NovelToon NovelToon
Takdir Kejam Sang Duda

Takdir Kejam Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Giarty gia

"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."

Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.

Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.

kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.

Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Cegatan di Ujung Jalan

***

Tujuh hari bukanlah waktu yang singkat, namun waktu tampaknya sama sekali tidak mampu mencairkan kebekuan yang menjerat hubungan antara Freya Anindita dan Galen Danendra. Selama satu minggu ini, baik Freya maupun Galen benar-benar tidak saling sapa sedikit pun meskipun mereka hidup di bawah satu atap yang sama.

Setiap kali berpapasan atau saat duduk bersama di meja makan, mereka memperlakukan satu sama lain seolah-olah sosok di hadapan mereka tidak kasat mata.

Freya masih kesal, marah, dan menyimpan rasa benci yang mendalam atas sikap serta tindakan ciuman paksa Galen yang telah menginjak-injak harga dirinya malam itu.

Pagi hari ini, suasana langit Jakarta tampak begitu cerah. Kebetulan hari ini adalah tanggal merah karena hari libur nasional, sehingga kompleks SMA Pelita Bangsa diliburkan sepenuhnya.

Mumpung tidak ada kegiatan sekolah, Freya memilih untuk memanfaatkan momen ini untuk mencari ketenangan di luar sangkar emas Danendra.

Tepat setelah sarapan pagi selesai, Freya memberanikan diri meminta izin kepada orang tua angkatnya untuk berkunjung ke rumah lama orang tua kandungnya.

Sebuah rumah masa kecil yang sudah sangat lama tidak berpenghuni sejak tragedi kecelakaan maut 6 tahun lalu yang merenggut nyawa ayah dan ibunya.

***

Tepat pukul sepuluh pagi, sebuah taksi online yang ditumpangi Freya perlahan mengurangi kecepatannya dan berhenti tepat di depan sebuah gerbang besi tua yang sudah sedikit berkarat.

Freya melangkah turun dari taksi, menyandang tas ransel kecilnya, lalu mendorong pintu gerbang yang berderit nyaring membelah kesunyian kompleks perumahan lama tersebut.

Langkahnya bergerak lambat menyusuri jalan pekarangan yang ditumbuhi rumput-rumput liar.

Begitu anak kunci kuno di jemari lentiknya berhasil memutar slot pintu utama, pintu kayu jati itu terbuka perlahan, mengembuskan aroma debu tipis dan kenangan masa lalu yang seketika menyerbu indra penciuman Freya.

Freya melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang temaram. Rumah yang dulu selalu terasa hangat, dipenuhi suara tawa riang ibunya, dan banyolan jenaka dari sang papa, kini telah menjelma menjadi sebuah bangunan mati yang sunyi dan dingin.

Di sekolah, tidak ada satu pun orang yang tahu tentang status aslinya. Bahkan Sella, sahabat karibnya, dan Rendy, cowok yang selalu perhatian padanya, sama sekali tidak mengetahui fakta bahwa ia hanyalah seorang anak angkat yang menumpang hidup di kediaman konglomerat Danendra.

Semuanya mengira Freya adalah bagian kandung dari keluarga terpandang itu.

Meskipun rumah ini tidak lagi ditempati dan seluruh asetnya dikunci di bawah perwalian hukum, setiap satu bulan sekali Freya selalu menyempatkan diri datang sendirian untuk membersihkan setiap sudut ruangan.

Ia mengelap bingkai foto keluarga mereka yang mulai berdebu, menyapu lantai marmer tua, dan memastikan rumah peninggalan orang tuanya ini tetap bersih, terawat, dan terjaga dengan rapi. Baginya, rumah kosong ini adalah satu-satunya tempat di mana jiwanya bisa melepas seluruh topeng cerianya dengan bebas.

Setelah menghabiskan waktu beberapa jam membersihkan rumah masa kecilnya, Freya mengunci kembali pintu utama. Langkah kakinya kini beralih menuju ke area pemakaman.

Freya melangkah menyusuri jalanan setapak makam yang sunyi, hingga langkahnya berhenti tepat di depan dua buah liang lahat yang terletak berdampingan. Dua nisan marmer bertuliskan nama kedua orang tua kandungnya tampak berdiri kokoh di bawah rindangnya pohon kamboja.

Rasa rindu yang teramat besar, seketika membuncah hebat menjalar memenuhi rongga dadanya. Tubuh Freya luruh jatuh, bersimpuh di atas tanah makam yang ditumbuhi rumput hijau. Jemari lentiknya bergerak lembut, mengusap permukaan nisan batu milik ayahnya dengan getaran yang teramat pilu.

"Papa... Mama... Freya datang lagi," Bisik Freya parau, suaranya langsung tercekat di tenggorokan saat air mata jatuh melewati pipinya.

Gadis remaja itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, menumpahkan seluruh air matanya di depan batu nisan. Di tempat ini, ia tidak perlu berpura-pura kuat. Ia tidak perlu memakai topeng ceria seperti di sekolah atau di kediaman rumah Danendra.

"Papa... Freya kangen banget sama Papa. Kangen dipeluk Papa kalau lagi capek," Isak Freya sejadi-jadinya, bahunya naik turun terguncang hebat akibat tangis yang membelah kesunyian makam. "Kenapa Papa dan Mama pergi cepat sekali? Kenapa kalian tinggalkan Freya sendirian di dunia ini?".

Freya meremas rumput makam itu dengan pelan, meluapkan seluruh rasa frustrasi dan terhina yang ia rasakan akibat perlakuan kejam Galen selama ini.

"Freya capek, Pa... Freya lelah harus tinggal di rumah besar yang dingin itu. Kak Galen... Kak Galen selalu marah padaku. Dia bilang aku ini anak pembawa sial yang menghancurkan hidupnya. Dia menghinaku dengan kata-kata yang sangat jahat, Pa... Dia merebut kebebasanku...". Freya terisak pedih, mengusap air matanya yang terus mengalir deras tanpa bisa ia tahan lagi.

"Tolong bawa Freya pergi bersama Papa dan Mama ke surga... Freya tidak kuat kalau harus terus-menerus hidup di bawah ketakutan dan takdir kejam ini. Freya sendirian, Pa... Freya takut..."

Suara tangisan anak yatim piatu yang meratapi nasibnya itu terdengar begitu memilukan di bawah embusan angin makam yang sepi.

Setelah puas menumpahkan seluruh isi hatinya selama hampir satu jam, Freya perlahan mulai menenangkan batinnya. Ia meraih kantong plastik berisi bunga mawar dan melati, lalu menaburkannya dengan penuh kasih sayang di atas kedua makam tersebut.

"Papa, Mama... Freya pulang dulu ya. Doakan Freya agar selalu kuat menghadapi semua ini". Ucap Freya lirih, memaksakan seulas senyum di bibirnya yang sedikit pucat.

Ia mencium nisan kedua orang tuanya bergantian, berdiri dari bersimpuhnya, lalu melangkah berjalan keluar meninggalkan area pemakaman.

Begitu sampai di dekat gerbang luar makam, Freya merogoh ponselnya dari dalam saku celana untuk memesan taksi online guna mengantarnya pulang kerumah Danendra.

Namun, tepat saat jemarinya menyentuh layar, ponsel tersebut mendadak mengeluarkan bunyi bip pendek yang lemah, sebelum akhirnya layarnya berubah menjadi hitam pekat dan mati total.

Baterai ponselnya habis.

"Astaga! Sial sekali nasibku hari ini! Kenapa harus habis sekarang, sih?!". Jerit Freya frustrasi di dalam hati sembari menepuk dahinya sendiri.

Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Area pemakaman ini terletak cukup masuk ke dalam, terisolasi dan teramat jauh dari jalan raya utama di depan sana.

Tidak ada kendaraan umum atau taksi konvensional yang lewat di sekitar jalur sepi ini.

Mau tidak mau, dengan sisa tenaga di tubuhnya yang lelah setelah menangis, Freya terpaksa harus berjalan kaki menyusuri jalanan aspal yang panjang dan sepi di bawah terik matahari siang demi bisa mencapai jalan raya utama.

Langkah kaki Freya bergerak pelan selama hampir lima belas menit menyusuri trotoar yang sunyi. Keringat tipis mulai membasahi pelipisnya yang membingkai poni tipisnya.

Hingga akhirnya, langkah kaki Freya tiba di sebuah tikungan pertigaan jalan besar yang letaknya sudah hampir dekat dengan akses jalan raya utama komplek depan.

BRUMMM! BRUMMM! BRUMMM!

Suara raungan knalpot bising yang memekakkan telinga mendadak memecah kesunyian pertigaan jalan tersebut.

Dari arah depan, sebuah gerombolan sepeda motor sport dan motor modifikasi melaju kencang, lalu langsung membanting setir mereka berputar mengurung jalur jalan Freya.

Lima buah motor berhenti dengan posisi mengepung, menutup seluruh akses jalan keluar Freya. Pengendaranya adalah beberapa remaja laki-laki dan pemuda tanggung berpenampilan ugal-ugalan mengenakan jaket denim robek dan rantai besi, khas anak geng motor jalanan yang liar.

Pandangan mata mereka yang nakal dan penuh kilat jahat langsung terkunci mutlak pada siluet tubuh sintal dan wajah cantik memikat milik Freya yang berdiri sendirian tanpa perlindungan.

"Wih, lihat nih, Bro... Ada cewek cantik jalan sendirian di tempat sepi". Goda salah satu cowok berambut gondrong di atas motor merah, melayangkan siulan nakal yang merendahkan.

"Sendirian aja, Neng? Mau Abang antar pulang ke rumah gak? Yuk, naik ke motor Abang, kita main-main sebentar," Sahut pemuda di sebelahnya sembari terkekeh mesum bersama gengnya.

Deg!

Jantung Freya seketika berhenti berdetak selama satu detik. Seluruh aliran darah di tubuhnya mendadak berdesir. Rasa panik dan ngeri yang luar biasa langsung merayap naik menyerang urat-arafnya saat menyadari dirinya kini berada di dalam bahaya besar di tengah jalanan sepi tanpa adanya ponsel yang menyala untuk meminta pertolongan.

***

1
Alissia
gengsi amat bang kalau bilang suka🤭🤭
Giarty gia: duda satu ini pokoknya gengsi nya yang di gedein. 😄
total 1 replies
Giarty gia
hai... jangan lupa tinggalkan jejak ulasan dan bintang 🌟 nya ya guyss di kolom ulasan. supaya saya juga semangat update bab setiap hari. karena bab selanjutnya akan banyak kejutan. happy reading 🥰
Alissia
awas lo galen,jangan gengsi di gedein ayo nyatain pereasan dong 🤭🤭
Alissia
udah jatuh cinta sama freya tapi gengsi setinggi langit dan keras kepala 🤭🤭🤭
Giarty gia: Ahahaha ketahuan banget ya gengsinya setinggi langit! Freya deket sama Rendy udah ketar-ketir tuh si duda, cuma gengsi aja gak mau ngaku. Siap-siap liat si duda makin tersiksa sama perasaannya sendiri ya! 🤣 Dudanya lagi mode denial maksimal
total 1 replies
Giarty gia
Terima kasih banyak ya, teman-teman, sudah membaca kisah ini! Kalau cerita ini berhasil menghibur atau menyentuh hati kalian, yuk dukung author dengan memberikan ulasan terbaik dan rating bintang 5. Setiap dukungan dari teman-teman adalah energi luar biasa bagi saya untuk terus berkarya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!