Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Seorang Suster
Zaskia mendekati Rafa, berbisik tepat di telinganya dengan nada yang penuh kemenangan. "Kebenaran tidaklah penting, Rafa. Yang penting adalah siapa yang punya uang dan kekuasaan untuk memutarbalikkan fakta. Dan sayangnya untukmu, hari ini, kamilah pemenangnya."
Zaskia mundur selangkah, menatap Rafa dengan tatapan merendahkan yang sangat tajam. "Nikmati malam terakhirmu sebagai orang bebas, Rafa Sasmita. Karena besok, hidupmu benar-benar akan berakhir di balik jeruji besi, dan aku akan berada di sana untuk melihatmu memohon ampun."
Nena memeluk lengan Margaret, dengan sangat akting yang luar biasa meyakinkan. "Tenanglah, Nyonya. Kami akan menjadi saksi di pengadilan untuk memastikan keadilan bagi Sean."
Rafa menatap orang tua Sean, lalu menatap Zaskia dan Nena yang tertawa dengan begitu bengis. Ia tahu, ia sedang berada di titik terendah. Tidak ada bukti fisik yang kuat, dukungan dari keluarga Sean telah berbalik menjadi bumerang, dan ibunya masih berada dalam sekapan Evan Wirya Negara.
Namun, di tengah rasa sakit dan keputusasaan itu, sebuah cahaya kecil muncul di benak Rafa. Ia mengingat pesan terakhir Sean sebelum kecelakaan: “Rafa, apa pun yang terjadi, jangan pernah berhenti mencari celah. Mereka sombong, dan kesombongan adalah kelemahan terbesar mereka.”
Rafa menarik napas panjang, menghapus sisa air mata di wajahnya, dan berdiri dengan tegak meski tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak akan menyerah. Jika mereka ingin menuntutnya, maka biarlah pengadilan menjadi saksi atas semua sandiwara busuk yang baru saja dimainkan.
"Kalian boleh menertawakan saya sekarang," ucap Rafa dengan suara yang tenang namun dingin, membuat Zaskia dan Nena terdiam sejenak. "Tapi ingat satu hal: kebohongan mungkin berlari lebih cepat, namun kebenaran selalu sampai ke garis finish tepat pada waktunya."
Rafa berbalik, meninggalkan lorong rumah sakit dengan langkah yang tertatih namun pasti. Zaskia dan Nena masih berdiri di sana, menatap punggung Rafa dengan sisa tawa yang perlahan memudar menjadi seringai kebencian. Permainan ini belum berakhir, dan babak berikutnya akan menjadi pertarungan antara keadilan yang tertindas dan keserakahan yang tak berujung.
****
Lampu neon yang berkedip-kedip di ruang pemeriksaan Kantor Polisi Pusat Jakarta memberikan kesan dingin yang menusuk. Rafa Sasmita duduk dengan tangan terborgol di atas meja besi yang dingin. Pakaiannya kusut, bekas kecelakaan dan pelarian di rumah sakit masih membekas nyata, namun matanya yang lelah tetap menatap lurus ke depan dengan ketabahan yang tak tergoyahkan.
Di depannya, seorang penyidik dengan seragam yang tampak terlalu rapi duduk dengan angkuh. Di sampingnya, berkas laporan atas nama Rafa Sasmita menumpuk tinggi—sebuah rekayasa hukum yang dirancang dengan presisi oleh orang-orang berkuasa.
"Rafa Sasmita," penyidik itu memulai dengan nada yang lebih mirip interogasi seorang algojo daripada aparat hukum. "Kami sudah memiliki cukup bukti untuk menahanmu. Kesaksian dari pihak keluarga Lee, laporan perusakan barang bukti, dan bahkan tuduhan percobaan pembunuhan terhadap Sean Andrew Lee. Mengapa kamu masih mencoba menutupi kejahatanmu?"
"Itu fitnah, Pak," jawab Rafa dengan suara serak. "Saya korban. Sean membantu saya mengungkap skandal Negara Group. Zaskia Mulandari dan Evan Wirya Negara-lah yang melakukan semua teror itu."
Penyidik itu tertawa sinis, lalu membanting sebuah dokumen ke atas meja. "Keluarga Wirya Negara adalah donatur utama di kota ini. Mereka adalah pilar ekonomi! Jangan coba-coba mengalihkan tanggung jawab. Kamu adalah janda yang penuh dendam, wanita mandul yang stres karena perceraian, dan sekarang kamu mencoba memeras orang kaya untuk melunasi utang-utangmu!"
"Itu tidak benar!" Rafa berteriak, air matanya jatuh meski ia berusaha keras menahannya. "Tolong, periksa rekaman CCTV di rumah sakit! Zaskia yang menculik Sean!"
****
"CCTV di area itu rusak sejak tiga hari lalu," jawab penyidik itu enteng, seolah-olah itu adalah hal yang biasa. "Sudahlah, akui saja. Jika kamu menandatangani pengakuan ini, mungkin hukumannya bisa diringankan. Jika tidak, aku akan memastikan kamu membusuk di penjara selama belasan tahun."
Rafa tahu, ia sedang berada di dalam ruang tertutup di mana hukum tidak lagi memiliki mata. Polisi ini adalah pion dari keluarga Wirya Negara. Segala bukti yang ia coba ajukan akan dimusnahkan. Keputusasaan mulai merayap di dadanya, namun ia teringat wajah ibunya yang diculik dan Sean yang sedang sekarat. Aku tidak boleh hancur sekarang, batinnya.
****
Sementara itu, di rumah sakit, suasana ruang rawat Pak Pamuji terasa begitu tenang. Setelah berhari-hari tidak sadarkan diri, pria paruh baya itu akhirnya membuka matanya. Pandangannya yang masih buram perlahan memfokuskan diri pada langit-langit putih rumah sakit. Rasa nyeri di kepalanya masih terasa hebat, namun kesadarannya mulai pulih sepenuhnya.
"Rafa...?" bisik Pak Pamuji lirih. Suaranya terdengar seperti gesekan kertas kering. Ia menoleh ke sisi kanan tempat tidur, berharap melihat putrinya sedang tertidur di kursi penunggu.
Namun, yang ia lihat justru sosok seorang wanita berseragam perawat yang berdiri membelakanginya, sedang mengatur tetesan infus.
"Rafa? Anakku?" panggil Pak Pamuji lagi.
Wanita berseragam perawat itu berhenti bergerak. Ia tidak langsung menoleh. Ia justru mulai terkikik—sebuah suara yang halus namun terdengar sangat mengerikan bagi siapa pun yang mendengarnya. Perlahan, wanita itu memutar tubuhnya.
Itu bukan Rafa. Itu adalah Zaskia Mulandari.
Dengan masker medis yang diturunkan ke dagu, Zaskia menyeringai sadis. Matanya yang gelap memancarkan kepuasan yang tak terhingga saat melihat kelemahan pria tua yang tak berdaya di depannya.
"Rafa tidak akan datang, Pak Tua," ucap Zaskia dengan nada yang sangat lembut, namun penuh dengan racun. "Anak kesayanganmu itu sedang berada di kantor polisi. Dia sedang sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana dia mencoba membunuh kekasihnya sendiri."
Pak Pamuji terbelalak. Wajahnya yang pucat pasi menjadi lebih putih dari seprai tempat tidur. "Zaskia... iblis kamu! Apa yang kamu lakukan pada Rafa?! Di mana istriku?!"
Zaskia melangkah maju, duduk di tepi tempat tidur Pak Pamuji dengan gaya yang sangat santai. Ia mengambil sebuah pisau bedah kecil yang ia selipkan di saku seragamnya, lalu memainkannya di depan wajah Pak Pamuji dengan gerakan yang anggun namun mengancam.
"Istrimu? Ah, dia sedang berada di tempat yang sangat 'aman' bersama Evan," Zaskia tertawa kecil. "Dan sekarang, giliranmu. Kamu tahu, aku sebenarnya tidak ingin membunuhmu dengan cepat. Itu terlalu membosankan. Aku ingin kamu melihat sendiri bagaimana Rafa hancur secara perlahan. Aku ingin kamu mendengar kabar kematiannya sebelum jantungmu berhenti berdetak."
Pak Pamuji mencoba bangkit, tangannya yang terpasang infus berusaha meraih tombol darurat di sisi tempat tidur, namun Zaskia dengan sigap menahan tangan pria tua itu dan menekannya dengan kuat ke ranjang.
"Jangan mencoba macam-macam, Pak Tua," bisik Zaskia tepat di depan telinganya. "Di ruangan ini, tidak ada yang akan mendengar teriakanmu. CCTV sudah kumatikan, dan suster yang bertugas di lantai ini sudah kutidurkan dengan obat penenang dosis tinggi."
Zaskia menatap Pak Pamuji dengan tatapan penuh dendam kesumat yang meluap-luap. Ia tidak menyukai Pak Pamuji, ia membenci pria itu karena ia adalah saksi hidup dari asal-usul Rafa yang selalu ia hina.
"Rafa tidak akan pernah menang," lanjut Zaskia. "Dia hanya akan menjadi sampah masyarakat yang dikutuk semua orang. Dan kamu... kamu akan menjadi orang pertama yang akan merasakan betapa kejamnya dunia ini tanpa perlindungan anakmu."