Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana yang Gagal
Sebelumnya mobil yang Luna naiki melaju perlahan sebelum akhirnya berhenti sepenuhnya di depan lobi hotel. Sebelum turun Luna lebih dulu menghela napas untuk meredam kegugupannya.
Pintu mobil bergeser membuka. Luna turun dari mobil dengan perlahan dan penuh keanggunan. Angin malam langsung menyambutnya.
Luna kembali merasa gugup saat melihat banyak tamu yang datang salah satunya artis idolanya. Mereka datang dengan pakaian terbaik mereka.
Melihat itu, rasa percaya diri Luna mulai memudar.
"Luna, jangan gugup. Kamu pasti bisa," ucap Luna di dalam hatinya mencoba memberikan semangat pada dirinya sendiri.
Ia mulai melangkah, perlahan tetapi tidak menghilangkan keanggunannya.
Masuk ke ballroom tatapan semua orang mulai beralih padanya. Sorot kamera wartawan mulai mengarah ke arahnya.
"Nona, boleh minta satu foto?" tanya salah satu wartawan.
Luna mengangguk pelan. Ia mulai berpose dan berusaha untuk tetap rileks.
Rupanya hal itu menarik perhatian banyak orang.
"Siapa wanita itu?"
"Pakaiannya sangat berkelas."
"Iya, barang-barang yang dia pakai semuanya keluaran terbaru dan jelas limited edition.
"Cantik dan elegan sekali."
"Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi di mana ya?"
Beberapa orang berhenti membicarakannya hanya untuk memerhatikannya. Luna sendiri mulai menyadari bahwa dirinya telah menjadi pusat perhatian. Ia merasa senang, tetapi juga membuatnya semakin gugup.
Di kerumunan tamu, Vanessa terlihat kesal. Berbeda sekali dengan rekan kerjanya yang lain. Mereka mulai memuji penampilan Luna malam itu.
"Kenapa aku justru menjadi insecure melihat istrinya pak Raka?"
"Sama aku juga."
"Lihat tuh gaun dan perhiasan yang dia pakai?"
Spontan Vanessa melihat ke arah Luna. Ia tidak menduga jika Luna akan tampil seperti wanita berkelas.
Bayangan-bayangan Luna dipermalukan menghilang begitu saja.
Kemarahannya kian memuncak saat melihat gaun, tas, sepatu, dan perhiasan yang dipakai oleh Luna. Semuanya barang-barang branded yang susah ia dapatkan. Akan tetapi Luna mampu mendapatkannya.
"Sialan, dari mana Luna mendapatkan semua itu?"
Tidak berselang lama, langkah Luna semakin dekat dengan Vanessa dan yang lainnya. Hanya mereka yang cukup Luna kenal. Ia lantas berhenti di depan Vanessa dan teman-temannya. Vanessa dengan segera mengubah ekspresinya.
"Hai, selamat malam," sapa Luna.
"Hai, Nyonya," balas salah satu perempuan sambil tersenyum canggung. "Nyonya cantik sekali."
Luna tersenyum. "Panggil saja aku Luna. Jangan terlalu formal padaku."
Beberapa perempuan itu tersenyum bodoh dengan menunjukkan deretan giginya. Namun ada pula yang mencibir. Luna mencoba untuk tidak terpancing.
"Kamu cantik sekali," puji salah satu perempuan.
Pujian itu seketika membuat Vanessa kesal. Diam-diam ia meremas ujung gaunnya. Namun mencoba untuk mempertahankan senyumnya di depan semua orang.
"Iya, Luna. Kamu berbeda sekali malam ini," imbuh Vanessa.
"Terima kasih. Tapi aku masih kalah cantik darimu," balas Luna mencoba merendah.
Vanessa tersenyum, meski sedikit dipaksakan.
"Oh iya … pakaian, perhiasan dan barang-barang yang kamu pakai semuanya keluaran terbaru dan limited edition," ucap Vanessa. "Apa Raka yang membelikannya?"
Luna menggeleng. "Papa mertuaku yang memberikannya untukku."
"Om Bara?" tanya Vanessa.
Luna mengangguk pelan.
Vanessa mengepalkan tangannya di balik tubuhnya, amarahnya serasa sudah menembus ubun-ubun. Namun ia tidak bisa melampiaskannya di depan semua orang. Pada akhirnya Vanessa memilih untuk pergi.
"Aku ke toilet dulu." Vanessa pergi tanpa mengatakan apa pun lagi.
Wanita itu terus melangkah dengan amarah yang mulai menguasai dirinya. Di tengah jalan, ia menabrak seorang wanita hingga membuat wanita itu nyaris terjatuh. Namun bukannya meminta maaf, Vanessa justru memaki wanita itu lalu pergi begitu saja.
"Dasar wanita gila," maki wanita itu.
Vanessa mendengar, ia menghentikan langkahnya, berbalik dan mengacungkan jari tengahnya. "Fuck you."
Ia lalu kembali melangkah.
BRAK!
Vanessa membuka pintu toilet dengan cukup keras, membuat beberapa wanita di dalamnya terkejut. Mereka spontan menoleh ke asal suara.
"Bisa pelan-pelan tidak?"
Vanessa lantas menatap wanita itu dengan tatapan tajam hingga membuat matanya nyaris keluar.
"Diem kalian!" ucap Vanessa pelan tapi penuh tekanan. "Lebih baik kalian pergi dari sini!"
"Apa sih! Ini tempat umum. Kamu tidak berhak mengusir kami!"
PLAK!
"Tutup mulutmu!" Vanessa lantas menarik salah satu wanita itu, menyeretnya keluar dari toilet.
Sementara wanita yang lain mengikuti dan memilih untuk pergi dari pada berurusan dengan Vanessa. Bukan karena takut, mereka lebih memilih pergi lantaran malas menghadapi Vanessa yang sudah seperti orang kehilangan akal.
Sementara itu Luna masih berbincang dengan desainer-desainer di perusahaan Raka. Sesekali ia melihat sekeliling mencari keberadaan sang suami dan juga Bara. Namun sejauh matanya memandang ia tak menemukan sosok Bara, hanya Raka yang terlihat sedang berbincang dengan beberapa orang pria.
Tidak lama ia merasakan sentuhan di pundaknya. Ia spontan menoleh, sang suami kini berada di sampingnya. Luna hanya tersenyum penuh keterpaksaan melihat sang suami. Ia masih kesal padanya lantaran meninggalkannya lagi.
"Wah, Pak Raka sudah datang. Kalau begitu kami pergi dulu," ucap salah satu wanita disambut anggukkan wanita yang lainnya.
"Kami pergi dulu ya."
"Daah, Luna, Pak Raka."
Luna tersenyum sambil mengangguk, begitu juga dengan Raka, pria itu melakukan hal yang sama.
Suasana di antara mereka menjadi hening. Luna pun memilh untuk melihat ke arah lain.
"Kenapa tidak memakai gaun dan perhiasan yang aku berikan?" tanya Raka, ia meraih lengan Luna. Suaranya sengaja dibuat rendah agar hanya Luna yang mendengarnya.
Luna mendengkus sebelum melihat ke arah Raka, menatap pria itu dengan dingin. "Apa kamu ingin mempermalukan aku dengan gaun seksi dan perhiasan palsu itu?"
Kening Raka berkerut. "Palsu?"
Luna kembali mendengkus. "Aku merasa aneh jika kamu tidak tahu jika itu perhiasan palsu."
Ia lalu kembali membuang muka. "Kamu benar-benar tidak tahu? Atau sengaja tidak ingin tahu?"
Nada bicara Luna terdengar dingin membuat Raka merasa ada yang aneh dengan istrinya malam itu.
"Sungguh, aku benar tidak tahu. Perhiasan itu dari …" Raka mengumpat di dalam hatinya, ia nyaris mengatakan pada Luna jika Vanessa yang memilihkan gaun dan perhiasan itu.
"Dari apa?" tanya Luna. "Dari orang lain?"
Raka terdiam.
Luna kembali melihat ke arah Luna. Tatapannya kali ini lebih dingin. "Jadi bukan kamu yang membelikannya untukku?"
"Luna …"
"Kamu begitu mempercayai temanmu hingga tidak memeriksanya lagi?"
Raka terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Lagi dan lagi, ia harus berbohong kepada Luna.
"Aku sungguh minta maaf. Lain kali aku akan membelikan yang lebih bagus dari ini."
Luna kembali diam. Ia semakin muak dengan sang suami.
"Lagi pula." Raka menyentuh dagu Luna, meminta agar wanita itu melihat ke arahnya. "Kamu terlihat berbeda. Kamu sangat cantik."
"Jadi … jangan marah. Cantikmu akan hilang nanti," imbuh Raka.
Bukannya merasa senang, Luna justru merasa semakin muak. Entah memiliki keberanian dari mana, Luna menepis tangan Raka lalu kembali menoleh ke arah lain.
Raka terdiam sambil melihat tangannya. Malam ini Luna benar-benar berbeda, bukan lagi hanya perasaannya saja.
"Luna, kamu kenapa? Kenapa sikapmu jadi seperti ini padaku?" bisik Raka.
Luna terdiam tanpa melihat ke arah Raka dan tidak berminat untuk menjawab pertanyaan dari sang suami.
"Luna, lihat aku?"
Lagi, Raka menyentuh dagu Luna dengan lembut. "Aku tahu kamu marah padaku karena masalah pakaian dan perhiasan itu."
"I'm so sorry."
Tidak ada respon dari Luna, membuat Raka menghela napas panjang.
"Apa yang kamu mau dariku agar kamu memaafkanku?"
"Kamu pikir hanya karena masalah itu?"
"Lalu apa, Luna."
"Aku tidak mau membahas masalah ini di sini."
"Luna." Raka menarik tangan Luna dan memaksanya untuk melihat ke arahnya.
Tindakan Raka membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka.
"Lepas," bisik Luna.
"Tidak, sebelum kamu mau memaafkanku."
Luna mendengkus. "Kamu tidak sadar sekarang kita sedang menjadi tontonan?"
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
OMG kalau terjadi she so dammm sad man