itu.
"Jangan pura-pura lagi Mo Bian! kamu berselingkuh dengan Sufeng. Dan menyuruh Sufeng menghabisi Chao Yanhui kan?" pekik salah satu warga.
Mo Bian sangat terkejut. Dia segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Tidak begitu..."
"Ibu, kenapa ibu tega pada ayah?"
Mata Mo Bian terbelalak lebar, dia langsung menunjuk ke arah Yunan.
"Kamu... ini semua pasti ulahmu!"
"Tega sekali kamu! sudah selingkuh, sekarang memfitnah anak malang ini!" nenek Sun membela Yunan.
"Masukkan dia dalam keranjang babi!"
"Iya, betul tenggelamkan di sungai!"
"Tenggelamkan!"
"Tidak, bukan aku!" pekik Mo Bian.
Tapi warga sudah tidak mendengarkan ucapannya. Warga menangkapnya dan memasukkan ke dalam keranjang babi.
***
Bersambung...