Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Bayangan Pasukan Pelacak
Dua minggu telah berlalu sejak latihan pertama dimulai.
Kolam ungu Su Ling'er telah mengubah delapan ratus pemuda fana. Meskipun meridian mereka masih sempit dan jumlah Qi di dalam tubuh mereka baru menyentuh batas bawah Ahli Persilatan Tingkat 1, kekuatan fisik murni mereka kini mampu menghancurkan batu.
Desa Fajar mulai terasa seperti rumah yang sesungguhnya. Gubuk-gubuk telah dilengkapi perapian. Ladang jamur panen dengan berlimpah.
Namun, kedamaian di zaman primordial hanyalah sebuah ilusi yang sewaktu-waktu bisa hancur oleh embusan angin.
Siang itu, Ye Cangtian sedang menguji ketahanan formasi perisai dari sekelompok prajurit muda ketika suara pekikan panik membelah udara lembah.
"Minggir, beri jalan, panggilkan Tetua Xing Yun!"
Dari arah lereng tebing yang menjadi pintu masuk lembah, sebuah regu pemburu berlari turun dengan napas memburu. Tiga orang di depan menyeret sebuah tandu darurat yang terbuat dari jalinan akar pohon. Di atas tandu itu, terbaring sosok yang ditutupi kain berlumuran cairan hitam.
Cangtian menjatuhkan pedang kayunya. Tanpa berkata-kata, ia melesat mendahului semua orang dan tiba di samping regu pemburu itu hanya dalam hitungan detik.
Xing Yun, yang sedang mencatat hasil panen di dekat sungai, segera menyusul bersama Su Ling'er.
"Apa yang terjadi? Monster apa yang menyerang kalian?" tanya Xing Yun, raut wajahnya menegang melihat kepanikan di mata para pemburu yang biasanya tak kenal takut.
Pemimpin regu pemburu itu, seorang pria kekar bernama Da Hu, jatuh berlutut di depan Cangtian. Tubuhnya gemetar hebat.
"P-Panglima... kami sedang berpatroli lima mil di utara lembah, mencoba memancing serigala tulang... tapi kami menemukan jejak kaki," suara Da Hu bergetar. "Bukan jejak cakar. Jejak sepatu bot baja. Sangat besar. Dan... salju di sekitar jejak itu... meleleh."
Udara di sekitar mereka seolah membeku seketika.
Su Ling'er tidak membuang waktu. Ia melangkah maju dan menyingkap kain di atas tandu tersebut. Beberapa penduduk desa yang ikut mengerumuni langsung memalingkan wajah dan muntah.
Di atas tandu itu terbaring mayat seorang pemuda pemburu, salah satu dari regu Da Hu. Namun, tubuhnya nyaris tidak bisa dikenali. Ada sebuah lubang menganga seukuran kepalan tangan orang dewasa tepat di tengah dadanya.
Tepi luka itu menghitam dan mengeras, sama sekali tidak mengeluarkan darah karena daging dan pembuluh darahnya telah hangus terbakar dalam sekejap.
Ling'er berjongkok, jarinya menyentuh tepian luka yang menghitam itu. Ia memejamkan mata, merasakan sisa-sisa energi yang ada.
"Ini bukan luka akibat cakar atau semburan api monster liar," ucap Ling'er datar, namun ada ketegangan yang jelas dalam suaranya. Ia menatap Cangtian dan Xing Yun secara bergantian.
"Seseorang memusatkan Napas Kehidupan dengan elemen api murni ke ujung sebuah senjata tumpul, kemungkinan besar tombak, dan menusukkannya dengan kecepatan yang sangat mengerikan."
Wajah Xing Yun berubah pucat pasi. Ia mundur selangkah, menabrak Paman Lu.
"Elemen murni..." bisik Xing Yun, suaranya nyaris tercekat di tenggorokan. "Hanya prajurit elite berkasta tinggi dari klan dewa yang memiliki garis keturunan elemen murni. Pengawal biasa di tambang tidak memilikinya."
"Maksudmu... Pasukan Pemusnah sudah menemukan kita?" tanya Paman Lu panik.
"Bukan Pasukan Pemusnah," Xing Yun menggeleng cepat. "Jika itu Pasukan Pemusnah, tidak akan ada jejak sepatu bot di salju, mereka akan turun dari langit dan menghancurkan seluruh area ini. Ini... ini pasti Pasukan Pelacak. Regu elit yang bertugas menyisir Gurun Kematian dengan berjalan kaki untuk mencari jejak kita yang terlewat oleh udara!"
Xing Yun menoleh ke arah Da Hu. "Berapa banyak jejak yang kau lihat?!"
"T-Tidak tahu pasti, Tetua! Mereka bergerak sangat cepat. Saat Ah San tertinggal di belakang, kami hanya melihat kilatan cahaya merah menyala menembus badai, lalu ia sudah mati dengan lubang di dadanya! Kami langsung berlari sekencang mungkin ke sini!"
Kepanikan mulai menjalar seperti wabah di antara penduduk desa yang mendengar percakapan itu.
"Mereka ada di luar sana..."
"Dewa-dewa itu menemukan kita..."
"Kehancuran sudah dekat!!"
"Diam!"
Satu kata dari Ye Cangtian menghancurkan kepanikan itu, memaksa puluhan ribu orang menutup mulut mereka rapat-rapat.
Cangtian melangkah mendekat. Ia menatap mayat pemuda itu lekat-lekat, lalu beralih menatap Xing Yun.
"Seberapa jauh lima mil itu jika ditempuh oleh regu pelacak klan dewa?" tanya Cangtian dingin.
"D-Dengan kecepatan mereka di tengah badai? Tiga... tidak, paling lama dua jam sebelum mereka mencapai batas tebing lembah ini," hitung Xing Yun dengan keringat dingin.
"Begitu mereka berdiri di tebing, mereka akan melihat uap ini, menganalisisnya, dan menyadari ini adalah persembunyian yang sempurna."
"Apakah mereka membawa artefak jimat jiwa?"
Xing Yun mengangguk cepat. "Bukan hanya jimat jiwa. Regu pelacak selalu membawa Batu Suara. Sebuah artefak komunikasi jarak jauh. Jika mereka melihat lembah ini, mereka hanya perlu menghancurkan batu itu, dan koordinat kita akan langsung terkirim ke markas besar Pasukan Pemusnah. Dalam satu hari, langit di atas kita akan dipenuhi api."
"Kalau begitu," Cangtian menyarungkan kedua pedang peraknya ke punggung, "kita tidak boleh membiarkan mereka melihat lembah ini, apalagi menyentuh Batu Suara itu."
Xing Yun terbelalak. "Cangtian... kau tidak bermaksud... Mereka adalah prajurit elite! Pemimpin mereka setidaknya berada di Tingkat 4 atau 5 jika diukur dengan kultivasimu! Dan mereka memiliki senjata pusaka!"
"Lalu apa pilihanmu?" Cangtian tersenyum sinis. "Bersembunyi di bawah selimut dan berdoa agar mereka tidak melihat ke bawah saat berdiri di tepi tebing?"
Xing Yun terdiam. Ia tahu Cangtian benar. Pertahanan terbaik saat ini adalah memastikan tidak ada satu pun dari pelacak itu yang hidup cukup lama untuk mengirimkan koordinat.
Cangtian berbalik menghadap delapan ratus prajurit mudanya. Mereka masih berdiri kaku, otot-otot perunggu mereka menegang menunggu perintah. Rasa takut pada klan dewa masih mengalir dalam darah mereka sebagai sisa-sisa mental budak, namun rasa hormat mereka pada Ye Cangtian jauh lebih besar.
"Kalian dengar apa yang terjadi?!" raung Cangtian,
"Dewa-dewa itu telah datang mengetuk pintu rumah kita! Mereka ingin mengambil kembali budak mereka! Mereka ingin merantai kaki kalian, mencambuk punggung kalian, dan membakar desa yang kalian bangun dengan darah dan keringat kalian sendiri!"
Cangtian mencabut salah satu pedang peraknya dan mengarahkannya ke langit.
"Selama sebulan, aku mematahkan tulang kalian! Aku menghancurkan daging kalian! Aku merendam kalian di dalam racun yang mendidih! Untuk apa?! apakah untuk lari seperti babi?!"
"Tidak!!"
Delapan ratus suara menjawab serempak.
"Bagus." Cangtian menyeringai, matanya menyala dengan niat membunuh. "Hari ini, kita tidak berlari. Hari ini, kita menyambut tamu kita. Kita akan keluar dari lembah ini, dan kita akan memotong leher mereka sebelum mereka bahkan menyadari di mana kita berada."
Cangtian menatap Da Hu. "Da Hu! Pimpin barisan! Tunjukkan padaku di mana kau melihat jejak terakhir mereka."
Da Hu, mendadak merasakan hawa panas mengalir di nadinya. Ia mengangguk tegas, mengambil tombak peraknya. "Siap, Panglima!"
"Xing Yun," Cangtian menoleh ke arah sahabatnya. "Siapkan seluruh desa untuk skenario terburuk. Jika kami tidak kembali dalam empat jam, atau jika kau melihat kilatan cahaya di langit utara, segera pimpin mereka masuk ke dalam terowongan bawah tanah di dasar sungai."
Xing Yun menggertakkan giginya. Ia meninju dada Cangtian pelan. "Pastikan kau membawa kembali delapan ratus orang bodoh itu, kau dengar? Aku tidak membangun barak yang bagus hanya untuk dibiarkan kosong."
Terakhir, Cangtian menoleh ke arah Su Ling'er. Gadis itu berdiri dengan tenang, namun tangannya menyerahkan dua botol giok tambahan berisi ekstrak jamur merah.
"Untuk menghentikan pendarahan besar," ucap Ling'er datar. "Dan jangan ceroboh. Jika jantungmu meledak karena energi musuh, aku tidak akan memungut mayatmu."
Cangtian tertawa kecil, menerima botol itu. "Aku akan kembali tepat waktu untuk makan malam."
Dengan itu, Ye Cangtian berbalik. Ia berjalan memimpin delapan ratus prajurit fana, melangkah menaiki tebing lembah yang curam, meninggalkan kehangatan dan kembali menembus tirai badai salju Gurun Kematian.