Nafisha merasa hidupnya baik-baik saja.
Meski sering terlambat, sering dihukum guru BK, dan kerap terlibat masalah karena membela teman-temannya, setidaknya ia masih bisa menjalani hari-harinya bersama Rendi—sahabat yang selalu ada untuknya.
Sampai suatu hari semuanya berubah.
Sebuah kesalahpahaman membuat nama Nafisha menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Dan tanpa sepengetahuannya, kedua orang tuanya telah menyiapkan keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Perjodohan.
Lebih buruk lagi, pria yang dijodohkan dengannya adalah Andrea—guru BK yang paling sering menghukumnya di sekolah.
Nafisha tidak pernah membayangkan harus hidup berdampingan dengan pria menyebalkan itu.
Namun semakin keras ia berusaha menjauh, semakin sering takdir mempertemukan mereka.
Mampukah Nafisha menerima takdir yang telah ditentukan untuknya? Saat guru BK yang selalu membuatnya kesal itu ternyata adalah pria yang harus bersanding dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dira.aza07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Andrea sempat berdiri untuk melangkah pergi. Namun, suara Rendi seketika menghentikan niatnya.
"Naf... tolong jelaskan kepadaku, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Rendi. Gurat kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya.
Andrea kembali bersembunyi di balik bebatuan. Melihat kondisi Nafisha saat ini, Andrea refleks menahan napas. Dadanya terasa sesak bagai dihantam ombak yang memecah karang, ditambah semilir angin sore yang kian menusuk hati.
Nafisha hanya menggeleng lambat. Rendi terdiam di tempatnya, menatap gadis itu dari jarak yang begitu dekat.
Napas Andrea berembus kasar melihat Nafisha yang terus membisu. Rasa sesak di dadanya kian menyiksa.
Rendi menengadah menatap langit sekilas, lalu kembali menatap Nafisha. "Naf... sebaiknya kamu pulang, ya," ujarnya lembut sambil mengisyaratkan Nafisha untuk berdiri. "Maaf, aku harus kembali berjualan, jadi enggak bisa mengantarmu."
"Enggak apa-apa, Ren. Aku masih bisa pulang sendiri, kok," jawab Nafisha, memaksakan sebuah senyuman.
Mendengar mereka bersiap pergi, Andrea bergegas membalikkan tubuh dan menuruni bebatuan dengan tergesa-gesa agar tidak ketahuan.
Setelah Andrea berada cukup jauh, Nafisha dan Rendi pun ikut turun dari bebatuan. Mereka berjalan memotong arah menuju area pantai yang lebih ramai pengunjung. Di waktu sore seperti ini, pantai tersebut memang terkenal dengan keindahan sunset-nya.
Di tepi pantai, Rendi melepaskan genggaman tangannya. Nafisha mengangguk, lalu mulai melenggang pergi menjauh.
Melihat kesempatan itu, Andrea mempercepat langkahnya untuk menyusul Nafisha. Begitu posisinya sudah berada di hadapan gadis itu, Andrea langsung mencekal pergelangan tangannya.
"Saya antar kamu pulang," ucap Andrea dengan suara berat khasnya.
Langkah Nafisha mendadak terhenti. Ia melirik Andrea dengan mata membelalak. "Bapak?! Lepas, Pak!" seru Nafisha mencoba memberontak.
Nafisha berusaha menarik tangannya, tetapi Andrea mempererat cengkeramannya. "Naf... ini sudah larut, sebaiknya kita pulang. Kebetulan saya bawa motor. Ayo!" ajak Andrea, bersikeras tidak mau menyerah.
"Lepas, Pak! Jangan paksa Nafisha!" teriak Nafisha. Ia menahan kakinya agar tidak melangkah sambil terus menarik lengannya.
"Kenapa? Apa salah saya sampai kamu bersikap seperti ini, ha?!" bentak Andrea akhirnya, tatapannya menatap tajam menusuk.
"Bapak salah karena—" Ucapan Nafisha terputus saat suara riuh dari arah pantai mendadak memecah ketegangan mereka.
Andrea dan Nafisha kompak menoleh ke arah sumber suara, di mana seseorang terdengar sedang dibentak dengan kasar.
Mata Andrea terbelalak. Di kejauhan, ia melihat Rendi, muridnya, tengah dihajar oleh dua pria bertubuh tinggi. Salah satu pria itu bahkan menendang nampan dagangan Rendi hingga ikan-ikannya berserakan di pasir, lalu tertawa terpingkal-pingkal di atas penderitaan bocah itu.
Pandangan Andrea langsung teralih begitu merasakan tarikan kuat pada tangannya. Nafisha sedang berusaha melepaskan diri. Andrea menggeleng tegas. "Mau ke mana kamu?"
"Lepas! Aku mau memukul dua preman itu! Enak saja menghancurkan dagangan orang. Bagaimana kalau Rendi harus mengganti kerugiannya?" cecar Nafisha dengan wajah memerah menahan amarah.
"Tidak!" Larangan tegas dari Andrea rupanya sama sekali tidak membuat nyali gadis itu ciut.
"Kenapa? Mau menghalangiku? Atau Bapak mau bilang kalau aku ini cuma perempuan? Dengar ya, Pak Andrea yang terhormat, aku ini bisa bela diri!" ucap Nafisha menantang.
"Nafisha!" bentak Andrea.
"Apa?! Bapak benar-benar pengecut, ya? Bisa-bisanya diam saja saat melihat orang lain sedang ditindas?!" cecar Nafisha berapi-api, memajukan wajahnya hingga begitu dekat di hadapan Andrea.
Andrea memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam untuk mengontrol emosinya yang hampir meledak. Perlahan, ia membuka mata dan menatap gadis di depannya dengan senyum getir.
"Nafisha, kamu itu perempuan. Lihat bagaimana postur tubuh dua pria itu? Kamu sendirian, sementara mereka berdua. Jangan merasa hebat. Cukup gunakan ilmu bela dirimu untuk melindungi dirimu sendiri," ucap Andrea mencoba setenang mungkin.
"Halah, dasarnya Bapak saja yang pengecut," ketus Nafisha, tidak mau kalah.
Andrea menatap Nafisha lurus, lalu menggelengkan kepalanya.
"Lepas!" Teriakkan Nafisha kembali menggema saat gadis itu bergerak gelisah, tampak tidak sabar ingin menjadi pahlawan bagi sahabatnya.
"Tidak, Nafisha! Cukup!" teriak Andrea dengan kilatan mata yang tajam. Ingatannya mendadak berputar pada bekas tamparan di pipi gadis itu. "Cukup kamu disakiti oleh Bapakmu, jangan oleh mereka lagi!"
Kata-kata itu sukses membuat Nafisha membeku. Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya.
"Pipi ini pasti masih sakit, kan? Bahkan, jauh di dalam hatimu, rasanya pasti lebih sakit daripada memar di pipimu ini, kan?" bisik Andrea lembut, jemarinya bergerak perlahan mengusap pipi Nafisha.
Nafisha terpaku. Ia tidak lagi memberontak, melainkan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Saya mohon, jangan tambah luka di tubuhmu hanya untuk melampiaskan kekesalanmu pada mereka," pinta Andrea dengan nada suara yang melembut.
Nafisha perlahan mengangkat wajahnya. Air mata yang sedari tadi ditahannya kini luruh membasahi pipi. Tanpa aba-aba, gadis itu langsung menghambur dan memeluk tubuh Andrea dengan erat.
Andrea tertegun sejenak sebelum akhirnya membalas pelukan itu. Di dalam dekapannya, tangis Nafisha pecah. Suara isakannya terdengar begitu memilukan, menyalurkan seluruh rasa sakit yang dipendamnya sendiri. Andrea memejamkan mata, ikut merasakan sesak yang mendera dada.
Namun, tangisan itu tiba-tiba mereda. Nafisha menarik diri dan menyeka sisa air matanya secara kasar dengan punggung tangan.
"Tapi, Pak... sekarang Rendi benar-benar butuh bantuan kita," keluh Nafisha. Suaranya kini terdengar lebih tenang, meski masih menyisakan sedikit getaran emosi.
Andrea tersenyum tipis seraya memegang kedua bahu Nafisha. "Saya mengerti. Sabar, ya. Kita tunggu waktu yang tepat, baru kita bantu Rendi," jawab Andrea, berusaha menenangkan.
Tenang, Naf. Mana mungkin saya membiarkan murid saya sendiri kesulitan? Tapi tidak sekarang. Kalau kita bertindak gegabah, kamu pasti akan ikut terseret, dan saya tidak tahu harus menjelaskan apa pada Bapakmu nanti, batin Andrea.
Nafisha terdiam, mengerucutkan bibirnya kesal sambil mendelik tajam ke arah Andrea.
Tak lama berselang, perhatian mereka teralih saat seorang wanita asing tiba-tiba menghampiri Rendi. Wanita itu berpenampilan modis seperti orang kota, berwajah cantik, dan langsung ikut berjongkok membantu Rendi memunguti ikan-ikan yang berserakan di pasir dengan senyuman hangat.
"Tuh, kan, ini gara-gara Pak Andrea sih!" keluh Nafisha dengan wajah semakin ditekuk, matanya lurus menatap ke arah Rendi.
Andrea mengernyit heran, lalu melempar pandangannya ke titik yang sama. Detik berikutnya, Andrea harus bersusah payah menahan tawa. Andrea langsung paham alasan gadis itu mendadak cemberut. Tatapan Nafisha tak pernah lepas dari wanita yang sedang membantu Rendi.
Pandangan Andrea kemudian bergeser pada dua preman tadi. Di sudut lain yang agak jauh dari Rendi, kedua preman itu rupanya sedang diinterogasi oleh seorang pria berpakaian rapi—yang dugaannya juga berasal dari kota.
"Naf... lihat ke arah sana," ucap Andrea tanpa menoleh, menunjuk ke arah preman yang berada cukup jauh dari posisi Rendi.
Nafisha mengikuti arah telunjuk Andrea dengan malas.
"Coba kamu perhatikan pria dewasa yang berpakaian rapi itu. Dia sedang berusaha menghentikan tindakan kasar dua preman itu. Lihat, caranya begitu elegan, tidak perlu mengandalkan baku hantam," ujar Andrea, sengaja memberi nasihat dengan harapan Nafisha bisa belajar mengontrol emosi nya.
Nafisha mengamati lamat-lamat. "Tapi, kenapa mereka malah tersenyum?"
Andrea hanya menggeleng misterius sebagai jawaban.
"Pak, lihat! Ada Satpol PP!" seru Nafisha lagi, menunjuk beberapa petugas yang berjalan tegas ke arah keributan.
Andrea tidak menyahut, ia tetap fokus mengamati bagaimana petugas Satpol PP itu mengamankan kedua preman tanpa perlawanan berarti. Begitu kedua preman digiring pergi, pria berpakaian rapi tadi melangkah santai menghampiri tempat Rendi dan si wanita kota berada.
Andrea tersenyum puas melihat akhir dari skenario tersebut. Ia kembali menatap gadis di sampingnya. "Lihat, kan? Tidak semua hal harus diselesaikan dengan kekerasan. Kamu harus paham itu, Nafisha. Sekarang, ayo kita pulang! Hari sudah semakin larut," ujar Andrea seraya meraih jemari Nafisha.
Kali ini Nafisha tidak membantah, ia ikut mengekor Andrea, meskipun wajahnya masih cemberut. Sesekali matanya masih melirik ke arah pantai, memastikan keadaan Rendi.
"Ayo," ajak Andrea lagi, mulai melangkah.
Namun, baru dua langkah, Nafisha mendadak menghentikan kakinya. Dengan satu sentakan kasar, ia melepaskan genggaman tangan Andrea.
Langkah Andrea otomatis terhenti. Ia berbalik dan menatap gadis itu dengan mata membelalak lebar, bak seekor singa yang kehilangan kesabaran dan siap menerkam mangsanya hidup-hidup.
Bersambung...