Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.
Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.
Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.
Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 05 (Makan Malam Para Elite)
...HAPPY READING...
...🧸💕...
Malam itu, ballroom eksklusif di hotel bintang lima milik keluarga Arkantha dipenuhi para pebisnis besar dan jajaran elite perusahaan ternama. Lampu kristal menggantung megah di langit-langit ruangan, sementara alunan musik klasik memenuhi suasana makan malam bisnis yang terlihat mewah dan formal, Acara malam ini adalah pertemuan penting antara Mahardika Group dan PT Arkantha Corporation.
Sebuah perusahaan konglomerat besar yang bergerak di bidang properti, hotel mewah, dan investasi. Nama keluarga Arkantha sendiri sudah lama dikenal sangat berpengaruh di kalangan pejabat, investor luar negeri, hingga elite bisnis papan atas, dan Arsen Rafael Mahardika tentu tidak mungkin mengabaikan kerja sama sebesar ini.
“Pak Arsen, pihak Arkantha sudah datang,” lapor Celine pelan di sampingnya.
Arsen mengangguk singkat, Penampilannya malam ini tetap sempurna seperti biasa. Jas hitam mahal, ekspresi dingin, dan aura tegas yang membuat siapa pun segan mendekat.
Namun di balik ketenangannya, pikirannya masih dipenuhi pertengkarannya dengan Elvara sejak pagi tadi.
“Direktur utama Arkantha datang langsung?” tanya Arsen.
“Iya, Pak.” Celine membuka tablet di tangannya. “Tuan Nicholas Arkantha hadir bersama putrinya.”
Arsen baru saja ingin berjalan menuju meja utama saat langkahnya sedikit terhenti, Karena seseorang baru saja memasuki ballroom.
Vivian, Wanita itu tampil elegan dengan dress satin merah marun yang menarik perhatian banyak orang di ruangan tersebut.
Tatapan mereka sempat bertemu beberapa detik, Namun Arsen langsung memalingkan wajah lebih dulu.
“Pak?” panggil Celine hati-hati.
“Fokus kerja.”
“Baik.”
Beberapa menit kemudian, acara makan malam resmi dimulai. Arsen duduk di meja utama bersama jajaran petinggi perusahaan, investor asing, dan keluarga Arkantha.
“Senang akhirnya bisa bekerja sama langsung dengan Mahardika Group,” ucap Nicholas Arkantha sambil tersenyum ramah.
“Kerja sama ini akan menguntungkan kedua pihak,” jawab Arsen profesional.
Pembicaraan bisnis berjalan cukup lancar, Namun di tengah diskusi mengenai proyek hotel resort terbaru, Vivian yang duduk tidak jauh dari Arsen beberapa kali mencoba membuka percakapan pribadi dengannya, dan itu tidak luput dari perhatian beberapa orang di meja tersebut. Celine yang berdiri di belakang kursi Arsen bahkan mulai merasa suasana perlahan berubah tidak nyaman.
Sementara di sisi lain…
Arsen mulai merasa emosinya semakin lelah menghadapi semuanya sekaligus.
Rumah tangganya yang retak, Masa lalu yang kembali muncul, dan sekarang, ia masih harus berpura-pura semuanya baik-baik saja di depan para elite bisnis malam ini.
Pembahasan kerja sama berlangsung hampir dua jam penuh, proyek pembangunan hotel resort mewah di kawasan wisata premium akhirnya mencapai kesepakatan awal antara Mahardika Group dan PT Arkantha Corporation. Beberapa investor yang hadir terlihat puas dengan hasil diskusi malam itu.
“Kalau begitu, untuk tahap pertama kita akan mulai proses penandatanganan bulan depan,” ucap Nicholas Arkantha sambil menutup map dokumen di depannya.
Arsen mengangguk singkat. “Tim saya akan segera menghubungi pihak Arkantha untuk detail selanjutnya.”
Nicholas tersenyum puas. “Bagus. Saya memang lebih suka bekerja dengan orang yang profesional.”
Suasana meja utama perlahan mulai lebih santai setelah urusan bisnis selesai dibahas, para tamu mulai berbicara lebih bebas sambil menikmati wine dan hidangan penutup.
Sampai tiba-tiba Nicholas tertawa kecil sambil melirik Vivian. “Ngomong-ngomong, saya cukup terkejut waktu tahu kalian ternyata saling kenal.”
Tatapan beberapa orang langsung tertuju pada Arsen dan Vivian, Vivian tersenyum tipis, sedangkan Arsen tetap terlihat datar.
“Kami teman lama,” jawab Vivian santai.
Nicholas mengangguk pelan sebelum akhirnya berkata tanpa beban— “Vivian ini keponakan saya.”
Celine yang berdiri di belakang Arsen sedikit terkejut mendengarnya, pantas saja wanita itu bisa bebas keluar masuk acara penting Arkantha malam ini.
Nicholas kembali melanjutkan dengan nada santai, “Dulu dia tinggal lama di luar negeri bantu bisnis keluarga saya juga.”
Vivian hanya tersenyum kecil sambil memainkan gelas wine di tangannya, Namun suasana mulai terasa sedikit berbeda saat Nicholas tiba-tiba menatap Arsen lebih dalam.
“Kalau dipikir-pikir…” pria paruh baya itu terkekeh pelan, “kalian dulu cukup dekat, ya?”
Sunyi sesaat, Celine langsung menegang. Bahkan beberapa orang di meja mulai saling melirik samar.
Namun Arsen tetap tenang. “Itu masa lalu,” jawabnya dingin.
Vivian menurunkan pandangannya pelan mendengar jawaban itu, Nicholas yang tidak menyadari ketegangan di antara mereka justru tertawa kecil.
“Sayang juga sebenarnya.” Tatapan Arsen langsung berubah tipis.
“Paman,” panggil Vivian pelan seolah meminta menghentikan pembicaraan.
Namun Nicholas masih tersenyum santai. “Kalian dulu cocok.”
Kalimat itu membuat rahang Arsen mengeras, dan entah kenapa…
Untuk pertama kalinya malam itu, bayangan wajah Elvara tiba-tiba muncul jelas di pikirannya.
…
Acara makan malam bisnis akhirnya selesai menjelang malam, Para tamu mulai berdiri dari kursinya satu per satu sambil saling berjabat tangan dan bertukar kartu nama. Suasana ballroom kembali ramai oleh percakapan para pebisnis elite.
“Kalau begitu, saya tunggu kabar baik dari Mahardika Group,” ucap Nicholas Arkantha sambil menjabat tangan Arsen.
“Tentu,” jawab Arsen singkat namun profesional.
Setelah berbincang beberapa saat lagi, Nicholas akhirnya pergi lebih dulu bersama beberapa investor lainnya.
Celine segera mendekat sambil membawa tablet dan beberapa dokumen.
“Pak Arsen, jadwal besok pagi sudah saya pindahkan sesuai—”
“Arsen.”
Suara Vivian tiba-tiba memotong ucapan Celine, Wanita itu berdiri beberapa langkah dari mereka dengan tatapan tenang namun sulit ditebak.
“Aku mau bicara sebentar.”
Celine langsung terdiam, tatapannya bergantian menatap Arsen dan Vivian dengan canggung.
Arsen sendiri terlihat sedikit tidak nyaman, tetapi akhirnya tetap menjawab dingin— “Cepat.”
Vivian melirik ke arah Celine sekilas, dan sebagai sekretaris profesional yang cukup peka membaca situasi, Celine langsung mengangguk kecil.
“Saya tunggu di luar, Pak.”
Setelah Celine menjauh, suasana di antara Arsen dan Vivian langsung berubah sunyi, Ballroom kini mulai jauh lebih sepi dibanding sebelumnya.
Vivian menatap Arsen cukup lama sebelum akhirnya membuka suara pelan. “Kamu kelihatan capek.”
“Itu bukan urusan kamu.”
Vivian tersenyum kecil pahit. “Kamu masih jawab dingin kayak dulu kalau lagi marah.”
Arsen memalingkan wajah sebentar. “Ada apa?”
Vivian menggenggam clutch bag-nya pelan seolah sedang mengumpulkan keberanian. “Aku cuma…” Ia berhenti beberapa detik. “Aku pengen tahu satu hal.”
Tatapan Arsen kembali tertuju padanya. “Kamu pernah nyesel nikah sama Elvara?”
Pertanyaan itu langsung membuat suasana terasa menegang.
Arsen mengernyit tajam. “Jangan mulai lagi.”
“Aku serius.” Vivian menatapnya lekat-lekat dengan mata yang perlahan mulai berkaca-kaca.
“Karena kalau kamu memang bahagia…” suaranya melemah, “aku bakal berhenti berharap.”
Sunyi.
Arsen terdiam cukup lama, dan justru diamnya itulah yang membuat hati Vivian semakin sakit.
“Mau mu apa?” tanya Arsen dingin sambil menatap Vivian tajam.
Vivian menggigit bibir bawahnya pelan, seolah menahan gugup yang sejak tadi terus menghantuinya. Lalu dengan suara lirih, ia akhirnya berkata— “Bisa kah… kita kembali?”
Jantung Arsen langsung terasa berat, Tatapannya berubah kaku. Ia tidak menyangka Vivian akan mengatakannya sejelas itu, suasana ballroom yang mulai sepi mendadak terasa menyesakkan.
Vivian menatap Arsen penuh harap meski matanya sudah mulai memerah. “Aku tahu aku egois,” lanjutnya pelan. “Aku tahu aku nggak punya hak datang lagi setelah ninggalin kamu dulu…”
“Tapi aku nggak bisa bohong.” Suaranya bergetar sedikit. “Aku masih cinta sama kamu, Arsen.”
Arsen mengepalkan tangannya kuat, Kalau ini terjadi beberapa tahun lalu, mungkin ia akan langsung menerima Vivian kembali tanpa berpikir dua kali, namun sekarang semuanya berbeda.
Ia sudah menikah, Ada Elvara yang sedang menunggunya di rumah, dan meski rumah tangga mereka sedang retak… Elvara tetap istrinya.
Namun hal paling menyebalkan dari semua ini adalah— Sebagian kecil hatinya masih belum sepenuhnya lepas dari Vivian. Itulah alasan kenapa Arsen tidak bisa langsung menjawab tegas.
Vivian melangkah mendekat perlahan. “Kalau masih ada sedikit aja rasa itu…” bisiknya pelan, “aku mau memperbaiki semuanya.”
Tatapan Arsen perlahan melemah, Ia membenci dirinya sendiri karena goyah.
Karena setelah semua luka yang Vivian tinggalkan… perasaan itu ternyata belum benar-benar hilang, Arsen akhirnya memalingkan wajah sambil menghela napas panjang.
“Aku…” suaranya rendah dan berat. “Aku nggak bisa jawab sekarang.”
Vivian langsung menatapnya penuh harap. “Arsen…”
“Beri aku waktu.” Kalimat itu membuat mata Vivian langsung berkaca-kaca.
Karena meski bukan jawaban pasti…
Itu juga bukan penolakan.
Bersambung…..