SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 – Kunci Navigator
Kapten Idris masih memegang kunci kristal transparan itu.
Benda tersebut terasa hangat.
Bukan karena suhu ruangan.
Melainkan seolah-olah ada energi yang terus mengalir dari dalamnya.
Kael memperhatikan dari dekat.
"Ini bukan kristal biasa."
Victor mengangguk.
"Benar."
"Terbuat dari apa?"
"Aku tidak tahu."
"Elias tidak pernah menjelaskannya."
---
Reza masih belum menurunkan kewaspadaannya.
"Jadi hanya ini yang ingin kau berikan?"
Victor menggeleng.
"Tidak."
Ia berjalan menuju kursi kapten Pioneer.
Tangannya menyentuh panel kendali.
Beberapa layar tua langsung menyala.
Namun yang muncul bukan data kapal.
Melainkan rekaman.
Wajah Elias Voss kembali muncul di layar.
Kali ini jauh lebih jelas daripada rekaman sebelumnya.
Ia tampak kelelahan.
Rambutnya mulai memutih.
Namun sorot matanya masih tajam.
Jika dibandingkan dengan rekaman di kapal hitam, video ini jelas direkam pada tahun-tahun terakhir hidupnya.
---
"Elias..." gumam Sofia melalui sambungan komunikasi.
Rekaman mulai diputar.
"Jika kalian melihat pesan ini..."
"...berarti Victor berhasil menjalankan tugasnya."
Victor hanya menundukkan kepala.
"Elias..."
"...kau masih terlalu percaya kepadaku."
Rekaman terus berjalan.
"Victor."
"Kalau kau masih hidup ketika Navigator datang..."
"...terima kasih."
Ruangan menjadi sunyi.
Tidak ada yang menyangka rekaman itu ditujukan langsung kepada Victor.
---
Elias kemudian memandang lurus ke arah kamera.
"Dan untukmu..."
"...Navigator."
Kapten Idris tanpa sadar ikut menegakkan tubuhnya.
"Aku tahu kau pasti memiliki banyak pertanyaan."
"Aku juga dulu begitu."
"Tapi aku tidak bisa memberikan semua jawabannya."
"Bukan karena aku tidak mau."
"Melainkan karena aku sendiri tidak mengetahuinya."
---
Kael saling berpandangan dengan Lyra.
Kalimat itu terdengar jujur.
Bukan seperti seseorang yang sedang menyembunyikan rahasia.
---
Rekaman berlanjut.
"Kapal hitam yang akan kau temui..."
"...tidak dibuat oleh manusia."
"Tidak ada satu pun ilmuwan yang mampu menjelaskan teknologinya."
"Tugasku hanya menjaga agar kapal itu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Reza berbisik pelan.
"Berarti benar..."
"Elias memang bukan penciptanya."
---
Elias mengangkat sebuah benda.
Bentuknya sama persis dengan kunci kristal yang kini berada di tangan Idris.
"Kunci ini..."
"...bukan untuk menghidupkan kapal."
Semua memperhatikan.
"Lalu untuk apa?" gumam Lyra.
Seolah mendengar pertanyaan itu, Elias melanjutkan.
"Kunci ini digunakan untuk mengunci."
Ruangan mendadak sunyi.
"Mengunci apa?" tanya Kael.
Rekaman belum selesai.
"Kalau suatu hari penjara mulai terbuka..."
"...Navigator harus menggunakan kunci ini."
"Bukan untuk menghancurkan musuh."
"Tapi..."
"...untuk menutupnya kembali."
---
Kapten Idris mengepalkan tangan.
Jadi selama ini...
mereka salah mengira fungsi kunci tersebut.
---
Di ESS Horizon, Hana tiba-tiba menemukan sesuatu.
"Kapten."
"Ada apa?"
"Aku baru membandingkan bentuk kunci dengan simbol pada sinyal."
"Hasilnya?"
"Kunci itu..."
"...adalah bagian yang hilang dari simbol."
Leo segera memperbesar gambar.
Benar.
Simbol misterius yang selama ini mereka lihat ternyata memiliki celah kecil di bagian tengah.
Bentuknya sama persis dengan kunci kristal.
---
Victor memandang Idris.
"Sekarang kau mengerti."
"Apa?"
"Kenapa Elias tidak pernah membawa kunci itu."
"Kenapa?"
"Karena..."
"...kunci itu tidak boleh digunakan olehnya."
"Hanya Navigator yang dapat mengaktifkannya."
---
Tiba-tiba seluruh Pioneer bergetar.
Tidak keras.
Namun cukup membuat lampu berkedip.
Niko segera melapor dari ESS Horizon.
"Kapten!"
"Retakan ruang bertambah besar."
"Berapa?"
"Hampir dua kali lipat dari sebelumnya."
AURA ikut memberikan analisis.
"Stabilitas penghalang turun menjadi lima puluh delapan persen."
Adrian yang masih berada di Pos Observasi langsung berlari ke panel utama.
"Kalau turun di bawah lima puluh..."
"...reaktor penghalang akan mati."
---
Victor menatap layar luar Pioneer.
"Dulu..."
"...kami masih punya waktu bertahun-tahun."
"Sekarang..."
"...kalian hanya punya hitungan jam."
Kapten Idris memandang kunci kristal di tangannya.
Ia sadar...
mereka tidak bisa terus bertahan di Pos Observasi.
Cepat atau lambat...
mereka harus menuju Galaksi Asterion.
Namun sebelum ia sempat mengambil keputusan...
AURA kembali memberikan peringatan.
"Perhatian."
"Objek di dalam retakan telah berubah arah."
"Tujuan baru teridentifikasi."
Semua memandang layar.
Bayangan raksasa itu...
tidak lagi bergerak menuju Pos Observasi.
Melainkan...
bergerak perlahan ke arah ESS Horizon.