NovelToon NovelToon
The Author Of My Own Destiny

The Author Of My Own Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:318
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Berikutnya

Teh herbal yang mendingin di atas meja kerja menyisakan lapisan tipis di permukaannya. Aria menatap cangkir porselen retak itu dengan pandangan kosong, sementara jemarinya perlahan mengusap pinggiran cangkir yang dingin. Hawa sore yang berembus dari celah jendela sempat membuatnya menggigil, tetapi dingin tersebut tidak sebanding dengan tekanan tak kasatmata yang ditinggalkan oleh kunjungan Duke Lucien Veritas beberapa saat lalu.

Pria itu tahu sesuatu. Peringatannya bukan sekadar gertakan kosong, melainkan sebuah tali kekang yang siap menjerat leher Aria jika ia salah melangkah. Di dunia yang dikendalikan oleh naskah tertulis ini, bergerak terlalu mencolok sama saja dengan mengundang maut lebih cepat.

Ketukan pelan pada daun pintu kayu yang mulai lapuk memecah kesunyian kamar Aria.

“Nona Aria?” Suara Mia Florent terdengar dari balik pintu, diiringi bunyi denting porselen yang halus.

Aria menarik napas dalam-dalam, merapikan gaun katun sederhananya yang sedikit kusut sebelum menjawab, “Masuk, Mia.”

Pintu terbuka dengan derit halus. Pelayan berambut cokelat itu melangkah masuk membawa nampan berisi teko teh hangat yang baru mengepul dan beberapa keping biskuit gandum. Wajahnya yang biasa ceria kini dihiasi gurat kecemasan yang samar.

“Nona terlihat sangat pucat setelah kepergian Tuan Duke,” ujar Mia seraya meletakkan nampan di atas meja kerja yang permukaannya sudah mengelupas di beberapa sudut. “Saya membuatkan teh kamomil hangat untuk membantu Anda rileks.”

“Terima kasih, Mia. Aku hanya sedikit kelelahan karena kurang tidur,” jawab Aria dengan senyum tipis yang dipaksakan. Ia menyesap teh tersebut, membiarkan kehangatannya mengalir ke tenggorokannya yang terasa kering.

Mia merapikan tumpukan kertas di sudut meja dengan gerakan cekatan. “Tuan Baron terlihat sangat bahagia di ruang kerja bawah. Beliau berkata bahwa pesanan dari Marchioness Vance akan menyelamatkan keuangan keluarga kita untuk musim dingin ini. Semua ini berkat ide cemerlang Anda, Nona.”

Mendengar hal itu, ada kehangatan yang menyelinap ke dalam dada Aria. Ayahnya yang penyabar kini bisa bernapas lega. Meski begitu, rasa hangat itu segera berganti dengan kewaspadaan yang tajam. Keberhasilan pengiriman anggur madu pertama hanyalah kemenangan kecil. Evelyn Roselia tidak akan tinggal diam setelah rencana sabotasenya gagal. Gadis berwajah polos itu pasti tengah menyusun siasat baru untuk memutus jalur ekonomi keluarga Evander.

“Mia, apakah ada surat atau pesan yang datang untuk Ayah sore ini?” tanya Aria, meletakkan kembali cangkir tehnya.

“Seingat saya tidak ada, Nona. Hanya ada beberapa laporan pengiriman dari pelabuhan sungai di perbatasan barat,” jawab Mia jujur.

“Baiklah. Kau boleh kembali ke dapur. Istirahatlah jika tugasmu sudah selesai.”

Mia membungkuk hormat sebelum melangkah keluar dan menutup pintu dengan sangat pelan, seakan takut mengganggu ketenangan majikannya.

Setelah yakin suasana di luar kamarnya aman, Aria bangkit dan mengunci pintu. Ia berjalan mendekati cermin rias yang bingkai kayunya mulai berjamur. Di sana, pantulan dirinya tampak rapuh dengan lingkaran hitam tipis di bawah mata, tetapi tatapannya memancarkan tekad yang keras.

Ia merentangkan telapak tangannya di udara. Mengabaikan rasa nyeri yang masih tersisa di pusat mananya akibat manipulasi takdir sebelumnya, ia memanggil sang roh pelindung.

“Lumi.”

Secercah cahaya keperakan memancar dari sela jemari Aria. Cahaya itu berputar lambat sebelum membentuk sesosok peri kecil berambut perak berkilau yang melayang di udara. Lumi menatap Aria dengan sepasang mata bulatnya yang dipenuhi kekhawatiran.

“Kontrak kita menuntut bayaran yang tidak murah, Aria,” bisik Lumi, suaranya terdengar sehalus gemerincing lonceng angin. “Manamu baru saja pulih sebagian. Menggunakan kekuatanku sekarang bisa membuatmu jatuh pingsan selama berhari-hari.”

“Aku tahu,” kata Aria pelan seraya duduk kembali di kursi kerjanya. “Tetapi kita tidak punya waktu untuk bersantai. Lucien mengawasiku, dan Evelyn mungkin sedang bersiap untuk memotong rantai pasokan botol kemasan kita di wilayah barat. Kita harus bertindak sebelum mereka menjerat kita.”

Lumi melayang mendekati buku catatan bersampul kulit kusam yang tergeletak di meja. “Lalu, apa yang ingin kau ubah kali ini? Ingat, hukum alam semesta ini—The Script—akan selalu mencari keseimbangan. Perubahan yang terlalu drastis akan memicu bencana yang tidak bisa kita kendalikan.”

Aria membuka halaman kosong pada buku tersebut. “Kita tidak akan melakukan perubahan besar. Kita hanya perlu menggeser satu detail kecil agar terlihat seperti kebetulan murni.”

Ia mengambil sebatang pena bulu angsa biasa. Begitu jemarinya menyentuh gagang pena, energi keperakan mengalir dari tubuhnya, melapisi ujung pena dengan tinta magis yang hanya bisa dilihat olehnya dan Lumi.

“Evelyn menggunakan pengaruh Viscount Gentry untuk menekan para distributor botol kaca di wilayah barat agar menolak pesanan kita, bukan?” tanya Aria, mengingat detil plot novel yang pernah dibacanya.

Lumi mengangguk kecil. “Benar. Viscount Gentry adalah pengikut setia keluarga Roselia. Jika dia menghentikan pasokan botol, anggur madu keluargamu tidak akan bisa dikemas tepat waktu.”

“Maka, mari kita alihkan perhatian Viscount Gentry,” gumam Aria.

Ia mulai menuliskan kalimat di atas kertas kosong dengan gerakan tangan yang anggun namun tegas.

*Pada sore hari ini\, Viscount Gentry menerima kabar gembira bahwa tambang batu bara miliknya di wilayah selatan menemukan urat permata safir yang sangat langka. Karena kesibukan mendadak untuk mengamankan aset baru tersebut\, sang Viscount mengabaikan perintah keluarga Roselia dan menyerahkan seluruh urusan administrasi barat kepada bawahannya.*

Saat titik terakhir terbentuk, dada Aria terasa seperti dihantam palu godam tak terlihat. Ia tersedak, memegangi dadanya yang mendadak sesak ketika mana suci di dalam tubuhnya terkuras dengan cepat untuk membayar kompensasi pengubahan realitas tersebut. Keringat dingin membasahi dahinya, dan pandangannya sempat mengabur selama beberapa detik.

Lumi memekik panik, melayang cepat di sekitar kepala Aria. “Aria! Cukup! Jangan paksakan dirimu lebih jauh!”

“Aku... tidak apa-apa,” bisik Aria, mengatupkan giginya rapat-rapat hingga rahangnya mengeras. Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan akhir tragis yang menantinya jika ia pasrah pada naskah asli.

Ia menatap halaman buku catatan itu. Tinta keperakan tersebut perlahan meresap ke dalam serat kertas, lalu menghilang sepenuhnya tanpa bekas. Realitas telah bergeser.

Ketukan lain yang lebih mantap terdengar di pintu kamar sebelum Aria sempat menenangkan detak jantungnya.

“Aria? Ini Ayah. Boleh Ayah masuk?”

Aria segera mengisyaratkan Lumi untuk bersembunyi. Dengan kepakan sayap cahayanya yang sunyi, peri kecil itu menghilang ke dalam liontin perak yang melingkar di leher Aria.

Aria mengusap keringat di pelipisnya dengan saputangan, lalu bangkit untuk membuka pintu.

Di ambang pintu, berdiri Baron Edward Evander. Wajah pria paruh baya itu tampak jauh lebih cerah dibandingkan beberapa minggu lalu. Di tangannya, ia memegang selembar dokumen dengan stempel lilin merah tua.

“Ayah,” sapa Aria, berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil. “Ada apa? Anda terlihat sangat gembira.”

Edward melangkah masuk dengan senyum lebar yang menghiasi wajah lelahnya. “Aria, kau tidak akan mempercayai ini. Baru saja, seorang utusan dari serikat dagang barat datang membawa surat penting.”

Aria berpura-pura terkejut, menaikkan sebelah alisnya. “Surat? Dari siapa, Ayah?”

“Dari pengelola pabrik botol kaca di bawah naungan Viscount Gentry,” ujar Edward dengan mata berbinar-binar. “Mereka mengatakan bersedia memperpanjang kontrak pasokan botol kita dengan potongan harga sepuluh persen! Bahkan, mereka meminta maaf karena sempat menunda negosiasi kemarin.”

Edward menggelengkan kepalanya, seolah masih tidak percaya dengan keberuntungan yang bertubi-tubi menimpa keluarganya. “Kudengar dari utusan itu, Viscount Gentry mendadak pergi ke wilayah selatan karena penemuan tambang permata baru di tanah pribadinya. Dia begitu sibuk hingga menyerahkan seluruh urusan luar kepada bawahannya yang lebih kooperatif.”

Aria merasakan kelegaan yang luar biasa merayap di dadanya. Rencananya berhasil dengan sempurna tanpa memicu kecurigaan bahwa ada kekuatan magis yang bermain di balik layar.

“Ini adalah kabar yang sangat baik, Ayah,” kata Aria tulus. “Sekarang kita bisa fokus pada produksi anggur madu tanpa perlu khawatir kekurangan wadah.”

Edward menatap putrinya dengan pandangan penuh kasih dan rasa bangga yang mendalam. Ia meletakkan tangannya yang kasar di atas bahu Aria, meremasnya dengan lembut.

“Semua ini berkat saran-saranmu, Aria. Sejak kau pulih, kau telah menjadi tiang penyangga keluarga ini. Ibumu dan aku sangat bersyukur memilikimu.”

Mendengar ucapan ayahnya, tenggorokan Aria mendadak terasa tersumbat oleh emosi yang membuncah. Di dunia aslinya, ia hanyalah seorang yatim piatu yang selalu berjuang sendirian. Di sini, ia menemukan arti keluarga yang sesungguhnya. Ia bersumpah akan menghancurkan setiap baris naskah tragis yang mencoba merenggut kebahagiaan ini.

“Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan, Ayah,” ujar Aria, matanya sedikit berkaca-kata namun tatapannya tetap teguh. “Kita akan mengembalikan kejayaan nama Evander bersama-sama.”

Edward mengangguk mantap, membiarkan keheningan yang hangat menyelimuti mereka berdua di sore yang mulai menggelap itu.

Setelah ayahnya pamit kembali ke ruang kerja, Aria berjalan mendekati jendela kamar. Di kejauhan, lampu-lampu ibu kota mulai menyala satu demi satu seperti taburan bintang di atas bumi yang dingin. Di sanalah, di tengah kemegahan Istana Elgarth, para penguasa sesungguhnya sedang memainkan bidak catur mereka.

Aria menyentuh liontin peraknya, merasakan kehangatan magis yang mengalir di sana. Langkah pertamanya untuk mengamankan ekonomi keluarga telah berhasil, namun ia tahu ini baru permulaan dari pertempuran panjang melawan alur cerita yang ingin menghancurkannya.

1
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir thir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!