Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 — MUSUH DI DEPAN KELAS
Aroma minyak kayu putih dan gesekan sepatu kets di atas semen basah selalu menjadi aroma khas SMA Garuda Bangsa di pagi hari—terutama lima menit sebelum gerbang besi setinggi tiga meter itu digembok rapat oleh Pak Slamet.
Naya Aurelia tidak berniat terlambat. Sungguh. Tapi ketika tali sepatunya putus tepat saat ia hendak melompati parit di samping pagar belakang sekolah, hukum alam seolah menyatakan perang padanya.
"Anjir, kok malah lepas, sih!" gumam Naya setengah berbisik. Tangannya dengan sigap mengikat kasar sisa tali kets hitamnya yang menyedihkan.
Ia menatap dinding pagar setinggi dua meter di hadapannya. Di atas sana, pecahan kaca yang biasa ditancapkan di semen sudah lama runtuh dihantam hujan, meninggalkan celah aman bagi siswa-siswi yang bernasib malang—atau malas—seperti dirinya. Dengan satu lompatan lincah dan tumpuan pada bekas batako yang menumpuk di balik dinding, Naya berhasil mendarat di area belakang laboratorium biologi.
Ia membersihkan rok abu-abunya yang terkena debu dengan tepukan cepat, menarik napas lega. Aman.
Atau begitulah pikirnya, sebelum sebuah suara dingin dan teratur terdengar dari balik pohon mangga.
"Naya Aurelia. Kelas 12 IPS 2."
Naya membeku. Suara itu. Suara yang frekuensinya cukup untuk membuat usus buntu siapa pun mendadak meradang.
Ia memutar tubuhnya perlahan, menyunggingkan senyum paling tidak ikhlas yang bisa ia produksi pagi ini. "Pagi, Pak Ketua OSIS yang terhormat. Sedang berpatroli mencari mangsa?"
Arka Pradipta berdiri di sana. Berdiri tegak dengan seragam putih yang terlipat rapi tanpa satu pun garis kusut, dasi terikat sempurna di pangkal leher, dan ban lengan kain biru bertuliskan KETUA OSIS yang terpasang presisi di lengan kirinya. Di tangannya, sebuah papan jalan kayu bertumpuk kertas presensi kedisiplinan siap memakan korban.
Arka tidak tersenyum. Ia tidak pernah tersenyum pada Naya—atau mungkin pada siapa pun di sekolah ini jika sedang bertugas. Matanya yang tajam menatap celana dan kets Naya, lalu berpindah pada tumpukan batako di balik pagar.
"Lompat pagar lagi. Hari Selasa, jam tujuh lewat delapan menit," ujar Arka tenang, sambil mencatat sesuatu di kertasnya dengan pulpen hitam. "Ini sudah ketiga kalinya dalam bulan ini, Naya."
"Dua kali!" potong Naya cepat, memajukan langkahnya dengan wajah menantang. "Minggu lalu itu gue nggak lompat pagar. Gue cuma lewat pintu samping yang kebetulan nggak dikunci!"
"Pintu samping itu area sterilisasi petugas kebersihan, bukan jalan masuk siswa yang bangun kesiangan," balas Arka tanpa mengangkat pandangannya dari papan jalan. "Dan perhatikan caramu berbicara. 'Gue-elu' bukan tata bahasa yang sopan untuk dipakai di lingkungan sekolah, apalagi saat berhadapan dengan pengurus OSIS."
Naya menghela napas kasar, memutar matanya lebar-lebar. "Aduh, Arka Pradipta... ini masih jam tujuh lewat sepuluh. Otak gue belum siap menerima ceramah kewarganegaraan dari lo. Lagian, lo ngapain sih nongkrong di balik pohon begini? Kurang kerjaan banget. Enggak ada rapat OSIS yang harus lo pimpin atau dokumen penting yang harus lo tandatangani?"
Arka akhirnya menghentikan coretan pulpennya. Ia menatap Naya datar. Ketinggian tubuhnya yang terpaut jauh membuat Naya harus sedikit mendongak, sebuah posisi yang selalu dibenci Naya karena membuatnya merasa kerdil.
"Tugas saya menjaga ketertiban. Dan kamu," Arka menunjuk Naya dengan ujung pulpennya, "adalah sumber utama kekacauan di sekolah ini."
"Sok suci banget sih lo!" cibir Naya, melipat kedua tangannya di dada. "Cuma terlambat lima menit karena tali sepatu putus! Bukan berarti gue mau ngerampok ruang kepala sekolah!"
"Peraturan tidak memandang alasan tali sepatu atau ban bocor, Naya. Kalau kamu tahu tali sepatumu rapuh, harusnya kamu ganti dari kemarin. Itu namanya antisipasi. Sesuatu yang tampaknya tidak pernah ada di dalam kamus hidup kamu."
Kata-kata Arka diucapkan dengan nada yang sangat tenang, tanpa emosi, tanpa bentakan. Namun justru ketenangan itulah yang selalu berhasil membakar emosi Naya sampai ke ubun-ubun. Sejak kelas 10, Arka selalu menjadi sosok yang paling ia hindari. Laki-laki itu seperti robot yang diprogram tanpa rasa humor, selalu berlindung di balik buku tata tertib, dan selalu memandang orang lain dari atas hidungnya yang mancung itu.
"Ikut saya ke lapangan," kata Arka balik kanan tanpa menunggu jawaban Naya. "Pak Danu sudah menunggu anak-anak yang terlambat di depan tiang bendera."
"Gue nggak mau!" Naya berdiri diam di tempatnya.
Arka menghentikan langkahnya, memalingkan kepala sedikit. "Kamu mau poin pelanggaranmu ditambah karena melawan pengurus OSIS?"
"Biarin! Tambah aja sampai lima ratus! Kurang sekalian!" pekik Naya kesal.
Beberapa siswa yang sedang berjalan di koridor lantai dua mulai menengok ke bawah, tertarik dengan suara nyaring Naya. Di sekolah ini, tidak ada yang berani membentak Arka Pradipta. Arka bukan cuma ketua OSIS; dia juara umum paralel, kapten tim basket, dan kesayangan para guru. Melawan Arka sama saja seperti mendaftarkan diri untuk dimusuhi satu sekolah.
Namun Naya tidak peduli. Bagi Naya, Arka hanyalah cowok sok berkuasa yang kebetulan punya wajah lumayan—oke, sangat tampan jika harus jujur, tapi kepribadiannya sebusuk sampah di kantin belakang.
Arka menghela napas panjang. Ia memutar tubuhnya kembali menghadap Naya, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa dua jengkal. Naya refleks mundur setengah langkah, namun menahan diri agar tidak terlihat takut.
"Naya," suara Arka merendah, kini hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Saya nggak punya waktu buat berdebat sama kamu pagi-pagi gini. Jangan bikin masalah makin panjang. Cukup jalan ke lapangan, berdiri sepuluh menit, hormat bendera, selesai. Susah?"
"Susah!" jawab Naya cepat, menatap langsung ke dalam manik mata hitam Arka. "Karena yang nangkap gue itu lo. Kalau yang nangkap gue Dito atau anak OSIS lain, gue pasti cuma dikasih teguran biasa. Lo sengaja kan nyari-nyari kesalahan gue?"
Ujung alis Arka terangkat sedikit. "Nyari kesalahan? Kamu yang melompati pagar sekolah tepat di depan mata saya. Kamu pikir saya bertapa di balik pohon ini cuma buat nungguin kamu jatuh dari pagar?"
"Bisa jadi! Siapa tahu lo emang obsessed banget mau menghukum gue!"
Arka menatapnya diam selama beberapa detik. Untuk sejurus kecil, Naya melihat kilatan kekesalan di mata Arka—sebuah retakan tipis pada topeng kesempurnaan cowok itu. Tapi dengan cepat, Arka menguasai diri kembali.
"Terserah apa anggapan kamu," kata Arka dingin. Tangannya meraih pergelangan tangan Naya yang terbalut jaket, memegangnya dengan pegangan yang cukup kuat agar Naya tidak bisa kabur, namun tidak sampai menyakitkan. "Sekarang, jalan."
"Eh! Lepas! Jangan pegang-pegang!" seru Naya kaget, berusaha menarik tangannya. Namun Arka terus melangkah menyeretnya menuju lapangan utama, menghiraukan tatapan puluhan pasang mata yang kini resmi tertuju pada mereka.
Di koridor, Saskia—sahabat Naya—terbelalak melihat pemandangan itu dari balik jendela kelas. Sementara di sudut lain, Dito yang sedang memegang pengeras suara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh pelan.
"Gila ya lo, Arka! Lepasin nggak?!" Naya terus mengomel sepanjang jalan. "Awas ya lo! Demi apa pun, suatu hari nanti gue bakal bikin lo kehilangan muka di depan umum! Gue bakal bikin sifat asli lo yang menyebalkan ini terbongkar!"
Arka tidak membalas. Ia hanya terus berjalan dengan wajah datar menuju tiang bendera, melepaskan cengkeramannya begitu mereka sampai di depan barisan siswa terlambat lainnya.
"Berdiri di sini sampai bel jam pertama selesai," ujar Arka singkat tanpa menatap Naya lagi, lalu berjalan meninggalkan area lapangan menuju ruang OSIS.
Naya menyilangkan tangan di dada, napasnya naik turun menahan gumpalan amarah yang rasanya ingin meledak saat itu juga. Ia menatap punggung tegap Arka yang perlahan menjauh.
"Lihat aja nanti, Arka Pradipta," bisik Naya penuh dendam. "Gue sumpahin hidup lo nggak bakal pernah tenang!"
Naya sama sekali tidak menyadari bahwa sumpah serapahnya pagi itu akan dikabulkan oleh semesta—dengan cara yang paling tragis, gila, dan tak terbayangkan dalam hidupnya.