Guru BK Itu Ternyata Jodohku

Guru BK Itu Ternyata Jodohku

Bab 1

​Senin.

​Satu kata yang selalu membuat semangat hidupnya runtuh seketika.

Nafisha, seorang siswi sekolah menengah umum, berlari menyusuri trotoar. Matanya sesekali melirik arloji di pergelangan tangannya. Seketika, matanya membelalak.

"Sepuluh menit lagi! Gila… telat parah. Mana jalanan macet, nggak mungkin juga naik mobil," ucap Nafisha, ia terus berlari dengan napas yang tersengal-sengal, mengabaikan rasa lelah yang mulai menusuk paru-parunya.

***

Sementara itu di sekolah, para murid sudah berbaris rapi di lapangan untuk upacara bendera. Rendi berdiri di barisan sambil celingukan.

“Ke mana ya Nafisha? Kok nggak kelihatan,” gumamnya heran.

***

Beberapa menit kemudian, Nafisha akhirnya tiba di depan gerbang sekolah. Sayangnya—gerbang itu sudah tertutup rapat.

Napasnya terhela lemas dengan wajah ditekuk. Menatap lesu ke arah pos satpam, lalu ia melangkah mendekat.

"Pak... saya mohon buka dong gerbangnya. Please...!" pinta Nafisha sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

Satpam itu menghela napas pelan. "Maaf ya, Neng. Nggak bisa, karena Neng sudah terlambat."

"Pak... please! Sekali saja kasih kesempatan. Saya janji nggak bakal ngulangin lagi,” rayunya sambil memelas.

Satpam itu hanya menggelengkan kepala, teguh pada peraturan.

​“Nanti saya traktir kopi. Rokok juga boleh. Atau… ya, uang,” ujar Nafisha mencoba bernegosiasi.

​"Neng, nggak boleh begitu. Itu namanya nyogok," balas satpam tegas tapi tetap sopan.

​Duh, susah banget sih satpam ini dirayu, batin Nafisha dengan muka ditekuk.

​Ia terdiam sejenak, mencoba memikirkan cara lain agar bisa masuk ke dalam sekolah. Namun, tatapan Nafisha seketika berubah. Dadanya terasa mengencang saat melihat seseorang berjalan tegap dari kejauhan menuju gerbang. ​Langkah itu terasa terlalu familiar.

​Duh, ngapain juga itu orang datang kemari, gumam Nafisha panik, jari-jemarinya saling mengait cemas.

​Andrea—guru BK paling ditakuti seantero sekolah—berjalan mendekat dengan tangan masuk ke dalam saku celana, wajahnya datar tanpa emosi.

​"Jangan dengarkan dia, Pak."

​Suara bariton itu adalah hal yang paling ingin Nafisha hindari di pagi hari ini.

​“Gerbangnya tutup. Jangan dibuka sedikit pun,” lanjut Andrea santai, tapi nadanya jelas tidak bisa dibantah, Sepasang matanya menghunus tajam ke arah Nafisha.

​Nafisha yang ditatap pun tertunduk resah. Namun, otak Nafisha langsung bekerja. Cepat. dan terdesak, sebuah senyuman langsung terbit di bibirnya.

“Pak Andrea,” ucap Nafisha manis, mengerahkan senyum level maksimal yang biasanya ampuh melunakkan hati orang.

Andrea menatapnya serius, bagai singa yang siap menerkam mangsa.

"Izin masuk, ya? Cuma ke toilet, kok," pinta Nafisha memelas, memasang gestur tubuh seolah sudah tidak tahan lagi. "Bapak enggak mau, kan, kalau aku kenapa-kenapa sampai harus kencing di sini?" rayu Nafisha, sangat yakin alasannya kali ini akan berhasil.

“Kamu bukan anak kecil yang tidak bisa menahan buang air,” jawab Andrea tegas. “Saya yakin kamu mampu menahan sampai upacara selesai.”

Nafisha membulatkan matanya. Hah? Sejam?! Lama amat sih! gerutunya dalam hati.

"Pak... tapi kan, menahan buang air kecil itu enggak baik bagi kesehatan. Bapak pasti sudah tahu ilmunya, kan?" ujar Nafisha, mencoba menyerang dengan logika.

“Saya tahu,” potong Andrea cepat. “Dan saya juga tahu mana yang benar-benar kebelet, mana yang sekadar alasan.”

Skakmat.

Nafisha terdiam. Bibirnya mengatup rapat, lehernya terasa tercekat. Lalu—seolah tidak terjadi apa-apa—ia menatap langit dan bersiul pelan.

Andrea hanya menggeleng melihat tingkah itu.

Pandangan Nafisha kembali menyapu sekitar, bergerak liar ke kanan dan kiri untuk mencari celah. Tatapannya tertuju pada barisan pohon di belakang sekolah. Senyum kecil kembali terbit di bibirnya. Ia melirik Andrea dan satpam sekilas, lalu perlahan memutar badan, bersiap melangkah tanpa suara.

"Berhenti!" teriak Andrea tepat saat Nafisha hendak mengambil ancang-ancang untuk berlari.

Nafisha menghentikan langkah secara mendadak. Ia menoleh perlahan dengan cengiran kaku, memperlihatkan deretan giginya.

"Jangan mencari jalan pintas, atau hukumanmu nanti akan saya buat jauh lebih berat!" tegur Andrea.

Nafisha menelan ludah dengan susah payah. Ia berdiri mematung. Kok dia bisa tahu ya kalau aku mau masuk lewat belakang? Apa dia seorang paranormal ya, pikir Nafisha sambil bergidik.

​Akhirnya, tidak ada lagi yang bersuara. Nafisha pasrah dan duduk di kursi panjang di depan pos gerbang, menunggu upacara selesai.

Hingga akhirnya, gerbang pun dibuka.

“Yes!” Nafisha mengepalkan tangan singkat. Ia langsung melangkah masuk sambil menunduk sesopan mungkin. “Terima kasih, Pak. Permisi, Pak Andrea.”

“Siapa yang menyuruh kamu langsung masuk?” Suara dingin Andrea kembali menginterupsi.

​Langkah Nafisha terhenti. Ia berbalik dengan kening berkerut. Memangnya ada jalan lain selain lewat sini? pikirnya bingung.

"Ikut saya! Kamu tetap harus menerima hukuman atas keterlambatanmu," ujar Andrea, langsung berjalan mendahuluinya.

Nafisha kembali tercengang.

Hah? Bukannya nunggu sejam itu udah cukup sebagai hukuman?, Nafisha menggerutu dalam hati.

Oh Tuhan, tolonglah aku! Bebaskan aku dari orang ini, batin Nafisha.

Tidak lama kemudian, Nafisha sudah berada di dalam ruang BK. Ia meletakkan tasnya di atas kursi dan berdiri kaku di tengah ruangan yang sunyi. Terlalu sunyi.

Andrea berdiri membelakanginya, membuka sebuah map cokelat di atas meja kerja. Tangannya bergerak pelan, seolah sengaja membuat waktu terasa lebih lama. ingin menyiksa Nafisha dengan waktu yang terasa berjalan merangkak. Nafisha menelan ludah. Dalam benaknya, hukuman klasik seperti membersihkan toilet sudah menanti.

Akhirnya, Andrea memberikan secarik kertas kepada Nafisha. Ia perlahan menerimanya, lalu membulatkan mata saat membaca tulisan di sana.

“Kenapa?” Andrea menyeringai tipis. “Mau mengubah hukumanmu jadi membersihkan toilet?”

"Tidak. Ini saja," tolak Nafisha cepat. Ia tidak ingin guru di depannya ini berubah pikiran karena membersihkan buku di perpustakaan tentu terasa jauh lebih ringan.

"Cepat kerjakan. Jika tidak selesai, akan saya tambah dengan tugas membersihkan toilet," ujar Andrea tegas.

Dengan langkah tergesa dan penuh kemenangan, Nafisha keluar dari ruang BK menuju perpustakaan. Matanya berbinar-binar menatap kertas tugas itu. Ia mengepalkan tangan ke atas. "Yess!"

Wajahnya dipenuhi senyum kegirangan, berjalan dengan sedikit melompat-lompat kecil seperti anak-anak yang mendapat hadiah. Setibanya di depan perpustakaan, ia menarik napas panjang dan mendorong pintu kayu tersebut

Namun, begitu daun pintu perpustakaan terbuka, senyuman di wajah Nafisha langsung memudar. Puluhan pasang mata di dalam ruangan yang sunyi itu seketika tertuju padanya. Ada yang menatapnya datar, ada pula yang terang-terangan melemparkan pandangan sinis—meremukkan seluruh ekspektasi ringannya dalam sekejap. Ternyata, kelasnya sedang mengadakan jam pelajaran kelompok di sini.

Dadanya mendadak sesak, tubuhnya terasa lemas. Ia merasa dijebak. Hukuman ini bukan membebaskannya dari kelelahan fisik, melainkan mempermalukan harga dirinya di depan semua orang.

Meski begitu, Nafisha memaksakan kakinya untuk tetap melangkah masuk. Di sudut ruangan, Rendi menatapnya dalam diam.

Tidak lama, Andrea berjalan memasuki ruangan perpustakaan. Kehadirannya menjadi pusat perhatian. Nafisha yang masih berdiri kaku menatap tajam ke arah guru itu yang kini melangkah menuju meja pustakawan. Andrea berbisik pada pustakawan. Percakapan itu mengundang lirikan penasaran dari beberapa siswa.

Setelah Andrea keluar, Bu Rini, sang pustakawan, memanggil Nafisha dan menyerahkan secarik kertas yang baru saja ditulisnya. Di sana tertera pesan:

“Nafisha, ini pesan dari Pak Andrea. Kerjakan tugas kelompok terlebih dahulu. Begitu bel istirahat berbunyi, barulah kamu laksanakan hukumanmu."

Nafisha membelalakkan mata. Napasnya terhela kasar menahan geram yang bergejolak di dada. Ingin rasanya ia berteriak dan menjambak rambut guru menyebalkan itu.

Tepat saat itu, perutnya mendadak berbunyi nyaring, memecah keheningan di antara mereka. Sial, dia lapar, dan Pak Andrea baru saja merenggut satu-satunya waktu istirahat yang ia miliki.

"Kamu mengerti, Nafisha?" tanya Bu Rini, memperhatikan siswi di depannya yang mematung.

Nafisha tersentak.

"I-iya, saya mengerti, Bu," jawabnya gugup.

“Kalau begitu, segera bergabung dengan teman-temanmu dan cari kelompok.”

Nafisha melangkah gontai. Ia memutuskan menghampiri meja Rendi. “Ren, gue gabung kelompok lo, ya?” pintanya pelan.

Rendi baru saja membuka mulut untuk menjawab, tetapi Vania langsung memotong dengan cepat. “Kelompok kita sudah penuh. Cari kelompok lain sana,” usir Vania dingin.

Nafisha menatap tajam ke arah Rendi yang hanya diam, lalu beralih ke kelompok lain.

“Penuh. Kita enggak mau sekelompok sama cewek preman kayak lo,” ujar Tina—sahabat Vania—meskipun ia berada di kelompok yang berbeda, sengaja memprovokasi.

Nafisha mencoba peruntungan di kelompok berikutnya, namun hasilnya sama. “Maaf, Nafisha. Sudah penuh.”

Langkah Nafisha terhenti. Matanya menyapu seisi ruangan, merasakan penolakan yang nyata.

“Gabung sini aja, Naf. Masih kosong satu,” seru Reksa memecah kecanggungan.

Nafisha tersenyum getir. Namun, kakinya masih melangkah mendekati meja Reksa. Ia mulai duduk dan mengerjakan tugas dengan bahu merosot lesu dan bibir mengerucut.

Hari yang buruk. Sudah terlambat, tidak ada jam istirahat, ditambah harus satu kelompok dengan orang-orang macam ini. Malah cengengesan lagi. Ih! keluh Nafisha dalam hati.

Matanya sesekali melirik sinis ke arah Rendi. Teman macam apa dia?

Huft!

Suara embusan napas frustrasi lolos begitu saja dari mulutnya. Ia berusaha fokus meskipun sulit. Tak terasa, bel istirahat akhirnya berbunyi nyaring, menandai berakhirnya jam pelajaran pertama.

“Ayo, Naf… istirahat bareng gue,” ajak Reksa sambil berkemas dan berdiri.

Nafisha menggeleng pelan.

“Terima kasih, Reksa,” tolaknya singkat.

Reksa tidak memaksa. Ia pergi bersama teman-temannya yang lain, meninggalkan Nafisha sendirian di sudut ruangan. Nafisha pun beranjak, memulai hukumannya untuk menyusun buku ke rak.

Saat suasana perpustakaan mulai sepi, Rendi berjalan menghampiri meja Nafisha. “Ayo Naf, kita ke kantin,” ajak Rendi lembut, raut wajahnya menyiratkan rasa bersalah yang kentara.

Nafisha tidak menjawab. Ia mengabaikan cowok itu dan sibuk memasukkan buku-buku ke dalam rak.

“Naf… lo marah, ya? Maaf, Naf. Bukan gue yang buat anggota kelompok, gue cuma diajak,” ujar Rendi lirih. Ia menghela napas, lalu melanjutkan, “Ayolah, kita istirahat. Lo punya maag—kalau telat makan, nanti perut lo perih.”

Nafisha tetap bergeming. Tangannya bergerak lihai, menata buku demi buku dengan kasar di rak.

Tiba-tiba, suara ketukan sepatu menggema di ruangan sunyi itu.

“Nafisha,” tegur Andrea dengan suara sedingin es, “kamu sedang saya hukum. Kenapa malah pacaran?”

Perkataan itu spontan membuat gerakan tangan Nafisha terhenti. Rendi pun langsung terdiam dengan wajah tertunduk, jari-jemarinya saling bertautan cemas.

Andrea melirik Rendi tajam.

“Rendi, kenapa kamu masih di sini? Nafisha sedang menjalani hukumannya,” tegur Andrea lagi.

Tanpa berani mengangkat wajah ataupun mengucapkan sepatah kata pun, Rendi langsung berbalik dan melangkah pergi meninggalkan perpustakaan.

"Cepat kerjakan, saya beri waktu hanya sepuluh menit dari sekarang," ucap Andrea sebelum akhirnya berbalik pergi.

Nafisha melirik punggung Andrea dari balik lemari tinggi. Ia mengepalkan tinjunya ke udara, mengarahkannya ke punggung sang guru dengan kesal. Mulutnya berkomat-kamit, menirukan gerakan bibir Andrea dengan gaya mengejek.

Akhirnya, Nafisha menghela napas panjang dan memasang headset di kedua telinganya, menyalakan musik dengan volume tinggi. Badannya bergoyang kecil mengikuti ritme lagu sambil tersenyum, berusaha menikmati sisa hukuman ini sendirian.

Namun, saat tangannya hendak menyisipkan sebuah buku tebal ke rak atas, mendadak tubuhnya tersenggol keras dari samping.

Bruk!

Buku-buku di tangannya terjatuh ke lantai menimbulkan suara benturan yang nyaring.

"Aww!" keluh Nafisha mengerang kesakitan, memegangi lengan atasnya yang bergesekan keras dengan sudut tajam lemari kayu.

Nafisha langsung menoleh tajam ke arah orang yang menyenggolnya.

Vania!

"Ups, sorry," ucap Vania. Bibirnya melengkung, membentuk seringai tipis yang sarat akan kelicikan.

"Sengaja lo, ya?!" teriak Nafisha murka, tangannya bergerak cepat hendak meraih kerah seragam Vania.

Bukannya takut, Vania justru memajukan tubuhnya, menantang Nafisha secara terang-terangan. "Berani? Pukul saja kalau berani," ledek Vania sambil mengangkat kedua alisnya dengan senyum meremehkan.

Nafisha menghentikan gerakannya di udara. Ia tahu, satu pukulan saja akan membuatnya dikeluarkan dari sekolah oleh Pak Andrea. Ia mengurungkan niatnya, perlahan menurunkan tangannya kembali.

“Ngapain kamu masih di sini? Bukannya ini jam istirahat?” ledek Vania lagi. Ia memukul pelan jidatnya sendiri, berpura-pura baru mengingat sesuatu. “Ups… gue lupa. Kamu kan lagi kena hukuman, ya?”

Tanpa berniat membantu memungut buku yang berserakan, Vania berbalik dan melenggang pergi begitu saja dengan tawa tertahan.

Nafisha menatap punggung Vania yang perlahan menjauh keluar perpustakaan. Jari-jemarinya mengepal begitu erat hingga memutih.

"Gue udah sabar dari tadi."

"Tapi kalau lo pikir gue bakal diam terus..."

Nafisha tersenyum tipis, sorot matanya berubah dingin.

"Lo salah orang."

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!