NovelToon NovelToon
Jangan Harap Cintaku Lagi

Jangan Harap Cintaku Lagi

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.

Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.

Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.

Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Boleh Aku Mendekatimu?

Vira sedang menyusun minyak goreng kemasan di rak saat seorang anak laki-laki datang menghampiri.

"Kak Vira, beli sabun mandi."

Vira menoleh, lalu tersenyum ramah. "Boleh. Mau merek apa?"

Anak itu menyebutkan salah satu merek. Vira segera mengambilnya dari rak, memasukkannya ke dalam kantong plastik, lalu menyerahkannya.

"Ini, Kak. Uangnya." Anak itu menyodorkan uangnya.

Vira menerima uang itu. "Tunggu sebentar, ya. Kakak ambil kembaliannya dulu."

Anak itu mengangguk.

Tak lama kemudian, Vira menyodorkan selembar uang lima ribu. "Ini kembaliannya."

Anak itu menerimanya. Namun, Vira kembali mengeluarkan selembar uang lima ribu lagi dan menyodorkannya.

Anak itu mengernyit bingung. "Ini uang apa, Kak?"

"Ini buat kamu."

Mata bocah itu langsung berbinar.

"Tapi Kakak minta tolong satu hal."

"Minta tolong apa, Kak?"

"Tolong bilang ke Kak Arvin suruh datang ke toko Kakak. Mau?"

Anak itu mengangguk cepat. "Mau, Kak!"

"Bagus." Vira tersenyum. "Ini uangnya."

"Terima kasih, Kak!" Bocah itu langsung berlari kecil meninggalkan toko dengan wajah sumringah.

Vira hanya tersenyum melihat betapa bahagianya anak itu karena uang lima ribu.

Tak jauh dari sana, Yanti yang baru mulai menyapu halaman mengerutkan dahinya.

"Siapa Arvin?" batinnya.

Ia teringat pemuda yang kemarin berbicara dengan Vira.

"Yang itu, ya? Lumayan tampan juga."

Kemarin ia sempat melihat Vira berbincang cukup lama dengan Daril, sehingga mengira pemuda itulah yang sedang dibicarakan. Maklum, ia baru tinggal di desa itu dan belum mengenal siapa pun. Lagipula, hampir sepanjang hari ia sibuk mengerjakan pekerjaan rumah.

Sekitar lima menit kemudian, seorang pemuda memasuki halaman rumah Vira.

Yanti yang masih menyapu spontan menoleh.

"Ih..." Ia bergidik. "Yang ini Arvin?"

Yanti menatap kulit Arvin yang legam terbakar matahari. Lalu rambutnya yang memerah karena sering terpapar panas. Kemudian ke pakaian sederhananya, dan langkahnya yang sedikit pincang.

"Merusak pemandangan aja," gumam Yanti dalam hati. "Apa di kampung ini gak ada pemuda yang bisa buat cuci mata?"

Sementara itu, Arvin melangkah hingga berhenti di depan etalase toko.

"Ra..." panggilnya pelan. "Katanya kamu nyariin aku. Ada apa?"

Sepanjang perjalanan tadi, rasa penasaran terus memenuhi pikirannya. Ia tak mengerti mengapa Vira tiba-tiba mencarinya.

Vira yang sedang menghitung uang di dalam laci kasir mengangkat wajah.

"Ah, iya." Ia menutup laci itu, lalu tersenyum tipis. "Besok aku mau belanja stok buat toko."

Arvin mengangguk pelan, masih belum mengerti.

"Aku mau minta tolong. Kamu mau gak bantu angkat barang ke mobil, terus nanti bantu nurunin lagi waktu sampai di rumah?"

Sesaat Arvin membeku. "Hah... aku?"

"Iya."

"Kenapa... harus aku?"

Vira mengangkat bahu kecil. "Soalnya kamu sudah biasa kerja angkat barang, 'kan?"

Arvin menatap Vira beberapa detik tanpa berkedip. Dadanya berdegup semakin cepat. Sejak lama ia diam-diam mengagumi gadis itu. Namun, ia tak pernah sekali pun berani mendekat. Baginya, Vira terlalu jauh untuk diraih.

Cantik, baik hati, memiliki toko sendiri, dan hampir seluruh desa tahu gadis itu menjalin hubungan dengan Daril.

Sedangkan dirinya...

Hanya pemuda pekerja serabutan yang hidup bersama ibu yang mengalami gangguan jiwa.

Perbedaan mereka bagaikan langit dan bumi. Karena itu, selama ini Arvin selalu memilih mengagumi dari kejauhan.

Ia sama sekali tidak menyangka, hari ini justru Vira yang lebih dulu memanggilnya.

"Aku... tentu mau," jawab Arvin gugup. "Kalau memang tenagaku dibutuhkan."

Senyum Vira melebar. "Bagus. Besok berangkat habis Subuh, ya. Kita belanja agak banyak."

Arvin mengangguk cepat. "Baik."

Dalam hati, ia masih sulit percaya. Sepanjang hidupnya, baru kali ini Vira meminta bantuannya secara langsung.

"Tunggu sebentar," kata Vira.

Ia membuka rak telur, lalu memilih beberapa butir yang cangkangnya retak sangat tipis. Setelah memasukkannya ke dalam kantong plastik, ia menyodorkannya kepada Arvin.

"Ini."

Arvin mengernyit bingung. "Apa ini, Ra?"

"Telur."

Arvin terkekeh canggung. "Aku tahu itu telur."

Vira ikut tersenyum tipis. "Cangkangnya retak dikit. Masih aman dimakan, kok. Cuma kalau dijual biasanya pembeli sudah gak mau. Daripada kebuang, lebih baik kamu bawa pulang."

Arvin tidak langsung menerima. Tangannya justru tetap menggantung di samping tubuh.

"Tapi... ini banyak."

"Gak apa-apa."

"Nanti aku bayar."

Vira menggeleng pelan. "Gak usah. Kalau dibiarkan, telur-telur ini juga gak bakal laku. Kalau ada yang makan 'kan gak mubazir."

Arvin masih tampak ragu. "Tapi..."

"Besok kamu sudah bantu angkat barang buatku, 'kan?" potong Vira lembut. "Anggap saja ini bonus."

Mendengar itu, Arvin akhirnya menerima kantong plastik tersebut dengan kedua tangan.

"Terima kasih, Ra."

Sorot matanya kembali berbinar. Namun kali ini bukan hanya karena telur di tangannya, melainkan karena untuk pertama kalinya seseorang memikirkan dirinya tanpa memandangnya sebelah mata.

"Aku pasti datang besok pagi."

Vira mengangguk sambil tersenyum. "Hati-hati di jalan."

Arvin membalas anggukan itu sebelum berbalik melangkah pergi.

Vira memandang punggungnya yang perlahan menjauh. Langkahnya masih sedikit pincang, tetapi tidak pernah terlihat malas. Ia mengembuskan napas panjang.

"Aku belum bisa bantu banyak," gumamnya lirih.

Tatapannya beralih ke rak telur.

Beberapa menit sebelumnya, ia sengaja membenturkan beberapa butir telur ke sisi rak dengan sangat pelan hingga hanya menimbulkan retak tipis pada cangkangnya. Tidak sampai pecah, tetapi cukup membuat telur-telur itu sulit dijual.

Dengan begitu, ia punya alasan untuk memberikannya kepada Arvin tanpa melukai harga diri pemuda itu.

Sementara itu, Yanti yang hampir selesai menyapu halaman melirik punggung Arvin yang semakin jauh, lalu menatap Vira bergantian.

"Sama orang dekil begitu aja dia kelihatan iba banget," gerutunya dalam hati. "Tapi sama aku, sepupunya sendiri, malah tega jadiin aku babu."

Yanti mendengus pelan. "Kalau nanti aku sudah dapet kerjaan, ogah aku tinggal di rumah ini lagi."

Namun beberapa detik kemudian, sapunya bergerak semakin pelan.

"Tapi... kalau pergi sekarang, aku mau tinggal di mana?"

Pertanyaan itu membuat wajahnya langsung berubah masam. Ia sadar, untuk saat ini, rumah Vira masih menjadi tempat paling nyaman yang bisa ia tumpangi.

Treng.. teng.. teng...teng.. teng...

Sebuah motor bebek legendaris bermesin 2-tak memasuki halaman rumah Vira. Suaranya memecah keheningan sore. Kendaraan roda dua dengan merek Yamaha F1ZR itu berhenti tepat di depan toko.

Seorang pemuda bertubuh tegap turun dari atas motor. Ia mengenakan celana jeans yang dipadukan dengan kemeja lengan pendek. Wajahnya cukup tampan dan terlihat rapi.

Pemuda itu langsung menghampiri etalase. "Ra."

Vira yang sedang menata barang menoleh. "Ya? Mau beli apa?"

Pemuda itu menggeleng pelan. "Aku nggak mau belanja."

"Terus?" Vira mengangkat sebelah alis.

Pemuda itu menarik napas sejenak, seolah sedang mengumpulkan keberanian.

"Aku dengar... kamu sudah putus sama Daril."

Vira tidak menjawab.

Tatapan pemuda itu tetap lurus ke arahnya. "Kalau begitu..." Ia tersenyum tipis. "...boleh gak kalau aku mulai deketin kamu?"

 

...✨"Kebaikan bukan tentang memberi kepada orang yang paling banyak meminta, melainkan kepada mereka yang tetap berjuang meski tak pernah meminta."...

..."Ada orang yang menganggap pengorbananmu sebagai kewajiban. Ada pula yang menghargai perhatian sekecil apa pun seumur hidupnya."...

..."Saat kita berhenti mempertahankan orang yang salah, hidup diam-diam mulai mempertemukan kita dengan orang-orang yang tepat."✨...

.

To be continued

1
fii 🤩
👍👍👍
anonim
Arvin setia mendampingi Ibunya yang mentalnya terganggu. Masa lalunya menjadikan Arvin tulus dalam merawat Ibunya.

Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.

Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.

Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.

Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.

Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.

Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.

Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
anonim
Pak Kades dan istrinya sudah mendengar gosip tentang Vira.

Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.

Pak Kades juga belum tentu percaya.

Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.

Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.

Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
anonim
Dasar Ibu dan anak sama-sama bejatnya. Keduanya masih menginginkan Vira tapi dengan cara yang salah.
anonim
Kebetulan sekali leher Vira di gigit tomcat. Jadi semakin meyakinkan ibu-ibu dengan apa yang telah dikatakan Tari.

Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.

Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.

Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
anonim
Daril ini lekaki pecundang. Menambah omongan yang sudah gak benar, dengan bicara bohong.

Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.

Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.
A.R
mau bangun usaha kok minta dana sama org lainn,,, gadaikan saja tuhh rmh ibu mu
Anitha
Alhamdulillah akhir bahagia Vira dan Arvin...

Terimakasih kak Nana...semoga sehat selalu
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Kembali kasih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
fii 🤩
mampir kk
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Makasih, Kak 🤗🙏🙏
total 1 replies
abimasta
terimakasih thor
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Saatnya Vira menanyakan skincare yang hilang.

Yanti langsung tersedak mendengarnya.

Dia mengelak, tidak tahu.

Begitu Vira mau lapor polisi, Tari melarang. Vira tanya kenapa. Salah taruh katanya.

Tari mengelak tidak mengambil. Melarang Vira melihat lemarinya. Tetap kekeh tidak mengambil.

Tari langsung panik ketika Vira mau panggil Ketua RT. Baru mempersilahkan Vira mencari di lemarinya.

Vira nenemukan empat kotak skibcare miliknya.

Tari mengaku itu miliknya.

Ditanya beli di mana, harganya berapa.

Kebohongannya sudah tak ada obatnya ini Tari.
anonim
Tari semakin parah kebohongannya. Ia sekaligus memfitnah Vira.

Tari menolak usulan salah satu ibu-ibu untuk melaporkan ke polisi. Ya jelas menolak. Orang dia berkata bohong.

Baru mendengar sepihak, semoga ibu-ibu itu ada yang bertanya baik-baik pada Vira kebenaran yang sesungguhnya. Benar menurut cerita bohong Tari atau benar Tari bohong 😄.

Es kelapa muda sudah di tangan masing-masing satu.
anonim
Yanti baru memarkirkan motornya di tempat penjual buah. Iya mendengar suara beberapa ibu sedang membicarakan Vira yang sudah tidak perawan lagi.

Bukannya merasa prihatin mendengar sepupunya di gibahin, ini bocah malah punya ide licik.

Waduuuuuh...Tari malah bikin fitnah, mengarang bebas tentang Vira. Berapa laki-laki yang tidur sama Vira, Tari ? Kok bisa ngomong suara laki-lakinya tidak sama. Fitnah yang sungguh amat kejam. Pakai nangis segala untuk meyakinkan kebohongannya.

Ibu-ibu, cari bukti dulu ya. Jangan percaya begitu saja.
anonim
Vira masih mau memberikan kesempatan sekali lagi.

Ucapan terima kasih cuma di bibir. Hatinya tetap busuk.

Naah ketahuan Tari telah mencuri krim siang, krim malam, pelembap, juga serum milik Vira.

Vira tidak sembarangan menuduh Tari yang mencuri. Dia butuh bukti.

Disuruhnya Tari membeli dua es kelapa muda.

Yanti pergi naik motor.

Vira masuk ke kamar Yanti. Ia menemukan barang-barang yang telah raib dari meja rias di kamarnya. Beberapa kotak skincare tersusun rapi di laci paling bawah lemari pakaian.

Vira masih bersabar untuk tidak menuduh Tari. Masih butuh bukti yang tidak bisa dibantah.
mery harwati
Terimakasih karyanya yang sudah menghibur readers yang author 🙏
Sehat selalu untuk author, lancar rejekinya juga 😘🤲
Semangat selalu bikin karya² yang baru 💪
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Masih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Nah bingung kan Yanti mau tinggal di mana kalau Vira benar-benar mengusirnya.

Ujung-ujungnya Yanti minta diberi kesempatan. Dia bakal belajar masak yang benar.

Di depan Vira memelas pasti wajahnya. Coba nanti di belakangnya Vira. Ngedumel.
anonim
Yanti banyak akalnya untuk bisa menjaga tokonya Vira. Tapi Vira juga bisa mematahkan setiap omongan Yanti yang akal-akalan kekeh menjaga toko biar bisa ngutil uangnya Vira.

Yanti dasar perempuan tidak tahu diri. Setiap masak disengaja tidak enak supaya Vira tidak menyuruhnya masak lagi.

Vira jadi curiga dengan Yanti yang tidak pernah ikut makan. Alasannya sudah makan lebih dulu.

Sukurin gajinya dipotong. Kalau tidak sanggup masak yang benar, berhenti kerja sama Vira. Dan pergi dari rumah Vira.

Sepupu mau enak numpang tanpa bekerja. Maunya jaga toko biar bisa ngutil uang. Itu maunya Yanti.

Vira tidak membiarkan Yanti hidup gratis di rumahnya.
LibraGirls
Selalu suka sama karya author Nana banyak pelajaran tentang kehidpan yg baik bisa di ambil yang tidak baik jagan di ambil ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️😍😍😍😍😍😍
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
LibraGirls
Makasih Nana yang selalu menyuguhkan cerita² bagusnya 🤩 sukses selalu menciptkan karya² bagus yang lainya 🤩🤩🤩🤩🙏🙏🙏
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏
total 1 replies
anonim
Gosip Hartato mau melamar Vira cepat sekali diketahui Ibu-ibu. Di warung tempat paling pas untuk ngerumpi sambil berbelanja.

Mirna langkahnya terhenti ketika mendengar dari dalam warung beberapa ibu sedang mengobrol tentang Hartato yang mau melamar Vira.

Dia mendengar semua pembicaraan ibu-ibu itu. Pikiran liciknya timbul demi kepentingan pribadi.

Mirna mulai beraksi dengan bicara bohong bahkan cenderung memfitnah Vira.

Mirna mengatakan Vira sudah tidak perawan. Itu terjadi sebelum pacaran sama Daril.

Gawat nih Mirna, cari masalah. Perlu di lakban sama Vira nih mulutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!