NovelToon NovelToon
Resep Cinta Setelah Akad

Resep Cinta Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:750
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?

Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.

Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.

Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.

Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.

Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27 Belajar Nyaman Bersamamu

Suasana rumah kembali tenang setelah salat Magrib berjamaah selesai ditunaikan. Sisa gema doa yang baru saja dilantunkan seolah masih mengambang di udara, membawa kedamaian tersendiri di dalam ruang keluarga yang temaram.

Satria menolehkan kepalanya perlahan ke belakang. Seperti biasa, Naira masih duduk bersimpuh di atas sajadah merahnya sambil merapikan helaian mukena putih yang membingkai wajah teduhnya.

Merasa sang suami sudah selesai berzikir, Naira kemudian menggeser tubuhnya mendekat. Dengan gerakan takzim yang mulai menjadi rutinitas baru, ia meraih jemari tangan kanan Satria. Perlahan dan lembut, Naira menundukkan kepala, mencium punggung tangan suaminya dengan khusyuk.

"Terima kasih sudah menjadi imam, Mas," ucap Naira lirih, suaranya terdengar begitu tulus.

Satria tidak langsung menarik tangannya. Ia membiarkan jemari mereka bersentuhan selama beberapa detik, sementara sepasang matanya menatap dalam ke arah wajah sang istri. Tatapan jangkung Kasubag itu begitu lekat dan lembut, hingga tanpa sadar membuat Naira mendadak salah tingkah dan sedikit gugup di bawah tatapannya.

Entah dorongan dari mana... dan tanpa sempat berpikir panjang... Satria mengangkat tangan kirinya perlahan. Naluri kelelakian dan rasa sayangnya yang membuncah mengalahkan kepasrahan logikanya malam ini.

Cup.

Sebuah kecupan singkat, hangat, dan lembut mendarat tepat di pucuk kepala Naira yang masih tertutup mukena putihnya.

Seketika itu juga, tubuh Naira menegang sempurna. Bagai tersengat aliran listrik, sepasang matanya membelalak kaget. Jantungnya melompat liar. Secara refleks karena rasa terkejut yang luar biasa, Naira sedikit menggeser duduknya menjauh beberapa senti ke belakang, menjauh dari jangkauan Satria.

Keheningan yang mencekam langsung memenuhi ruang keluarga.

Satria ikut membeku di tempatnya berdiri. Telapak tangannya menggantung di udara. Baru beberapa detik kemudian, akal sehatnya kembali dan ia menyadari apa yang baru saja dilakukannya secara spontan.

"Wah..." Satria mengusap wajahnya pelan dengan telapak tangan, merutuki kebodohannya sendiri. "Naira..."

Suara bariton pria itu kini terdengar bergetar penuh penyesalan. "Maaf."

Naira masih bergeming, menatap suaminya dengan sisa mata yang membesar dan napas yang agak memburu.

"A-aku..." Satria menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani menatap mata istrinya. "Aku tidak bermaksud membuatmu kaget atau merasa tertekan, Naira. Tadi... aku melakukannya begitu saja. Tanpa berpikir dan tanpa meminta izin darimu terlebih dahulu. Aku benar-benar minta maaf." Nada suaranya dipenuhi rasa bersalah yang amat besar, takut jika tindakannya barusan telah merusak batas kenyamanan yang selama ini dijaga Naira.

Melihat gurat penyesalan yang begitu nyata di wajah suaminya, Naira menarik napas dalam-dalam. Rasa terkejutnya perlahan mereda, digantikan oleh rasa tidak enak hati. Ia menggelengkan kepala pelan.

"Bukan begitu, Mas," cicit Naira lembut.

Satria perlahan mengangkat wajahnya, menatap Naira dengan dahi berkerut cemas. "Aku tidak marah, Mas," lanjut Naira lagi.

"Benarkah?" tanya Satria memastikan, suaranya terdengar sangsi.

"Iya." Naira menunduk, menyembunyikan senyuman malu-malu yang mendadak terbit di bibirnya. "Aku hanya... belum terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Jadi gerakan tadi itu murni karena refleks tubuhku. Aku juga kaget sendiri."

Satria mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Rasa lega yang luar biasa seketika menyergap. "Syukurlah kalau kamu tidak marah. Tapi tetap saja... aku salah. Seharusnya aku bertanya atau meminta izinmu dulu sebelum bertindak."

Naira kembali menggeleng, hatinya menghangat melihat betapa Satria sangat menghargai dirinya. "Tidak apa-apa, Mas. Sungguh."

Suasana di antara mereka kembali diselimuti keheningan. Keduanya sama-sama menundukkan kepala, sibuk dengan pikiran masing-masing. Rasa canggung yang beberapa hari ini sempat mengikis perlahan, malam ini mendadak datang lagi menyergap mereka berdua.

Beberapa detik kemudian, Satria berdiri dari sajadahnya dengan perlahan. "Aku... izin ke kamar dulu untuk mengganti pakaian," pamitnya kikuk.

"Iya, Mas," jawab Naira pendek.

Satria segera melangkah lebar menuju kamarnya di seberang lorong. Begitu pintu kamar tertutup rapat, Satria langsung bersandar di balik daun pintu, mengusap wajahnya berkali-kali dengan frustrasi.

"Astaghfirullah... apa yang kulakukan tadi? Kenapa bisa seceroboh itu?" bisiknya merutuki diri sendiri. Ia berjalan gundah lalu menjatuhkan tubuh jangkungnya di tepi kasur.

Mengingat ekspresi terkejut dan bagaimana Naira refleks menjauhinya tadi membuat Satria memejamkan mata rapat-rapat. "Kenapa aku tidak bisa menahan diri di depannya? Padahal aku sudah berjanji di dalam hati untuk menghargai setiap batasan yang dia minta." Satria menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar dengan penyesalan mendalam. "Aku benar-benar membuatnya takut. Dasar bodoh."

Sementara itu, di kamar utama...

Naira masih terduduk diam di atas sajadahnya, belum beranjak sedikit pun. Jemari lentiknya bergerak pelan, menyentuh bagian atas mukena kainnya—tepat di titik tempat bibir Satria mendaratkan kecupan singkat tadi.

Seketika, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya dan wajah Naira perlahan memerah sempurna layaknya kepiting rebus.

"Ya Allah... kenapa aku malah menjauh seperti tadi?" batin Naira menjerit, merutuki reaksi refleksnya. Ia menutup wajahnya yang terasa panas membara dengan kedua telapak tangan. "Mas Satria pasti mengira aku jijik atau tidak suka dengan sentuhannya."

Padahal, demi Allah, yang dirasakan Naira saat bibir Satria menyentuh ubun-ubunnya bukanlah rasa takut atau penolakan. Melainkan sebuah letupan rasa gugup dan debaran aneh yang teramat dahsyat—sesuatu yang belum pernah ia alami sepanjang hidupnya.

"Aku ini kenapa, sih..." Naira tersenyum kecil di balik telapak tangannya, menggelengkan kepala pelan menertawakan kebodohan diri sendiri. "Aku malah membuat Mas Satria merasa bersalah, padahal dia tidak salah apa pun."

✨✨✨✨

Beberapa menit kemudian, setelah berhasil menguasai gemuruh di dadanya, Naira keluar dari kamar menuju dapur. Ia menarik napas panjang untuk menyegarkan pikiran.

"Sudah. Jangan dipikirkan terus, Naira. Mending sekarang fokus masak makan malam," gumamnya menyemangati diri sendiri.

Namun, baru saja Naira mengambil celemek kremnya dari gantungan dinding, suara langkah kaki yang teratur terdengar dari arah belakang.

"Naira."

Perempuan itu menoleh cepat. Satria sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan kaos santai dan celana kain hitamnya. Wajah lempengnya masih menyiratkan sisa-sisa rasa canggung yang kentara.

"Kalau masih boleh... aku bantu masak," ucap Satria agak ragu, seolah takut penawarannya akan ditolak.

Naira tertegun sejenak, lalu sebuah senyuman hangat dan tulus terkembang di wajah manisnya. "Tentu boleh, Mas. Malah pas sekali, Mas sangat kubutuhkan di dapur sekarang."

Mendengar sambutan ramah dari istrinya, seulas senyum tipis akhirnya kembali muncul di wajah Satria. Ketegangan di bahunya perlahan melonggar.

Mereka pun mulai bergerak memasak bersama di dapur mungil itu. Naira mengambil bagian memotong sayuran, sementara Satria dengan sigap mencuci daging ayam di bawah wastafel dan membantu menyiapkan ulekan bumbu dapur.

Beberapa menit kemudian, saat bumbu mulai ditumis, Naira melirik ke arah wajan. Matanya membulat kagum melihat bagaimana cara Satria mengaduk bumbu di atas penggorengan.

"Mas..."

"Iya?" Satria menoleh tanpa menghentikan gerakannya.

"Mas tumis bawangnya bagus sekali. Aromanya pas dan tidak gosong," puji Naira jujur.

Satria terkekeh pelan, suara tawa rendah yang terdengar seksi di telinga Naira. "Memangnya ada tumis bawang yang jelek?"

"Bukan begitu, Mas." Naira menunjuk gerakan spatula di tangan Satria. "Gerakan tangan Mas kelihatan luwes sekali, seperti orang yang sudah sangat terbiasa di dapur."

Satria mengangguk kecil, membalikkan potongan ayam di dalam wajan. "Dulu waktu zaman kuliah, aku tinggal sendiri di kontrakan."

"Hm? Benarkah?" Naira mendengarkan dengan penuh perhatian, tertarik mengetahui masa lalu suaminya.

"Iya. Orang tuaku di kampung juga sibuk bekerja. Karena aku anak tunggal, sejak remaja aku dipaksa keadaan untuk belajar mengurus semuanya sendiri. Mulai dari mencuci baju, menyetrika seragam, sampai urusan memasak air dan nasi," cerita Satria santai.

Naira menopang dagunya dengan sebelah tangan di dekat meja konter, menatap suaminya dengan binar kagum. "Berarti Mas Satria sudah mandiri sejak lama sekali, ya."

"Mau bagaimana lagi, Naira. Kalau lapar dan tidak punya uang jajan lebih, ya pilihannya harus masak sendiri," sahut Satria realistis.

Naira tertawa kecil mendengar jawaban polos itu. "Itu benar juga, sih."

Satria tersenyum geli, mengenang masa-masa sulitnya dulu. "Tapi jangan salah, awalnya aku sering sekali gagal. Pernah masak nasi tapi airnya kebanyakan sampai jadinya lembek seperti bubur bayi. Pernah juga bikin telur dadar sampai warnanya hitam gosong."

Naira terkekeh geli, membayangkan seorang Satria yang kaku bisa seceroboh itu di dapur. "Serius, Mas?"

"Iya, serius. Bahkan yang paling parah, aku pernah bikin sup ayam semangkuk besar tapi lupa memasukkan garam. Rasanya hambar sekali seperti air putih hangat," tambah Satria lagi.

Kini, tawa Naira terdengar lebih lepas dan renyah, memenuhi ruangan dapur yang hangat. "Berarti Apk Kusubang ini juga pernah jadi koki gagal, ya."

Satria mengangguk, ikut tersenyum lebar melihat tawa lepas istrinya. "Sering sekali. Tapi untungnya sekarang sudah lumayan bisa dimakan."

Suasana dapur yang tadinya sempat kaku dan canggung akibat kejadian setelah Magrib, kini perlahan berubah menjadi sangat hangat dan cair. Mereka saling membantu menata piring dan mangkuk tanpa merasa canggung lagi.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!