Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.
Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.
Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.
Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Jumat pagi yang mendebarkan akhirnya tiba. Di bawah langit Jakarta yang tampak begitu cerah, di teras rumah kecil itu, Arjuna berdiri dengan setelan jas formalnya yang rapi.
Dari tempat mereka berdiri, rumah-rumah tetangga tampak berjauhan, dipisahkan oleh pekarangan luas, kebun, dan pepohonan yang rindang. Karena jarak antar rumah cukup jauh, suasana di sekitar terasa tenang dan lengang.
Sebelum melangkah masuk ke dalam mobil, Arjuna memegang kedua bahu Selly dengan sangat lembut. Tatapan mata Arjuna kini tidak lagi memancarkan aura keangkuhan, melainkan binar ketulusan dan kerendahan hatinya.
"Selly... aku berangkat sekarang ya. Tolong doakan aku agar jalannya dilancarkan oleh Tuhan hari ini." ucap Arjuna lirih, lalu merunduk untuk mengecup pucuk kepala istrinya dengan penuh rasa sayang yang mulai tumbuh di hatinya.
Selly tersenyum manis dengan mata yang berkaca-kaca, mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.
"Amin, Mas. Doaku selalu menyertaimu. Berangkatlah dengan hati yang tenang, serahkan semua hasilnya pada Sang Pencipta.
Selama hampir tiga minggu tinggal di rumah itu, Selly baru beberapa kali melihat tetangga dari kejauhan. Jarak antar rumah yang cukup berjauhan, membuat masing-masing penghuni lebih banyak beraktivitas di lahannya sendiri. Tak heran jika hingga kini mereka belum benar-benar berkenalan dengan warga sekitar.
Di dalam mobil, sepanjang perjalanan menuju kantor, Arjuna juga menyempatkan diri menelepon Ibu dan Ayahnya. Melalui sambungan suara itu, kedua orang tua Arjuna memberikan untaian doa restu dan wejangan moril yang hangat, memberikan pasokan kekuatan batin yang luar biasa bagi Arjuna untuk siap menghadapi apa pun keputusan yang akan diambil oleh pihak agensi.
Pukul sepuluh tepat, Arjuna sudah duduk di dalam ruang rapat utama gedung Dirgantara Media Group. Suasana ruangan terasa begitu sunyi dengan profesionalisme yang tinggi. Di hadapannya, Larasati duduk dengan setelan kerja formal warna biru dongker yang dipadukan dengan kemeja putih halus, menampilkan pesona seorang wanita karier yang matang, cerdas, dan berwibawa.
Di ujung meja, Dewa Dirgantara menyimak dengan tatapan mata elangnya yang dingin namun tenang, sementara Evan bersiap di sampingnya dengan tablet kerja. Arjuna menyodorkan map jepit biru berisi draf revisi pemasarannya dengan kedua tangan yang terulur sopan, kepalanya tertunduk rendah tanpa ada sisa-sisa kesombongan masa lalu.
"Bu Larasati, Pak Dewa... ini adalah draf revisi strategi pemasaran terbaru yang sudah kami rombak total. Kami telah memperdalam analisis kompetitor dan menyesuaikan target audiens sesuai dengan standar tinggi Dirgantara Media."
Larasati menerima map tersebut dengan gerakan jemari yang anggun. Dengan raut wajah yang sangat serius, ia mulai membalik lembar demi lembar berkas tersebut, memeriksa keakuratan data digital yang disajikan. Berkat bantuan Selly yang mengetik ulang data dan kerjasama yang mereka lakukan di rumah, draf pemasaran itu kini terlihat begitu sempurna, tajam, kreatif, dan seratus persen masuk ke dalam kriteria tinggi yang diinginkan agensi.
Setelah membaca beberapa halaman penting, Larasati menutup map tersebut dengan perlahan. Ia menoleh ke arah CEO di sampingnya dengan pandangan yang sangat profesional.
"Pak Dewa, saya mengakui revisi ini sudah sangat luar biasa dan memenuhi semua aspek strategi kreatif kita. Namun, sebelum saya mengambil keputusan final, saya meminta waktu sebentar untuk berdiskusi secara internal dengan Anda dan tim analis."
Dewa mengangguk pelan, menyetujui sikap adil wanitanya. "Baik. Rapat kita skors selama sepuluh menit. Pak Arjuna, silakan tunggu di luar sejenak."
Sepuluh menit berlalu bagaikan satu abad bagi Arjuna yang terus merapalkan doa pasrah di koridor luar. Ketika pintu kembali dibuka dan ia dipersilakan duduk, Larasati menatap lurus ke dalam manik mata Arjuna dengan seulas senyum tipis yang sangat teduh.
"Pak Arjuna, setelah berdiskusi secara matang dengan Pak Dewa, kami memutuskan bahwa draf revisi pemasaran dari perusahaan Anda resmi diterima. Kerja sama proyek miliaran ini akan tetap dilanjutkan." Larasati menyampaikan dengan suara yang lantang dan tegas.
Mendengar kalimat itu, seluruh beban berat yang berhari-hari menghimpit dada Arjuna runtuh seketika. Kariernya terselamatkan, nama baiknya di kantor akan pulih, dan pintu rezeki yang halal untuk istri serta calon bayinya kini terbuka lebar.
Di hadapan Larasati, Dewa, dan Evan, pertahanan batin Arjuna pecah. Air mata pria itu luruh dengan deras. Tanpa memedulikan gengsi, Arjuna langsung merosot dari kursinya ke atas lantai ruang rapat, melakukan sujud syukur yang teramat khusyuk di hadapan Sang Pencipta atas mukjizat di hari Jumat ini.
Setelah beberapa saat menguasai emosinya yang membuncah, Arjuna bangkit berdiri kembali. Ia menghapus air matanya dengan saputangan, lalu menatap Larasati dengan pandangan penuh rasa hormat yang mendalam.
"Bu Larasati, sebelum saya meninggalkan ruangan ini, saya memohon izin satu menit saja untuk berbicara dari lubuk hati saya yang paling dalam." ucap Arjuna dengan suara yang bergetar serak.
Larasati mengangguk pelan, memberikan ruang.
"Bu Larasati... di hadapan Pak Dewa dan Evan, aku ingin meminta maaf yang setulus-tulusnya atas segala luka keji, pengkhianatan menjijikkan, dan perbuatan bejat yang pernah aku torehkan pada hatimu." ratap Arjuna dengan air mata yang kembali mengalir, menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan mantan kekasihnya itu.
"Aku sangat menghormatimu sebagai wanita yang punya prinsip. Kehilanganku atas dirimu adalah hukuman terbesar dalam hidupku. Terima kasih karena hari ini kamu sudah menunjukkan kebesaran hatimu untuk tetap bersikap adil dan profesional pada proyekku. Aku sungguh menaruh rasa hormat yang setinggi-tingginya padamu seumur hidupku."
Suasana ruang rapat mendadak berubah menjadi keharuan yang mendalam.
Evan di sudut ruangan tampak mengembuskan napas panjang dengan mata yang ikut berkaca-kaca melihat ketulusan pria di depannya.
Di ujung meja, Dewa Dirgantara menatap Arjuna dengan pandangan yang melembut. Pria lajang berusia 38 tahun itu tersentuh melihat bagaimana Arjuna kini telah menjelma menjadi pria yang tahu cara merunduk di hadapan takdir.
Larasati menatap lekat wajah mantan pacar pertamanya itu dengan tatapan mata yang sangat teduh, bersih dari segala dendam kemarahan. Ia mengulas seulas senyum tulus yang teramat anggun, memancarkan aura seorang pemenang kehidupan yang sesungguhnya.
"Arjuna, dengarkan aku baik-baik." jawab Larasati dengan nada suara yang sangat lembut dan penuh kedewasaan.
"Permintaan maafmu sudah aku terima dengan tulus. Aku sudah sepenuhnya memaafkanmu, dan tidak ada lagi rasa benci atau dendam di dalam hatiku. Semua masa lalu kita sudah selesai dan terkunci rapat di ruang ini. Jadilah suami yang baik dan ayah yang bertanggung jawab untuk keluarga barumu."
Arjuna mengangguk cepat di tengah tangis harunya.
"Iya, Laras... terima kasih banyak. Aku berjanji akan menjaga mereka dengan sisa hidupku."
Dengan langkah yang terasa ringan dan hati yang dipenuhi rasa damai, Arjuna menjabat tangan Larasati dan Dewa dengan penuh rasa hormat, lalu melangkah keluar dari ruang rapat membawa berkas proyeknya. Hari ini tidak hanya menyelamatkan karier profesionalnya, tetapi telah memulihkan seluruh martabat kemanusiaan di dalam jiwa Arjuna, membuktikan bahwa keajaiban Tuhan selalu ada bagi setiap hamba yang mau merunduk dan berubah dengan tulus.
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok