NovelToon NovelToon
Ana Uhibbuka Fillah

Ana Uhibbuka Fillah

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:311.9k
Nilai: 5
Nama Author: Erisna Aisyah

Dia Aisyah, seorang santriwati di pesantren tempatku mengajar. Gadis anggun nan jelita, yang mampu membuatku terpana pada saat jumpa pertama. Bukan karena kecantikan wajahnya yang membuatku kagum, tapi ketaatan pada-Nya lah yang mampu membuatku ingin selalu dekat dengannya.

Cerita ini hanya fiksi ya, hanya merupakan pemikiran dari author. Jangan lupa like, comment, and vote ya. Author akan sangat berterima kasih untuk hal itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erisna Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Pertemuan

Kutatap langit-langit kamar. Ada gambaran wajah di sana. Wajah yang beberapa hari ini memenuhi ruang hatiku. Wajah tegas, yang terpancar kelembutan.

Ustadz, kudengar kau masih sendiri? Salahkah jika aku mengagumimu, lebih dari, seorang guru?

Masih ingat saat pertama kali aku melihatnya. Sorot mata yang menginterogasi, tapi mampu meluluhlantahkan pertahanan hati yang selama ini kujaga dengan rapi.

Kadang hati merasa bersalah pada Abah, sosok yang selama ini selalu kukagumi. Padahal, aku sudah berjanji padanya, untuk selalu menjaga hati ini, agar tidak berpaling darinya. Tapi apa daya, rasa ini muncul dengan tiba-tiba, tanpa sempat aku mencegahnya.

Maafkan Aisyah, Abah. Sudah berpaling hati dari Abah, mengagumi laki-laki yang belum menjadi mahromku.

Terdengar suara pintu terbuka, aku pun segera mengubah posisi menjadi duduk. Terlihat Mbak Salma menghampiri.

"Aisyah, dipanggil sama Ummi," ucapnya, setelah duduk di sampingku.

"Ummi Khaddijah?" tanyaku.

"Iya, memangnya siapa lagi? Di sini hanya beliau yang di panggil Ummi," terangnya.

"Ada apa ya, Mbak? Apa aku membuat kesalahan?" tanyaku, panik.

"Nggak tau, Isy. Kesana saja, nggak usah takut. Apa mau aku temani?" tawarnya.

"Memang Mbak Salma nggak sibuk?"

"Enggak, pekerjaan di rumah Abah Yai sudah selesai."

Ya, Mbak Salma adalah salah satu santri ndalem, yang ditugaskan membantu pekerjaan di rumah Abah Yai.

"Maaf ya, Mbak. Jadi merepotkan,"

"Nggak papa. Ayo!"

Saat kami hendak keluar dari asrama, tiba-tiba Dinda dan Fika menghampiri.

"Eh, kalian mau kemana?" tanya Dinda.

"Ke rumah Abah Yai," jawabku.

"Ikutan dong. Kali aja bisa cuci mata, ya nggak, Fik?"

"Hu'um, siapa tau bisa ketemu sama Gus Ilyas, yang gantengnya Maa Sya Allah ...," Fika menerawang sambil senyum-senyum.

"Heh, yang namanya cuci mata tuh pake air, bukan liatin laki-laki yang bukan mahromnya," cibir Salma.

"Atau kalau nggak bisa ketemu sama kang ndalemnya, Ustadz Farhan misalnya. Aaa ... udah nggak sabar nih," Dinda begitu antusias.

"Sekalian aja ketemu sama ustadz galak, biar kalian dimarahin baru tau rasa!" ujar Salma, sepertinya dia tidak suka dengan tingkah kedua temannya itu.

"Iihh ... ngeri," Dinda bergidik, "tapi, boleh juga ding. Ganteng juga dia, walaupun galak sih," imbuhnya.

"Dan, cool!" tambah Fika.

Sangkin penasaranya, aku ikutan nimbrung. "Emang, siapa ustadz galak yang kalian maksud?"

"Siapa lagi kalau bukan Ustadz Yusuf?" jawab ketiganya hampir bersamaan.

Ah, nggak galak juga, kok. Batinku menyahut.

Aku pun hanya menggangguk tanda mengerti, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan tanpa menghiraukan ketiga bidadari itu beradu mulut. Fokus pikiranku hanya satu, kenapa aku dipanggil oleh Ummi Khaddijah?

.

Rupanya Ummi Khaddijah hanya mengatakan kalau beliau ingin aku menjadi santri ndalem, seperti Mbak Salma. Membantu beberapa pekerjaan di rumah beliau. Dan tugasku berada di bagian dapur, membantu para pengurus santri lainnya menyiapkan makanan.

Saat aku hendak menggapai handle pintu, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dan ucapan salam. Refleks aku membukanya.

Betapa terkejutnya, saat mendapati wajah seseorang yang beberapa ini selalu melintas di pikiran, berada tepat di hadapan, dengan tatapan yang ... entah.

Aku pun segera tersenyum, menghilangkan kecanggungan. Kemudian menunduk, menyembunyikan rasa panas yang kian menjalar di pipi.

"Kamu, Aisyah?" tanyanya, seperti mengingat-ingat.

"Iya, Ustadz. Maaf, saya harus segera pergi. Assalamu'alaikum," pamitku, setelah menjawab pertanyaannya. Aku pun segera berlalu, takut-takut kalau dia menyadari wajahku sudah semerah tomat.

"Wa'alaikumsalam," terdengar suaranya menjauh, seiring langkahku yang semakin menjauhinya.

Aku takut, kalau rasa ini makin menjadi. Membuatku semakin kehilangan kendali, dalam menjaga mata dan hati.

Aku pun segera mengajak Mbak Salma, Dinda dan juga Fika untuk kembali ke asrama. Selama perjalanan, aku menceritakan alasan kenapa aku di panggil oleh Ummi Khaddijah.

"Serius kamu di suruh jadi santri ndalem sama Ummi Khaddijah?" tanya Fika, tidak percaya.

"Iya, memangnya kenapa?" jawabku.

"Alasannya?" Kini Dinda yang bertanya.

"Ya, sederhana saja, biar Mbak Salma ada temennya," jawabku, melirik Mbak Salma yang berjalan di sampingku.

"Nggak ada yang lain?" tanya keduanya, diiringi tatapan curiga.

"Entahlah, yang beliau katakan hanya itu," terangku. Sementara dalam hati terus bertanya, sebenarnya apa alasan  beliau yang sesungguhnya? Sedangkan aku masih santri baru di sini.

.

Seusai shalat isya, aku melanjutkan membaca Al-Qur'an bersama dengan yang lainnya di masjid. Setelahnya, kami segera pulang ke asrama dan masuk ke kamar masing-masing.

Di ranjang ini, aku menatap ke luar jendela. Kebetulan jendela kamarku menghadap persis ke depan rumah Abah Yai.

Masih kuingat siang tadi, saat kulihat dirinya keluar dari rumah itu. Berjalan dengan tatapan sayu, entah apa yang tengah mengusik hatinya. Kurasakan ada yang bergetar di sini, menahan sesak yang kian menjalar menguasai hati.

Ingin aku menemuinya, sekedar bertanya ataupun menghibur. Tapi nyaliku tak sebesar itu, hingga harus kupendam kembali keinginan itu. Aku sadar, apalah arti diriku baginya. Mungkin hanya sekedar muridnya, atau mungkin, tidak berarti sama sekali.

Tiba-tiba pikiranku kembali melayang, mengingat kembali beberapa kalimat yang diucapkan oleh Ummi.

"Aisyah, apa kamu keberatan kalau Ummi memintamu membantu pekerjaan di sini?" tanya beliau dengan hati-hati.

"Tentu tidak, Ummi. Kata Ummah, mengabdi di rumah Abah Yai adalah suatu keberkahan, jika itu dilakukan dengan ikhlas," jawabku.

"Alhamdulillah, tidak salah aku memilihmu, Nak," ujar beliau sambil mengelus kepalaku di balik jilbab.

"Ternyata kau mengajari anakmu dengan sangat baik, Rahma. Sama seperti dirimu dulu," gumamnya lagi, hampir saja tidak terdengar, kalau aku tidak mendengarkan dengan jeli.

"Ummi mengatakan sesuatu?"

"Ah, tidak. Terima kasih ya, kamu mau menerima permintaan Ummi," ujarnya, mengalihkan pembicaraan.

Aku pun mengangguk, walau dalam hati masih tersimpan banyak pertanyaan.

***

Bersambung

1
Cah Dangsambuh
alamaaaaaaak langsung ngejungkel deh dah di ubun ubun tiba tiba ada penghalang🤣🤣🤣
Cah Dangsambuh
pak ustadz ngajak bicara selain pada murid pada hatinya juga hehe baguuuuus bet
Cah Dangsambuh
awal yg bagus aku langsung suka pa lagi ini pasti banyak ilmu yg di tebar ,,,maaf baru baca soanya baru nemuin 🙏🙏🙏
Nurfa Vita
koq gk ada kelanjutan ya thoor...yusuf aisyah
Nurfa Vita: untuk cerita yusuf ada lanjutan apa ndak thor
total 2 replies
Kontri Onti
ko paragrafnya diulang ulang thor ..maaf kalau langsung mungkin jadi ga bolak balik bacanya
Erisna Aisyah: ini tulisan pertama saya kak, dua tahun lalu, jadi masih berantakan😁
sekarang saya sedang fokus menulis di aplikasi Fizzo. Judul yang sudah tamat, "Dipaksa Menikah" dan "Dipaksa Menikah 2"
untuk yang saat ini sedang saja tulis dan sedang berlangsung, judulnya Pesona Si Gadis Desa ☺
silakan mampir jika berkenan...
total 1 replies
Qeyfa Alisya
assalamualaikum
Erisna Aisyah: waalaikumsalam
total 1 replies
Hida Hida
perjuangan untuk mendapatkan Aisyah aja susah,tp kenapa harus poligami...aku paling ga suka cerita ustadz yang poligami... meskipun di boleh kan tp unsur pertama kebanyakan mereka yang berpoligami itu karena nafsu 😑
Raina Wahab
jangan ada poligami yaa thor ,,,please 🙏🙏
Erisna Aisyah
mampir juga di karyaku yang baru dengan judul HIJRAH (Ajari Aku Mengenal-Nya) 😊
affiyahmikayla
aisyah nangis kh🤣
affiyahmikayla
waduh
affiyahmikayla
lanjuutt thorr
Zaskia Nada
Masyaallah baru tadi ana minta untuk lanjutin ceritanya eh alhamdulillah mbaknya langsung up lagi ceritanya,pokoknya semangat yh mbak untuk lanjutin ceritanya😊
Erisna Aisyah: Alhamdulillah😇 kebetulan stok part sudah ada, jadi begitu ada penyemangat bisa langsung up. tapi mohon maaf, untuk part selanjutnya mungkin agak lama. lagi nyoba nulis cerbung lainnya🤗😊
total 1 replies
affiyahmikayla
semangat up thoorr😍
Erisna Aisyah: makasih🤗
total 1 replies
Zaskia Nada
pliss mbak lanjut ceritanya,walaupun upnya mau berapa bulan lagi insyaallah akan saya tunggu😊
Erisna Aisyah: insya allah, kak 😊 makasih buat sarannya😍
total 1 replies
Evi Andriani
Iyo yg lain solusinya 😩😩😩😩😩
Koleksi Azzahra
Jngan poligami dong thor
Ada solusi terindah thor selain poligami.
Siti Maimunah
lnjt
Noer Soeryantie
paling males beginini kalau baca sekitaran ustadz ustadzah...POLIGAMI terrrooossss...ga ada apa kalau cari solusi selain harus menikah lagi...bye bye lah ...jadi males baru mau di faforitin eh malah suruh POLIGAMI....maaf ya..
Hamzasa
baru baca..suka ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!