Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".
Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.
"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Malam Terkahir di Klan Lin
Pengumuman itu datang dua hari kemudian, persis seperti yang telah diperkirakan Lin Chen.
Setelah makan malam, Lin Hai memanggilnya ke ruang tamu kediaman keluarga. Pria paruh baya itu duduk di kursinya dengan wajah yang tampak serius, seolah sedang memikirkan sesuatu yang penting. Kerutan di dahinya dan tatapan penuh perhatian terlihat begitu alami hingga sulit dibedakan apakah itu ketulusan atau sekadar sandiwara yang sudah lama dilatih.
"Duduklah, Lin Chen."
Lin Chen menurut tanpa berkata apa-apa.
"Aku dan para tetua telah membahas kondisimu selama beberapa hari terakhir," ujar Lin Hai sambil menyatukan kedua tangannya di atas meja.
"Kami berpendapat bahwa metode kultivasi yang biasa sudah tidak memberikan hasil bagimu. Meridianmu membutuhkan cara pemulihan yang berbeda. Ada beberapa tanaman obat langka yang dipercaya dapat membantu memperbaiki kerusakan itu, dan sebagian besar hanya dapat ditemukan di Pegunungan Cang Lei."
Lin Chen menatap pamannya dengan tenang.
"Paman ingin mengirimku ke Pegunungan Cang Lei."
Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.
Lin Hai tidak tampak terkejut.
"Ini bukan hukuman. Kami sungguh ingin memberimu kesempatan untuk..."
"Kapan aku berangkat?"
Kali ini Lin Hai terdiam sejenak.
Sesaat, sesuatu melintas di matanya. Mungkin rasa bersalah, mungkin ketidaknyamanan. Namun perasaan itu menghilang begitu cepat hingga sulit dipastikan.
"Tiga hari lagi. Klan sudah menyiapkan perbekalan dasar untukmu."
Lin Chen mengangguk pelan.
"Baik."
Ia berdiri dari kursinya.
"Terima kasih atas kesempatan ini."
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan meninggalkan ruangan.
Malam itu menjadi malam terakhirnya di Klan Lin.
Namun Lin Chen tidak menghabiskannya dengan tidur ataupun meratapi nasib.
Ia memilih untuk bersiap.
Seluruh isi kamarnya diperiksa satu per satu.
Pakaian yang masih layak pakai dilipat rapi dan dimasukkan ke dalam tas perjalanan. Beberapa perlengkapan sederhana untuk bertahan hidup turut ia siapkan.
Buku-buku kultivasi yang selama bertahun-tahun ia baca berulang kali tetap berada di rak. Tidak ada gunanya membawa sesuatu yang selama ini tidak mampu mengubah keadaannya.
Ia juga mengambil sebuah pisau kecil yang biasa digunakan untuk keperluan sehari-hari serta kantong berisi beberapa keping perak yang berhasil ia kumpulkan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.
Setelah semuanya selesai, tangannya berhenti pada sebuah benda yang terletak di sudut laci.
Sebuah gelang kayu berwarna merah tua.
Permukaannya sudah mulai kusam dimakan usia, tetapi ukiran berbentuk bintang di atasnya masih terlihat jelas.
Itu adalah pemberian terakhir dari ibunya. Sebelum wanita itu menghilang sembilan tahun lalu.
Lin Chen memegang gelang itu cukup lama sebelum akhirnya mengenakannya di pergelangan tangannya.
Seolah benda sederhana itu masih menyimpan kehangatan yang telah lama hilang.
Setelah itu, ia duduk di dekat jendela dan memandangi kediaman Klan Lin yang diterangi cahaya malam.
Bangunan-bangunan besar dengan atap melengkung berdiri megah di bawah sinar lentera kuning keemasan. Pohon-pohon tua yang telah tumbuh sejak generasi pertama klan tampak kokoh dalam kegelapan.
Dari kejauhan terdengar suara latihan malam para murid muda.
Desiran teknik angin.
Benturan pukulan ke boneka latihan.
Dan teriakan semangat yang sesekali memecah kesunyian.
Tempat itu seharusnya menjadi rumahnya.
Namun selama bertahun-tahun, Lin Chen tidak pernah benar-benar merasa memilikinya.
Malam terus berlalu hingga menjelang dini hari.
Lorong-lorong kediaman telah sepi. Para pelayan dan murid hampir semuanya terlelap.
Saat itulah Lin Chen mendengar suara langkah kaki mendekati kamarnya.
Tak lama kemudian terdengar tiga ketukan pelan di pintu.
Tiga ketukan.
Pola yang sangat ia kenal.
Dulu, saat mereka masih kecil, Yue Suyin menciptakan pola itu agar mereka bisa saling mengenali tanpa perlu bertanya.
Lin Chen tetap duduk di dekat jendela.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan.
Yue Suyin melangkah masuk.
Kali ini ia tidak mengenakan pakaian resmi ataupun perhiasan yang biasa menghiasi rambutnya. Rambut hitamnya terurai sederhana, sementara pakaiannya terlihat seperti pakaian rumah biasa.
Untuk sesaat, ia tampak jauh lebih muda.
Seperti gadis kecil yang dulu datang membawa sekotak kue dan memperkenalkan dirinya dengan senyum polos.
"Aku mendengar kau akan berangkat ke Pegunungan Cang Lei," katanya pelan.
"Tiga hari lagi."
Lin Chen masih menatap ke luar jendela.
"Kau datang untuk mengucapkan selamat jalan?"
Yue Suyin tidak langsung menjawab.
Keheningan menyelimuti ruangan beberapa saat.
"Aku ingin meminta maaf." Suara gadis itu terdengar lebih pelan dari biasanya. "Atas apa yang kukatakan waktu itu di taman."
Lin Chen menoleh.
Tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya sejak pembatalan pertunangan.
"Itu tidak perlu."
"Tapi aku..."
"Kau hanya mengatakan apa yang sebenarnya kau pikirkan."
Suara Lin Chen tetap tenang. "Itu lebih baik daripada berpura-pura."
Yue Suyin terdiam.
Ia tidak mampu membantahnya.
Lin Chen memandangnya beberapa saat sebelum berkata,
"Jagalah dirimu."
Yue Suyin sedikit terkejut.
"Dunia kultivasi tidak seindah yang dibayangkan banyak orang. Bahkan mereka yang berbakat pun bisa kehilangan segalanya dalam sekejap."
Mata Yue Suyin bergetar pelan.
Seolah ada banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi tidak satu pun berhasil keluar dari bibirnya.
Pada akhirnya, ia hanya mengangguk. Kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu.
Sebelum pergi, ia sempat berhenti sejenak. Namun tetap tidak mengucapkan apa-apa.
Pintu pun tertutup perlahan.
Lin Chen kembali menatap langit malam di luar jendela.
Angin berembus pelan, membawa aroma bunga plum dari taman belakang.
Tiga hari lagi.
Tiga hari lagi ia akan meninggalkan Klan Lin.
Dan jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa perjalanan itu akan menjadi awal dari perubahan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.