Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Pagi itu, lapangan utama Starline High School disulap menjadi area acara amal tahunan, dipenuhi stan-stan donasi, panggung kecil untuk pertunjukan sukarela, dan meja-meja penjualan barang bekas layak pakai yang hasilnya akan disumbangkan ke panti asuhan mitra sekolah.
Sebagai anggota OSIS, Rean bertugas mengelola stan donasi buku bersama beberapa anggota klub sastra yang turut membantu. Sejak pagi, ia sudah sibuk menata rak-rak buku sumbangan yang terkumpul dari berbagai kelas selama dua minggu terakhir.
"Buku-buku ini bakal disalurkan ke perpustakaan panti asuhan," jelasnya pada pengunjung yang penasaran, sambil menyusun donasi tambahan yang baru datang. "Setiap pembelian di stan lain juga otomatis nyumbang satu buku baru buat mereka."
Ide itu — mengaitkan donasi buku dengan setiap transaksi di stan lain — adalah usulan Rean sendiri saat rapat persiapan minggu lalu, sesuatu yang awalnya dianggap terlalu sederhana oleh sebagian anggota OSIS namun ternyata disambut antusias oleh pengunjung.
"Idemu benar-benar kena banget," puji Sophia, singgah sebentar di stan buku sambil membawa laporan donasi sementara. "Total donasi hari ini sudah melebihi target awal."
Rean tersenyum bangga, meski tetap merendah. "Ini juga berkat semua orang yang mau berpartisipasi."
Di sisi lain lapangan, Kieran sibuk mengawasi jalannya keseluruhan acara sebagai ketua OSIS, berpindah dari satu stan ke stan lain memastikan semuanya berjalan lancar. Sesekali ia singgah di stan buku, memeriksa laporan donasi dari Rean sebelum melanjutkan ke stan berikutnya.
"Semua lancar?" tanyanya singkat, nada profesionalnya kini terasa lebih hangat dibanding beberapa minggu sebelumnya.
"Lancar banget," jawab Rean, tersenyum. "Bahkan lebih ramai dari yang aku bayangkan."
Kieran mengangguk, sejenak memperhatikan antusiasme pengunjung yang berbondong-bondong mendatangi stan buku. Ada rasa hormat baru yang mulai tumbuh dalam dirinya terhadap ide-ide sederhana namun berdampak besar yang selalu berhasil dimunculkan Rean, meski ia masih enggan mengakuinya secara terbuka.
---
Menjelang siang, Elora dan kelompoknya singgah di stan buku setelah selesai bertugas di stan aksesoris kelas mereka sendiri.
"Wah, ramai banget stanmu," seru Elora kagum, memperhatikan antrean pengunjung yang masih mengular di depan meja donasi.
"Ini juga berkat kamu," jawab Rean, menyodorkan salah satu buku yang baru saja ia rapikan. "Kamu yang bantu kumpulin banyak donasi dari klub sastra minggu lalu."
Elora tersenyum lebar mendengar pengakuan itu, hatinya menghangat oleh pujian sederhana namun tulus tersebut. "Sama-sama senang, kok, bisa bantu."
Mereka mengobrol ringan sambil sesekali membantu melayani pengunjung yang datang, suasana akrab yang mengingatkan Elora pada masa-masa awal mereka sering menghabiskan waktu bersama di klub sastra sebelum kesibukan OSIS menyita banyak waktu Rean belakangan ini.
"Nanti sore ada pertunjukan penutupan di panggung utama," kata Elora, mencoba peruntungan. "Kelasku kebagian nampilin musik akustik. Kamu nonton, kan?"
"Pasti," jawab Rean tanpa ragu. "Aku selalu suka lihat kamu tampil."
Kalimat sesederhana itu membuat pipi Elora merona, meski ia tahu betul maksud Rean hanyalah pujian polos tanpa beban tersembunyi apa pun.
Sore harinya, seperti janjinya, Rean menyempatkan diri menonton penampilan Elora di panggung utama, bertepuk tangan paling meriah begitu penampilan selesai. Dari kejauhan, Kieran yang juga menyaksikan pertunjukan itu sebagai bagian dari tugas pengawasan acara, sesekali melirik ke arah keduanya — pemandangan yang masih terasa mengganjal, meski kini diiringi kesadaran baru bahwa rasa tidak nyaman itu bukan alasan untuk kembali membenci sosok yang perlahan mulai ia hormati.
Hari itu berakhir dengan total donasi yang jauh melampaui target awal panitia, sebuah pencapaian bersama yang dirayakan seluruh sekolah dengan penuh kebanggaan — sebuah bukti kecil bahwa kerja sama, sekalipun lahir dari latar belakang perasaan yang rumit, tetap bisa menghasilkan sesuatu yang indah bagi banyak orang.
----
Pagi itu, lapangan utama Starline High School disulap menjadi area acara amal tahunan, dipenuhi stan-stan donasi, panggung kecil untuk pertunjukan sukarela, dan meja-meja penjualan barang bekas layak pakai yang hasilnya akan disumbangkan ke panti asuhan mitra sekolah.
Sebagai anggota OSIS, Rean bertugas mengelola stan donasi buku bersama beberapa anggota klub sastra yang turut membantu. Sejak pagi, ia sudah sibuk menata rak-rak buku sumbangan yang terkumpul dari berbagai kelas selama dua minggu terakhir.
"Buku-buku ini bakal disalurkan ke perpustakaan panti asuhan," jelasnya pada pengunjung yang penasaran, sambil menyusun donasi tambahan yang baru datang. "Setiap pembelian di stan lain juga otomatis nyumbang satu buku baru buat mereka."
Ide itu — mengaitkan donasi buku dengan setiap transaksi di stan lain — adalah usulan Rean sendiri saat rapat persiapan minggu lalu, sesuatu yang awalnya dianggap terlalu sederhana oleh sebagian anggota OSIS namun ternyata disambut antusias oleh pengunjung.
"Idemu benar-benar kena banget," puji Sophia, singgah sebentar di stan buku sambil membawa laporan donasi sementara. "Total donasi hari ini sudah melebihi target awal."
Rean tersenyum bangga, meski tetap merendah. "Ini juga berkat semua orang yang mau berpartisipasi."
Di sisi lain lapangan, Kieran sibuk mengawasi jalannya keseluruhan acara sebagai ketua OSIS, berpindah dari satu stan ke stan lain memastikan semuanya berjalan lancar. Sesekali ia singgah di stan buku, memeriksa laporan donasi dari Rean sebelum melanjutkan ke stan berikutnya.
"Semua lancar?" tanyanya singkat, nada profesionalnya kini terasa lebih hangat dibanding beberapa minggu sebelumnya.
"Lancar banget," jawab Rean, tersenyum. "Bahkan lebih ramai dari yang aku bayangkan."
Kieran mengangguk, sejenak memperhatikan antusiasme pengunjung yang berbondong-bondong mendatangi stan buku. Ada rasa hormat baru yang mulai tumbuh dalam dirinya terhadap ide-ide sederhana namun berdampak besar yang selalu berhasil dimunculkan Rean, meski ia masih enggan mengakuinya secara terbuka.
---
Menjelang siang, Elora dan kelompoknya singgah di stan buku setelah selesai bertugas di stan aksesoris kelas mereka sendiri.
"Wah, ramai banget stanmu," seru Elora kagum, memperhatikan antrean pengunjung yang masih mengular di depan meja donasi.
"Ini juga berkat kamu," jawab Rean, menyodorkan salah satu buku yang baru saja ia rapikan. "Kamu yang bantu kumpulin banyak donasi dari klub sastra minggu lalu."
Elora tersenyum lebar mendengar pengakuan itu, hatinya menghangat oleh pujian sederhana namun tulus tersebut. "Sama-sama senang, kok, bisa bantu."
Mereka mengobrol ringan sambil sesekali membantu melayani pengunjung yang datang, suasana akrab yang mengingatkan Elora pada masa-masa awal mereka sering menghabiskan waktu bersama di klub sastra sebelum kesibukan OSIS menyita banyak waktu Rean belakangan ini.
"Nanti sore ada pertunjukan penutupan di panggung utama," kata Elora, mencoba peruntungan. "Kelasku kebagian nampilin musik akustik. Kamu nonton, kan?"
"Pasti," jawab Rean tanpa ragu. "Aku selalu suka lihat kamu tampil."
Kalimat sesederhana itu membuat pipi Elora merona, meski ia tahu betul maksud Rean hanyalah pujian polos tanpa beban tersembunyi apa pun.
Sore harinya, seperti janjinya, Rean menyempatkan diri menonton penampilan Elora di panggung utama, bertepuk tangan paling meriah begitu penampilan selesai. Dari kejauhan, Kieran yang juga menyaksikan pertunjukan itu sebagai bagian dari tugas pengawasan acara, sesekali melirik ke arah keduanya — pemandangan yang masih terasa mengganjal, meski kini diiringi kesadaran baru bahwa rasa tidak nyaman itu bukan alasan untuk kembali membenci sosok yang perlahan mulai ia hormati.
Hari itu berakhir dengan total donasi yang jauh melampaui target awal panitia, sebuah pencapaian bersama yang dirayakan seluruh sekolah dengan penuh kebanggaan — sebuah bukti kecil bahwa kerja sama, sekalipun lahir dari latar belakang perasaan yang rumit, tetap bisa menghasilkan sesuatu yang indah bagi banyak orang.