Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Intrik Kamar Belakang dan Jebakan Rahasia
Sepeninggal Adrian, kediaman Arseto seperti kehilangan poros utamanya. Seluruh pelayan bekerja dalam keheningan yang mencekam, tahu bahwa hasil dari apa yang terjadi di pelabuhan hari ini akan menentukan nasib mereka semua.
Kirana turun ke lantai dasar untuk membantu membersihkan area ruang keluarga utama. Saat ia sedang mengelap vas-vas porselen besar di selasar barat, ia melihat Mawar sedang berjalan terburu-buru menuju ke arah ruang kerja Ibu Maya yang sedang kosong karena sang Kepala Pelayan sedang mengawasi dapur belakang.
Kecerdasan Kirana langsung berputar. Sifat waspada dan pintarnya menuntunnya untuk mengikuti langkah Mawar dengan langkah kaki yang teredam sempurna oleh karpet tebal.
Mawar menyelinap masuk ke dalam ruang kerja Ibu Maya. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, Kirana bisa melihat Mawar sedang menggeledah tumpukan berkas di atas meja kerja, matanya bergerak panik dan penuh keserakahan. Di tangannya, sebuah ponsel pintar menyala, siap memotret dokumen apa pun yang terlihat penting.
"Di mana catatan manifest pengiriman barang itu... Kalau aku bisa menjual informasi ini ke pihak luar, aku tidak perlu lagi menjadi pelayan rendahan di rumah ini," gumam Mawar dengan suara berbisik yang gemetar karena kombinasi antara rasa takut dan ambisi yang buta.
Kirana mendengus pelan di balik kegelapan lorong. Jadi, Mawar bukan sekadar pelayan yang iri dan dengki; gadis itu adalah duri dalam daging yang nyata, seorang pengkhianat yang berusaha menjual rahasia kediaman demi keuntungan pribadi di tengah situasi genting seperti ini.
Alih-alih langsung berteriak meminta bantuan yang justru bisa membuat Mawar menghancurkan bukti, Kirana memilih untuk menyelesaikan masalah ini dengan caranya sendiri yang cerdas dan teliti.
Klik.
Kirana menyalakan fungsi perekam video di ponselnya sendiri, mengarahkan kameranya tepat melalui celah pintu, merekam dengan sangat jelas setiap gerak-gerik Mawar yang sedang memotret dokumen internal kediaman. Rekaman itu adalah bukti mutlak yang tidak akan bisa dibantah oleh siapa pun, bahkan oleh hukum dunia bawah.
Setelah mendapatkan rekaman yang cukup, Kirana sengaja mengetukkan ujung sepatunya ke lantai dengan keras. Tok! Tok!
Mawar tersentak hebat, ponsel di tangannya hampir saja terjatuh ke lantai. Wajahnya seketika memucat pasi seperti mayat saat melihat Kirana berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di depan dada dan sebuah senyuman manis yang terasa begitu dingin di wajah cantiknya.
"Wah, Mawar. Sejak kapan tugas pelayanan lantai dasar berpindah ke meja kerja Ibu Maya?" tanya Kirana dengan nada santai yang penuh intimidasi, matanya mengunci sosok Mawar tanpa ampun.
"K-Kirana?! Apa yang kamu lakukan di sini?!" gagap Mawar, mencoba menyembunyikan ponselnya di balik punggungnya dengan gerakan yang sangat kikuk. "Aku... aku hanya sedang mencari daftar inventaris kain lap yang diminta Ibu Maya tadi pagi!"
"Daftar kain lap?" Kirana terkekeh pelan, melangkah masuk ke dalam ruangan secara perlahan, membuat Mawar terdesak hingga punggungnya membentur tepian meja kayu. "Sejak kapan daftar kain lap dicetak di atas kertas dokumen berlogo naga perak yang bersertifikat rahasia, Mawar? Dan sejak kapan mencari kain lap membutuhkan kamera ponsel untuk memotretnya?"
"Kamu... jangan menuduhku sembarangan ya!" teriak Mawar dengan suara bergetar, mencoba menggunakan kebohongan terakhirnya. "Siapa yang akan percaya pada kata-kata anak yatim piatu sepertimu?!"
Kirana tidak terpancing amarah. Ia justru mengangkat ponselnya sendiri, memperlihatkan layar yang sedang memutar ulang video aksi Mawar beberapa detik yang lalu dengan kualitas gambar yang sangat tajam.
"Ibu Maya mungkin tidak akan percaya pada kata-kataku saja, Mawar," ujar Kirana dengan binar mata bulatnya yang berubah menjadi sangat dingin dan tegas. "Tapi video ini... dan Pak Hendra yang mengurusi keamanan dunia bawah di rumah ini, pasti akan sangat tertarik untuk melihatnya. Kamu tahu apa yang terjadi pada mata-mata atau pengkhianat di rumah ini, bukan? Kaki terikat rantai di dasar sungai sepertinya bukan sekadar dongeng pengantar tidur."
Mendengar kata-kata Kirana dan melihat bukti video tersebut, lutut Mawar seketika lemas. Ia jatuh terduduk di lantai marmer, air mata ketakutan mulai membanjiri pipinya. Ia tahu betul betapa kejamnya hukuman di kediaman Arseto bagi seorang pengkhiat.
"K-Kirana... tolong... tolong jangan laporkan aku..." mohon Mawar sambil memegangi ujung apron seragam Kirana dengan tangan gemetar. "Aku khilaf... aku terlilit utang judi keluargaku... Tolong hapus video itu, Kirana... aku mohon..."
Kirana menatap Mawar yang menangis histeris di bawah kakinya tanpa ada rasa iba yang berlebihan. Kecerdasannya tahu kapan harus bersikap riang dan kapan harus bersikap tegas demi melindungi tempat di mana Adrian berada.
"Aku tidak akan menghapus video ini, Mawar," ucap Kirana dengan suara rendah yang penuh wibawa. "Tapi aku akan memberikanmu satu kesempatan untuk menebus kesalahanmu sebelum Pak Hendra pulang. Kamu akan ikut denganku ke depan Ibu Maya sekarang, menyerahkan ponselmu, dan menceritakan siapa orang di luar sana yang mencoba membelimu. Jika kamu kooperatif, mungkin Tuan Muda Adrian hanya akan mendepakmu dari kota ini, bukan membuangmu ke sungai. Pilihan ada di tanganmu."
Dengan sisa kekuatan yang ada, Mawar mengangguk pasrah, menyadari bahwa ia telah kalah telak dalam permainan catur melawan seorang gadis pelayan yang kecerdasannya jauh di atas dirinya.