Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 - Alasan yang Tak Pernah Terucap
Mobil Bianca melaju perlahan meninggalkan area kantor.
Arga duduk di kursi penumpang dengan wajah datar. Sejak tadi ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Bianca sesekali melirik ke arahnya.
"Aku tahu kamu marah."
Arga tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak hangat.
"Menurutmu... setelah empat tahun menghilang tanpa kabar, aku masih berhak marah?"
Bianca menggenggam kemudi lebih erat.
"Arga..."
"Yang aku rasakan bukan marah."
"Lalu?"
"Hanya ingin tahu."
"Kenapa?"
"Kenapa kamu memilih menghilang daripada berkata jujur?"
Mobil akhirnya berhenti di sebuah taman yang menghadap laut.
Suasananya sepi.
Hanya suara ombak yang terdengar dari kejauhan.
---
Bianca turun lebih dulu.
Ia berdiri memandangi laut beberapa saat sebelum akhirnya berbicara.
"Empat tahun lalu..."
"...seminggu sebelum hari pernikahan kita, ayahku dinyatakan bangkrut."
Arga mengernyit.
"Aku tidak pernah tahu."
"Karena Ayah melarangku bercerita."
Bianca menunduk.
"Beliau punya utang miliaran."
"Para penagih mulai datang ke rumah."
"Aku ketakutan."
Arga masih diam.
"Suatu malam..."
"...ada seseorang datang menawarkan bantuan."
"Bantuan?"
"Iya."
"Asal aku membatalkan pernikahan kita."
Jantung Arga berdegup lebih cepat.
"Siapa?"
Bianca menggeleng.
"Aku belum bisa memberitahunya."
"Kenapa?"
"Karena orang itu masih punya kekuasaan."
Arga mulai kehilangan kesabaran.
"Bianca!"
"Kamu tahu hidupku hancur setelah hari itu?"
"Kamu tahu ibuku menangis berhari-hari?"
"Kamu tahu aku harus menjelaskan ke ratusan tamu kenapa calon istriku tidak datang?"
Suara Arga meninggi.
Untuk pertama kalinya sejak bertemu kembali, emosinya benar-benar meledak.
Air mata Bianca jatuh.
"Aku tahu..."
"Dan setiap hari aku menyesal."
"Tapi kalau waktu itu aku tetap menikah denganmu..."
"...ayahku mungkin sudah dipenjara."
Arga membeku.
---
Di saat yang sama...
Nadira masih berada di apartemen.
Ia mencoba fokus membaca laporan proyek.
Namun pikirannya terus melayang.
"Kenapa aku kepikiran terus?"
gumamnya pelan.
Ponselnya bergetar.
**Mama.**
"Assalamualaikum, Ma."
"Waalaikumsalam."
"Gimana Surabaya?"
"Baik."
"Kamu kok suaranya lesu?"
Nadira tersenyum kecil.
"Nggak apa-apa."
Mama tertawa pelan.
"Jangan bohong sama Mama."
"Kamu lagi cemburu ya?"
Nadira langsung tersedak.
"Ma!"
"Hahaha... wajahmu nggak kelihatan, tapi Mama tahu."
Nadira menghela napas panjang.
"Aku cuma..."
"...nggak nyaman."
Mama terdiam sejenak.
"Laki-laki yang baik bukan dinilai dari berapa banyak perempuan yang mengejarnya."
"Tapi..."
"...dari siapa yang dia pilih untuk tetap tinggal."
Kalimat itu terus terngiang di kepala Nadira.
---
Malam mulai turun.
Arga kembali ke apartemen.
Begitu membuka pintu, ia melihat Nadira sedang duduk di balkon sambil menikmati teh hangat.
"Kamu sudah pulang."
"Iya."
Nadira menoleh.
"Sudah bicara?"
"Sudah."
"Gimana?"
Arga duduk di kursi seberangnya.
"Dia minta maaf."
"Cuma itu?"
"Dia juga menjelaskan alasannya."
Nadira tidak memaksa bertanya lebih jauh.
Ia tahu ada luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan rasa penasaran.
"Apa kamu sudah memaafkannya?"
Arga memandang langit malam.
"Entahlah."
"Mungkin..."
"...aku bisa memaafkan."
"Tapi bukan berarti aku ingin kembali."
Tatapan Nadira perlahan melembut.
"Kenapa?"
Arga menoleh kepadanya.
Karena sejak bertemu kamu...
"...aku sadar, dicintai seseorang dengan tulus rasanya jauh lebih menenangkan daripada mengejar seseorang yang memilih pergi."
Wajah Nadira memerah.
Ia buru-buru menunduk sambil menggenggam cangkir tehnya.
Jantungnya berdegup begitu cepat hingga ia takut Arga bisa mendengarnya.
---
Keesokan paginya, suasana kantor kembali sibuk.
Pak Anton memanggil seluruh tim.
"Ada kabar baik."
"Kita berhasil lolos ke tahap akhir kerja sama dengan investor."
Semua bersorak gembira.
"Tapi..."
Pak Anton mengangkat satu map.
"Investor meminta satu syarat tambahan."
Ruangan kembali hening.
"Mereka ingin proyek ini dipresentasikan oleh dua orang."
"Pak Arga..."
"...dan Bu Bianca."
Nadira yang sedang mencatat langsung menghentikan gerak tangannya.
Arga pun tampak terkejut.
"Kenapa bukan saya dan Nadira, Pak?" tanyanya.
Pak Anton menghela napas.
"Itu permintaan langsung dari pihak investor."
Di sudut ruangan, Bianca terlihat sama terkejutnya.
Namun sebelum siapa pun sempat berbicara lagi, ponsel Pak Anton berbunyi.
Setelah menerima telepon singkat, wajahnya mendadak pucat.
"Apa?"
Semua menatapnya.
Pak Anton perlahan menurunkan ponselnya.
"Kabar buruk..."
"Investor utama mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju Surabaya."
Ruangan langsung dipenuhi bisik-bisik.
Proyek yang selama ini mereka perjuangkan...
Terancam gagal sebelum benar-benar dimulai.
**Bersambung ke Episode 35...**