Ketika keluarganya hancur dihantam utang dan kehancuran finansial, Lin Fan tidak sengaja menemukan gulungan lontar tua milik leluhurnya yang tersembunyi di sudut rumahnya di desa terpencil. Gulungan itu membuka akses ke sebuah ritual terlarang yang membangkitkan entitas misterius bernama [Sistem Pagar Iblis], sebuah kekuatan kuno yang menuntut bayaran mahal untuk setiap keuntungan finansial dan perlindungan yang ditawarkannya. Demi menyelamatkan keluarganya dari ancaman orang-orang licik di sekitarnya, Lin Fan terpaksa melangkah ke dalam kegelapan, tanpa menyadari bahwa setiap keputusan yang ia ambil mulai mengubah dirinya dan membahayakan nyawa orang-orang yang berusaha ia lindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Intimidasi dari Rentenir Kota
Kabut putih di perbatasan Lembah Hitam berputar hebat, membentuk pusaran kecil di sekitar kaki Lin Fan dan Chen Meng.
Sfx: GRRRRRRRR!
Ketiga ekor Anjing Bangkai Lembah—makhluk mengerikan dengan tulang iga yang menyala oleh api biru—menggeram buas. Taring-taring panjang mereka meneteskan air liur beracun yang mendesis saat menyentuh permukaan batu cadas di bawahnya.
"Lin Fan... mereka... mereka bukan anjing biasa!" bisik Chen Meng dengan suara bergetar di balik punggung Lin Fan, kedua tangannya mencengkeram erat ujung jaket pemuda itu.
"Tetap di belakangku dan jangan bergerak," perintah Lin Fan dengan nada dingin yang tenang.
Sfx: Wuuusss!
Tanpa memberi kesempatan, serigala pertama melompat menerjang lurus ke arah dada Lin Fan, mencakar udara dengan kuku-kuku hitamnya yang tajam. Dua ekor lainnya menyusul dari sisi kiri dan kanan secara bersamaan, membentuk kepungan kematian di jalur setapak yang sempit itu.
Lin Fan tidak panik. Matanya memancarkan cahaya merah terang dari fitur [Mata Iblis].
Ia mengangkat tangan kanannya yang memiliki tanda luka bakar lingkaran keemasan. Aliran energi vital yang mendidih langsung menyebar ke seluruh pembuluh darahnya.
"Jebakan Api Spiritual: Lingkaran Pemusnah!" seru Lin Fan lantang.
Sfx: Bzzzzzt... DUUUUMMM!
Sebuah lingkaran cahaya hitam bercampur emas meledak melingkar dari telapak kaki Lin Fan, menghantam tanah cadas dan menyemburkan lidah-lidah api spiritual ke udara.
Sfx: ARRGGGHHH!
Ketiga anjing bangkai itu langsung terpental mundur saat tubuh mereka tersambar oleh gelombang api spiritual tersebut. Daging busuk mereka mendesis hebat, terbakar habis dalam hitungan detik tanpa menyisakan apa pun selain kepulan asap abu putih yang berbau harum cendana.
[Tiga Entitas Penjaga Luar Berhasil Dikalahkan]
[Menerima Poin Energi Vital: +9%]
[Status Energi Vital Saat Ini: 100% (Prima)]
Lin Fan menurunkan tangannya, menghembuskan napas perlahan untuk menstabilkan detak jantungnya.
Chen Meng membuka matanya perlahan, menatap pemandangan di depannya dengan rasa takjub yang luar biasa. Tidak ada lagi sisa-sisa monster tadi, hanya ada jejak abu tipis yang diterbangkan oleh angin gunung.
"Kamu... kamu benar-benar mengalahkan mereka semudah itu, Fan?" tanya Chen Meng terperangah.
"Ini baru penjaga gerbang luar, Chen Meng. Makam utama di dalam sana jauh lebih berbahaya," kata Lin Fan memperingatkan. "Ayo jalan, waktu kita terus berjalan."
Sementara Lin Fan dan Chen Meng sedang bertarung melawan makhluk ghaib di perbatasan Lembah Hitam, situasi di Desa Sungai Hitam justru mulai memanas di arah yang sama sekali berbeda.
Di ujung jalan utama desa, sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam legam berplat nomor kota besar melaju pelan, membelah jalanan tanah yang berdebu. Di belakangnya, dua unit sepeda motor besar berderu kencang membawa empat orang preman berbadan tegap dengan tato di leher mereka.
Mobil SUV itu berhenti tepat di depan halaman rumah tua keluarga Lin.
Pintu mobil terbuka, dan sesosok pria paruh baya berjas rapi namun berwajah licik keluar dari dalam. Namanya Tuan Wang, tangan kanan kepercayaan dari direktur utama konsorsium properti kota yang mendanai proyek pertambangan Tuan Tanah Li.
Tuan Wang membetulkan kerah jasnya, lalu melangkah masuk ke halaman rumah keluarga Lin dengan tatapan meremehkan.
Sfx: Brak!
Salah satu preman menggebrak pintu pagar kayu tua rumah Lin dengan kasar.
"Buka pintu! Pemilik rumah, keluar kalian!" bentak preman itu dengan suara melengking keras.
Di dalam rumah, ibu Lin Fan yang sedang menyapu lantai ruang tamu tersentak kaget. Sapu di tangannya hampir lepas dari genggamannya. Jantungnya berdegup kencang seketika mendengar guncangan keras di pintu depan.
Lin Mei, adik perempuan Lin Fan yang berusia belasan tahun, berlari ketakutan dari kamar belakang dan memeluk pinggang ibunya erat-erat.
"Ibu... siapa itu di luar? Suaranya seram sekali," bisik Lin Mei menangis ketakutan.
Ibu Lin Fan menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan raut wajahnya meskipun bibirnya sendiri bergetar hebat. Ia tahu Lin Fan sedang pergi ke kota—atau setidaknya itu yang ia yakini—sehingga ia harus menghadapi para preman ini sendirian.
Ibu Lin Fan melangkah ke depan pintu dan membuka daun pintu kayu perlahan-lahan.
Sfx: Kriiet...
"Cari... cari siapa ya?" tanya ibu Lin Fan dengan suara parau yang gemetar.
Tuan Wang menatap wanita tua berwajah pucat di depannya dengan senyuman sinis. Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat.
"Kamu ibunya si Lin Fan, kan?" tanya Tuan Wang tanpa basa-basi. "Panggil anakmu keluar sekarang! Kami dengar dia berani-an mengancam anak buah Tuan Tanah Li dan mengganggu proyek investasi bernilai miliaran di kota!"
Ibu Lin Fan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"L-Lin Fan tidak ada di rumah... dia sedang pergi ke kota sejak pagi tadi," jawab ibunya terbata-bata.
Tuan Wang mendengus tertawa mengejek. Ia memberi isyarat kepada dua preman di belakangnya untuk maju mendekati teras rumah.
"Pergi ke kota? Jangan coba-coba membohongi saya, nyonya tua!" bentak Tuan Wang. "Anakmu itu sudah membuat perusahaan kami rugi besar karena menolak menyerahkan surat tanah ini. Kalau hari ini dia tidak tanda tangani surat pelepasan tanah, maka rumah lapuk ini akan kami ratakan dengan tanah sekarang juga!"
"Jangan! Tolong jangan hancurkan rumah kami..." ratap ibu Lin Fan sambil merapatkan tubuh Lin Mei di belakangnya.
"Persetan dengan rumah ini! Bongkar pintunya!" perintah Tuan Wang kepada para preman.
Dua preman berbadan besar langsung menerjang maju, menghantam pintu kayu tua itu dengan bahu mereka secara bersamaan.
Sfx: Brak! Brak!
Pintu kayu tua itu berderit keras, engselnya patah di satu sisi, dan hampir jebol masuk ke dalam ruang tamu! Lin Mei menjerit histeris ketakutan melihat pintu rumah mereka hampir runtuh.
Namun, tepat saat para preman itu hendak melayangkan hantaman ketiga untuk merobohkan pintu sepenuhnya...
Sfx: BZZZZZT!
Sebuah kilatan cahaya keemasan bercampur merah kehitaman mendadak memancar keluar dari ambang pintu kayu yang retak itu!
Itu adalah [Pagar Perlindungan Rumah Tahap 2] yang diaktifkan secara otomatis oleh sistem begitu mendeteksi adanya ancaman kekerasan fisik langsung terhadap penghuni rumah dalam radius perlindungan mutlak!
Sfx: DUUUUUMMM!
Gelombang tekanan ghaib yang sangat kuat menghantam tubuh kedua preman tersebut seketika.
Preman-preman berbadan besar itu terpental mundur sejauh lima meter, melayang di udara sebelum akhirnya jatuh membanting punggung mereka ke atas tanah halaman rumah.
Sfx: Ughhh!
Keduanya mengerang kesakitan, memuntahkan air liur bercampur darah segar akibat benturan tekanan tak kasat mata yang menghantam dada mereka.
Tuan Wang dan dua preman lainnya terbelalak kaget, melangkah mundur tiga langkah dengan mata membelalak lebar.
"Apa-apaan ini?! Gempa bumi?!" jerit Tuan Wang panik, menatap tanah halaman yang mendadak bergetar hebat.
Bukan sekadar gempa biasa. Di sekeliling rumah tua keluarga Lin kini terbentuk sebuah kubah transparan samar berwarna keemasan yang memancarkan aura dingin dan mengerikan, menolak siapa pun yang berniat jahat untuk masuk ke dalam area tersebut.
Ibu Lin Fan dan Lin Mei terkejut melihat keajaiban yang melindungi rumah mereka, sementara rasa takut di hati ibu Lin Fan perlahan berubah menjadi keheranan yang mendalam.
"Rumah ini... dilindungi..." bisik ibu Lin Fan tak percaya.
Di luar kubah pelindung, Tuan Wang bangkit berdiri dengan wajah pucat pasi. Ia menunjuk ke arah rumah keluarga Lin sambil berteriak gemetar kepada anak buahnya.
"Sialan! Ada ilmu hitam di tempat ini! Cepat hubungi dukun bayaran kita dari kota! Suruh mereka bawa meriam garam hitam untuk hancurkan tempat ini sekarang juga!" teriak Tuan Wang penuh kemarahan dan ketakutan.
Jauh di dalam kegelapan Lembah Hitam, di tengah perjalanan menuju kompleks makam kuno, Lin Fan tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Ia meraba saku jaketnya, tempat sebuah batu kecil penanda sistem bergetar pelan.
[Peringatan Radar Wilayah: Pagar Perlindungan Rumah Menerima Serangan Fisik Langsung]
[Identifikasi Penyerang: Tuan Wang & Utusan Konsorsium Kota]
[Status Pagar: Stabil (Tahap 2 Menahan Seluruh Serangan Fisik)]
Mata Lin Fan menyipit tajam. Kilatan cahaya merah keemasan memancar dari manik matanya menembus kabut tebal Lembah Hitam.
"Ternyata anjing-anjing dari kota itu masih belum jera..." gumam Lin Fan dingin, buku-buku jarinya berderit saat ia mengepalkan tangan kanannya erat-erat.
"Ada apa, Lin Fan?" tanya Chen Meng cemas melihat perubahan ekspresi di wajah pemuda itu.
"Orang-orang dari perusahaan kota sedang menyerang rumahku," jawab Lin Fan singkat dengan suara penuh penekanan.
"Tapi tenang saja, Pagar Perlindungan masih menahan mereka."
Chen Meng menelan ludah dengan susah payah. "Lalu... apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita masih berada di tengah Lembah Hitam."
Lin Fan menatap peta di tangan Chen Meng, lalu mendongak menatap gerbang batu makam kuno yang mulai terlihat di balik kabut tebal beberapa ratus meter di depan mereka.
"Kita selesaikan dulu urusan di makam ini dalam waktu secepat kilat," kata Lin Fan tegas.
"Setelah [Batu Inti Delapan Arah] kudapatkan, aku akan kembali ke desa dan menunjukkan pada orang-orang kota itu arti sebenarnya dari neraka."