NovelToon NovelToon
MY HOT KILLER LECTURER

MY HOT KILLER LECTURER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Terlarang / CEO
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."

Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.

Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.

Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IKATAN DI ATAS ALTAR SUCI

Langit pagi di atas kawasan puncak Bogor membentang seluas permadani biru tanpa noda.

Sinar matahari hangat menembus celah-celah dedaunan pinus, menyinari sebuah kapel kaca minimalis berdesain modern yang berdiri megah di tengah lanskap alam terbuka.

Tempat itu dikelilingi oleh hamparan bunga putih yang bermekaran, menciptakan atmosfer yang begitu sakral, privat, dan romantis.

Hari ini adalah hari yang dinantikan.

Pernikahan privat antara Arga Dirgantara dan Queen Adhitama.

Sesuai dengan kesepakatan bersama Handoko Adhitama, pesta besar-besaran dengan sorotan media global memang sengaja ditunda hingga bayi mereka lahir ke dunia.

Namun, untuk mengikat janji suci di hadapan Tuhan dan keluarga inti, sebuah pemberkatan eksklusif digelar secara tertutup.

Hanya dihadiri oleh keluarga besar Dirgantara, keluarga besar Adhitama, serta beberapa sahabat terdekat seperti Alya dan Karin.

---

Di dalam ruang ganti khusus pengantin wanita, keheningan dipenuhi oleh rasa gugup yang luar biasa.

Queen berdiri di depan cermin besar berbingkai emas, menatap pantulan dirinya sendiri dengan napas yang tertahan.

Ia mengenakan gaun pengantin putih berpotongan A-line klasik yang dirancang khusus oleh desainer dunia.

Gaun itu terbuat dari bahan sutra halus dengan sulaman permata kecil di bagian dada, dirancang longgar di area perut untuk menyamarkan usia kehamilannya yang kini menginjak bulan kelima.

Rambut hitam bergelombangnya disanggah rapi dengan mahkota mutiara kecil yang menjuntai indah di dahi, memperingatkan siapa pun bahwa gadis cegil yang dulunya bar-bar dan urakan kini telah bertransformasi menjadi seorang pengantin wanita yang sangat memukau dan anggun.

"Ya ampun, Queen...

Sumpah, lo cantik banget hari ini!"

puji Karin heboh, berdiri di samping Queen sambil memegang tisu, matanya sudah berkaca-kaca karena terharu.

"Gue gak nyangka, mahasiswi paling hobi bikin onar di kampus kita akhirnya beneran nikah sama dosen killer legendaris!"

Alya, yang mengenakan gaun bridesmaid berwarna sage green, ikut mendekat dan merapikan ekor gaun Queen sambil tersenyum lebar.

"Udah, Rin, jangan bikin Queen nangis.

Nanti makeup-nya luntur, bisa-bisa abang gue ngamuk karena pengantinnya telat keluar."

Queen menarik napas panjang, meraba perutnya yang kini sudah mulai membuncit manis.

"Gue deg-degan banget, Guys...

Rasanya kayak mimpi.

Kemarin-kemarin kita masih kucing-kucingan di apartemen, sekarang aku resmi bakal jadi Nyonya Dirgantara."

"Itu karena takdir tahu kalau kalian berdua memang ditakdirkan untuk saling menyelamatkan," ucap Alya tulus, memeluk sahabatnya itu dengan hati-hati.

---

Beberapa meter dari ruang ganti, di ruang tunggu pengantin pria, Arga Dirgantara berdiri tegak di depan jendela kaca besar menghadap ke arah lembah.

Ia mengenakan setelan jas hitam bespoke dari penjahit ternama London, dipadukan dengan kemeja putih bersih dan dasi kupu-kupu hitam.

Penampilannya tampak sangat matang, berwibawa, dan memancarkan aura seorang pria mapan yang berada di puncak kejayaannya.

Tidak ada lagi bayang-bayang kelam tentang masa lalunya bersama Keysha.

Wanita itu kini telah berada jauh di balik jeruji besi, menjalani hukumannya tanpa celah untuk kembali merusak hidup Arga.

Pintu ruang tunggu terbuka, menampilkan sosok Handoko Adhitama sang ayah mertua yang melangkah masuk dengan setelan jas senada.

Meskipun hubungan mereka diawali dengan hantaman tinju dan kemarahan besar, kini Handoko menatap Arga dengan sorot mata penuh penghargaan dan kepercayaan sebagai seorang ayah.

Handoko menepuk pundak kokoh Arga pelan.

"Arga."

Arga menoleh, lalu sedikit membungkukkan kepalanya dengan hormat.

"Pak Handoko... atau, Daddy."

Sebuah senyuman tipis terukir di bibir Handoko.

"Panggil Daddy saja mulai hari ini.

Kamu sudah membuktikan ucapanmu.

Kamu melindungi Queen dengan caramu sendiri, dan kamu membersihkan masa lalumu sebelum melangkah maju.

Ingat satu hal, Arga...

Queen adalah putri tunggal kesayangan kami.

Nyawanya, kebahagiaannya, dan darah daging yang ada di dalam perutnya sekarang adalah taruhan hidupmu."

"Saya mengerti, Dad," jawab Arga dengan suara baritonnya yang mantap dan penuh keyakinan.

"Saya menyerahkan seluruh sisa hidup saya untuk membahagiakan Queen.

Tidak akan pernah ada air mata kesedihan lagi di matanya, saya bersumpah atas nama harga diri saya."

Handoko mengangguk puas.

"Bagus, waktunya tiba, pendeta sudah menunggu di altar."

---

Alunan musik klasik dari petikan harpa menggema lembut di dalam kapel kaca yang dipenuhi oleh deretan kursi kayu mahoni.

Para tamu undangan termasuk kedua orang tua Arga, Gayatri dan suaminya, serta kerabat terdekat telah berdiri di tempat duduk mereka masing-masing, menatap ke arah pintu utama kapel yang perlahan-lahan terbuka.

Arga berdiri tegak di depan altar suci, menatap lurus ke depan dengan jantung yang berdegup kencang jauh lebih kencang dibanding saat ia harus menghadapi rapat dewan direksi paling krusial sekalipun.

Dan di ambang pintu, muncullah Queen.

Gadis itu berjalan perlahan didampingi oleh Handoko Adhitama yang menggandeng lengannya dengan penuh kebanggaan.

Saat pandangan mata elang Arga bertemu dengan sepasang mata bulat Queen yang berbinar basah di balik veil transparan, dunia di sekitar mereka seolah mendadak lenyap.

Yang ada hanya mereka berdua.

Begitu sampai di altar, Handoko menyerahkan tangan putrinya ke dalam genggaman tangan kokoh Arga.

"Jaga dia," bisik Handoko singkat sebelum menempati tempat duduknya di samping Elena.

Arga menyambut tangan lentik Queen, meremasnya lembut untuk menyalurkan ketenangan.

Mereka berdua berdiri berdampingan di hadapan pendeta, siap mengucapkan ikrar suci.

"Arga Dirgantara," suara pendeta berwibawa memulai prosesi,

"apakah engkau mengambil Queen Adhitama sebagai istri sahmu, untuk mengasihinya, melindunginya, dalam suka maupun duka, dalam keadaan kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan?"

Arga menatap lekat-lekat ke dalam mata Queen, melihat seluruh kejujuran, ketulusan, dan cinta tanpa syarat yang terpancar dari sana.

"Saya bersedia," jawab Arga tegas, penuh keyakinan.

Pendeta beralih menatap Queen.

"Queen Adhitama, apakah engkau mengambil Arga Dirgantara sebagai suami sahmu, untuk mengasihinya, menghormatinya, dalam suka maupun duka, dalam keadaan kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan?"

Queen menarik napas panjang, air mata bahagianya menetes perlahan membasahi pipinya, namun senyuman paling indah merekah di bibirnya.

"Saya bersedia," jawab Queen mantap.

Acara dilanjutkan dengan prosesi tukar cincin.

Arga mengambil cincin emas putih berukirkan inisial nama mereka, lalu dengan jemari yang sedikit bergetar, ia memasangkannya di jari manis Queen tepat di samping cincin pertunangan mereka tempo hari.

Queen kemudian melakukan hal yang sama, menyematkan cincin emas itu di jari manis Arga.

"Dengan kuasa yang diberikan kepada saya, saya nyatakan kalian secara sah sebagai suami istri.

Apa yang telah disatukan oleh Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia.

Silakan mencium pengantin wanita."

Tanpa menunggu aba-aba lebih lama lagi, Arga membuka veil tipis yang menutupi wajah Queen.

Dengan gerakan penuh kelembutan dan damba yang tertahan selama bertahun-tahun, ia menangkup wajah baby face istrinya, lalu membungkam bibir ranum Queen dengan sebuah ciuman pemberkatan yang hangat, suci, dan penuh rasa syukur.

Di kursi tamu, Alya bertepuk tangan paling kencang sambil menyeka air matanya dengan tisu, sementara Karin bersorak kecil gembira.

Keluarga besar Dirgantara dan Adhitama berdiri memberikan tepuk tangan meriah, merayakan penyatuan dua keluarga besar di bawah restu cinta yang sejati.

---

Resepsi privat yang digelar di halaman terbuka belakang kapel berlangsung dengan sangat intim dan hangat.

Tidak ada sorotan media atau kerumunan sosialita yang bising; yang ada hanyalah alunan musik akustik, tawa, obrolan santai, dan pancaran kebahagiaan dari orang-orang yang benar-benar peduli pada mereka.

Queen duduk di sebuah kursi santai berhiaskan bunga mawar putih, mengenakan gaun resepsi yang lebih ringan.

Di hadapannya, para tamu silih berganti memberikan ucapan selamat.

Arga berdiri di sisi kursi Queen, satu tangannya tidak pernah lepas dari pinggang sang istri, bersikap sangat protektif layaknya seorang pengawal pribadi sekaligus suami yang siaga.

"Capek, Hm?"

bisik Arga lembut di dekat telinga Queen, merapikan helai rambut istrinya yang sedikit berantakan karena angin sore.

Queen menggeleng pelan, menyandarkan kepalanya sejenak di dada bidang Arga.

"Gak capek sama sekali, Mas.

Malah... ini hari paling bahagia dalam hidup aku.

Aku gak nyangka kita bisa bener-bener sampai di titik ini."

Arga tersenyum, mengecup puncak kepala Queen penuh sayang.

"Ini baru permulaan, Nyonya Dirgantara.

Masih banyak hari esok, tawa, dan tangisan bayi yang akan kita lalui bersama."

Dari arah kejauhan, Alya berjalan mendekat sambil membawa dua gelas jus segar, diikuti oleh Karin.

"Wih, pengantin baru nih!

Dunia rasanya milik berdua ya, yang lain kayaknya numpang ngontrak," goda Alya usil.

Queen tertawa renyah, menegakkan kembali duduknya.

"Sirik aja lu, Al.

Makanya cepetan cari pacar, jangan cuma jadi penonton setia drama percintaan kita."

"Dih, ogah!

Masih pengen menikmati masa muda sebelum dijodohkan sama pilihan Daddy," balas Alya santai.

Matahari perlahan-lahan mulai terbenam di balik pegunungan Bogor, memancarkan rona jingga keemasan yang memantul indah di permukaan kaca kapel.

Di tengah canda tawa keluarga dan sahabat terdekat, Arga mengeratkan rangkulannya pada Queen.

Masa lalu yang kelam, air mata, pengkhianatan, dan dinding kaca yang memisahkan dunia mereka kini telah hancur sepenuhnya.

Mereka berdiri di bawah cahaya matahari sore yang hangat, menatap masa depan sebagai satu keluarga yang utuh suami, istri, dan calon buah hati yang menunggu waktu untuk menyapa dunia.

Kisah mereka bukan lagi tentang dosen dan mahasiswi terlarang, melainkan tentang cinta sejati yang lahir dari abu kepedihan dan tumbuh abadi selamanya.

1
atik
Bagus
putri auliza
baguss bangettt
recom lah pokoknyaa
putri auliza
thorr yang panjang lagi dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!