NovelToon NovelToon
My Sweet Best Friend

My Sweet Best Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: salbiah pulungan

tentang dua remaja yang bersahabat bersahabat - Rigecherta dan Tivane - yang bersahabat dari kecil, namun tragedi saat mereka duduk di kelas 9 SMP membuat mereka harus berpisah karena Tivane yang hilang ingatan.
Berpisah selama 3 tahun dan bertemu saat kelas 12 SMA. Namun Tivane akan di jodohkan.
Bagaiman nasib Rigecherta yang menunggu 3 tahun dan diam diam suka terhadap sahabatnya itu.
Akankah dia berhenti berharap kepada sahabatnya itu, atau mereka akan kembali bersatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salbiah pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5/ marahan

Suasana taman pagi itu terlihat ramai oleh orang-orang yang sedang car free day an dengan pasangan atau teman masing-masing.

Di sudut lain terlihat dua remaja yang sedang berbincang serius, Rigecherta dan Prita yang berdiri berhadapan terlihat akrab.

" Kenapa?" Tanya Rigecherta tanpa basa-basi.

"Sorry kalo gue ganggu waktu lo, tapi papa kecelakaan dan belakangan suka mimpi sambil manggil-manggil nama lo" ucap Prita memberi tahu dan menatap Rigecherta penuh harap.

"Terus?" Tanya Rigecherta cuek.

"Please sekali aja temuin dia, kasian dia selalu manggil lo. Kata dokter juga kalo lo datang bisa mempercepat penyembuhan." Bujuk Prita pada Rigecherta.

Prita adalah adik tiri dari Rigecherta, ayah Rigecherta dulu sangat menginginkan anak, dan ia dengan bodohnya mengira ibu Rigecherta tidak bisa memiliki keturunan dan ia memilih selingkuh dan menikahi perempuan lain. Tanpa ia ketahui saat ia pergi ternyata ibu Rigecherta sedang mengandung Rigecherta. Makanya Rigecherta sangat membenci ayahnya karena memilih berselingkuh dan meninggalkan ibunya yang sedang mengandung ia.

"Please Rige, demi kesehatan papa" bujuk Prita sambil memegang lengan Rigecherta karena Rigecherta masih tak merespon.

"Lo apaan sih" saat ia hendak menepis tangan Prita matanya tak sengaja menoleh ke arah samping dan membeku melihat Tivane berdiri di sana menatap dirinya, dengan Milenia di samping Tivane.

"Ayo Nia!" Ajak Tivane menarik tangan Milenia untuk pergi dari sana.

" VANE!" Panggil Rigecherta hendak menyusul namun Prita menahan tangan nya sementara Tivane berjalan cepat meninggalkan taman.

"Apa lagi sih?" Sentak Rigecherta langsung menarik kembali tangannya.

Saat Rigecherta ingin meninggalkan Prita, tiba-tiba handphone di genggaman Prita berdering dan terdengar suara panik dokter.

"Ya?! Kok bisa dok?" Tanya Prita sedikit keras membuat Rigecherta melihat ke arah nya.

" Iya, saya ke sana sekarang" Prita langsung mematikan sambungan dan menatap Rigecherta penuh harap.

"Please, keadaan papa kata dokter makin memburuk, ketemu sekali aja, ya?" Bujuk Prita membuat Rigecherta akhirnya mengangguk dan mereka bergegas ke rumah sakit.

Sampai di ruangan ayahnya, Rigecherta hanya diam dan menatap mereka dengan sorot mata yang campur aduk. Ia pun mengambil handphonenya dan mengirim chat kepada Tivane.

Rigecherta: Tivane. Kamu lagi dimana?

Namun pesan itu tak di baca oleh Tivane membuat Rigecherta mendecak.

"Rige" panggil ayahnya membuat ia menoleh.

"Kenapa?" Tanya Rigecherta pelan karena sudah lelah juga dia sini sejak tadi.

"Kamu udah gede ya sekarang" ucap ayahnya membuat ia memutar mata jengah.

" Iya" hanya itu yang ia keluarkan dari mulutnya. Padahal ingin sekali ia mengatakan ' ya iyalah, menurut Lo gue kecil Mulu gitu?' namun ia hanya bisa mengucapkan di hati karena kondisi ayahnya juga masih terbilang belum stabil.

" Rige mau pulang dulu, kasian mama nunggu di rumah sendirian" ucap Rigecherta membuat ayahnya menoleh sedih.

"Tapi masih hujan, kamu nanti bisa sakit. Tunggu reda dulu ya" ucap ayahnya karena memang sedang turun hujan membuat Rigecherta menghela nafas panjang dan kembali duduk ke sofa. Ia tidak ngapa-ngapain, hanya duduk dan melihat handphone nya beberapa kali, berharap pesannya di balas Tivane.

Sementara di tempat lain, Tivane sedang berbincang di kafe dengan Milenia sambil menunggu hujan reda.

"Jadi yang tadi tuh, orang yang pernah lo tabrak kan?" Tanya Milenia teringat saat mereka di Kalimantan.

"Iya, dan dia teman sebangku gue, tapi dia tuh selalu nge chat gue padahal udah punya pacar ngeselin banget tau nggak " ucap Tivane menggebu-gebu saat teringat Rigecherta selalu mendekatinya

" Lo yakin itu pacar dia?" Tanya Milenia hati-hati.

" Ya iyalah, udah jelas banget, padahal baru tadi pagi dia bilang dia nggak punya pacar, tapi tiba tiba udah ketemuan selesai ketemuan sama gue. Kan kadal emang" sungut Tivane membuat milenia manggut-manggut saja.

"Lo suka ya sama dia?" Tanya Milenia tiba-tiba.

"Nggak" ucap Tivane cepat.

" Iya juga, Lo kan udah mau di jodohin ya" ucap Milenia membuat Tivane teringat bahwa ayahnya pernah berkata ia akan di jodohkan. Ia pikir ayahnya hanya bercanda, ternyata itu benaran.

"Hm. Gue nggak kenal jugasih sama cowok nya" jawab Tivane singkat.

Mereka di sana sampai hujan mereda dan kembali pulang ke rumah masing-masing.

Saat sampai di rumah Tivane langsung mandi dan tidur karena besok harus kembali sekolah.

Di halaman rumahnya, ada Rigecherta yang baru sampai dan menatap lama ke arah balkon kamarnya, lalu kembali melajukan motornya kembali ke rumah.

Pagi hari menyambut dengan cerah. Di sekolah terlihat sudah ramai orang apa lagi hari ini adalah hari Senin, hari dimana di adakan upacara bendera.

Di dalam kelas 12 IPS 3 juga sudah heboh seperti pasar karena si Skyler sudah mulai menjahili orang karena bosan katanya. Namun di tengah ke kekacauan itu, satu orang terlihat hanya diam dan selalu menatap ke arah pintu masuk, seolah sedang menunggu seseorang.

Dan saat Tivane masuk ke dalam kelas senyum Rigecherta langsung mengembang dan hendak menyapa namun suara bel terdengar tepat saat Rigecherta ingin bersuara. Tivane pun tak menghiraukannya dan langsung keluar kelas setelah meletakkan tasnya untuk baris di lapangan.

" Rige, ayo baris tuh" ajak Veros membuat Rigecherta mengangguk dan berdiri sambil membawa topinya.

Suasana hening saat upacara berlangsung, namun Rigecherta hanya menatap ke arah Tivane yang berbaris sedikit di depan sementara ia di tengah. Rigecherta menghela nafas saat Tivane sama sekali tak menoleh ke arahnya.

Saat barisan bubar semua murid kembali ke kelas mereka masing-masing dan saat memasuki kelas Tivane tak duduk di bangku sebelah Rigecherta karena ada teman mereka yang tidak hadir. Ia memilih duduk bersama seorang siswi lain.

" Vane, kok di situ duduknya? Bukannya bangku lo di sini?" Tanya Rigecherta heran. Namun Tivane hanya menggeleng santai.

" Mau di sini aja sih. Kenapa emang?" Tanya Tivane jutek dan kembali melihat ke arah depan seolah tak mau menanggapi lagi. Rigecherta menghela nafas dan mengangguk saja.

" Lo kenapa Ge?" Tanya River saat melihat wajah pucat dan kusut Rigecherta.

"Nggak papa" jawab Rigecherta singkat.

"Guys. Pak Robi nggak masuk" ucap si ketua kelas membuat seisi kelas langsung girang karena jam kosong. Namun di tengah keributan itu lagi-lagi Rigecherta hanya meletakkan kepala nya ke meja dan memejamkan mata.

" Mabar yok, selagi jam kosong" ajak River membuat Skyler dan Veros hanya mengangguk ikut.

"Rige, Mabar yok" ajak River pada Rigecherta namun tak ada balasan.

"Oy" panggilnya lagi mengguncang lengan Rigecherta namun masih tak ada balasan.

"Aelah, lo tidur apa mati sih?" Decak Skyler karena kesal tak di sahut-sahut.

" Mulut lo anjir" umpat Veros tak suka.

"Kenapa sih nih anak?" Tanya River mengguncang lengan Rigecherta dan menegakkan tubuh Rigecherta.

"E-eh, Rige. Nggak lucu lo" panik mereka membuat Tivane menoleh dan mengerutkan kening saat melihat Rigecherta pucat dan lemas tak sadarkan diri.

"Dia kenapa? Padahal tadi masih baik-baik aja" gumam Tivane.

" Bawa ke UKS aja lah yok" ucap Veros panik membuat mereka menurut dan langsung membopong tubuh Rigecherta yang lemas.

Sampai di UKS mereka meletakkan Rigecherta ke ranjang UKS dan langsung di hampiri seorang dokter yang menjaga.

" Kenapa ini?" Tanya dokter tersebut.

" Nggak tau dok, tadi dia lagi tidur, pas di banguning ternyata pingsan" jelas Skyler membuat dokter langsung memeriksa membuat mereka menjauh memberi ruang.

" Tuh anak kenapa sih?" Decak Veros khawatir.

" Dia lagi demam, sama asam lambung nya juga naik" jelas dokter setelah selesai memeriksa Rigecherta membuat mereka mengangguk.

"Makasih dok" ucap mereka bersamaan.

" Sama-sama" jawab dokter lalu berlalu untuk mengambil obat.

"Yok lah, beli makan dulu sama dia" usul River membuat mereka mengangguk setuju.

" Ayo lah" sahut Skyler. Mereka berjalan ke luar namun saat di pintu mereka berpapasan dengan Tivane.

" Gimana keadaannya?" Tanya Tivane.

" Masih belum sadar, oh iya, Lo jaga dia dulu ya, kita mau beli makanan sama dia" ucap Veros membuat Tivane mengangguk.

Tivane langsung masuk setelah mereka pergi dan duduk di samping ranjang Rigecherta.

"Panas banget coy badannya" ucap Tivane kaget saat tak sengaja menyentuh lengan Rigecherta. Ia kemudian memeras handuk di pinggir ranjang dan meletakkannya di atas kepala Rigecherta.

Saat ia sedang mengompres kening Rigecherta, ia tak sengaja melihat liontin kalung yang selalu di pakai Rigecherta.

Deg!

Jantungnya berdetak kencang dan kepalanya terasa berdenyut melihat inisial liontin itu.

_waduh, kenapa nih?_

1
jaybi
buat visual dan foto kenangannya ada di Instagram aku ya guys.. namanya: Salbiah
jaybi
jangan lupa tinggalin komentar kalian yaa😊😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!