BL/BxB. Don't Copy!!!!
Rayyan Steven Mahendra meninggal tepat. dihari Pertama masuk SMA Setelah Pulang dari MPLS akibat tertabrak truk. Seluruh keluarganya hancur.
Seluruh Sekolah berkabung. Bahkan musuh bebuyutannya, Revan Devano Sanjaya, yang terkenal sebagai Preman Sekolah dan anak konglomerat, tidak Pernah lagi tersenyum Sejak hari itu. Setelah dikremasi, Orang-orang menangis dan Revan langsung tak bisa berdiri dia Merasa Pusing. Namun tujuh hari Kemudian Rayyan melintasi waktu, bagaimana bisa dia sudah di depan Pintu rumahnya, dia masuk rumah dan Semua keluarga Ketakutan dan ada yang tak menyangka Kejadian itu. Kemudian Rayyan beraktivitas Seperti biasa, Nenek dan Ibu Paling Senang dan Revan mendengar Kabar Rayyan Sangat Senang dan tersenyum entah mengapa hal itu terjadi Padanya!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Pulang
Bel panjang tanda berakhirnya hari terakhir MPLS bergaung keras di seantero SMA Mahardika High School. Suara itu seketika disambut oleh sorak-sorai riuh dari ratusan siswa baru yang memenuhi koridor. Wajah-wajah tegang yang selama tiga hari ini tertekan oleh aturan disiplin OSIS kini mendadak cerah. Mereka resmi menjadi bagian dari sekolah elite ini.
Di kelas X-1, Zidan langsung melompat dari kursinya, melemparkan topi bola plastiknya ke atas meja. "Bebas! Akhirnya gua bebas dari muka galaknya Kak Bianca!"
Nathael terkekeh, merapikan tas ranselnya yang setengah terbuka. "Gaya lu, Dan. Pas tadi disuruh baris paling depan aja lu gemeteran kayak anak ayam kemalingan."
"Sialan lu, Nael," gerutu Zidan, lalu beralih menatap Rayyan yang sedang memasukkan buku catatannya dengan tenang. "Ray, ikut nongkrong gak? Anak-anak kelas sebelah ngajakin ke kafe depan komplek. Katanya mau ngerayain hari terakhir penyiksaan ini."
Rayyan tersenyum tipis, menggeleng pelan. "Gua absen dulu deh hari ini. Badan gua agak lemes, mau langsung pulang aja."
"Lemes kenapa lu? Masih pegel gara-gara baku hantam basket kemarin?" tanya Jovian yang baru saja bergabung di meja mereka bersama Elvano.
"Enggak, cuma kurang tidur aja kayaknya," bohong Rayyan.
Sebenarnya, perasaan aneh yang menyerangnya semalam masih meninggalkan sisa-sisa kegelisahan di dadanya. Suhu tubuhnya hari ini terasa sedikit lebih dingin dari biasanya, membuat Rayyan harus memakai jaket hodie abu-abu di luar seragam sekolahnya untuk menghalau rasa menggigil yang samar.
"Yaudah kalau gitu. Tapi lu pulang naik apa? Sopir lu udah jemput?" tanya Zidan lagi.
"Belum, Pak Yanto baru bisa jalan setengah jam lagi. Makanya gua mau jalan kaki aja dulu ke depan gang, sekalian mau mampir ke minimarket. Pengen beli susu cokelat dingin, gerah banget," sahut Rayyan, menyampirkan satu tali tas ranselnya ke bahu.
"Oke deh. Jangan lupa kabarin kalau udah sampai rumah ya, anak emas," ledek Elvano sambil tertawa, menepuk bahu Rayyan pelan.
"Bawel lu. Duluan ya semua," pamit Rayyan, melangkah keluar dari kelas X-1 yang mulai sepi.
...****************...
Langkah kaki Rayyan menyusuri trotoar di luar gerbang sekolah. Matahari sore itu bersinar cukup terik, namun anehnya, Rayyan sama sekali tidak merasa gerah. Angin sepoi-sepoi yang berembus justru membuat tubuhnya semakin merinding di balik hodie tebalnya.
Saat berjalan melewati deretan pohon angsana di pinggir jalan, Rayyan mendadak merasakan firasat tidak nyaman yang sama seperti semalam. Bulu kuduknya berdiri tegak.
Ia menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh ke belakang.
Di seberang jalan, tidak jauh dari halte bus yang sepi, berdiri sebuah motor sport hitam tanpa plat nomor. Pengendaranya mengenakan jaket kulit hitam ketat dan helm full-face berwarna senada, membuat wajahnya sama sekali tidak terlihat. Orang itu tampak diam, duduk di atas motornya dengan pandangan yang lurus mengarah ke tempat Rayyan berdiri.
Rayyan mengernyitkan dahinya. Siapa sih? Anak buahnya Adrian lagi? batinnya curiga.
Namun, saat Rayyan mencoba menatap lebih jelas, pengendara motor hitam itu dengan cepat memutar gasnya dan melesat pergi menembus arus lalu lintas sore, meninggalkan kepulan asap tipis di udara.
Rayyan menghela napas panjang, merapatkan jaketnya. "Gua kayaknya beneran paranoid semenjak kejadian di gang kemarin," gumamnya pada diri sendiri, mencoba menepis pikiran buruk itu dan melanjutkan langkahnya menuju minimarket berlogo merah-biru di persimpangan jalan depan komplek.
...****************...
Di area parkir SMA Mahardika, Revan baru saja menaiki motor sport hitamnya. Ia memakai helmnya lambat-lambat, matanya secara tidak sadar menyapu jalanan di luar gerbang sekolah yang mulai lengang.
Dan di sana, ia menangkap sosok ramping berbalut hodie abu-abu yang sedang berjalan sendirian di atas trotoar.
Revan menghentikan gerakannya. Matanya terkunci pada punggung sempit Rayyan yang perlahan menjauh.
Kenapa tuh anak jalan kaki sendirian sore-sore gini? Mana sopir pribadinya yang biasanya selalu standby? pikir Revan, merasakan denyut jengkel yang familier di dadanya.
Ia menyalakan mesin motornya dengan satu sentakan keras. Revan perlahan melajukan motornya keluar dari gerbang, menjaga jarak aman di belakang Rayyan. Ia sempat berpikir untuk mempercepat motornya, berhenti tepat di sebelah Rayyan, dan melontarkan ejekan tajamnya yang biasa.
“Jalan kaki, Ray? Kasihan banget. Mau gua bonceng di belakang kayak karung beras?” atau “Mana sopir lu? Udah bosen ngurusin anak manja kayak lu?”
Namun, jemari Revan yang memegang tuas gas mendadak kaku. Setiap kali ia berniat mendekat, bayangan wajah pucat Rayyan sore kemarin di lobi sekolah saat menerima payung biru darinya kembali membayangi pikirannya. Ada gurat kelelahan yang teramat sangat di wajah cowok itu, membuat Revan merasa ada sesuatu yang tidak beres yang sedang disembunyikan Rayyan darinya.
"Sialan," umpat Revan rendah di dalam helmnya. Ia memutuskan untuk tidak memanggil Rayyan. Sebaliknya, ia membiarkan motornya melaju lambat di belakang, mengawasi musuh bebuyutannya itu dari kejauhan seolah ia adalah seorang pelindung yang tak kasat mata.
...****************...
Rayyan keluar dari minimarket dengan sekotak susu cokelat dingin di tangan kanannya. Ia menusukkan sedotan plastik kecil ke dalam kotak karton tersebut, lalu menyesapnya perlahan. Rasa manis dan dingin dari cokelat itu sedikit menenangkan debaran aneh di dadanya.
Ia melangkah mendekati persimpangan jalan besar yang membatasi area sekolah dengan gerbang masuk utama Maheswara Residence. Persimpangan ini biasanya sangat ramai oleh kendaraan, namun sore ini, lalu lintas terasa sedikit lengang karena sebagian besar pekerja kantor belum pulang.
Rayyan berhenti di tepi trotoar, menunggu lampu penyeberangan jalan berubah menjadi hijau untuk pejalan kaki.
Sambil menunggu, matanya tanpa sengaja melirik ke arah tiang beton tempat kamera CCTV jalan raya terpasang di sudut persimpangan. Lampu indikator hijau kecil di bawah lensa kamera yang biasanya berkedip tanda sedang merekam aktif, kini tampak mati total. Gelap tanpa kehidupan.
Rayyan tidak terlalu memikirkannya. Ia mengira itu hanya kerusakan teknis biasa dari fasilitas kota.
Klik.
Lampu penyeberangan berubah hijau. Rayyan melangkah turun dari trotoar, berjalan santai di atas garis-garis putih zebra cross sambil menikmati sisa susu cokelatnya.
Di saat yang sama, sekitar lima puluh meter di belakangnya, Revan menghentikan motornya di lampu merah. Matanya tetap tertuju pada punggung Rayyan yang kini berada di tengah-tengah persimpangan jalan.
Tiba-tiba, suara raungan mesin diesel yang sangat keras dan berat membelah keheningan sore dari arah jalan layang yang menurun tajam di sebelah kanan persimpangan.
Vrooooooom!
Sebuah truk kontainer besar berwarna hijau tua melaju turun dengan kecepatan yang sangat tidak wajar. Truk itu meluncur kencang, mengabaikan lampu lalu lintas dari arahnya yang sudah berwarna merah menyala.
Revan menoleh cepat ke arah sumber suara. Jantungnya mendadak berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dadanya.
Ada yang aneh dari pergerakan truk itu. Tidak ada suara decitan ban yang mencoba mengerem. Sebaliknya, yang terdengar adalah suara derak logam kasar yang saling beradu di bawah kolong truk seolah sang sopir sedang menekan pedal rem yang sudah tidak memiliki tekanan sama sekali. Remnya blong. Atau lebih tepatnya... sengaja dibuat tidak berfungsi.
Dan truk besar tanpa kendali itu mengarah lurus ke titik di mana Rayyan sedang berjalan.
"Rayyan!" teriak Revan kencang, namun suaranya langsung hilang tertelan oleh deru mesin truk yang menggelegar.
Mata Revan membelalak lebar saat menyadari Rayyan masih melangkah tenang di atas zebra cross, sama sekali tidak menyadari maut yang sedang melesat cepat ke arahnya dari sudut buta di sebelah kanannya.
"RAYYAN! AWAS, BEGO!"
Dalam kepanikan yang luar biasa yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya, Revan menarik tuas gas motornya dalam-dalam. Motor sport hitamnya melesat kencang memotong jalur lalu lintas, mencoba mencapai persimpangan jalan secepat mungkin. Air matanya hampir menetes di balik helm, dadanya sesak oleh rasa takut yang teramat sangat akan kehilangan sosok yang selalu ia benci namun diam-diam paling ia takuti jika menghilang dari dunianya.
Namun, jarak mereka terlalu jauh.
Laju truk hijau itu sudah terlalu dekat. Angin yang dibawa oleh kecepatan monster logam itu bahkan sudah mulai menerbangkan dedaunan kering di sekitar kaki Rayyan.
Satu detik terakhir.
Rayyan mendengas suara klakson bernada tinggi yang sangat melengking, memecah gendang telinganya dalam sekejap.
TIIIIIIIIIIIIIIIIIT!
Rayyan menghentikan langkah kakinya di tengah jalan. Kotak susu cokelat di tangannya mendadak terlepas, jatuh menghantam aspal dingin dan menumpahkan isinya yang berwarna cokelat pekat.
Rayyan memutar kepalanya perlahan ke arah kanan.
Hal terakhir yang ditangkap oleh matanya adalah dua lampu sorot besar yang menyilaukan, membutakan pandangannya dalam sekejap, diiringi oleh bayangan moncong truk besi raksasa yang sudah berada tepat satu jengkal di depan wajahnya yang memucat pasi.