NovelToon NovelToon
RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Dunia Masa Depan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.

​Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Rencana di Balik Tirai Busuk dan Batas Akhir Kesabaran

Bab 29: Rencana di Balik Tirai Busuk dan Batas Akhir Kesabaran

​Mendung tebal menggantung rendah di atas langit ibu kota, menghalangi sisa-sisa cahaya matahari sore yang meredup cepat. Di dalam rumah mewah dua lantai itu, hawa pengap terasa begitu menyesakkan. Ibu Broto masih bersikeras mematikan aliran listrik pendingin ruangan di lantai dua, sebuah tindakan sewenang-wenang yang sengaja dilakukan untuk menghemat pengeluaran sekaligus menindas Hana agar wanita itu merasa tidak betah berada di kamarnya sendiri.

​Di lantai atas, dalam kegelapan kamar utama yang sunyi, Hana duduk bersandar di lantai, memeluk lututnya di sudut ruangan. Tubuhnya tampak jauh lebih kurus, dengan daster longgar yang tampak kedodoran membungkus fisiknya yang masih rapuh pasca-keguguran. Sepasang matanya yang sembap menatap kosong ke arah lantai parket jati.

​Rasa terpukul, sedih, dan kecewa yang teramat mendalam masih menggelayuti jiwanya seperti jangkar besi yang berat. Kehilangan bayi yang dinanti-nantikannya adalah luka yang teramat menganga, sebuah duka yang tak akan pernah bisa disembuhkan oleh waktu. Di pojokan kamar yang sepi dan panas itu, Hana merasa seolah-olah seluruh dunianya telah direnggut tanpa sisa, meninggalkannya dalam kubangan kesunyian yang menyakitkan.

​Namun, di lantai bawah, dunia berjalan dengan cara yang teramat berbeda dan kejam.

​Di ruang kerja Adrian yang terkunci rapat, aroma kopi hitam berpadu dengan asap rokok yang mengepul pekat. Di atas meja kerja, tumpukan berkas laporan keuangan mingguan kembali menampilkan angka-angka yang mengerikan. Omzet ketiga cabang "Rasa Hana" terus merosot tajam tanpa ada tanda-tanda akan membaik. Menu masakan Santi yang semula dianggap sebagai penyelamat ternyata hanya menjadi tren sesaat; kini, ulasan buruk dan komplain pelanggan yang merasa enek dengan rasa manis gurih yang monoton kian membanjiri meja administrasi.

​Adrian duduk di kursi besarnya sembari memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri. Di hadapannya, surat teguran dari pihak bank mengenai keterlambatan pembayaran cicilan utang modal sebesar dua miliar rupiah sudah berwarna kuning—peringatan terakhir sebelum status kreditnya dinyatakan macet total.

​Klek.

​Pintu ruang kerja terbuka sedikit. Santi menyelinap masuk dengan gerakan yang teramat luwes, tanpa alas kaki. Sore ini, ia mengenakan celana pendek ketat dipadu dengan kemeja flanel milik Adrian yang sengaja dibiarkan terbuka pada tiga kancing teratasnya, menampilkan lekuk dadanya dengan sangat jelas.

​Santi berjalan mendekat, lalu dengan berani langsung mendudukkan dirinya di atas pangkuan Adrian, melingkarkan kedua lengan halusnya di leher pria itu.

​"Mas Adrian... masih pusing memikirkan restoran?" bisik Santi dengan suara yang teramat mendayu-dayu, sengaja menyandarkan kepalanya di bahu Adrian sembari mengembuskan napas hangatnya di leher sang pria.

​Adrian menghela napas panjang, namun tangannya dengan refleks langsung melingkari pinggang ramping Santi, meremasnya dengan penuh ketergantungan fisik. Di tengah kehancuran bisnisnya, Adrian telah menjadi pria yang sepenuhnya lumpuh secara moral. Ia tidak lagi peduli dengan kondisi Hana yang sedang terpuruk dan berduka di lantai atas; baginya, kehangatan tubuh Santi adalah satu-satunya obat bius yang bisa membuatnya melupakan bayang-bayang kebangkrutan.

​"Omzet kita turun lagi minggu ini, Santi. Bank sudah mulai menagih, dan aku tidak tahu harus mencari dana segar dari mana lagi untuk menutupi biaya operasional bulan depan," keluh Adrian dengan suara parau, matanya menatap Santi penuh keputusasaan.

​Santi menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan kelicikan di balik bahu Adrian. Ia mempererat pelukannya, lalu mengelus rahang tegas Adrian dengan jemarinya yang lentik, menyuntikkan racun hasutan yang baru.

​"Mas Adrian jangan bingung... Mas Adrian kan punya istri sah yang kaya," bisik Santi dengan nada manja yang teramat halus. "Santi kemarin tidak sengaja mendengar Mbak Hana menelepon pengacara keluarganya. Ternyata, Mbak Hana itu masih punya aset berharga atas namanya sendiri, Mas. Surat tanah warisan ruko tua peninggalan almarhum ayahnya di kawasan bisnis kota, ditambah beberapa logam mulia simpanan di dalam brankas pribadi di kamarnya."

​Adrian tersentak, sedikit menjauhkan tubuhnya untuk menatap sepasang mata Santi. "Aset Hana? Tapi itu harta bawaan dari almarhum mertuaku, Santi. Hana pasti tidak akan pernah mau menjual atau meminjamkannya kepadaku, apalagi setelah... setelah kejadian kemarin."

​Santi terkekeh pelan, sejenis kekehan manja yang mengunci sisa kewarasan Adrian. "Ya kalau Mbak Hana tidak mau memberikan secara sukarela, kita kan bisa mengambilnya diam-diam, Mas. Untuk ruko itu, Mas Adrian kan bisa mencari sertifikatnya di kamar atas saat Mbak Hana sedang tidur atau lengah, lalu memalsukan tanda tangannya untuk diagunkan atau dijual cepat ke tengkulak properti. Lagipula, uangnya kan dipakai untuk menyelamatkan restoran yang memakai nama dia juga. Kalau restorannya tetap bisa jalan dan sukses lagi, Mas Adrian bisa mengembalikan aset itu tanpa perlu Mbak Hana tahu."

​Adrian terdiam, mendengarkan rencana busuk yang keluar dari bibir manis selingkuhannya. Sisi logisnya tahu bahwa tindakan ini adalah sebuah kejahatan pidana yang teramat kotor. Namun, ketakutannya akan kemiskinan, ditambah dengan jerat godaan fisik Santi yang kini mulai menciumi rahangnya dengan rakus, membuat moralitas Adrian runtuh seutuhnya. Ia merasa rencana Santi adalah jalan pintas terbaik yang bisa ia ambil.

​"Kamu... benar-benar pintar, Santi," desis Adrian, matanya menggelap oleh kabut gairah dan keserakahan yang menyatu.

​Adrian membalikkan tubuh Santi di atas meja kerjanya, menyingkirkan berkas laporan keuangan yang berantakan, lalu meluapkan seluruh nafsu liarnya ke dalam hubungan intim yang panas dan durjana malam itu. Mereka bercinta dengan penuh keliaran di dalam ruang kerja yang terkunci, menyusun rencana pencurian aset istri sah, tepat di bawah langit-langit yang sama di mana Hana sedang meratapi kematian anak mereka dalam kesendirian yang menyakitkan.

​Dua jam setelah persekongkolan syahwat di lantai bawah usai, malam telah jatuh sepenuhnya. Suara rintik hujan di luar menambah kesan kelam di dalam rumah.

​Hana, dengan tubuh yang masih lemas dan gemetar, perlahan menyeret langkah kakinya keluar dari kamar lantai dua. Perutnya terasa teramat perih karena ia belum menyentuh makanan sejak pagi hari, dan tenggorokannya terasa bagai terbakar. Ia berniat turun ke dapur untuk mengambil segelas air hangat.

​Namun, begitu ia mencapai pertengahan anak tangga, langkah kaki Hana terhenti. Di ruang tengah bawah yang remang-remang, ia melihat siluet Adrian dan Ibu Broto sedang berdiri di dekat konter meja makan, berbisik-bisik dengan wajah yang penuh dengan niat licik yang teramat kentara. Sementara Santi berdiri agak jauh di dekat koridor kamar tamu, mengawasi keadaan sekitar dengan senyuman miring yang puas.

​"Adrian, kamu yakin sertifikat ruko tua milik Hana itu disimpan di dalam lemari jati kamarnya?" bisik Ibu Broto dengan suara yang ditekan, namun tetap terdengar jelas oleh rungu Hana yang tajam di atas tangga.

​"Iya, Ibu. Santi kemarin sempat mengintip saat Hana membuka lemari itu sebelum dia keguguran," jawab Adrian dengan nada dingin, sama sekali tidak ada lagi rasa bersalah atau rasa sayang kepada istrinya. "Malam ini, setelah Hana meminum obat tidurnya dan terlelap, aku akan masuk ke kamarnya untuk mengambil sertifikat itu. Kita harus menjualnya secepat mungkin ke Pak Harun, makelar properti di kantor seberang. Dana dua miliar dari penjualan itu harus langsung masuk ke rekening restoran besok sore agar operasional tetap bisa jalan."

​"Bagus, Le! Memang harus begitu!" puji Ibu Broto dengan binar mata yang serakah. "Perempuan mandul dan pembawa sial seperti dia tidak berhak menyimpan aset berharga di saat keluarga kita sedang kesusahan. Biar dia rasakan akibatnya karena selalu bersikap belagu di rumah ini."

​Hana berdiri mematung di atas undakan tangga, tangannya mencengkeram erat pegangan besi tangga hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam kegelapan lorong tangga, air mata Hana yang semula mengalir perlahan mendadak berhenti.

​Rasa sedih, terpukul, dan kecewa yang ia rasakan malam ini telah mencapai batas akhir absolutnya. Suami yang dahulu ia cintai, suami yang telah merenggut nyawa buah hatinya melalui penindasan batin, kini bahkan dengan tega bersekongkol bersama ibu kandungnya dan seorang pelayan rumah tangga untuk merampok harta warisan terakhir dari almarhum ayahnya.

​Batasan kesabaran Hana pecah seutuhnya malam itu juga. Rasa sakit di hatinya mendadak membeku, menjelma menjadi sebuah keberanian yang teramat dingin, pekat, dan tanpa ampun. Hana tidak lagi merasa perlu untuk bersembunyi atau mengalah di pojokan sepi tempat ia meratap selama ini.

​Dengan langkah kaki yang mantap, tegap, dan penuh wibawa seorang ratu yang sesungguhnya, Hana melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga. Suara ketukan tumit sandalnya di atas lantai marmer yang sunyi seketika membuat Adrian, Ibu Broto, dan Santi tersentak kaget. Mereka bertiga buru-buru membalikkan tubuh dengan wajah yang pucat pasi karena panik, menyadari bahwa persekongkolan busuk mereka baru saja tertangkap basah.

​Hana berjalan melewati mereka seolah-olah mereka bertiga hanyalah tumpukan sampah yang tidak berharga. Ia menuangkan air hangat ke dalam gelas kaca di atas meja konter dapur, meminumnya hingga tandas, lalu membalikkan tubuhnya untuk menatap langsung ke arah wajah Adrian.

​Sepasang mata Hana yang indah kini memancarkan kilatan es yang teramat tajam, membuat Adrian mendadak merayap ketakutan di sudut hatinya.

​"Tidak usah menunggu sampai aku terlelap malam ini untuk mencuri sertifikat milik almarhum ayahku, Adrian," ucap Hana dengan nada suara yang teramat tenang, datar, namun bergaung penuh penekanan yang mencekam di dalam ruangan yang sunyi.

​Adrian berdeham, mencoba menguasai kegugupannya sembari memasang wajah defensif yang kaku. "H-Hana... kamu salah paham. Kami tadi cuma berdiskusi bagaimana cara menyelamatkan restoran—"

​"Cukup, Adrian. Aku sudah muak mendengar setiap kata kebohongan yang keluar dari mulut kotormu," potong Hana dengan cepat, suaranya memotong kalimat Adrian bagai bilah belati yang tajam.

​Hana melangkah maju dua langkah, berdiri tepat di hadapan suaminya. Ia menatap Adrian, lalu melirik sekilas ke arah Ibu Broto dan Santi yang kini berdiri mematung dengan tubuh yang kaku karena ketakutan.

​"Pernikahan yang dibangun di atas dasar pengkhianatan, nafsu liar dengan seorang pelayan, dan keserakan untuk merampok harta orang lain... tidak layak lagi untuk dipertahankan sedetik pun," tegas Hana, setiap patah katanya sarat akan kepuasan dingin yang mematikan.

​Hana menarik napas dalam-dalam, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Adrian dengan ketegasan yang tak tertandingi.

​"Mulai malam ini, detik ini juga... aku meminta cerai darimu, Adrian. Besok pagi, tim pengacara keluargaku akan mengantarkan surat gugatan cerai mutlak beserta seluruh tuntutan sita jaminan atas nama dagang 'Rasa Hana' ke meja kerjamu. Bersiaplah untuk melihat bagaimana seluruh istana pasir yang kamu bangun di atas air mataku ini... runtuh dan meratakan kalian bertiga hingga ke dasar tanah."

​Setelah melontarkan kalimat maut tersebut, Hana membalikkan tubuhnya dengan anggun, berjalan kembali menuruni lorong menuju lantai atas tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Ia meninggalkan Adrian yang berdiri terpaku dengan tubuh yang bergetar hebat akibat ketakutan yang nyata, Ibu Broto yang ternganga kehilangan kata-kata, dan Santi yang meremas tangannya dengan panik, menyadari bahwa badai pembalasan yang sesungguhnya dari sang ratu dapur baru saja resmi dimulai.

1
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
Anonim
HANA BALASKAN DENDAM MU... BUNUH SEMUA NYA... HABISI SEMUANYA TATAKAE TATAKAE
Anonim
lemah amat anjing 🖕
Anonim
BUNUB SEMUA NYA ANJING ... TUMBALKAN SEMUA NYA
THE GIRL COOL😑
good jop 👍👍👍👍 lanjut kan😍😍😍
gendiz: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!