Demi takhta tertinggi Klan Zhou, Zhou Yu dijebak oleh konspirasi kejam. Menggunakan ramalan palsu, para tetua mengasingkannya ke Pulau Sunyi—tempat para biksu tanpa kekuatan kultivasi, tempat di mana masa depannya sengaja dikubur hidup-hidup.
Enggan membiarkan takdirnya mati dalam kesunyian, Zhou Yu nekat melarikan diri ke Hutan Keramat yang tabu. Di sana, di balik kabut abadi, dia menemukan kerangka naga raksasa yang terantai.
Siapa sangka, setetes darah Zhou Yu justru menghancurkan segel kuno dan membangkitkan takdir yang sebenarnya: Garis Keturunan Iblis Kuno yang ditakuti langit dan bumi! Dengan tulang naga iblis di tubuhnya dan dendam yang membara di hatinya, Zhou Yu berjalan keluar dari pulau pengasingan.
"Kalian membuangku karena takut aku merebut takhta? Bersiaplah, karena sekarang aku kembali untuk meratakan seluruh klan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Penobatan
Arena Elang Emas yang terletak di pelataran luar kastil utama Klan Zhou hari ini bagai sebuah kuali raksasa yang mendidih.
Puluhan ribu penonton telah memadati tribun melingkar yang terbuat dari batu granit putih. Sorak-sorai, obrolan, dan taruhan bergaung riuh di bawah langit Ibu Kota yang cerah. Di langit atas arena, belasan bendera besar berlambang elang emas berkibar dengan gagah ditiup angin.
Di panggung kehormatan VIP yang terletak di posisi tertinggi, kemewahan sesungguhnya terpampang nyata.
Zhou Gung, sang Pemimpin Klan sementara, duduk di atas takhta batu giok dengan jubah kebesaran yang bersulam benang emas. Wajah paruh bayanya memancarkan kepuasan yang mendalam saat menatap lautan manusia di bawahnya.
Di sisi kirinya, duduk beberapa Tetua Inti dari Sekte Pedang Suci yang memancarkan tekanan ranah Inti Emas (Golden Core). Namun, yang paling menarik perhatian massa adalah dua sosok muda yang duduk berdampingan di barisan depan panggung VIP.
Zhou Feng, putra sulung Zhou Gung, mengenakan zirah emas berkilauan dengan rambut hitam yang diikat rapi. Aura ranah Pendirian Fondasi Tingkat 4 miliknya diledakkan secara sengaja, menciptakan riak energi spiritual keemasan yang berputar-putar di sekeliling tubuhnya.
Di sampingnya, duduk Lin Xinyue yang mengenakan gaun putih salju Sekte Pedang Suci. Gadis itu duduk dengan punggung tegak, memangku sebilah pedang pusaka berbalut kain sutra perak. Kecantikannya yang dingin bak dewi es membuat banyak kultivator muda di tribun bawah menatapnya tanpa berkedip.
Zhou Gung perlahan bangkit dari duduknya, melangkah maju ke tepi panggung VIP. Seketika, seluruh arena yang riuh itu mendadak hening seolah dihipnotis.
"Hari ini, Klan Zhou menyambut era baru!" suara Zhou Gung menggelegar, diperkuat oleh energi spiritualnya hingga terdengar jelas di setiap sudut arena.
"Turnamen Penerus Klan ini diadakan bukan hanya untuk menguji kemampuan generasi muda kita, melainkan juga untuk membersihkan klan dari bayang-bayang takdir sial masa lalu, dan melangkah maju menuju kejayaan mutlak bersama Sekte Pedang Suci!"
Kata-kata "takdir sial masa lalu" adalah sindiran tajam yang ditujukan langsung kepada mendiang pemimpin klan sebelumnya dan Zhou Yu yang telah diasingkan. Mendengar pidato ayahnya, Zhou Feng tersenyum angkuh sembari menatap Lin Xinyue, yang hanya memberikan anggukan kecil tanpa ekspresi.
Di saat yang sama, di tengah tribun penonton kelas bawah yang padat dan sesak oleh para pengembara, sesosok pemuda berjubah hitam dengan tudung kepala berdiri bersandar pada pilar batu. Wajahnya tersembunyi di balik topeng perak setengah wajah yang menutupi area mata kiri hingga pipinya.
Itu adalah Zhou Yu.
Dia mendaftar turnamen ini melalui jalur pengembara bebas—sebuah jalur tambahan yang sengaja dibuka oleh Zhou Gung untuk menunjukkan transparansi klan kepada publik. Mereka tidak tahu bahwa jalur tersebut justru menjadi celah bagi malaikat maut mereka untuk masuk.
Dari balik celah topeng peraknya, sepasang mata merah darah Zhou Yu menatap lurus ke arah panggung VIP, mengunci sosok Zhou Feng dan Lin Xinyue dengan pandangan yang sangat dingin.
'Bersenang-senanglah di atas takhta palsumu, Paman,' batin Zhou Yu dengan seringai kejam yang tersembunyi.
Sementara itu, di barisan belakang panggung VIP, suasana mendadak berubah tegang. Seorang penjaga bayangan klan berwajah pucat pasi berlutut di samping kursi salah satu tetua faksi Zhou Gung, lalu membisikkan sesuatu dengan suara yang sangat bergetar.
"Apa?!" Tetua itu membelalakkan matanya, menahan napas agar tidak berteriak. "Tetua Zhou Mo dan seluruh penjaga Lapisan Ketiga tewas dipenggal?! Para tahanan kabur?!"
Penjaga itu mengangguk ketakutan. "Benar, Tetua. Seluruh tempat dipenuhi genangan darah. Kepala Tetua Zhou Mo dipotong dengan sangat rapi menggunakan teknik tajam tingkat tinggi. Kejadiannya diperkirakan tengah malam tadi."
Tetua faksi Zhou Gung itu melirik ke arah Zhou Gung yang baru saja selesai memberikan pidato. Mengingat hari ini adalah hari besar klan dan ada banyak tamu agung dari sekte luar, membocorkan berita pembantaian di dalam penjara bawah tanah sendiri akan menghancurkan reputasi klan sepenuhnya.
"Rahasikan hal ini dari publik!" bisik sang tetua dengan nada kejam. "Kerahkan sisa pasukan bayangan untuk menyelidiki secara diam-diam di luar kastil. Turnamen ini harus tetap berjalan sesuai rencana!"
Duar! Duar! Duar!
Tiga tembakan kembang api spiritual meledak di langit arena, menandakan babak penyisihan pertama telah resmi dimulai. Seorang wasit ranah Pendirian Fondasi Tingkat 1 melompat ke tengah arena batu raksasa, memegang segulung kertas daftar peserta.
"Pertandingan pertama blok barat!" suara wasit menggema ke seluruh tribun. "Murid Elit faksi cabang klan, Zhou Tian... melawan peserta jalur bebas, Yu Ling!"
Mendengar nama samarannya dipanggil, Zhou Yu perlahan menegakkan tubuhnya dari pilar batu. Dia menarik tudung jubah hitamnya sedikit ke depan, lalu melangkah keluar dari kegelapan lorong tribun penonton menuju ke arah tangga turun arena.
Setiap langkah kakinya di atas anak tangga batu terasa sangat ringan namun penuh kepastian.
Begitu sepasang sepatu bot hitamnya menapak di atas tanah arena batu yang terik oleh sengatan matahari, Zhou Yu mendongak sedikit. Dari balik topeng perak setengah wajahnya, tatapan matanya menembus jarak ratusan meter, mengunci langsung ke arah kursi tempat Zhou Feng dan Lin Xinyue berada.
Bom waktu telah diletakkan tepat di tengah panggung penobatan mereka, dan sumbunya baru saja dinyalakan.