"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."
Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.
"Yuna Anindya."
Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.
"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.
Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pecahnya Benteng Kesabaran
Byuurrr!
Guyuran air dingin dari shower seketika membasahi seluruh tubuh Yuna. Labib mendudukkan tubuh istrinya di dalam bathtub porselen yang dingin, membiarkan air mengalir deras membasahi kemeja kuliah dan rambut gadis itu hingga lepek.
Rasa dingin yang menusuk kulit seketika memaksa kesadaran Yuna yang tadinya melayang akibat alkohol kembali terkumpul. Yuna tersentak, terbatuk-batuk kecil sambil mengusap air yang mengguyur deras wajahnya. Ketika ia membuka mata dengan sayu, sosok Labib sudah berdiri tegap di depannya. Pria itu masih mengenakan pakaian rapinya, namun rahangnya mengeras dengan tatapan mata elang yang memancarkan kemarahan luar biasa.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini, Yuna?! Seperti anak kecil!" Suara bariton Labib menggelegar di dalam kamar mandi yang kedap suara, terdengar begitu tegas, dingin, dan penuh penekanan.
Yuna bergetar, entah karena dinginnya air atau karena nyalinya yang ciut melihat amarah suaminya.
Labib mematikan keran air dengan sentakan kasar, lalu mencengkeram kedua sisi bathtub, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Bahkan kamu tidak meminta izin suamimu!" ucap Labib tegas, napasnya memburu menahan gejolak emosi yang sejak tadi ia pendam. "Kamu mematikan ponsel, keluyuran sampai tengah malam, dan pulang dalam keadaan seperti ini. Di mana pikiran kamu, Yuna?!"
Yuna menatap wajah suaminya yang tampak begitu murka. Namun, alih-alih merasa bersalah seperti beberapa jam yang lalu, rasa sakit hati dan cemburu yang ia lihat di layar ponsel Dinda tadi kembali membakar dadanya. Air mata Yuna luruh, bercampur dengan sisa-sisa air dingin di pipinya.
"Izin?" cicit Yuna dengan suara serak dan bergetar, menantang tatapan tajam Labib. "Buat apa aku izin kalau Mas Labib sendiri sibuk makan malam romantis sama keluarga Bu Citra?!"
Plak!
Suara tamparan yang cukup keras bergema di dalam kamar mandi yang basah. Telapak tangan Yuna yang dingin mendarat di pipi tegap Labib. Pria itu terdiam, kepalanya sedikit menoleh ke samping akibat hantaman yang tak terduga itu. Cengkeramannya pada pinggiran bathtub mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa panas di pipinya tak sebanding dengan rasa terkejut mendapati istri kecilnya senekat ini.
Dengan sisa efek alkohol yang masih mengaburkan akal sehatnya, Yuna mendongak, menatap Labib dengan mata yang memerah dan sembap. Air matanya mengalir semakin deras, bercampur dengan tetesan air dari rambutnya yang basah kuyup.
"Makan malam keluarga besar?!" seru Yuna dengan suara parau yang bergetar hebat, tumpah sudah seluruh rasa sakit yang dipendamnya sejak di kafe tadi. "Lalu kenapa kamu tidak berkata demikian dari awal, Mas?! Kenapa harus disembunyikan?"
Yuna memukul dada Labib dengan kedua tangannya yang gemetar, meluapkan segala sesak yang mengimpit dadanya selama tiga bulan pernikahan mereka.
"Pertama, ibumu dari awal memang tidak suka denganku! Dan kedua... wanita bernama Citra itu, dia pasti tahu kalau kamu sudah menikah, kan?! Tapi kenapa dia seolah tidak paham? Kenapa dia sengaja membuat story makan-makan yang membuat seisi kampus—bahkan mahasiswi lain—beranggapan kalian akan segera tunangan?!" Isak tangis Yuna pecah, bahunya terguncang hebat.
Labib tetap bergeming di posisinya, membiarkan Yuna meluapkan seluruh emosinya, meskipun rahang pria itu kian mengeras mendengar nama Citra dan ibunya disebut-sebut dalam kekacauan ini.
"Aku lelah seperti ini, Labib..." cicit Yuna di sela tangisnya yang semakin pilu. Ia menarik lututnya ke dada, menyembunyikan wajahnya yang basah di sana. "Aku lelah... Kamu hanya memikirkan batasan untukku. Aku tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus selalu menurut. Sementara kamu... kamu bebas pergi ke mana saja dan dengan siapa saja tanpa memikirkan bagaimana hancurnya perasaanku di rumah ini!"
Suasana kamar mandi mendadak hening, hanya menyisakan suara isak tangis Yuna yang pilu dan deru napas Labib yang berat. Tuduhan Yuna malam itu seperti cermin besar yang mendadak diletakkan di hadapan sang profesor, memaksa pria dingin itu menyadari bahwa di balik sikap kekanak-kanakan istrinya, ada hati yang teramat terluka dan ketakutan yang mendalam akan kehilangan dirinya.
Labib terdiam seribu bahasa. Setiap bait kalimat yang meluncur dari bibir bergetar Yuna menghujam tepat ke ulu hatinya. Amarah yang semula membakar dada sang profesor kini menguap, tergantikan oleh rasa bersalah yang teramat dalam melihat betapa rapuh dan ketakutan istri kecilnya di dalam kungkungan rasa cemburu.
Melihat Yuna yang masih terisak dengan tubuh gemetar di dalam bathtub yang basah, pertahanan dingin Labib runtuh sepenuhnya.
Tanpa aba-aba, pria 31 tahun itu mencondongkan tubuhnya ke depan. Tangan kanannya bergerak cepat mencengkeram tengkuk Yuna, sementara tangan kirinya menopang pinggang sang istri. Sebelum Yuna sempat mencerna apa yang terjadi, Labib langsung membungkam kalimat pilu itu dengan melumat bibir mungil istrinya dengan dalam, menuntut, namun juga menyiratkan rasa bersalah yang menggebu.
Yuna terbelalak, pasokan udaranya seolah terenggut seketika. Ciuman Labib malam ini terasa berbeda—tidak ada lagi jarak dingin seorang dosen, yang ada hanyalah seorang suami yang sedang mengklaim penuh haknya dan menenangkan badai di hati istrinya.
Setelah beberapa detik yang intens dan memabukkan, Labib perlahan menjauhkan wajahnya, meskipun ibu jarinya tetap mengusap lembut sudut bibir Yuna yang basah. Netra elangnya menatap lurus, mengunci pandangan Yuna yang kini tampak linglung.
"Jika kamu ingin semuanya berjalan normal, biarkan semua orang tahu bahwa saya ini adalah milikmu," ucap Labib dengan suara bariton yang rendah, serak, namun sarat akan penekanan yang absolut. Pria itu menantang Yuna untuk berani memecah rahasia pernikahan mereka di depan publik, agar tidak ada lagi celah bagi orang lain seperti Citra untuk masuk.
Efek alkohol yang semula menguasai benak Yuna seketika sirna, tergantikan oleh sengatan kesadaran yang luar biasa akibat sentuhan tiba-tiba suaminya. Pipinya mendadak memanas, bukan lagi karena pengaruh minuman, melainkan karena debaran jantungnya yang menggila.
Yuna buru-buru mendorong dada bidang Labib dengan kedua tangan kecilnya, mencoba menjauhkan diri dari tatapan mematikan suaminya.
"K-keluar..." cicit Yuna gugup, mengalihkan pandangannya ke sembarang arah demi menyembunyikan rona merah di wajahnya. "Mas Labib keluar dulu. Aku... aku mau mandi dan berganti pakaian. Tunggu aku di luar."
Labib menatap Yuna lurus-lurus selama beberapa saat, memastikan istrinya benar-benar sudah mendapatkan kesadarannya kembali. Setelah mengembuskan napas panjang, pria itu akhirnya bangkit berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit basah di bagian dada akibat pelukan tadi.
"Saya tunggu di kamar. Jangan lama-lama, udara malam ini dingin," ucap Labib datar sebelum berbalik dan melangkah keluar, menutup pintu kamar mandi dengan rapat, meninggalkan Yuna yang masih terpaku memegangi bibirnya dengan jantung yang berkejaran.