Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka di hari spesial Kalandra
Sean masih berdiri di depan pintu kamar Kalandra.
"Kala..." Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk pintu sekali lagi. "Buka pintunya,dek"
Tetap hening.Sean menundukkan kepalanya,Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi.Sejak tadi Kala mengurung diri di kamar setelah makan malam bersama minus Ages.
Sementara itu, Arsen masih berada di ruang tengah.Wajahnya terlihat begitu marah.Ia mengambil ponselnya dan kembali mencoba menghubungi Ages namun tidak diangkat.
Arsen menghela napas kasar. "Dia bahkan tidak ingat,Yah."
Kakek Sabiru menatapnya. "Arsen."
"Aku akan mencari dia."
"Untuk apa?"
"Untuk memberinya kejutan." Arsen mengambil kunci mobilnya.
Kakek menghela napas. "Jangan sampai kamu membuat masalah."
Arsen menoleh. "Aku tidak akan mencari masalah." Tatapannya mengeras. "Tapi aku ingin tahu, apa yang membuat Ages sampai lupa ulang tahun anaknya sendiri."
Kakek Sabiru hanya bisa menghela napas dalam,kali ini anak bungsunya telah membuat kesalahan yang membuat semua orang kecewa,terlebih Kalandra.
Arsen mulai mencari keberadaan Ages.Ia menghubungi beberapa orang namun tidak ada yang tahu.Apalagi ponsel Ages tidak aktif ketika dihubungi.
Namun, Arsen tidak menyerah.Ia mengenal adiknya.Jika Ages sedang bekerja, biasanya ia berada di kantor.
Arsen langsung pergi ke sana.Namun, begitu tiba di kantor Ages tidak ada.Ia tidak menemukannya.
"Pak Ages belum kembali sejak sore, Pak." ucap seorang karyawan.
Arsen mengerutkan kening. "Dia pergi dengan siapa?"
Karyawan tersebut terlihat ragu. "Sepertinya bersama Bu Nadira."
Arsen langsung terdiam. "Nadira?"
"Iya."
Arsen mengepalkan tangannya. "Alamatnya."
Karyawan itu terkejut.
"Maaf, Pak?"
"Tempat mereka pergi."
Dengan terpaksa karyawan tersebut memberikannya karena begitu takut melihat wajah Arsen yang sangat menyeramkan.
Sementara itu, di sebuah rumah sakit.
Ages duduk di salah satu kursi di lorong.Di sebelahnya, Nadira terlihat gelisah.
"Ayah saya masih di dalam."
Ages menoleh. "Dokter belum keluar?"
Nadira menggeleng."Belum."
Ages mengangguk. "Tenang. Semoga tidak ada apa-apa."
Nadira menatap Ages. "Terima kasih sudah menemani saya."
Ages hanya mengangguk. "Anda tidak seharusnya sendirian."
Nadira menunduk,hatinya begitu sedih karena sang ayah yang sakit namun ia juga sangat bahagia karena Ages mau menemaninya..
Sejak sore, ayahnya tiba-tiba jatuh sakit.Nadira yang panik langsung menghubungi Ages.Dan Ages bersedia untuk datang.
Ia tidak berpikir panjang.Tidak menyadari bahwa hari itu adalah ulang tahun Kalandra.Tidak menyadari bahwa putranya sedang menunggunya.Yang Ages pikirkan hanya Nadira yang sedang membutuhkan bantuan.
Pintu lift terbuka.
Arsen keluar dengan langkah cepat.Matanya langsung menemukan Ages.Ages yang sedang duduk di samping Nadira mengangkat wajahnya.
"Bang Arsen?"
Arsen berhenti beberapa meter dari mereka.Wajahnya berubah semakin gelap.
Ages berdiri. "Lo ngapain di sini?"
Arsen tertawa pendek. "Pertanyaan yang bagus."
Ages mengerutkan kening. "Bang."
"Jadi ini alasannya?"
Nadira terlihat bingung. "Pak Ages..."
Ages menatap kakaknya. "Maksud lo apa?"
Arsen berjalan mendekat. "Anak lo nunggu.Apa lo ingat?"
Ages terdiam. "Bang, gue—"
"Dia nunggu lo dari sore." Suara Arsen semakin tinggi. "Nunggu bokapnya datang di hari ulang tahunnya."
Ages membeku. "Gue tahu."
"Enggak." Arsen menunjuk Ages. "Lo baru tahu setelah hari ulang tahunnya berakhir."
Ages terdiam. "Gue minta maaf."
"Minta maaf?"
Arsen tertawa pahit. "Lo tau sekarang anak lo gimana?"
Ages tidak menjawab.
"Dia ngurung diri di kamar."
Ages menunduk. "Gue gak bermaksud ngelupain anak gue."
"Tapi kenyataannya lo ngelupain dia!" Bentak Arsen tak bisa lagi mengendalikan diri.
Suasana lorong rumah sakit mulai menarik perhatian beberapa orang.
Nadira berdiri. "Pak Ages..."
Arsen menoleh kepadanya. "Dan kamu."
Nadira terdiam.
"Jangan ikut campur."
"Aku hanya—"
"Kamu hanya apa?" Arsen menatapnya tajam. "Kamu yang terus datang ke kantor Ages."
Nadira membeku,lidahnya terasa kelu.Ia merasa takut saat melihat wajah Arsen yang merah padam.
"Kamu yang terus menghabiskan waktunya."
"Bang." Ages mencoba menghentikannya.
Namun Arsen tidak peduli. "Setiap hari makan siang bersama dengan alasan sekalian bahas pekerjaan."
Arsen melangkah mendekat.
"Setiap hari ngajak Ages melakukan ini dan itu."
"Aku tidak pernah memaksa." Nadira membalas dengan suara tertahan.
Arsen tersenyum sinis. "Tidak perlu memaksa kalau kamu tahu cara membuat orang lain merasa bersalah."
"Sudah cukup." Ages akhirnya meninggikan suaranya.
Arsen menoleh. "Belum cukup."
Ages mengerutkan kening. "Lo gak tahu apa yang terjadi."
"Gue tahu lebih banyak daripada lo." Arsen menunjuk ke arah Ages. "Karena lo terlalu sibuk sama dia, sampe lo lupa sama anak lo sendiri."
Ages terdiam.
"Kala bahkan masih bela lo,Ges " Tunjuknya tepat di depan wajah Ages. "Dia bilang lo mungkin lagi sibuk kerja buat biayain hidup Kala."
Ages menunduk,dadanya terasa sesak.
"Dia terus nunggu." Suara Arsen semakin bergetar karena marah. "Dan lo?"
Ages tidak menjawab,suaranya tertahan di tenggorokan.
"Lo lagi di sini."
Arsen menunjuk Nadira. "Menemani perempuan yang baru lo kenal beberapa bulan."
Nadira terlihat marah.
"Saya tidak pernah bermaksud membuat Pak Ages melupakan anaknya."
Arsen langsung menatapnya. "Tapi itulah yang terjadi."
Ages memejamkan mata.
"Arsen, cukup."
"Enggak."
Arsen menatap Ages. "Kalau lo masih mau bela dia, silakan."
Ages terdiam.
"Silakan terus bilang semua ini biasa saja."
Arsen tertawa kecil. "Tapi jangan kaget kalau suatu hari nanti Kalandra berhenti nunggu lo dan lebih milih untuk pergi."
Kalimat itu membuat Ages mengangkat wajahnya. "Jaga bicara lo!."
"Kenapa?"
Arsen menatapnya tajam. "Karena lo takut itu terjadi kan?"
Ages terdiam.Beberapa detik kemudian, Ages tiba-tiba berjalan mendekati Arsen. "Jangan bawa-bawa Nadira."
Arsen menatapnya. "Gue gak salahin dia."
"Tapi lo terus menyudutkannya."
"Karena dia memang bagian dari masalah ini!"
Ages mengepalkan tangannya. "Jaga ucapan lo."
Arsen tidak mundur. "Kalau tidak?"
Suasana di antara kedua saudara itu semakin memanas.
Nadira mencoba menghentikan mereka.
"Pak Ages, sudah."
Namun, Arsen lebih dulu mendorong bahu Ages membuat Ages mundur beberapa langkah.
Ages menatapnya. "Bang."
"Kenapa?"
Arsen kembali mendekat. "Marah?"
Ages yang sejak tadi menahan emosinya akhirnya kehilangan kendali.Ia mendorong Arsen.Dalam hitungan detik, keduanya terlibat perkelahian.
"Ages!"
Nadira berteriak.
Beberapa orang di lorong rumah sakit mulai mendekat.
Arsen dan Ages akhirnya dipisahkan.Napas keduanya terdengar berat.
"Apa yang kalian lakukan?"
Suara seorang perawat terdengar tegas.
Ages masih menatap Arsen.Arsen juga tidak mengalihkan pandangan.
"Pulang lo." lirih Arsen
Ages terdiam,kali ini bukan hanya hatinya yang sakit tapi juga wajahnya
"Kala masih nungguin gue?"
Arsen menggeleng. "Enggak."
Ages membeku. "Dia sudah tidur?"
Arsen menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. "Gue rasa dia sudah berhenti nunggu."
Ages tidak menjawab.
"Ulang tahunnya sudah selesai."
Arsen berbalik. "Dan lo terlambat."
Ages berdiri dalam diam.Ia melihat jam di dinding.Pukul 00.47.
Hari ulang tahun Kalandra telah berakhir hampir satu jam yang lalu.Ages mengambil ponselnya.
Ada satu pesan dari Kalandra.Pesan yang dikirim beberapa jam sebelumnya.
✉️ Pap,kalau papa sibuk, nggak apa-apa.
Ages membaca pesan itu berulang kali.
Kemudian membuka pesan berikutnya.
✉️ Aku cuma mau bilang...Makasih udah selalu jadi Ayah terbaik selama ini.
Ages membeku.Di bawahnya terdapat satu pesan terakhir.
✉️ Selamat malam, Pap.Maaf Kala selalu merepotkan papa.
Ages menatap layar ponsel.Tangannya mulai bergetar.Dadanya terasa semakin sesak. Bukan karena Kalandra marah namun karena Kalandra tidak menyalahkannya sama sekali.Kalandra justru masih berusaha membuatnya merasa tidak bersalah.
Ages menutup matanya. "Kala..." lirihnya
Nadira berdiri tidak jauh darinya. "Pak Ages..."
Ages menoleh, tatapan Ages kepada Nadira tidak lagi sama.
Akhirnya ia mulai melihat sesuatu yang selama ini tidak ia sadari.Sesuatu yang membuat ia dan sang anak menjadi jauh dan ia baru menyadari semuanya setelah terlambat.
Ages berbalik dan berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.
"Pak Ages?" panggil Nadira.
Ages berhenti.
Nadira menatapnya.
"Anda mau ke mana?"
Ages tidak langsung menjawab.Ia kembali menatap Nadira. "Pulang."
"Sekarang?"
"Iya."
Nadira terdiam. "Apa bapak tidak bisa menemani saya disini?"
Ages menatapnya untuk terakhir kali. "Besok kita bicara."
Kemudian Ages pergi.
Meninggalkan Nadira seorang diri di lorong rumah sakit.
Nadira mengepalkan tangannya. Brengsek,lagi-lagi gara-gara anak itu Ages jadi meninggalkanku.
.......
.......
...^^^.^^^...
...♡Sabiru♡...
🦋 Jangan lupa tinggalkan jejak readersku..🦋