NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kau Siakan

Wanita Yang Kau Siakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.

Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.

Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.

​Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.

​Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Dituntut Minta Maaf Tapi Mahira Tidak Mau

   ​Suasana di ruang tamu masih terasa sangat tegang. Kotak perhiasan merah yang berisi cincin berlian zamrud milik Bu Rani masih tergeletak di atas meja kaca, menjadi bukti palsu yang baru saja dikeluarkan dari tas kain Mahira.

   Bu Rani langsung memakai kembali cincin itu ke jarinya sambil terus mengomel, sedangkan Clarissa berdiri agak jauh dengan wajah yang dipasang seolah-olah ikut prihatin.

   ​Ziko menatap Mahira dengan tatapan lurus dan tajam. Napasnya terdengar berat, menahan kekesalan yang sudah memuncak sejak tadi sore. Sebagai kepala rumah tangga sekaligus pemilik perusahaan yang sedang berkembang, Ziko merasa harga dirinya dijatuhkan karena tindakan istrinya.

   ​"Kamu benar-benar keterlaluan, Mahira," kata Ziko. Suaranya terdengar berat dan datar, bergema di ruangan yang sunyi itu. "Semua bukti sudah ada di depan mata. Ibu tidak mungkin berbohong soal barang berharganya sendiri. Mau sampai kapan kamu berdiri di sana tanpa merasa bersalah?"

   ​Mahira berdiri dengan posisi tegak, tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya sejak tas kainnya digeledah. Tatapan matanya lurus menatap Ziko. Tidak ada air mata, atau kepanikan, dan tidak ada lagi sisa kelembutan yang biasa ia tunjukkan sebagai seorang istri. Wajahnya benar-benar datar, sedatar dinding semen di belakangnya.

   ​"Aku tidak mengambil cincin itu, Mas," jawab Mahira. Suaranya terdengar sangat lempeng, tanpa intonasi emosi sama sekali. Dia tidak berniat memohon, tidak juga berniat membentak untuk membela diri.

   ​"Halah! Sudah tertangkap basah masih saja mengelak!" potong Bu Rani dengan suara nyaring. Wanita tua itu melangkah mendekati Ziko, memegang lengan putranya dengan erat. "Ziko, kamu lihat sendiri kan kelakuan istrimu ini? Sudah mencuri, tidak punya rasa hormat sedikit pun pada orang tua. Dia bahkan tidak mau mengakui kesalahannya di depanmu."

   ​Clarissa ikut melangkah mendekat, lalu menyentuh bahu Bu Rani dengan pelan. "Tante, sudah... jangan terlalu emosi, nanti darah tingginya kambuh lagi. Biar Ziko saja yang menyelesaikan masalah ini dengan Mbak Hira. Kita lihat saja bagaimana maunya Mbak Hira sekarang."

   ​Ziko merasa makin tersudut oleh ucapan ibunya dan juga kehadiran Clarissa. Baginya, sikap diam dan datar dari Mahira saat ini adalah bentuk pembangkangan yang nyata.

   ​"Mahira, cukup," kata Ziko lagi, nadanya makin dingin. "Jangan membuat masalah ini semakin panjang. Aku tidak mau tahu bagaimana cara cincin itu bisa ada di dalam tasmu. Yang jelas, barang itu ditemukan di sana. Sekarang juga, kamu harus minta maaf pada Ibu."

   ​Mahira menatap suaminya dengan pandangan yang kosong. "Meminta maaf untuk sesuatu yang tidak aku lakukan?"

   ​"Ya! Kamu harus minta maaf!" bentak Ziko, kehilangan sedikit kesabarannya karena sikap dingin Mahira. "Aku tidak peduli kamu merasa bersalah atau tidak. Ibu sudah menangis dan terguncang karena kehilangan barang berharganya. Sebagai menantu, tidak pantas kamu bersikap menantang seperti ini. Cepat berlutut dan minta maaf pada Ibu sekarang!"

   ​Mendengar perintah Ziko, Bu Rani langsung melipat tangan di dada dengan dagu yang sengaja diangkat tinggi. Dia merasa menang karena putranya sepenuhnya berada di pihaknya.

   Di sudut ruangan, Clarissa menatap Mahira dengan senyuman puas yang sangat tipis, menikmati pemandangan di mana Mahira benar-benar diinjak harga dirinya oleh suaminya sendiri.

   ​Mahira tidak bergerak setapak pun. Dia memandangi Ziko dengan seksama, memperhatikan setiap lekuk wajah pria yang dulu berjanji akan menjaganya saat meminta izin menikah kepada mendiang ayahnya.

   Tiga tahun hidup bersama ternyata tidak cukup untuk membuat Ziko mengenali karakter istrinya sendiri. Pria di depannya ini begitu mudah disetir oleh kata-kata orang lain dan terlalu buta oleh gengsi.

   ​"Aku tidak akan meminta maaf untuk hal yang tidak pernah aku perbuat, Mas Ziko," ucap Mahira lagi. Nada suaranya tetap sama, datar, tenang, dan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.

   ​"Mahira! Kamu berani membantah perintahku?" Ziko melangkah maju satu kali, menatap Mahira dengan mata yang memerah. "Aku ini suamimu. Aku yang bertanggung jawab atas kamu di rumah ini. Kamu sudah mempermalukan aku dengan bertingkah seperti pencuri, dan sekarang kamu menolak untuk memperbaiki kesalahanmu!"

   ​"Jika menurutmu aku mempermalukanmu, itu adalah penilaianmu sendiri," jawab Mahira pendek. Suaranya yang lempeng tanpa beban justru membuat Ziko merasa makin tidak berdaya untuk menundukkan istrinya.

   ​Bu Rani kembali memanaskan suasana. "Ziko! Lihat itu! Dia benar-benar tidak menganggap kamu sebagai suami. Perempuan kampung ini kebiasaan. Kalau tidak diberi pelajaran sekarang, besok-besok dia bisa merampok seluruh isi rumah ini."

   ​Ziko mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia menatap Mahira dengan pandangan penuh kekecewaan yang mendalam. "Mahira, aku beri kamu satu kesempatan terakhir. Minta maaf pada Ibu sekarang juga, atau aku tidak akan menganggapmu sebagai istri di rumah ini lagi sampai kamu mau merubah sikapmu."

   ​Ancaman itu keluar begitu saja dari mulut Ziko. Dia berharap Mahira akan ketakutan, menangis, lalu bersujud di kaki ibunya agar tidak diceraikan atau diusir. Bagaimanapun, di mata Ziko, Mahira hanyalah perempuan sebatang kara yang tidak punya tempat bersandar lagi setelah ayahnya meninggal.

   ​Namun, reaksi Mahira justru sebaliknya. Tidak ada raut sedih atau cemas di wajah wanita itu. Mahira hanya mengangguk pelan sekali.

   ​"Baik. Jika itu keputusanmu, Mas Ziko," ucap Mahira datar.

   ​Setelah mengatakan hal itu, Mahira membalikkan badannya dengan tenang. Dia melangkah menuju kamar belakang tanpa mempedulikan lagi panggilan Ziko yang sempat meneriakkan namanya sekali lagi dengan nada gusar.

   ​Langkah kaki Mahira terdengar konstan di atas lantai keramik, menjauh dari ruang tamu yang penuh dengan kepalsuan tersebut. Begitu sampai di dalam kamarnya, dia langsung menutup pintu kayu itu dan menguncinya dari dalam.

   ​Mahira berjalan menuju ranjang kecilnya, lalu duduk di tepian kasur. Dia menatap lurus ke arah dinding kamar yang kosong. Di dalam dadanya, rasa sakit hati yang tadinya sempat tersisa kini telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh rasa mati rasa yang mutlak.

   Hubungan pernikahannya dengan Ziko secara mental sudah selesai hari ini. Ziko sendiri yang telah menghancurkan jembatan kepercayaan itu tanpa sisa.

   ​Mahira melirik ke arah lemari baju tempat dia menyembunyikan kotak kayu berisi handphone lamanya. Sebuah rencana baru yang jauh lebih rapi mulai tersusun di kepalanya. Dia tidak perlu membalas makian Bu Rani dengan teriakan, dia juga tidak perlu menjambak Clarissa untuk meluapkan kekesalan.

   ​Bagi Mahira, cara terbaik untuk membalas orang-orang yang telah menginjak harga dirinya adalah dengan mengambil kembali semua kenyamanan yang selama ini mereka nikmati dari hasil toleransinya.

   Ziko dan perusahaannya membutuhkan dana besar dari Grand Wijaya Group, dan Clarissa sedang sibuk berpura-pura menjadi pahlawan di sana.

   ​Mahira menarik napas pendek, lalu menghembuskannya perlahan. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi telentang, menatap langit-langit kamar dengan wajah yang benar-benar tanpa ekspresi.

   Malam ini akan menjadi malam terakhir bagi mereka untuk merayakan kemenangan palsu di rumah ini, karena esok hari, giliran Mahira yang akan menentukan ke mana arah hidup bisnis keluarga Ziko akan berjalan.

1
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr😘😘😘
Sri Widiyarti
semoga lekas bangkrut ziko ...
Sri Rahayu
Ziko...Ziko....ini buah dari keserakahan, keegoisan dan ketololan mu Ziko 🤪🤪🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Oke....
total 1 replies
Sri Rahayu
suka dgn tokoh Mahira...tegas tdk ada ampun utk Ziko /Good//Good//Good/ lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Mksh byk Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Sri Rahayu
Mahira sdh mulai mengeluarkan taringnya siap mengoyak Ziko, bu Rani dan Clarissa... lanjut Thorr😘😘😘😘😘
Sri Rahayu
berpestalah kalian bertiga Ziko, bu Rani dan Clarissa...merayakan kebangkrutan Ziko 😇😇😇🤪🤪🤪...lanjut Thorf😘😘😘
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr😘😘😘😘😘
Sri Rahayu
lope lope utk Mahira /Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/.... dan vote utk Authorr...ditunggu lanjutan nya😘😘😘😘😘
Nasir: Makasih Kak...
total 1 replies
Sri Rahayu
suka ceritanya Thorr, lanjutin donk kepo ma si Ziko, mama nya n Clarisa setelah proposalnya ditolak....tetap optimis Thorr dan semangat selalu 😘😘😘😘😘
Nasir: Besok ya...
total 1 replies
Ika
luar biasa
Sri Rahayu
kehancuran menunggu mu Ziko 🤪🤪🤪... lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Besok ya.. m
total 1 replies
EVA OKTASARI
padahal ceritanya bagus lho thor,semangat thor sampai cerita tamat
Nasir: Entahlah Kak... tapi kenyataannya tdk banyak yg tertarik. Sedih sih. Bisa saja saya tamatkan di sini, tapi gak kontrak. Sebab klo dikontrakpun gak dpt apa2 selain dr pembaca. Pdhl udah sy usahakan boom bab, tp msh blm tercapai retensi. Semoga di bab 40 retensi tercapai...
total 1 replies
ㅏㅁㄱㅐㅣㅑㅜ
Lanjut kak Author ceritanya bagus kok sat set juga penyelesaiannya cepat, Tetap Semangat Jangan Pindah ke Tempat lainnya 🙏
Nasir: Makasih ya Kak... 🙏🙏🙏
total 1 replies
ㅏㅁㄱㅐㅣㅑㅜ
Tetap Semangat Melanjutkan ceritanya bagus tidak bertele2 kakak AUTHOR , ditunggu kelanjutannya ya 🙏
Nasir: Makasih Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Sri Rahayu
asyikkk...Mahira uda nyuruh Jessi menolak proposal prshn Ziko...kebangkrutan akan Ziko rasakan bgt jg dgn nenek lampir yg sombong 🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Ma Em
lama Thor Mahira keluar dari rumah Ziko , entah maunya Mahira apa msh tinggal dirumah Ziko meskipun selalu dihina dan dijadikan babu tiap hari
Nasir: Sabar ya Bun....
total 1 replies
Ma Em
kenapa sih Mahira msh mau bertahan dirumah Ziko dan rela dihina dan diinjak harga dirinya .
Sri Rahayu
Mahira keren...uda dihina, direndahkan tp tetap tenang...nunggu bom waktu yg akan diledakkan nya 🤩🤩🤩...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu: eh salah bukan Ardi tp Ziko...maaf salah sebut nama /Silent/
total 4 replies
Sri Rahayu
jgn tanda tangan proposal dr pershn Ardi...mereka bertiga jahat pd mu Mahira...biarkan saja prshn Ardi kolaps... lanjut Thorr😘😘😘
Ma Em
Mahira sdh terlalu lama kamu menyia nyiakan hdp mu msh juga mau bertahan dgn suami dan mertua yg selalu menghina dan merendahkan mu Mahira untuk apa Mahira bertahan tinggal bersama Ziko , lbh baik segera keluar dari rumah Ziko dan balas semua perbuatan Ziko , Bu Rani juga Clarisa .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!