NovelToon NovelToon
Ayahku Memiliki Sistem

Ayahku Memiliki Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

Saat ia pikir hidupnya berakhir, seorang pria tiba-tiba mendapatkan sistem. Namun, bukannya menjadi kaya, ia justru terbangun di masa lalu... di dalam tubuh ayahnya saat masih muda.

Kini, dengan sistem di tangannya dan mengetahui masa depan, ia harus mengubah takdir keluarganya.

Mampukah ia menyelamatkan keluarganya... tanpa menghapus keberadaannya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

​Raka akhirnya menyewa tiga laci PC yang berderet untuk mereka bertiga.

Budi awalnya menolak keras karena merasa tidak enak badan dan bingung melihat mesin kotak besar di depannya.

​"Aduh, Rak, aku nggak biasa main ginian. Kamu jangan aneh-aneh lah, mendingan kita balik ke proyek. Nanti mandor nyariin kita, terus upah aku dipotong gimana?" bisik Budi dengan wajah cemas sambil melirik kanan-kiri.

​Raka tertawa kecil sambil menepuk kursi kosong di sebelah Kael. "Udah, santai aja, Om Bud. Hari ini semuanya gua yang bayar, billing aman, kopi aman, mi instan aman. Duduk aja dulu, nikmatin hidup sekali-kali."

​Budi akhirnya pasrah. Dia duduk dengan kaku di kursi busa warnet, sementara Kael diam-diam masih memperhatikan Budi dengan sudut matanya.

Bagi Kael, ini adalah kombinasi manusia paling absurd yang pernah mendatangi bilik warnetnya.

​Kael kemudian membantu menyalakan game multiplayer yang biasa dia mainkan.

Raka pun ikut bergabung, sementara Budi hanya bisa memandangi layar monitor dengan kebingungan total.

Tangannya memegang mouse seperti sedang memegang batu kali, kaku luar biasa.

​"Eh, Rak... ini aku harus pencet apa? Kok gambarnya gerak-gerak cepet banget? Ini orangnya nembak dari mana, Kael? Aduh, aku mati lagi ya?" seru Budi heboh sendiri. Suara baritonnya yang lantang sempat membuat beberapa anak warnet lain menengok.

​Kael yang awalnya canggung lama-lama tidak bisa menahan tawa. "Bukan gitu, Om Budi. Tangannya jangan kaku-kaku amat. Nih, pencet tombol W-A-S-D buat jalan. Kalau ada musuh, Om tinggal klik kiri aja. Sini, gua temenin dari belakang."

​Sambil menunggu giliran masuk ke pertandingan berikutnya, Raka bersandar di kursi sambil membuka kaleng minuman bersoda.

Pandangannya beralih ke arah Kael yang sedang sibuk mengunyah keripik kentang.

​"El, gua penasaran deh," buka Raka santai. "Lu bolos dari kemarin pagi sampai pagi begini, emang bokap nyokap lu kagak nyariin? Kagak takut diomelin atau digebukin pas pulang ke rumah?"

​Mendengar pertanyaan itu, gerakan tangan Kael yang sedang memegang mouse sempat berhenti selama satu detik. Dia terdiam sejenak, lalu mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh.

​"Enggak, Bang. Orang tua gua nggak bakal nyariin," jawab Kael dengan nada suara yang mendadak datar.

​Raka mengernyitkan dahi. "Kok bisa? Lu kan masih anak SMA, belum legal juga. Masa anak gak pulang seharian didiemin aja?"

​Kael menghela napas pendek, matanya kembali fokus menatap layar monitor yang menampilkan karakter gamenya.

"Mereka sibuk sama urusan masing-masing, Bang. Bokap sibuk kerja di luar kota, jarang pulang. Nyokap juga punya bisnis sendiri dan sibuk sama dunianya. Kalaupun mereka berdua ada di rumah, ujung-ujungnya pasti berantem terus soal duit atau hal lain. Hubungan keluarga gua bisa dibilang kurang bagus, sih."

​Remaja itu mengambil jeda sebentar sebelum melanjutkan, "Gua pulang atau enggak, kayaknya mereka nggak terlalu peduli. Yang penting gua gak bikin masalah kriminal di luar dan gak minta duit aneh-aneh aja ke mereka. Makanya gua lebih betah di sini. Di rumah sepi, rasanya kayak numpang tidur doang."

​Mendengar cerita polos dari mulut anak SMA itu, Budi yang duduk di sebelah Raka mendadak merasa iba.

Budi menatap Kael dengan pandangan bersimpati.

​"Wah... kasihan juga ya kamu, Kael," ucap Budi.

"Tapi, biar bagaimanapun, kamu jangan keseringan bolos sekolah begini. Aku dulu mau sekolah aja susah banget karena gak ada biaya. Kamu sekarang udah difasilitasin sekolah sama orang tuamu, jadi harus dimanfaatin baik-baik. Kasihan masa depan kamu nanti kalau putus sekolah."

​Kael menoleh ke arah Budi, agak terkejut karena abang-abang proyek ini ternyata bisa berbicara dengan sangat halus.

Kael tersenyum tipis. "Iya, Om. Gua bolos kalau lagi jenuh banget aja kok. Biasanya nilai gua masih aman."

1
Bryan
keren thor, banyakin ya update nya, 1 vote udh melayang 💪👍
Maul: terima kasih banyak kak😆
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
Reno bocil bikin ngakak deh🤣🤣
Maul
/Blush/
Maul
duit 😘
Maul
/Hey/
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Yuliana Tunru
knp verota x jd maju mundur sih kan yg baca bingung 🤭🤭
Maul: hehe, mungkin ke depannya gak akan maju mundur🙏
total 1 replies
Maul
Sistemnya plin-plan wkwk
Maul
waduh, yang ini gk cadel😅
Maul
ngasuh diri sendiri 🤭
Maul
women
Maul
Ayahku adalah diriku sendiri🤔
Maul: cuma bercanda kak, soalnya kan mc nya masuk ke tubuh ayahnya sendiri😅 🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!