bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Nadira mengusap ujung jendela dengan jari telunjuknya. Butiran embun pagi yang dingin
segera menempel di ujung kuku, basah dan dingin.
Aroma kopi yang baru diseduh dari dapur tercium samar di antara gorden beludru yang masih tertutup rapat. Ia menatap tajam
ke arah halaman luar, mencoba mengumpulkan ingatannya tentang janji sang kakek.
Kakek itu pernah berbisik tentang sebuah kunci brankas tersembunyi, tepat di balik bingkai lukisan mahal di ruang kerja. Kunci itulah yang diyakini Nadira sebagai satu-satunya jalan untuk menguasai warisan dua ratus triliun rupiah tersebut.
Ia menarik napas panjang dan memejamkan mata sejenak. Bayangan sosok wanita jahat
yang tubuhnya sekarang ditempatinya terus menghantuinya. Ada kebiasaan buruk yang
melekat pada otot tangannya, seperti refleks untuk melempar gelas saat marah atau
memaki staf dengan kasar. Nadira harus membuktikan dirinya mampu mengelola aset
besar itu dengan kepala dingin. Ia tidak ingin dianggap sebagai pemboros uang yang
hanya akan menghabiskan simpanan keluarga.
Reputasinya di depan pengacara nanti sangat bergantung pada seberapa meyakinkan ia bisa berperan sebagai wanita yang sopan dan terpelajar.
Suara sandaran kursi kayu yang diseret kasar menghentikan lamunannya. Arga, pria yang
tercatat sebagai suaminya di atas kertas, baru saja duduk di ujung meja makan. Wajah
Arga tampak kusut dan ada urat yang menonjol di pelipisnya. Pria itu menatap Nadira dengan sorot mata penuh curiga, seolah sedang mencari celah kebohongan di balik setiap helai bulu matanya.
Arga tidak menyapa, hanya mematap tajam sambil memutar piring keramik di depannya tanpa niat untuk makan.
"Kopi ini pahit sekali," ucap Arga tiba-tiba, suaranya parau dan rendah.
Nadira berputar menghadapnya, menjaga agar bahunya tidak tegang.
"Aku bisa ganti yang baru jika kamu mau, Arga. Atau mungkin kamu lebih suka teh pagi ini?"
Arga mendengus pelan, tidak percaya dengan perubahan sikap itu.
"Sejak kapan kamu peduli soal selera minumku? Biasanya kamu malah menyuruh staf untuk mengambilkanmu kopi dari kedai luar agar tidak repot."
"Orang berubah, Arga. Aku hanya ingin memulai hari dengan tenang. Pengacara keluarga akan datang siang nanti, dan aku tidak ingin mereka melihat pertengkaran di antara kita."
Nadira berjalan mendekat ke meja makan, melangkah hati-hati agar tidak memicu amarah Arga lebih jauh.
Ketegangan di antara mereka terasa seperti kain yang ditarik dari dua arah yang berlawanan. Nadira bisa merasakan detak jantungnya yang mulai tidak beraturan. Ia harus tetap tenang demi menjaga reputasi di depan pengacara keluarga yang akan datang siang nanti.
Jika Arga sampai curiga bahwa istrinya telah berubah menjadi orang lain, semua rencananya untuk mendapatkan warisan dua ratus triliun akan hancur seketika. Ia harus
memainkan peran ini dengan sempurna.
"Kamu terlihat sangat sibuk dengan pikiranmu sendiri," Arga menatap tajam ke arah Nadira yang sedang menuang air panas ke cangkirnya. "Apa yang sedang kamu sembunyikan? Apa kaitannya dengan lukisan di ruang kerja kakek kemarin malam?"
Nadira membeku sejenak, tangannya menggenggam erat gagang teko. Ia tidak
menyangka gerak-geriknya di ruang kerja tadi malam terlihat oleh Arga. Dengan cepat ia
mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat tenang.
"Aku hanya merindukan kakek, Arga.
Lukisan itu mengingatkanku pada janji-janji beliau yang belum sempat ditepati. Tidak ada
yang perlu kamu curigai."
Arga mendongak, menatap Nadira dengan mata menyipit.
"Janji? Kakekmu tidak pernah
menjanjikan apa pun kepadamu selain masalah. Jangan berlagak seperti istri yang suci sekarang. Aku tahu persis siapa dirimu."
Nadira menarik napas panjang, menata ekspresi wajah semaksimal mungkin. Ia menyadari bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya harus diukur dengan sangat hati-hati. Arga adalah ancaman terbesarnya saat ini, pria yang tahu persis kejahatan wanita di tubuhnya ini.
Saat jam dinding berdentang, menandakan waktu sarapan tiba, ia bertekad memulai
hari dengan membuktikan perubahan sikapnya. Ia akan menunjukkan pada Arga dan pengacara nanti bahwa ia adalah wanita yang layak mengelola warisan besar tersebut.
Aroma kopi pahit menguar dari cangkir Arga. Ia meletakkan sepiring roti panggang di
depan suaminya itu dengan gerakan kaku. Arga hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus pada layar ponselnya yang retak. Hening menyelimuti ruang makan, hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen.
Ia ingin membuka percakapan, tetapi lidahnya terasa kelu. Suasana canggung ini menjadi
peninggalan dari perilaku asli wanita ini sebelumnya. Ia menarik napas dalam, mencoba menekan ego yang sering meledak.
Arga akhirnya mendengus, bangkit dari kursi dengan kasar, lalu pergi tanpa sepatah kata
pun. Nadira mematung, menatap punggung suaminya yang menjauh, sadar bahwa kepercayaan pria itu adalah kunci pertama. Namun, ketegangan memuncak saat ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di saku celana Arga.