NovelToon NovelToon
Jiwa Pembunuh Di Tubuh Gadis SMA

Jiwa Pembunuh Di Tubuh Gadis SMA

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:151.9k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.

Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.

Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.

Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…

Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Namun sebelum dia sempat menyerang lagi, sebuah suara berat terdengar dari ujung lorong.

"Ada keributan apa ini?"

Semua kepala langsung menoleh. Seorang guru berdiri di sana dengan ekspresi tidak senang. Renal langsung menahan gerakannya. Aleta juga melangkah mundur sedikit.

Guru itu berjalan mendekat sambil memandang satu per satu siswa yang berkumpul. "Apa yang terjadi?"

Tidak ada yang langsung menjawab. Renal mengepalkan tangannya, jelas masih marah namun tidak berani membuat masalah di depan guru.

Sementara Aleta hanya berdiri tenang, seolah perkelahian tadi bukan sesuatu yang penting.

Serena mendekat pelan ke sampingnya. "Aleta..." bisiknya.

Aleta meliriknya sedikit. "Apa?"

Serena menatapnya dengan mata lebar. "Kau... sejak kapan bisa bertarung seperti itu?"

Aleta terdiam sejenak. Lalu dia menjawab dengan santai. "Insting."

"Sungguh?"

Aleta mengangguk, tatapan sama sekali tidak beralih dari guru yang sedang mendengarkan penjelasan dari Renal. Jelas sekali jika pemuda itu hanya berbicara hal-hal yang menguntungkan dirinya, dan memojokkan Aleta.

Beberapa saat kemudian, sang guru yang bernama Pak Rizki menoleh ke arah Aleta. Kaca mata bening yang bertengger di hidungnya dia naikan setelah sempat melorot.

"Benar begitu Aleta, kau memukul Renal hanya karena kau tidak suka jika di sentuh?" Tanya Pak Rizki.

"Tidak salah, tapi tidak sepenuhnya benar."

"Maksudmu?"

Aleta mulai menjelaskan awal mula perseteruannya dengan Renal terjadi, tanpa menambahkan embel-embel yang hanya menguntungkan untuknya. Aleta berbicara sesuai dengan apa yang terjadi tadi, bahkan Serena yang berada di sebelahnya ikut menyetujui pernyataan Aleta.

Setelah mendengar penjelas Aleta dan Renal, akhirnya Pak Rizki memahami situasi yang terjadi. Namun, bukannya memberikan hukuman pada Renal guru itu justru menyuruh Aleta untuk minta maaf.

"Minta maaf pada Renal, Leta." Kata Pak Rizki. "Kau yang bersalah di sini karena menghajar Renal."

"Tidak mau, saya hanya membela diri."

Jawaban itu memicu keterkejutan dari semua orang yang hadir di sana, termasuk Serena yang tak menyangka jika sahabatnya berani menentang guru.

"Kenapa kau berbicara tidak sopan seperti itu?" Tegur guru tersebut tidak suka.

"Saya hanya menjawab apa yang harus saya jawab, Pak." Aleta berkata santai. "Kalau harus minta maaf, bukankah Renal lebih berhak meminta maaf pada saya? Dia yang memulai perseteruan kami tadi."

Suasana lorong mendadak menjadi jauh lebih tegang. Beberapa siswa saling pandang. Tidak ada yang berani bersuara. Bahkan Serena yang berdiri di samping Aleta terlihat semakin gelisah. Pak Rizki menatap Aleta dengan sorot mata tajam.

"Kau sedang membantah saya?"

Nada suaranya jelas tidak senang. Namun Aleta tidak menunjukkan tanda-tanda gentar sedikit pun.

"Saya hanya meluruskan fakta, Pak."

Renal mendengus kasar dari samping. "Lihat? Dia memang sengaja cari masalah!"

Aleta melirik sekilas ke arah Renal, tatapannya dingin. "Kalau kau tidak menarik saya lebih dulu, semua ini tidak akan terjadi."

"Kau—!"

"CUKUP!"

Suara Pak Rizki menggema cukup keras hingga membuat beberapa siswa refleks tersentak.

Guru itu menghela napas panjang, lalu memijat pelipisnya. "Saya tidak mau mendengar perdebatan lagi."

Dia menatap Aleta. "Sebagai siswa, kau tetap tidak boleh menggunakan kekerasan. Apa pun alasannya."

Aleta terdiam. Dalam dunia lamanya, orang seperti Renal sudah tidak akan berdiri setelah mencoba menyerangnya. Namun di dunia ini aturannya berbeda. Dan itu adalah sesuatu yang harus dia pelajari dengan cepat.

"Saya mengerti," jawab Aleta akhirnya.

Pak Rizki sedikit mengangguk, mengira Aleta akan menurut. "Bagus. Sekarang minta maaf—"

"Tapi saya tetap tidak akan meminta maaf."

Kalimat itu langsung memotong ucapan Pak Rizki. Beberapa siswa bahkan tanpa sadar mundur satu langkah.

Pak Rizki menatap Aleta seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Apa katamu?"

Aleta menatap lurus ke arah gurunya. "Saya tidak melakukan kesalahan, jadi saya tidak akan meminta maaf."

Renal tersenyum sinis. "Pak, lihat sendiri kan? Dia memang—"

"Aku belum selesai bicara." Aleta memotongnya tanpa menoleh.

Renal langsung terdiam, wajahnya kembali memerah.

Aleta kembali memandang Pak Rizki. "Jika sekolah melarang kekerasan, seharusnya aturan itu berlaku untuk semua. Bukan hanya untuk saya."

Kalimat itu membuat beberapa siswa kembali berbisik pelan. Pak Rizki mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

Aleta menunjuk ke arah Renal dengan dagunya. "Dia menarik saya lebih dulu. Dia mencoba menampar saya. Itu juga kekerasan."

Renal langsung menyela. "Itu cuma—"

"Dan saya hanya menghentikannya." Aleta kembali memotong. "Jika saya tidak melakukannya, mungkin sekarang saya yang sudah tergeletak di lantai, dan wajah saya bengkak."

Ucapan itu membuat Pak Rizki terdiam sejenak. Tidak bisa langsung membantah, karena... itu benar. Namun sebagai guru, dia juga tidak bisa membiarkan siswa bertindak semaunya.

"Apa pun alasannya," ucap Pak Rizki akhirnya, "kau tetap melukai temanmu."

Aleta sedikit mengangguk. "Dan dia berniat melukai saya."

Pak Rizki menghela napas panjang lagi. Situasi ini jelas tidak semudah yang dia kira. Di satu sisi, Renal memang memulai, sedangkan di sisi lain, Aleta juga tidak menahan diri.

"Baik," ucapnya setelah beberapa detik berpikir. "Kalian berdua ikut saya ke ruang BK."

Renal langsung terlihat tidak suka. "Pak—"

"Tidak ada bantahan." Nada suara Pak Rizki kali ini tegas.

***

Di bagian negara lain, terlihat seorang pria berjas hitam baru saja keluar dari ruang meeting. Di belakangnya seorang pria berperawakan tegap membawa map coklat dan juga tablet, dia asisten pria tersebut.

"Jadwal hari ini sudah selesai, Pak. Hanya ada satu janji makan malam dengan klien dari Aussie jam delapan, di restoran X." Ujar sang asisten yang bernama Bimo.

Ravian mengangguk. "Bagaimana dengan jadwal besok?"

"Besok Anda ada jadwal mengecek kontruksi gedung baru di daerah pusat, pukul sembilan pagi. Setelah itu meeting dengan divisi keamanan internal, lalu siang harinya ada pertemuan dengan pihak investor," jelas Bimo sambil menggeser layar tabletnya.

Langkah kaki mereka terdengar tegas di lorong panjang gedung tinggi itu. Lantai marmer mengilap memantulkan bayangan sosok Ravian yang berjalan di depan tenang, dingin, dan penuh kendali.

Ravian menghentikan langkahnya tepat di depan lift privat.

"Reschedule meeting dengan divisi keamanan," ucapnya singkat.

Bimo sedikit terkejut, namun tetap profesional. "Baik, Pak. Dipindahkan ke hari lain?"

"Tidak. Pindahkan ke malam hari."

"Baik."

Lift terbuka dengan bunyi halus. Keduanya masuk. Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah lebih sunyi.

Bimo melirik sekilas ke arah Ravian. "Ada hal lain yang perlu saya siapkan, Pak?"

Ravian tidak langsung menjawab. Matanya menatap lurus ke depan, namun pikirannya jelas tidak berada di tempat itu.

Beberapa detik berlalu. "Ada perkembangan dari proyek lama?" tanyanya tiba-tiba.

Bimo langsung mengerti arah pembicaraan itu. "Jika yang Anda maksud adalah operasi di sektor timur..." dia membuka data di tabletnya, "...tim lapangan melaporkan adanya gangguan. Target yang seharusnya sudah dieliminasi justru berhasil membalikkan keadaan sebelum akhirnya—"

"Mati?" potong Ravian.

"Ya." Bimo menelan ludah susah payah. "Ada yang janggal," lanjutnya hati-hati. "Menurut laporan, target sempat melawan dengan kemampuan di luar prediksi. Bahkan beberapa anggota kita terluka sebelum akhirnya situasi berhasil dikendalikan."

Lift berhenti di lantai khusus. Pintu terbuka.

Ravian melangkah keluar. "Ada nama yang di sebut?"

Bimo ikut keluar, membuka kembali file yang berbeda. "Nama sandi target. Aurelia, dia anggota elit tentara bayaran."

Langkah Ravian terhenti. Hanya sepersekian detik. Namun cukup untuk membuat Bimo menyadarinya. "...Pak?"

Ravian kembali berjalan. Ekspresinya tetap datar. "Status?"

"Target dinyatakan tewas di lokasi, setelah Leon selaku tangan kanannya justru menembaknya."

Mereka berjalan melewati koridor privat menuju ruangan kerja Ravian. Namun aura di sekitar pria itu berubah tipis.

"Siapa yang memimpin tim eksekusi?"

Bimo menggeser data lagi. "Unit internal. Dipimpin oleh orang dalam sendiri, Pak."

Ravian berhenti di depan pintu ruangannya. Tangannya menyentuh gagang pintu, namun tidak langsung membukanya.

"Apa penyerangan itu ada unsur pengkhianatan?" tanyanya pelan.

1
mable☆
ak kasi aplus buat author nya🙆
Qaisaa Nazarudin
Kapan Aurelia membalaskan DENDAM kematiannya ke para pengkhianat ini?? kelamaan..
Qaisaa Nazarudin
Sayang banget sudah dihujung2 bab baru nyerang ke Inti nya,kalau gitu kapan bahagianya? kayak tergantung gitu alurnya, Padahal ceritanya tipe aku banget..
Qaisaa Nazarudin
SEJAUH BAB INI, KAPAN ALETA/AURELIA BALAS DENDAM KE ORANG2 YANG SUDAH MENGKHIANATI DULU?? kenapa harus NYANGKUT dengan kisah ALETA & RAVIAN doang sih..Kan judulnya BALAS DENDAM..Terus kapan balas dendamnya??🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Yah kamu benar,Karena dia BUKAN ALETA TUNANGAN MU yg kamu ABAIKAN,Aleta sudah GAK ADA LAGI,Moga aja kamu/Jacob gak Nyesel saat tau kebenarannya suatu saat nanti..
Qaisaa Nazarudin
Udah NGAKU2 sekarang,Dulu aja Gak di ANGGAP..
Qaisaa Nazarudin
Aku curiga kalau mereka ini orang suruhan Fia mamanya Ravian..
Qaisaa Nazarudin
Udah gak perlu PENASARAN lagi kamu ke Aleta..
Qaisaa Nazarudin
Lumayan
Qaisaa Nazarudin
Kalian gak tau aja siapa dia,Dia emang petarung handal dan pembunuh upahan, apa reaksi kalian saat tau siapa Aleta?
Qaisaa Nazarudin
Tega banget kakek Jacob menjodohkan Aleta dengan Ravian,Seolah Kakek Jacob sengaja menyodorkan Aleta cucu nya kemalaikat maut setiap saat, Kenapa gak diJODOHIN je lelaki lain aja,Udah tau Ravian banyak MUSUH,Aneh nih kakek Jacob..
Qaisaa Nazarudin
SKAKMAT..Aku suka Aleta yg selalu membalikkan KATA2 dan keadaan je Ravian 👏👏👏👍👍👍👍
Qaisaa Nazarudin
Apakah kalau Bukan Aurelia dlm tubuh Aleta yg sekarang, Ravian akan memperlakukan Aleta seperti sekarang? gak kan?
Karena sudah setahun juga berlalu kenapa baru sekarang Ravian penasaran/ngejar2 Aletta? bukan dari dulu?? Berarti yang Ravian sukai sekarang BUKAN Aleta TAPI Aurelia..
Qaisaa Nazarudin
Aku pada mu Aleta..Jangan mau mengalah dengan orang-orang siapa pun itu..
Qaisaa Nazarudin
Lha itulah kebodohan mu,Siapa juga yang mau Nikah sama CEWEK MURAHAN kayak kamu..
Qaisaa Nazarudin
Kasian deh kamu Clara,Aletta/Aurelia yang membunuhnya,malah kamu yg kena tuduh..
Qaisaa Nazarudin
Noh itu pasti Clara,baru juga dicari Viktor 😅
Qaisaa Nazarudin
Itu orang yg mmg buat salah tapi Coba untuk menyangkalnya,Lha ini kalau kita gak berbuat apa-apa terus ngapain marah2..
Qaisaa Nazarudin
hoooo hooo apakah Fia ini ibu TIRI??
Qaisaa Nazarudin
Gosip MURAHAN, Abaikan aja Aleta toh kamu gak lakuin semua itu,Anggap aja Itu semua kerjaan musuh2 mu yg lagi Caper..😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!