Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Umpan di Dermaga Timur
Rencana yang disusun Kirana mulai digerakkan di bawah keheningan malam yang pekat. Dua hari setelah pertemuan rahasia di ruang kerja lantai tiga, pergerakan di kediaman Arseto berubah drastis namun sangat terselubung.
Di permukaan, pengamanan di sektor pelabuhan utara—dermaga empat yang menjadi incaran Siberia Hitam—diperketat hingga dua kali lipat. Hendra sengaja menempatkan puluhan personel bersenjata lengkap yang terlihat mencolok oleh mata-mata musuh.
Namun di balik layar, berkat kecerdasan taktis Kirana, alur logistik yang sesungguhnya telah dialihkan ke dermaga cadangan di sektor timur.
Malam itu, angin laut berembus kencang membawa aroma garam yang pekat. Adrian berdiri di dalam sebuah gudang tua yang terbengkalai di ujung dermaga timur, mengenakan jubah panjang hitam yang berkibar ditiup angin malam. Luka di rusuknya sudah jauh membaik, menyisakan keteguhan fisik seorang penguasa yang siap menerkam mangsanya.
Di sampingnya, Kirana berdiri dengan pakaian serba hitam yang pas di tubuhnya, meninggalkan seragam pelayan putih-hitamnya demi ikut menyaksikan buah dari strategi yang ia rancang sendiri. Sifat pemberani dan obsesinya pada Adrian membuatnya menolak untuk tetap tinggal di rumah aman Bukit Permai.
"Mereka sudah masuk ke perangkap di utara, Tuan Muda," lapor Hendra melalui alat komunikasi nirkabel di telinga Adrian. "Kelompok Siberia Hitam menyerang dermaga empat dengan kekuatan penuh, mengira semua barang berharga kita ada di sana. Mereka mendapati gudang kosong dan sekarang dikepung oleh tim penyerbu kita."
Adrian tersenyum dingin, sebuah senyuman kejam yang memancarkan pesona mematikan. Ia menoleh ke arah Kirana yang berdiri di sisinya, menatap rambut gadis itu yang sedikit berantakan ditiup angin laut.
"Strategimu berjalan tanpa celah, Kirana," ucap Adrian, suaranya berat dan sarat akan pengakuan yang jujur. "Tikus-tikus itu telah terjebak di sarang yang salah."
Kirana melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga ia bisa merasakan kehangatan tubuh Adrian di tengah dinginnya angin malam dermaga. Ia menatap langsung ke dalam manik mata hitam Adrian dengan binar bulatnya yang nakal namun tajam.
"Tentu saja, Tuan Muda Adrian yang tampan," bisik Kirana dengan nada manja yang renyah. "Saya tidak akan membiarkan reputasi pria yang saya klaim sebagai milik saya dirusak oleh strategi murahan musuh. Tapi ingat janji Anda... setelah malam ini selesai, saya ingin hadiah yang setimpal."
Adrian mengangkat sebelah alisnya, ketegangan pertempuran di kepalanya mendadak mencair oleh godaan Kirana. "Hadiah apa yang diinginkan oleh seorang pelayan yang baru saja menyelamatkan sebuah kekaisaran bisnis?"
"Sederhana saja," Kirana tersenyum manis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang berkilat di bawah temaram lampu dermaga. "Saya ingin Anda meminum kopi jahe buatan saya tanpa mengeluh bahwa itu terlalu manis, dan... Anda harus mengizinkan saya memasangkan dasi Anda setiap pagi."
Adrian terdiam sejenak, menatap bibir Kirana yang melengkung berani sebelum ia mendengus pelan, menyembunyikan getaran aneh yang kembali memukul dadanya dengan dinding gengsi setinggi langit. "Fokuslah pada sisa malam ini, Pelayan. Urusan dasi... kita lihat nanti seberapa patuh dirimu."
---
Keesokan paginya, badai beralih dari pelabuhan ke menara kaca Capital Union Bank di pusat kota Metropolitan. Berita tentang hancurnya kekuatan garis depan Siberia Hitam di pelabuhan utara menyebar seperti api liar di dunia bawah, mengirimkan gelombang kejut langsung ke ruang kerja direksi bank swasta tersebut.
Tasya berdiri di dalam ruang kerja papanya dengan wajah pucat pasi. Di depannya, sang papa—seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan setelan jas mahal—sedang mondar-mandir dengan keringat dingin yang membasahi dahinya.
"Bagaimana bisa mereka tahu?!" bentak papanya dengan suara bergetar. "Semua dana transferan untuk Siberia Hitam sudah disamarkan lewat rekening cangkang! Adrian seharusnya hancur di pelabuhan utara kemarin!"
"Papa... apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Tasya, suaranya kehilangan semua keangkuhan yang biasa ia pamerkan di lantai tiga kediaman Arseto. "Adrian... Adrian tidak akan melepaskan kita jika dia tahu kita yang mendanai serangan itu."
Sebelum sang papa sempat menjawab, pintu ruang kerja ganda yang terbuat dari kayu jati mahal itu terbuka dengan satu sentakan keras. Dua orang pengawal bertubuh tegap dengan setelan jas hitam melangkah masuk, diikuti oleh Hendra yang membawa sebuah map merah marun di tangannya.
Atmosfer di dalam ruangan mewah itu seketika drop hingga ke titik beku.
"Selamat pagi, Tuan Besar," sapa Hendra dengan nada militer yang datar namun sarat akan ancaman mutlak. Ia meletakkan map merah marun itu di atas meja kaca sang direktur. "Tuan Muda Adrian mengirimkan ini sebagai laporan audit sukarela untuk Capital Union Bank."