"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."
Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.
Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.
Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlutut di Bawah Rintik Hujan
Malam semakin larut, namun sisa-sisa ketegangan dari drama di kediaman Arkananta seolah masih tertinggal di udara. Di dalam taksi online yang membawa mereka kembali ke apartemen, keheningan menyelimuti Elena dan kedua anak kembarnya.
Lia sudah tertidur pulas dengan kepala bersandar di pangkuan Elena, kelelahan setelah aksi sandiwara yang menguras tenaga. Sementara Leon, bocah laki-laki itu duduk tegak di samping ibunya, menatap keluar jendela dengan tatapan dewasa yang tenang. Tangannya masih memeluk tablet pintar setianya.
"Mama," bisik Leon lirih, memecah kesunyian. "Pria tua itu... dia terlihat sangat hancur tadi."
Elena mengusap rambut cokelat madu putrinya pelan sebelum menoleh menatap Leon. Ada keraguan yang melintas di mata cokelatnya. "Apakah kamu kasihan padanya, Leon?"
Leon terdiam sejenak, lalu mendengus kecil dengan gaya angkuhnya. "Tidak juga. Dia pantas mendapatkannya karena sudah menjadi pria bodoh selama lima tahun. Tapi... setidaknya dia langsung mengusir nenek sihir itu. Skornya naik sedikit di mataku."
Elena tersenyum tipis, meski hatinya kembali bergemuruh. Kebenaran yang terungkap malam ini mengubah segalanya. Arthur tidak pernah mengkhianati cintanya karena sengaja; pria itu adalah korban dari kelicikan yang sama kejamnya. Namun, rasa sakit selama lima tahun hidup dalam pengasingan dan melahirkan sendirian di tengah badai salju bukanlah sesuatu yang bisa menguap hanya dalam semalam.
Sesampainya di apartemen, setelah memastikan Leon dan Lia tertidur lelap di kamar mereka, Elena berjalan menuju balkon. Dia membutuhkan angin malam untuk mendinginkan kepalanya yang terasa mau pecah.
Elena memegang pagar pembatas balkon, menatap lampu-lampu kota Jakarta yang benderang. Tiba-tiba, rintik hujan mulai turun satu per satu, membasahi lantai beton balkon dan membawa aroma tanah yang basah. Elena hendak berbalik masuk ke dalam ruangan ketika matanya tidak sengaja menangkap sebuah siluet di area halaman bawah apartemen.
Di bawah sorot lampu jalanan yang remang dan rintik hujan yang mulai menderu lebat, sebuah mobil sedan mewah hitam terparkir di pinggir jalan. Dan di samping mobil itu, berdiri seorang pria bertubuh tegap tanpa menggunakan payung sepeser pun.
Arthur Arkananta. Pria itu berdiri terpaku, menadah kepalanya menatap lurus ke arah lantai balkon apartemen Elena. Setelan jas mahalnya sudah basah kuyup, menempel ketat di tubuh atletisnya. Rambut hitamnya lepek membasahi dahi, namun sepasang mata elangnya yang memerah tetap memancarkan intensitas yang luar biasa tajam.
Jantung Elena berdegup kencang. Tanpa berpikir panjang, dia mengambil sebuah payung besar di dekat pintu, lalu menggunakan lift dengan tergesa-gesa menuju lantai dasar.
Kenapa dia begitu bodoh?! Kenapa seorang CEO egois sepertinya melakukan hal sekonyol ini?! batin Elena menjerit kesal sepanjang perjalanan di dalam lift.
Begitu pintu lobi apartemen terbuka, Elena langsung melangkah lebar menembus tirai hujan, membuka payungnya dan berjalan mendekati Arthur. Dia berhenti tepat satu langkah di hadapan mantan suaminya, memayungi tubuh tegap pria itu dari hantaman air hujan.
"Apa yang sedang Anda lakukan di sini, Tuan Arkananta?!" bentak Elena di tengah deru suara hujan. "Apakah menjadi gila adalah hobi baru Anda setelah menyingkirkan ibu tiri Anda?!"
Arthur tidak menjawab dengan kata-kata. Sepasang matanya yang berair entah karena air hujan atau air mata menatap lekat-lekat wajah cantik Elena. Detik berikutnya, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh Elena seumur hidupnya terjadi.
Gubrak.
Kedua lutut Arthur yang kokoh mendarat dengan keras di atas aspal yang basah dan dingin. Sang CEO berdarah dingin yang ditakuti oleh seluruh pebisnis di Asia Tenggara, pria angkuh yang tidak pernah menundukkan kepalanya pada siapa pun, kini berlutut dengan pasrah di hadapan Elena di bawah rintik hujan yang lebat.
"Arthur... apa yang kamu lakukan?! Bangun!" seru Elena panik, mencoba menarik lengan Arthur, namun pria itu tetap bergeming di posisinya.
"Elena... demi Tuhan, jangan suruh aku bangun," suara Arthur terdengar serak, bergetar hebat menahan kehancuran emosional yang meluap dari dadanya. Dia mendongak, meraih kedua tangan Elena yang bebas dan menggenggamnya dengan teramat erat. "Malam ini, setelah melihat rekaman itu... aku menyadari betapa menjijikkannya diriku lima tahun lalu. Aku membiarkan wanita yang menyerahkan seluruh hidupnya untukku diusir bagai sampah. Aku membiarkanmu menderita sendirian..."
Air mata Arthur mengalir deras, menyatu dengan rintik hujan yang membasahi wajah rupawannya. "Hukum aku, Elena. Hancurkan perusahaanku, ambil seluruh hartaku jika itu bisa mengurangi sedikit saja rasa sakit hatimu. Tapi aku memohon padamu dengan seluruh sisa hidupku... jangan pernah pergi lagi. Izinkan aku merangkak dari bawah untuk mendapatkan kembali cintamu. Izinkan aku menjadi ayah yang sesungguhnya untuk Leon dan Lia."
Elena terpaku. Payung di tangannya hampir terlepas saat melihat ketulusan dan keputusasaan yang begitu telanjang di mata Arthur. Pria ini benar-benar telah menanggalkan seluruh harga diri dan keangkuhannya di kaki Elena. Air mata Elena sendiri ikut runtuh, bercampur dengan dinginnya angin malam.
"Arthur..." bisik Elena, suaranya tercekat di tenggorokan. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengembalikan ketegasan di dalam hatinya yang mulai goyah. "Kamu pikir dengan berlutut di sini, lima tahun penderitaanku bisa terhapus? Tidak, Arthur. Tapi... aku bukan wanita kejam yang akan memisahkan anak-anak dari ayah kandungnya. Aku memberikanmu satu kesempatan. Hanya satu kesempatan untuk membuktikan dirimu sebagai seorang ayah, bukan sebagai suamiku."
Binar harapan seketika menyala di dalam sepasang mata elang Arthur yang basah. Dia mengecup punggung tangan Elena dengan rasa syukur yang membuncah. "Terima kasih, Elena... terima kasih. Aku bersumpah tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."
"Sekarang bangun dan pulanglah sebelum kamu mati karena hipotermia," ketus Elena, menyembunyikan rasa canggung dan debaran aneh di dadanya. Dia membalikkan badannya dan berjalan kembali menuju lobi apartemen tanpa menoleh lagi, meninggalkan Arthur yang perlahan bangkit berdiri dengan senyuman tipis yang penuh dengan tekad baru.
Keesokan paginya, matahari cerah menyinari Jakarta, membawa atmosfer baru yang jauh lebih segar. Di dalam apartemen, Leon dan Lia sudah bangun dengan wajah ceria. Namun, kegembiraan mereka bertambah dua kali lipat saat pintu apartemen diketuk dan beberapa petugas pengirim barang masuk dengan membawa puluhan kotak hadiah mewah.
"Selamat pagi, anak-anak Papa," sebuah suara bariton yang ramah terdengar dari arah pintu.
Arthur melangkah masuk dengan setelan kasual yang rapi—kaus polo putih dan celana jins—membuat penampilannya tampak jauh lebih segar meskipun matanya masih sedikit lelah. Di tangannya, dia membawa sebuah brosur besar berlogo emas.
"Papa!!" Lia langsung berlari dan melompat ke dalam pelukan Arthur. Arthur menangkapnya dengan tawa renyah, mencium pipi gembil putrinya dengan sayang.
Leon yang sedang duduk di sofa hanya melirik malas, namun matanya langsung melebar saat melihat kotak-kotak hadiah yang dibuka oleh para petugas. Kotak-kotak itu berisi set komputer rakitan dengan spesifikasi dewa tertinggi, prosesor terbaru, dan tiga monitor lengkung yang menjadi impian setiap peretas profesional di dunia.
"Aku tahu kamu suka meretas, Leon. Jadi Papa membelikanmu mainan baru yang lebih layak daripada tablet kecilmu itu," ucap Arthur dengan senyuman miring ke arah putranya, sengaja memancing reaksi sang anak.
Leon menelan ludahnya, mencoba mempertahankan wajah sedingin esnya meskipun matanya berkilat penuh gairah melihat perangkat keras impiannya ada di depan mata. "Suap yang bagus, Tuan Arthur. Tapi jangan harap ini bisa membeliku dengan mudah." Meskipun bicaranya ketus, Leon langsung melompat dari sofa dan mulai memeriksa komponen komputer tersebut dengan antusias.
Elena yang baru keluar dari dapur dengan membawa secangkir kopi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat pemandangan itu. "Arthur, apa lagi yang kamu lakukan di sini sepagi ini? Dan apa semua barang-barang ini?"
Arthur meletakkan Lia kembali ke lantai, lalu berjalan mendekati Elena dengan binar mata yang penuh dengan rencana matang. Dia menyodorkan brosur besar yang dipegangnya sejak tadi.
"Ini adalah hari pertama pendaftaran untuk semester baru di Jakarta International Kindergarten. Aku sudah membelikan seluruh saham sekolah tersebut pagi ini, jadi mulai besok, Leon dan Lia bisa bersekolah di tempat yang sama dengan sistem keamanan siber terbaik yang dijaga oleh tim IT-ku," ucap Arthur dengan nada santai, seolah-olah membeli sebuah sekolah internasional setara dengan membeli sebotol air mineral.
Elena membelalakkan matanya, hampir saja tersedak kopinya sendiri. "Kamu... kamu membeli seluruh sekolah hanya agar mereka bisa bersekolah bersama?!"
"Tentu saja. Dan sebagai orang tua yang utuh, kita berdua diwajibkan datang besok pagi untuk menghadiri upacara penyambutan murid baru bersama-sama," tambah Arthur dengan senyuman penuh kemenangan yang sangat memikat. "Bagaimana, Nona Eleanor? Apakah kamu siap menemani putra dan putri kita di hari pertama sekolah mereka?"
Elena menatap brosur itu, lalu beralih menatap Leon dan Lia yang kini sedang tertawa bersama di depan komputer baru mereka. Sebuah perasaan hangat yang sudah lama hilang perlahan merayap kembali ke dalam dadanya. Meskipun dia belum sepenuhnya memaafkan Arthur, melihat kebahagiaan di wajah anak-anaknya membuat Elena sadar bahwa petualangan baru sebagai sebuah keluarga utuh baru saja dimulai.