Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Kalau sudah orang kota datang ke sini, biasanya nggak pernah bawa kabar baik," gerutu seseorang pelan.
"Teriakan tadi suara Alya, kan? Jangan-jangan ada yang mengusiknya," bisik seorang ibu dengan wajah cemas.
Melihat kerumunan mulai ricuh, Pak Kades segera muncul dan mencoba menenangkan emosi warga yang memuncak.
"Sabar dulu, semuanya! Ini persoalan keluarga, jadi jangan diperbesar," ujar Pak Kades tegas.
Namun, ucapan itu tak cukup ampuh membungkam gumaman yang terus beredar di antara warga.
*****
Perlahan, Rayan melangkah mendekat. Tanpa ragu, ia menjatuhkan lututnya di atas karpet tipis yang telah usang, membentang di atas lantai semen yang terasa dingin. Debu halus bersama serpihan-serpihan kecil langsung menempel di kain celananya. Namun, sedikit pun ia tak menghiraukannya. Perhatiannya hanya tertuju pada apa yang ada di hadapannya.
"Kalau memang begitu kenyataannya..." ucapnya pelan. Tatapannya tak bergeser sedikit pun, terus tertuju lurus ke arah Alya.
"Aku tidak akan lari dari semua ini. Apa pun akibatnya, akan kuhadapi," ucapnya tegas.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan, seolah tak seorang pun berani memecahnya.
Bu Ami melirik ke arah Alya yang masih duduk kaku. Jejak air mata masih membasahi kedua pipinya, tetapi raut wajahnya kini berubah. Perlahan, Alya mengangkat kepala hingga pandangannya bertemu dengan mata Bu Ami. Tatapannya tak lagi hanya dipenuhi kesedihan, melainkan juga keteguhan yang sulit diabaikan.
"Tak perlu memberiku uang. Aku sama sekali tidak membutuhkannya," tutur Alya tenang. Meski diucapkan tanpa meninggikan suara, kata-katanya menyisakan tekanan yang membuat udara di ruangan terasa semakin berat.
Rayan meneguk ludahnya dengan susah payah. Jauh di dalam hatinya, ia sudah menduga penolakan itu akan datang. Namun, ketika kata-kata tersebut benar-benar terdengar, dadanya tetap terasa sesak, seolah seseorang baru saja menghantam harga dirinya tanpa ampun.
"Izinkan aku memperbaiki semua ini. Aku akan menikahimu," ujar Rayan dengan nada rendah namun mantap.
Alya sontak membeku, tubuhnya bereaksi lebih dulu sebelum pikirannya mampu mencerna ucapan itu.
Bu Ami memandang Rayan dengan mata membelalak, jelas tak menyangka akan mendengar pengakuan itu. Di ambang pintu, Pak Kades pun ikut mengernyitkan dahi, wajahnya memancarkan keterkejutan sekaligus kebingungan.
Alya hanya bisa berkedip beberapa kali. Ucapan itu terdengar begitu ganjil hingga nyaris membuatnya mengira pria di hadapannya sedang mempermainkannya. Namun saat pandangannya bertemu dengan mata Rayan, tak ada sedikit pun gurauan di sana. Wajah pria itu begitu tenang dan penuh kesungguhan, seolah setiap kata yang baru saja keluar dari bibirnya telah dipikirkan matang-matang. Dan justru keseriusan itulah yang membuat hati Alya semakin terguncang.
Alya menundukkan wajahnya. Kepalanya bergoyang pelan ke kanan dan kiri, sementara tawa lirih lolos dari bibirnya. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa yang dipenuhi kepahitan, seolah hanya itu cara yang tersisa untuk menahan sesak di dadanya.
"Ironis sekali," gumamnya lirih.
"Buat orang yang punya uang, semua masalah memang terlihat sederhana untuk dibereskan."
Alya kembali mengangkat wajahnya, menatap Rayan dengan sorot mata yang tajam dan tak tergoyahkan.
"Aku tidak ingin menikah dengan seseorang yang hanya digerakkan oleh rasa bersalah. Dan aku sama sekali tidak membutuhkan belas kasihanmu."
Nada suaranya meninggi, bergetar menahan gejolak perasaan. Meski begitu, setiap kata yang keluar terdengar tegas dan tanpa keraguan.
"Yang aku butuhkan saat itu bukan janji atau penyesalan. Aku hanya ingin ada seseorang yang percaya padaku dan tetap berada di sisiku. Bukan datang sekarang, ketika semuanya sudah terlanjur terjadi."
Rayan membisu. Setiap ucapan Alya terasa menghantam dadanya tanpa ampun. Ia tak menemukan satu pun alasan untuk membantah, karena semua yang dikatakan wanita itu adalah kenyataan.
Di dalam pelukan Alya, Fariz hanya memandangi ayah dan ibunya bergantian. Bocah itu belum cukup mengerti arti percakapan mereka, tetapi nalurinya menangkap bahwa sesuatu yang penting sedang berlangsung di hadapannya.
Rayan masih berlutut di atas karpet yang mulai usang. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan gejolak perasaan. Suaranya terdengar berat, namun untuk pertama kalinya, tak ada lagi kebohongan atau pembelaan. Semua yang keluar dari bibirnya adalah pengakuan yang tulus.
"Tiga tahun ini aku hidup dengan penyesalan yang terus menghantuiku," katanya pelan, menatap Alya yang belum berhenti menangis.
"Aku mencarimu. Berusaha menemukan perempuan yang malam itu tanpa sengaja hadir dalam hidupku... perempuan yang menghabiskan malam bersamaku di dalam mobil itu."
Pak Kades dan Bu Ami saling bertukar pandang. Tak seorang pun memilih membuka suara. Mereka sadar, percakapan itu bukan lagi urusan orang lain untuk dicampuri. Itu adalah pertemuan dua hati yang sama-sama terluka, membawa luka lama yang selama ini tak pernah benar-benar sembuh.
"Aku tidak akan lari lagi dari kesalahanku. Apa pun yang terjadi, aku akan bertanggung jawab," lanjut Rayan dengan suara yang mulai serak.
Rayan menundukkan kepalanya sejenak, seolah mengumpulkan keberanian. Saat kembali mengangkat wajah, matanya telah dipenuhi genangan penyesalan yang tak lagi mampu disembunyikan.
"Tolong maafkan semua kesalahanku," katanya lirih.
"Malam itu aku benar-benar kehilangan kesadaran karena terlalu banyak minum. Aku bahkan tidak ingat bagaimana semuanya bermula... sampai akhirnya aku membawamu masuk ke mobil itu. Baru setelah semuanya terjadi, aku menyadari betapa besar kesalahan yang telah kulakukan."
Alya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha membendung luapan perasaan yang memenuhi dadanya. Tubuhnya bergetar hebat, tetapi tak satu pun kata mampu terucap. Yang tersisa hanyalah isak tangis yang pecah tanpa bisa lagi ditahan. Ia memeluk Fariz semakin erat, lalu menyembunyikan wajahnya di lekuk leher putranya, seolah hanya di sanalah ia menemukan sedikit ketenangan.
Fariz tidak mengucapkan apa pun. Dengan kepolosannya, ia hanya menggerakkan tangan mungilnya, mengusap lembut punggung Alya. Sentuhan sederhana itu seakan menjadi cara seorang anak menghibur ibunya, seolah ia dapat merasakan betapa dalam luka yang sedang dipikul wanita itu.
Rayan memandangi ibu dan anak itu cukup lama. Dadanya terasa sesak. Saat akhirnya membuka suara, nada bicaranya lirih, nyaris patah oleh emosi yang ditahannya.
"Kalau kamu masih mau memberiku satu kesempatan, aku akan melakukan apa pun untuk memperbaiki semuanya. Bukan hanya demi dirimu, tapi juga demi anak kita yang telah tumbuh tanpa kehadiranku."
Tangannya perlahan terkulai hingga menyentuh lantai yang dingin. Rayan kehabisan kata-kata. Semua yang ingin diucapkannya terasa tak lagi cukup untuk mewakili penyesalannya.
Yang ia pahami kini hanya satu ia telah datang terlalu terlambat. Namun, bila takdir masih menyisakan sedikit tempat untuknya, ia ingin tetap bertahan. Sekalipun kehadirannya ditolak, sekalipun kepercayaannya belum pernah benar-benar kembali.
*****
Setelah lama terdiam, tenggelam dalam penyesalan yang menggerogoti dadanya, Rayan akhirnya mendorong tubuhnya untuk berdiri. Sebelum beranjak, ia memandang Alya sekali lagi. Wanita itu masih memeluk erat putra mereka, membiarkan air mata jatuh tanpa suara. Pemandangan itu membuat dada Rayan terasa begitu berat. Namun ia menyadari satu hal ia tak memiliki hak untuk memaksa Alya menerima dirinya atau memaafkannya.
Rayan melangkah mundur dengan kaki yang terasa begitu berat. Sesampainya di ambang pintu, ia menghentikan langkahnya sejenak. Tanpa berbalik sepenuhnya, ia membuka suara dengan nada pelan.
"Besok aku akan datang lagi," ucapnya lirih.
Nada suara Rayan terdengar pelan, tetapi tekad yang tersimpan di balik setiap katanya begitu jelas.
"Aku hanya berharap kamu mau melihat kesungguhanku."
Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Rayan berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan itu. Ia tidak sekali pun menoleh ke belakang. Ia takut, jika kembali melihat Alya dan Fariz, tekadnya untuk pergi akan runtuh seketika.
Di luar rumah, beberapa warga masih berkumpul, memperhatikan Rayan dengan tatapan yang beragam ada yang penasaran, iba, bahkan menyimpan keraguan. Namun, Rayan tak menghiraukan satu pun dari mereka. Pandangannya menyapu sekeliling hingga berhenti pada sosok Pak Kades yang berdiri tenang di dekat salah satu tiang rumah, seolah telah menunggunya sejak tadi.
"Pak... boleh saya bicara sebentar?" ujar Rayan lirih, memberi isyarat bahwa ia ingin berbincang berdua.
Pak Kades mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia mengajak Rayan menjauh dari kerumunan warga yang sejak tadi masih mengamati mereka dengan penuh rasa ingin tahu.
Setelah memastikan mereka berada cukup jauh dari kerumunan, Rayan akhirnya membuka suara. Nada bicaranya pelan, tetapi sarat dengan beban yang telah lama dipendam.
"Pak, saya mohon... tolong jaga dia dan anak saya malam ini. Besok saya akan kembali," ucap Rayan lirih.
Pak Kades mengangguk pelan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, namun sorot matanya menunjukkan bahwa ia memahami situasinya.
Rayan melanjutkan ucapannya, kali ini dengan nada yang lebih berat dan dalam, seolah setiap kata berasal dari dasar hatinya.
"Aku akan belajar memperbaiki semuanya. Tapi satu hal yang pasti, aku ingin melindungi dia dan Fariz," ucapnya lirih.
Pak Kades menghela napas panjang, seolah memikul beban yang tak ringan dari percakapan itu.
Ia menatap pria di hadapannya yang meski tampak rapi, jelas menyimpan beban berat yang tak terlihat dari luar.
"Baik, Nak... kalau kau benar-benar serius, kau akan segera mengerti bahwa ini bukan sekadar soal menebus kesalahan, tapi juga tentang bangkit dari luka yang sudah terlalu lama tertinggal."
Raya mengangguk pelan, dalam, sebelum akhirnya memutar tubuhnya dan berbalik pergi.
Langkah Rayan perlahan menjauh, menyusuri kerumunan yang kini hanya bisa diam memperhatikannya. Sore itu, gang sempit tempat Alya tinggal menjadi saksi awal dari kisah yang baru saja mulai terukir.
*****
Rayan melangkah masuk ke apartemennya malam itu. Pintu menutup pelan di belakangnya, menyisakan kesunyian yang terasa jauh lebih berat dari biasanya.
Ia menjatuhkan diri ke sofa, melepas jasnya yang kini terasa seolah membawa seluruh beban hatinya ke pundak yang semakin berat.
Untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun, Rayan merasakan sesuatu yang lama hilang sebuah kelegaan yang samar namun nyata.
Ia merasa lega, karena akhirnya tahu siapa wanita itu. Lega juga karena kini ia mengenal nama bocah kecil itu Fariz. Dan yang paling dalam, karena ia tahu Alya masih hidup.
Namun di balik semua kelegaan itu, perlahan muncul rasa takut yang diam-diam menyusup ke dalam hatinya.
Setelah selesai membersihkan diri, ia keluar dengan pikiran yang masih terasa berat.
Rayan duduk di tepi ranjang, kepalanya tertunduk di antara kedua tangan. Lampu kamar dibiarkan redup, sementara tirai jendela terbuka lebar, memperlihatkan langit malam Semarang yang kelabu dengan cahaya kota yang berkelip di kejauhan.
Namun, tak satu pun cahaya gemerlap di luar sana mampu menembus gelapnya pikirannya malam itu.
Ia menatap kosong ke lantai, matanya sembab dan lelah. Namun tidur tak juga datang, pikirannya justru dipenuhi bayangan Alya dan sosok kecil Fariz yang terus menghantui benaknya.
“Anakku…” kata itu terus bergema di kepalanya, berulang tanpa henti, seolah menolak untuk padam dari ingatan.
Lebih dari tiga tahun ia mencari perempuan itu sosok yang hanya tersisa samar dalam ingatannya malam itu. Kini ia tahu, perempuan itu hidup dalam kesulitan, membesarkan anak seorang diri, bahkan harus memungut botol bekas demi bertahan hidup.
Dan Rayan, pada akhirnya, memilih melanjutkan hidupnya seolah tak pernah ada yang benar-benar terjadi.
“Aku benar-benar sudah keterlaluan…” desisnya lirih sambil menatap langit-langit dengan kosong.
Ia bangkit perlahan dan melangkah ke jendela. Di luar, kota tampak penuh kehidupan, namun di dalam dirinya hanya ada kehampaan.
“Besok aku akan kembali,” gumamnya pelan.
“Apa pun yang terjadi, aku tidak akan mundur lagi. Aku akan menebus semuanya untuk dia, untuk anakku.”
Rayan menyandarkan dahinya ke kaca jendela yang dingin, berusaha mengatur napasnya yang masih berantakan. Di dalam dadanya, ketakutan terus berputar takut ditolak, tak dipercaya, dan takut semuanya sudah terlambat.
Namun lebih dari segalanya, ia ingin belajar bagaimana menjadi seorang ayah yang sebenarnya.
Meski harus memulai semuanya dari pengakuan yang menyakitkan, ia tetap memilih jujur.