Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 05 : Siapa gadis itu?
Malam kini turun perlahan. Lampu-lampu jalan memantul di kaca mobil. Xavier duduk di kursi belakang, bersandar dengan tenang, namun matanya tajam menatap keluar jendela.
Di luar, orang-orang mungkin mengira ia hanya seorang pria kaya yang tampan dan selalu bertindak semaunya tanpa ada yang melarang.
Tapi di dalam kepalanya sangat kacau, ia berpikir banyak hal yang ia sendiri lupa bagaimana kedepannya. Mungkin Xavier memang pandai dalam dunia pistol dan strategi, namun Xavier tidak pandai dalam dunia percintaan ataupun kebohongan.
Xavier sudah membuat kebohongan yang kini menjadi masalah besar, namun dirinya sendiri bingung harus bagaimana. Xavier mengepalkan tangan di atas pahanya.
Kalau ia gagal menepati janji itu, pasti mamanya akan sangat marah. Kemungkinan yang terjadi yaitu ia pasti akan langsung dijodohkan dengan orang lain. Dan dirinya tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
***
Mobil berhenti di depan bar yang penuh dengan sorotan lampu neon. Musik dari dalam bahkan sudah terdengar sampai luar.
Sebelum Xavier turun ia berkata pelan pada Felix, “kau tunggu dimobil.”
Felix mengangguk mengerti, “baik, Tuan.”
Xavier turun, menutup pintu mobil itu kembali, lalu ia melangkah masuk kedalam bar dengan tegap.
Pintu bar otomatis terbuka saat ia berdiri depannya, seketika suara musik langsung menyambar telinganya.
Lampu disko berputar, orang-orang tertawa dengan keras dan gembira, suara gelas beradu, aroma alkohol dan parfum murah bercampur jadi satu.
Xavier berjalan pelan menuju barista, pemandangan seperti itu memang sudah biasa untuknya yang sering ke Bar jika ada pikiran terlalu banyak.
Beberapa orang sempat menoleh. Beberapa perempuan berbisik mengaguminya. Namun Xavier tidak peduli, ia memang sudah terbiasa melihat orang-orang yang jika ia datang pasti langsung berbinar.
Namun sebelum ia sempat duduk di kursi barista, pandangannya perlahan tertarik ke sudut ruangan.
Ada sesuatu yang tidak mengenakan disana, terlihat ada dua perempuan yang tampak sedang memegangi tangan seorang gadis. Gadis itu ketakutan, matanya berkaca-kaca, tubuhnya gemetar, ia tampak berusaha melepaskan diri.
Di depannya, tiga pemuda mabuk berdiri dengan senyum kotor, tatapan mereka tampak cabul kearahnya.
Gadis itu berteriak, tapi musik terlalu keras. Sehingga suaranya ditelan tanpa terdengar siapapun.
“Lepaskan aku!” suara gadis itu pecah, hampir tenggelam. “Aku tidak mau… lepaskan!”
Salah satu perempuan yang menahannya langsung membentak, wajahnya tampak emosi, “diam, Lyko!” teriaknya. “Kamu bilang mau dapat kerjaan yang gajinya lumayan, ya ini kerjaannya!”
Lyko menggeleng keras, napasnya sesak, “aku… aku tidak mau menjadi seperti ini!”
Perempuan satunya mendelik tajam, seolah merasa paling benar, “sudahlah, Lyko!” katanya kasar. “Tadi kamu yang senang banget pas kita menawarkan pekerjaan ini padamu. Tapi sekarang kamu sok suci lagi. Dasar tidak tahu terima kasih!”
Lyko menahan tangis, suaranya naik karena putus asa.
“Aku memang mau mencari pekerjaan!” teriaknya. “Tapi bukan jadi perempuan kotor seperti ini!!”
Salah satu pemuda mabuk maju, tertawa kecil sambil mengangkat tangan kearah wajah Lyko.
“Wah... ternyata kamu lumayan galak juga ya...” gumamnya.
Tangannya menyentuh wajah Lyko, mencubit dagunya, memaksa gadis itu menatapnya.
Lyko membeku, namun ia tahu bahwa ia tidak bisa diam saja.
BRAK!
Lyko menendang perut pemuda itu sekuat tenaga. Hingga pemuda itu terjatuh menabrak kursi dan kedua temannya yang ada dibelakang tubuhnya.
Lyko langsung mendorong kedua perempuan yang menahannya.
“Akh!” mereka tersungkur.
Dan Lyko langsung memanfaatkan kesempatan itu, ia berlari keluar bar dengan sekuat tenaga.
Xavier yang menyaksikan semua itu dari jauh tamapaknya tertarik. Bukan karena iba, tapi karena ia penasaran mengapa gadis itu justru lari dari teman-temannya barusan.
Dan sesuatu dalam dirinya muncul, entah kenapa, ia perlahan ikut bergerak, Xavier berlari mengikuti gadis itu.
***
Sedangkan di luar gedung. Lyko ternyata berlari keluar, menembus keramaian jalan depan bar, lalu berbelok cepat ke belakang bangunan.
Di sana lebih gelap, lebih sunyi, dan hanya ada tong sampah besar serta tumpukan kardus.
Lyko langsung berjongkok di balik tong sampah, memeluk tubuhnya yang terlihat masih sedikit gemetar.
Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan suara isak yang ingin keluar. Tak lama, dua perempuan itu ikut keluar, terdengar suara langkah dan omelan marah.
“Lyko!” teriak salah satunya. “Keluar kau! Dasar! Mencari masalah saja!”
“Dia pasti di belakang!” sahut yang lain.
Lyko menahan napas. Tubuhnya gemetar. Ia perlahan mundur kebelakang, sampai tiba-tiba punggungnya menabrak sesuatu.
Seseorang yang memiliki tubuh tegap, Lyko tersentak dan refleks ingin menjerit. Namun sebuah tangan langsung menutup mulutnya dari belakang.
Suara orang itu rendah namun dingin, “diam dan jangan berbicara kalau kau ingin selamat.”
Lyko membeku total, jantungnya seperti mau pecah. Tapi ia tidak berani menoleh. Tidak berani bergerak, ia hanya mengangguk kecil.
Orang itu tidak lain adalah Xavier, perlahan Xavier melepas tangannya, tapi tetap berdiri di belakang Lyko.
Langkah dua perempuan itu makin dekat. Xavier menghela napas pelan, lalu ia melepas jasnya. Dengan gerakan cepat, ia menutupi kepala dan tubuh Lyko memakai jas hitam itu. Lyko ingin bertanya, tapi suaranya hilang di tenggorokan.
Dalam satu gerakan cepat, Xavier mengangkat tubuh Lyko. Bukan digendong manis, tapi justru diangkat begitu saja, seperti mengangkat sekarung beras.
Lyko terpaku, bahkan ia sampai lupa bernapas. Xavier berjalan keluar dari belakang bar dengan langkah santai.
Di ujung lorong, dua perempuan itu melihat Xavier, mata mereka membesar dan tampaknya terkejut dan sekaligus menujukkan ketertarikan diwajahnya. Mulut mereka terbuka, terpaku oleh sosok Xavier yang tinggi dan gagah itu.
“Tampan...” ucap salah satu dari mereka tanpa sengaja.
Xavier tidak menatap mereka. Ia hanya lewat begitu saja tanpa menatap mereka satupun. Tatapannya dingin, namun menyeramkan.
Kedua perempuan itu akhirnya saling pandang.
“Dia… siapa? Ko tampan sih...” bisik salah satu.
“Kamu ini! Sudahlah, cepat kita cari ke belakang! Lyko pasti masih di sana!” kata mereka yang terlihat masih panik.
Mereka pun berlari ke arah belakang, meninggalkan Xavier yang ternyata sudah membawa Lyko bersamanya.
***
Kini Xavier sampai di parkiran, Felix yang berdiri dekat mobil langsung menegakkan tubuh, matanya membesar saat melihat Xavier membawa seorang gadis.
Namun Felix cepat menahan ekspresi. Ia tidak bertanya apapun, karena ia tahu orang yang dibawa Xavier bukan orang biasa yang tidak ada alasannya.
Xavier membuka pintu belakang dan meletakkan Lyko di kursi.
Lyko masih tertutup jas, tubuhnya gemetar kecil.
Xavier masuk dan duduk disebelah Lyko, kemudian lalu berkata, “kembali ke markas.”
Felix mengangguk. “Baik, Tuan.”
Mobil melaju menuju markas. Disepanjang perjalanan, Lyko tidak bicara sedikitpun. Badannya gemetar. Napasnya belum stabil dari tadi.
Xavier juga tidak bertanya. Ia tahu gadis itu sedang ketakutan, dan Xavier bukan tipe orang yang memaksa seseorang bicara saat pikirannya masih hancur, ia membiarkan gadis itu yang bercerita dengan sendirinya jika sudah merasa lebih baik.