NovelToon NovelToon
The Reasons

The Reasons

Status: tamat
Genre:Angst / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik gemerlapnya Los Angeles, Lara Giger (24) terjebak dalam neraka pernikahan bersama suaminya yang posesif dan manipulatif, Billy Davidson (29). Setiap malam tubuhnya disiksa, namun Lara memilih pasrah.
Alih-alih melarikan diri, Lara memilih bertahan di bawah siksaan suaminya demi menghindari caci maki keluarga besarnya yang sejak lama melabelinya sebagai "Anak Sial" dan pembawa petaka jika ia bercerai.

Namun, rahasia masa lalu perlahan mengusik belenggu pernikahan itu.

Di universitas tempatnya belajar, Lara harus berhadapan dengan Darion Vale Knight (25), dosen hukum muda sekaligus pria masa lalu yang memegang komitmen dengannya.

Darion, yang menyadari luka-luka fisik dan batin Lara, bertekad menggunakan keadilan hukum untuk membebaskannya. Sementara itu, Lara terus berjuang mendorong Darion menjauh demi melindunginya dari "kesialan" dirinya.

Di antara jeratan obsesi kejam sang suami dan perlindungan tulus sang mantan kekasih, mampukah Lara merobek sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#12

Malam itu, kondominium mewah di Downtown Los Angeles terasa bagaikan sebuah makam yang dilapisi marmer dan kaca.

Keheningan yang menyelimuti ruang tengah terasa pekat, berbahaya, dan sarat akan ketegangan yang tinggal menunggu pemantik untuk meledak.

Billy Davidson baru saja melangkah masuk melalui pintu utama.

Pria itu menanggalkan jas mewahnya, melonggarkan dasi yang menyekik lehernya, lalu mengembuskan napas panjang seolah-olah seluruh beban dunia berada di atas pundaknya. Wajahnya menampilkan raut keletihan yang dibuat-buat, raut wajah seorang pria pekerja keras yang pulang ke rumah untuk mencari ketenangan dari sosok istri yang penurut.

Namun, ketenangan itu tidak ada malam ini.

Lara duduk di atas sofa kulit hitam di tengah ruangan. Ia tidak menyambut Billy dengan senyuman manisnya yang terlatih. Ia tidak berdiri untuk membukakan jas suaminya, tidak pula menanyakan bagaimana harinya berjalan.

Lara hanya duduk mematung, memangku kedua tangannya dengan tatapan mata yang dingin dan lurus menatap pria yang baru saja melangkah mendekatinya.

Billy mengerutkan keningnya, menangkap aura keberadaan yang berbeda dari istrinya. Sesuatu di dalam jiwa Lara malam ini terasa asing dan menantang, mengikis kepatuhan mutlak yang selama dua tahun ini menjadi makanan sehari-hari Billy.

"Kenapa belum tidur, honey?" tanya Billy dengan nada suara rendah yang mencoba tetap hangat, meski keningnya berkerut penuh kecurigaan. "Aku sudah bilang padamu untuk tidak menungguku jika aku pulang terlambat."

Lara tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan cara Billy berjalan, cara pria itu merapikan kerah kemejanya, dan aroma parfum mahal yang berbaur dengan sisa-sisa jejak yang Lara tahu betul darimana asalnya.

Sebuah senyuman tipis—dingin dan penuh kepahitan—terukir perlahan di bibir Lara.

Topeng istri patuh yang digunakannya selama ini mendadak terasa terlalu berat untuk dipertahankan. Setelah apa yang ia lihat di seberang jalan siang tadi, rasa takut di dalam diri Lara menguap, digantikan oleh keberanian nekat yang merusak akal sehat.

"Bagaimana kabar kakak ipar hari ini, Billy?" tanya Lara pelan. Suaranya mengalir begitu tenang, namun setiap katanya memotong keheningan ruangan bagaikan sembilu.

Billy menghentikan langkahnya seketika. Tangannya yang sedang membetulkan kancing kemeja membeku di udara. Pria itu menoleh tajam, menatap Lara dengan tatapan mata yang menyipit. "Apa maksudmu bertanya seperti itu?"

Lara bersandar pada sandaran sofa, menyilangkan kakinya dengan penuh keanggunan yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Tatapan matanya yang polos kini berkilat penuh dengan ancaman, seolah-olah sang anak sial baru saja mengeluarkan taringnya yang selama ini tersembunyi.

"Aku hanya bertanya," sahut Lara datar, bibirnya mengukir senyuman sinis. "Oh, dan... kau jangan lupa selalu memakai pengaman yang kubelikan kemarin saat kau bersamanya. Agar kakak iparmu tersayang itu tidak hamil."

Deg.

Udara di dalam ruangan itu seolah tersedot keluar dalam sekejap. Wajah Billy menegang keras, warna kulitnya memucat sebelum perlahan berubah menjadi merah padam oleh dorongan rasa terkejut dan amarah yang mendadak bangkit.

Lara tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan kalimatnya dengan nada menyindir yang teramat santai, memancing iblis di dalam diri suaminya untuk keluar dari persembunyian.

"Aku sungguh khawatir jika Catalina hamil tanpa suami. Lagipula, kenapa tidak kau nikahi saja dia sekalian, Billy? Bukankah kau sudah sangat telaten menjalankan peran sebagai 'pengganti' mendiang kakakmu di atas ranjangnya?"

"Lara!" bentak Billy, suaranya menggelegar menghantam dinding-dinding kondominium.

Billy terkejut bukan main. Pria itu melangkah maju dua langkah dengan napas memburu, matanya membelalak menatap istrinya seolah-olah Lara baru saja berubah menjadi sosok monster yang tak dikenalnya.

Rahasia tergelap yang selama ini ia tutup rapat-rapat dengan narasi kebaikan dan tanggung jawab keluarga, baru saja dilempar tepat di depan wajahnya oleh wanita yang ia anggap tak berdaya.

"Siapa yang memberitahukan omong kosong itu padamu?!" bentak Billy lagi, dadanya naik turun dengan liar. "Berita sampah dari mana lagi yang kau dengar dan kau percayai, Lara?! Apa kau sudah gila?!"

Billy mencoba mengontrol emosinya, melangkah mendekat untuk mencengkeram bahu Lara, mencoba menegakkan kembali dominasinya. Namun Lara menepis tangan suaminya dengan satu gerakan kasar—sebuah pembangkangan terang-terangan yang belum pernah terjadi selama pernikahan mereka.

Billy mengepalkan tangannya di udara, matanya berkilat penuh dengan kepanikan yang ditutupi oleh kemurkaan. "Dengarkan aku, Lara! Aku mencintaimu! Hanya kau istriku! Jangan mulai membahas hal-hal konyol dari luar yang hanya akan membuatmu tambah stres dan merusak hormonmu! Masuk ke kamar dan tidurlah sekarang!"

Lara berdiri dari sofanya. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Billy yang berkilat liar.

Senyuman di wajah Lara semakin melebar, sebuah senyuman penuh kebinasaan yang mengejek ketakutan suaminya.

"Kau mencintaiku?" bisik Lara, lalu terkekeh geli—sebuah tawa kaku yang terdengar sangat mengerikan di dalam ruangan sepi itu.

"Jangan membual di depanku, Billy. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri siang tadi. Di seberang jalan, di dalam mobil Rolls-Royce milikmu... bagaimana kau merengkuh lehernya dan bagaimana kau melumat bibirnya dengan begitu bernafsu."

Wajah Billy makin memucat, namun tatapannya mendadak berubah menjadi sangat berbahaya.

Lara mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Billy dari jarak beberapa sentimeter saja, melayangkan ancaman paling nekat yang pernah terlintas di dalam otaknya.

"Dengar baik-baik, Billy," desis Lara dengan suara yang teramat dingin. "Jika kau kembali menemui Catalina dalam waktu dekat... jika kau menyentuhnya lagi... maka kita harus impas. Kau tidur dengannya, maka aku akan tidur dengan pria lain."

PLAK!!

Tamparan keras mendarat telak di pipi kiri Lara sebelum kalimat itu selesai bergema di udara. Saking kerasnya pukulan itu, tubuh mungil Lara terlempar ke samping, menghantam sudut meja kayu sebelum akhirnya tersungkur di atas lantai marmer yang dingin.

Sudut bibirnya pecah seketika, mengalirkan darah segar yang membasahi dagunya.

Kegilaan Billy Davidson memuncak malam itu.

Ancaman Lara bahwa wanita itu akan menyerahkan tubuhnya kepada pria lain menghantam titik paling sensitif dari ego dan obsesi posesif Billy yang sakit.

Pria itu kehilangan seluruh akal sehatnya. Bayangan bahwa milik-nya akan disentuh oleh tangan asing membuat iblis di dalam dirinya mengamuk tanpa kendali.

"Kau mau tidur dengan pria lain, hm?!" erang Billy dengan suara yang mirip erangan binatang buas.

Billy melangkah maju, mencengkeram rambut panjang Lara dengan kasar dan menariknya berdiri hingga kepala Lara terdongak ke atas.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Lara untuk bernapas, Billy melayangkan tinjunya bertubi-tubi ke arah perut dan rusuk istrinya.

BUGH! BUGH! BUGH!

"Kau milikku, Lara! Kau milikku sampai kau mati!" jerit Billy keras, kembali menghantamkan pukulannya ke tubuh Lara yang terhuyung tanpa daya.

Lara mengerang kesakitan, rasa nyeri yang luar biasa menjalar dari perutnya, meremukkan rusuknya, dan membakar seluruh sarafnya.

Namun malam ini, Lara tidak memohon ampun. Ia tidak menangis menjerit-jerit seperti biasanya. Lara justru menatap Billy dengan mata yang memerah penuh kebencian, membiarkan tubuhnya menjadi samsak tinju atas kegilaan suaminya.

Billy mendorong tubuh Lara hingga wanita itu kembali terjerembap ke lantai dekat vas bunga besar. Vas kaca itu jatuh dan pecah berkeping-keping, menaburkan pecahan tajam di sekitar tubuh Lara yang merintih pelan.

Billy berdiri di atas tubuh istrinya yang terkulai, napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan hembusan angin amarah yang membakar.

Dalam puncak kegilaannya, rasa frustrasi dan kerapuhan ego Billy akhirnya memaksa pria itu untuk melontarkan pengakuan yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng kesempurnaannya.

"Aku sama sekali tidak mencintai Catalina!" jerit Billy dengan suara parau, menunjuk ke arah pintu luar dengan tangan yang gemetar hebat. "Demi Tuhan, Lara! Aku tidak punya perasaan apa pun padanya! Catalina yang membutuhkanku! Dia wanita Lemah yang terus menerus memohon bantuan padaku!"

Billy berlutut di atas lantai marmer, mencengkeram kedua bahu Lara dengan sangat kuat, menarik tubuh rapuh yang berdarah itu agar menatap wajahnya yang dipenuhi amarah dan keputusasaan.

"Dan kau..." bisik Billy dengan nada menuduh yang kejam, matanya membelalak menatap Lara. "...dirimu sendiri yang membuatku seperti ini! Kau yang tidak bisa melayani kebutuhan biologisku selama tiga bulan ini! Kau selalu beralasan menstruasi dan stres! Aku ini suamimu, Lara! Aku punya kebutuhan! Jika kau tidak bisa melayaniku, kenapa—"

"Kau berselingkuh, brengsek!!!" jerit Lara memotong kalimat Billy dengan sisa-sisa tenaga yang ada di dalam paru-parunya.

Darah mengalir dari sudut bibirnya, menetes ke atas lantai marmer putih, namun tatapan mata Lara memancarkan kemurkaan yang tak kalah dahsyat dari Billy. Suaranya melengking tinggi, memecahkan seluruh kepalsuan pembelaan diri suaminya.

"Itu berselingkuh, Billy! Apa pun alasan busuk yang kau susun di dalam kepalamu, kau telah berselingkuh!" teriak Lara, air mata kemurkaan akhirnya menetes membasahi pipinya yang memar. "Kau tidur dengannya! Kau menciumnya! Kau menghianati pernikahan ini!"

Kata 'pengkhianat' yang diucapkan Lara bagaikan pisau yang menancap tepat di pusat kegilaan Billy. Pria itu membeku seketika. Pembelaan diri yang dibangunnya selama berbulan-bulan bahwa ia hanya 'menjalankan tanggung jawab keluarga' baru saja dihancurkan secara total oleh kata-kata telanjang istrinya.

Billy menatap Lara dengan pandangan yang kosong dan mengerikan.

Cengkeramannya di bahu Lara melonggar perlahan. Keheningan yang lebih mencekam dari sebelumnya kembali jatuh melingkupi kondominium mewah itu, disaksikan oleh darah yang menetes dan pecahan kaca yang berserakan—menjadi saksi bisu runtuhnya secara total fondasi pernikahan mereka yang penuh dengan racun dan kebohongan.

1
Mita Paramita
jangan seneng dan bahagia dulu lara🫣 mungkin aja nanti Billy kabur dari penjara terus menculik dan memisahkan lara & dorian🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: kak reader paling bisa deh🤭🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Takut banget billy kabur, trus menyakiti lara,, 😬
FoxVault
Cerita nya sangat seru kak 😁
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
Mia Camelia
kenapa kisah cinta keluarga knight selalu ber liku liku berkelok kelok meliuk liuk🤔🤔🤔
jadi gemes nih baca nya thor
Rosdianah 🌷: hihihi maaf ya kak🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
keluarga knight , sukses semua ya thor...
ada pebinis, pembalap, doesen muda🥰🥰🥰kalo ini ada di dunia nyata, pasti sempurna banget nih🤔😄
Rosdianah 🌷: Lancar halu Author 🤣
total 1 replies
Mia Camelia
jangan2 billy punya 2 kepribadian kali nih🤔🤔🤔masa gampang banget berubah2 nya🤣🤣🤣haduh kasian lara😔
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
ya ampun ini kejam sekali billy😂😂😂
Rosdianah 🌷: Modal gampar🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!