Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCT 32
"Al, Kamu sudah siap?"
"Tentu. Ayo, kita berangkat."
Hari ini untuk pertama kalinya Aldri akan bertemu langsung dengan Andika Pratama pemilik salah satu perusahaan yang sangat sukses di bidang yang sama dengannya. Mereka akan menjalin hubungan kerjasama.
Aldri dan Egi sudah mempersiapkan semuanya. Kali ini Aldri ingin mengetahui langsung bagaimana karakter seorang Andhika Pratama yang pernah ia kalahkan dalam persaingan 19 tahun yang lalu . Siapa sangka mereka akan dipertemukan justru sebagai partner kerja bukan sebagai rival.
Pertemuan kali ini ada beberapa perusahaan yang akan mengajukan kontrak kerjasama. Mereka sudah menunggu di ruang rapat. Semua mata tertuju kepada Aldri ketika pria itu memasuki ruangan.
Andika dengan segera menyambut kedatangan Aldri dan mereka saling berjabat tangan.
"Andika."
"Aldri."
Keduanya saling mengganggu usai berjabat tangan. Pandangan keduanya memiliki arti berbeda. Namun, satu hal yang sama tatapan tajam seorang pengusaha sukses ada pada keduanya.
"Oh, iya perkenalkan juga ini putra saya. Anggara." Aldri menjabat tangan anggaran dan tersenyum.
Rupanya kamu sudah memiliki seorang anak juga ternyata, dasar brengsek. Aku jadi semakin penasaran seberengsek apa dirimu hingga bisa membuat Tiara menderita?
"Mari silakan duduk." Aldri mengangguk.
Aldri memberi kode kepada Egi untuk mengikutinya. Mereka pun duduk berdekatan. Pandangan Egi terfokus kepada Andika. Pria yang pernah menjadi pujaan hati Tiara, sahabatnya.
"Karena semua sudah lengkap mari kita mulai saja."
Baik Aldri maupun Andika keduanya memiliki kekaguman masing-masing tak bisa dipungkiri Aldri mengakui Andika selain berkharisma juga seorang yang cerdas dan tidak mudah ditaklukan. Seandainya mereka tidak terlibat masa lalu yang menyakitkan kemungkinan besar saat ini mereka akan menjadi sahabat sejati. Begitu pula dengan Andika yang mengagumi kecerdasan Aldri yang sangat detail dalam mengembangkan sebuah produk.
Rapat berlangsung selama 2 jam lebih lambat dari perkiraan. Akan tetapi bagi para pengusaha yang hadir merasa tidak sia-sia membuang waktu karena mereka yakin waktu yang terbuang saat ini akan menjadi uang di kemudian hari.
Usai rapat Andika menjamu para pengusaha di salah satu restoran bintang lima yang telah dipesan sebelumnya. Mereka melanjutkan membahas tentang rencana kedepan meski dalam suasana yang lebih santai.
Anggara yang sejak rapat tadi memperhatikan Aldri dan Egi merasakan ada keanehan pada keduanya. Pemuda itu mengetahui bahwa baik Aldri maupun Egi seringkali menatap lekat wajah papanya. Anggara yang merasa paling permula hanya dia menyimak dan memperhatikan sekitar. Semua iya lakukan seperti yang diinginkan sang papa.
Mungkin hanya perasaanku saja. Seperti nya mereka nggak berhenti natap papa. Apa mungkin ada tujuan tersembunyi?
Anggara berdiri dari kursinya lalu menepuk pelan pundak papanya. Pemuda itu berbisik di telinga sang papa.
"Pa, aku pamit bentar, ya, mau nyari udara segar suntuk banget di sini. Udah selesaikan, Pa?"
"Iya, Nak sudah selesai rapatnya. Kamu bisa tinggal, tapi ingat jangan pulang sendiri."
"Siap, Pa. Gara udah tahu."
"Ya sudah kalau begitu. Kamu lakukan saja apa yang kamu inginkan. Hati-hati."
Anggara berlalu pergi menuju salah satu sudut ruang tempat dimana dirinya bisa menikmati pemandangan dan indahnya langit yang cerah. Sesekali Anggara memainkan ponselnya. Tanpa ia sadari jarinya mengklik galeri foto. Foto yang ia buka pertama kali adalah fotonya bersama Antika.
Anggara menatap lama foto itu. Bola matanya fokus menatap foto gadis cantik yang ada di sampingnya.
Tika di mana kamu sebenarnya, sayang? Sudah aku coba cari, tetapi nggak ketemu juga. Andai aja hp-mu masih aktif pasti akan lebih mudah menemukanmu. Aku kangen banget sama kamu Tika.
Anggara memandang kembali langit cerah yang menampakan suasana terang. Ia dapat melihat ke bawah dan di kejauhan begitu ramai orang berlalu lalang dengan aktivitasnya masing-masing. Pikiran nya Bun larut dalam lamunan.
Di sisi lain Aldri pun memperhatikan setiap gerakan Anggara. Pria berhidung mancung itu sangat penasaran dengan kehadiran putra Andika tersebut. Selama rapat berlangsung pemuda itu hanya diam dan memperhatikan. Aldri berpikir dia akan memberikan andil dalam rapat tersebut. Maka dari itu pemuda itu dihadirkan. Akan tetapi justru kehadirannya seolah ada hanya untuk melengkapi jumlah anggota rapat.
"Maaf, saya pamit ke toilet sebentar."
"Oh, ya, silakan." Andika menjawab dengan senyuman. Aldri pun membalas senyuman itu.
Senyum palsumu tidak akan dapat menghapus rasa benci ku padamu Andhika Pratama.
Aldri terlalu pergi menuju toilet. Di saat persamaan ia hampir saja menabrak Anggara. Pemuda itu meminta maaf terlebih dahulu.
Meskipun kamu anak dari seorang yang brengsek, tapi aku akui kamu sangat sopan dan ramah.
"Oh, Pak Aldri rupanya. Tolong maafkan kekhilafan saya, Pak." Anggara mengatupkan kedua tangannya untuk meminta maaf.
"Ah, sudah sudah. Saya tidak apa-apa." Aldri berkata sambil tersenyum.
"Bapak juga mau ke toilet?"
"Iya. Kamu juga?"
" Panggil saja Gara, Pak. Iya saya juga mau ke toilet."
"Oh, iya, Gara baik. Seperti nya kita sudah sama-sama tidak tahan ini makanya buru-buru."
"Betul sekali, Pak " keduanya pun tertawa bersama.
" Silahkan Bapak dulu."
"Baiklah.Terima kasih."
Keduanya bertemu kembali di wastafels toilet. Mereka saling senyum. Hal pertama yang membuat Aldri penasaran adalah pemuda ini, si Anggara terlihat sangat muda.
"Gara, berapa usiamu sekarang?"
"Usia saya 19 tahun, Pak. Saya baru lulus SMA di Surabaya. Kebetulan pindah ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah."
Jadi usianya sama dengan Antika. Dasar Andika bajingan.
"Kenapa Bapak tanya?"
"Oh, tidak apa-apa. Hanya saja saya merasa kamu masih muda sekali."
"Iya, Pak. Karena itu Papa meminta saya untuk belajar. Papa bilang kalau belajar itu membutuhkan waktu. Harus mulai dari nol. Jangan karena anak pemilik perusahaan lantas dengan gampangnya menguasai perusahaan. Gitulah Papa selalu disiplin."
Anggara tampak sekali sangat mengagumi papanya. Seandainya kamu tahu kalau papamu itu brengsek apa kamu akan tersenyum seperti itu? Aku akui Andika mendidik anaknya dengan baik. Bahkan, semua yang dia katakan sangat benar. Dunia bisnis sangat kejam jika tidak jeli dan berpengalaman luas sama saja dengan bunuh diri.
"Papamu benar sekali. Saya bangga dan senang ada anak muda yang memiliki semangat belajar yang tinggi. Semoga kelak kamu menjadi orang yang sukses seperti papamu."
"Aamiin. Terima kasih, Pak." Senyum tulus membingkai wajah Anggara begitupun Aldri.
"Ah, iya, kalau kamu mau silakan mampir ke kantor saya. Kita bisa belajar bersama."
"Wah, dengan senang hati, Pak. Terima kasih banyak."
Aldri mengeluarkan dompet dan memberikan sebuah kartu bertuliskan nama dan perusahaannya. Anggara menerimanya dengan senang hati. Rupanya memang benar hanya perasaannya saja yang berpikir negatif tentang Aldri dan Egi. Aldri seorang pria yang sangat baik. anggaran dapat merasakan kebaikan itu.
" Baiklah saya kembali dulu, Gara." Aldri menepuk-nepuk pundak Anggara. Kemudian iya segera pergi.