Kisah perjalanan Pendekar Naga dalam membasmi kejahatan yang di sebabkan oleh Pendekar Aliran Hitam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adih Supriadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 26
PERANG BESAR 2
Sore itu 4 utusan kerajaan Kencana beserta Guru Naga Langit, Oval dan Apis sedang makan bersama di pendopo.
Selesai makan, Oval dan Apis membereskan meja dan membersihkan sisa-sisa makanan.
"Sudah bersih dan beres semua, sekarang kalian bersiap, kita berangkat sekarang, Guru juga hendak bersiap..." ucap Guru Naga Langit kepada dua muridnya dengan nada yang tegas.
Oval dan Apis segera bergegas ke kamar masing-masing guna berganti pakaian memakai pakaian perang.
Oval dengan pakaian perang warna hijau yang elegan dan Apis dengan pakaian perang warna hitam yang gagah.
Tak lupa tameng besi penahan pun dipakai di bagian dada, punggung, betis, dan tangan sebagai pelindung dari benda tajam seperti pedang.
Oval dan Apis menyiapkan 3 kuda yang gagah dan kuat untuk perjalanan jauh.
Guru Naga Langit keluar dari pendopo, berbusana pakaian perang corak hitam putih dan hijau, perpaduan warna dari warna ketiga muridnya.
"Wihhh... Bang Oval, lihat itu Guru... Gagah sekali dan tampak lebih muda ketika memakai baju pendekar siap tempur..." ucap Apis kagum dengan mata yang terbelalak.
"Wah mantap, pakainya seperti baru itu Pis..." ucap Oval dengan senyum.
Oval dan Apis membawa kuda dekat Guru Naga Langit.
Guru Naga Langit naik ke atas kudanya dengan gerakan yang gesit dan kuat.
"Guru kok seperti baru itu pakainya... Bukankah Guru susah lama tak bertarung atau berperang..." tanya Oval yang penasaran.
"Hehe, mungkin sudah firasat, seminggu yang lalu Guru ke tukang jahit dan meminta untuk dijahitkan seragam perang baru, perpaduan warna dari kalian Oval, Arden, dan Apis," ucap Guru Naga Langit dengan senyum.
"Keren Guru, nampak gagah dan berwibawa," puji Apis dengan nada yang kagum.
Keempat utusan Kerajaan Kencana sudah bersiap di kuda masing-masing, siap untuk berangkat.
"Ayo kita berangkat ke Kerajaan Kencana, semoga kita tidak datang terlambat, kita harus mempercepat langkah, waktu kita 2 hari perjalanan," ucap Guru Naga Langit dengan nada yang tegas.
Setelah itu, Guru Naga Langit memacu kudanya dengan kencang, diikuti oleh yang lainnya dengan semangat dan keberanian.
Malam itu Jasiren di rumahnya, sedang ngobrol bersama istri dan anaknya, Oden.
Oden yang penasaran dengan pembicaraan kedua orang tuanya, bertanya dengan rasa ingin tahu.
"Jadi Ayah besok pagi mau ke Kerajaan Rinjani ya, Ayah... Gabung dengan Kakak Arden berperang melawan penjahat.." ucap Oden dengan mata yang berbinar.
"Iya, Anaku... Ini sudah menjadi tugas para pendekar untuk menghalau segala macam kejahatan yang terjadi," ucap Jasiren dengan bijak dan penuh tanggung jawab.
Oden yang mendengar jawaban ayahnya, langsung meminta untuk ikut serta dalam perjalanan tersebut.
"Oden ikut Ayah... Oden ingin bertarung membela kebenaran bersama Ayah dan Kakak Arden.." ucap Oden dengan semangat.
Jasiren tersenyum dan menjawab dengan sabar.
"Untuk kamu belum saatnya, Oden... Masih banyak hal yang belum kamu tahu. Jalan berlatih, jalan belajar, dan jalan menguasai ilmu bela diri... Kamu belum waktunya untuk bertarung," ucap Jasiren dengan nada yang lembut.
Oden menganggukkan kepala, namun masih dengan semangat yang tinggi.
"Iya, tapi jika Oden sudah besar dan jago pendekar, Oden akan siap bertarung, hehe.." ucap Oden dengan senyum.
Jasiren tersenyum dan memandang anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Ayah berhati-hati ya dalam berperang dan jaga Kakak Arden di sana, sampaikan salam dari Oden ya, Ayah.." ucap Oden dengan nada yang manja.
"Iya, Anaku... Dan sekarang sudah saatnya tidur untuk istirahat karena waktu sudah malam," ucap Jasiren seraya menggendong anaknya menuju tempat tidur.
Rombongan Guru Naga Langit berkemah di hutan yang lebat dan rindang.
Oval membuat api unggun sambil membakar ayam hutan hasil buruan Apis.
Bau harum daging ayam yang sedang dibakar membuat perut mereka semakin lapar.
"Pis... Kok ayam hutan dapat banyak... Ini mencuri kah di peternak, hehe.." ucap Oval dengan nada bercanda.
"Wkwk, mana ada peternak di tengah hutan... Kebetulan ada rombongan ayam hutan, jadi pakai tenaga dalam saya tangkap satu persatu," ucap Apis menjelaskan dengan senyum.
Setelah matang, bakar ayam lalu dihidangkan satu persatu, setiap orang mendapatkan satu porsi.
Mereka makan dengan lahap, menikmati rasa daging ayam yang lezat.
Setelah makan, mereka beristirahat dan tidur. Oval dan Apis tidur di luar beralaskan tikar, sementara Guru Naga Langit tidur di dalam tenda.
Dua prajurit tidur di dalam tenda lain, dan dua prajurit lainnya bergabung dengan Oval dan Apis tidur di luar.
Pagi hari, mereka segera bergegas dengan kecepatan tinggi, berharap esok paginya sudah berada di Kerajaan Kencana.
Mereka menaiki kuda masing-masing dan mulai bergerak dengan cepat, meninggalkan hutan yang lebat dan memasuki jalan yang panjang.
Hari keberangkatan, 500 prajurit telah siap di pagi hari berkumpul di lapangan kerajaan, menunggu perintah keberangkatan.
Jendral Cokro melapor kepada Raja Kencana, "Lapor Raja, 500 prajurit sudah siap menunggu perintah keberangkatan.."
Raja Kencana menganggukkan kepala, "Oke, bagus. Santai saja dulu... Di lapangan nanti, lokasi perang, khusus kamu dan prajurit 500 itu hanya menerima perintah dari Jasiren Ingat itu... Agar tidak terjadi simpang siur perintah ketika mengatur strategi perang..!! ."
Jendral Cokro menjawab dengan tegas, "Siap Raja...!! "
Kemudian, Jendral Cokro mendekati Jasiren dan bertanya, "Lapor Pendekar Jasiren... Kapan kira-kira berangkatnya.. Kami menunggu perintah..!! "
Jasiren menatap 500 prajurit yang berdiri tegak dan tak bergeming.
"1 jam lagi kita berangkat, untuk saat ini kita menunggu kedatangan murid dari Perguruan Naga Langit... Jika 1 jam tak datang, kita langsung berangkat saja." ucap Jasiren dengan nada yang tenang.
"Siap laksanakan..!!" ucap Jendral Cokro.
Jasiren kemudian menambahkan, "Oh iya, posisi kan prajurit semua itu bebas.. Santai saja, istirahat dulu. Turun dari kuda, santai saja."
Jendral Cokro menganggukkan kepala dan menjawab, "Iya Pendekar..." Lalu, ia menuju pasukannya untuk santai beristirahat karena keberangkatan satu jam lagi.
Jasiren termenung, memikirkan utusan kerajaan yang diutus belum kembali.
Jika semua lancar, harusnya rombongan sampai tadi malam, namun sampai saat ini mereka belum kembali.
Apakah Pendekar Naga Langit tak mengizinkan muridnya untuk ikut berperang, atau muridnya sedang tak ada di tempat karena sedang ada misi yang dijalankan.
Jasiren merasa sedikit khawatir dan penasaran.
Kemudian ada kabar dari prajurit memberi kabar kepada Raja Kencana bahwa utusan kerajaan telah tiba bersama Pendekar Naga.
Jasiren tersenyum karena yang ditunggu telah hadir.
Tampak di depan beberapa pendekar naik kuda mengarah ke dirinya dan Raja Kencana.
Jasiren seakan tak percaya melihat satu pendekar yang hadir saat itu, yaitu Pendekar Naga Langit sendiri ikut hadir diiringi kanan kiri oleh Pendekar Naga Hijau dan Pendekar Naga Hitam.
Jasiren tampak terharu dengan kehadiran teman seperjuangan nya yang kembali turun gunung untuk ikut bersama-sama berperang melawan Kerajaan Khan di wilayah Kerajaan Rinjani.
Raja Kencana pun seakan tak percaya dengan kehadiran Pendekar Naga Langit, mantan panglima perang terkuat yang pernah dimiliki oleh Kerajaan Kencana.
"Jasiren, apakah itu Pendekar Naga Langit yang di tengah.." ucap Raja Kencana dengan nada yang terkejut.
"Iya Raja, beliau hadir tanpa di duga..." ucap Jasiren dengan senyum.
"Apakah kamu mengajaknya untuk bergabung dalam peperangan ini."tanya Raja Kencana kepada Jasiren.
Karena sepengetahuan Raja Kencana, Pendekar Naga Langit telah lama pensiun dan menghindar dari pertarungan ataupun peperangan.
"Tidak Raja, saya menghargai keputusan nya untuk pensiun dari dunia persilatan, namun mungkin beliau punya alasan tertentu untuk kembali bertarung," ucap Jasiren dengan nada yang menghormati.
Raja Kencana memandang Pendekar Naga Langit dengan rasa hormat dan kagum.
Kehadiran Pendekar Naga Langit tentu akan menjadi kekuatan besar bagi Kerajaan Kencana dalam menghadapi musuh.