Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.
Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.
Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Ibu Kandung
Emma terbangun ketika cahaya matahari pagi mulai memenuhi kamarnya.
Ia mengusap wajah pelan.
Semalam ia benar-benar tertidur setelah kelelahan menghadapi berbagai kejadian yang tidak pernah ia bayangkan.
Begitu meraih ponselnya di atas nakas, layar langsung dipenuhi beberapa notifikasi.
Salah satunya berasal dari Ella.
Emma segera membukanya.
"Maaf menghubungimu berkali-kali semalam. Aku hanya ingin mengingatkan kalau Ibu mengirim pesan ke ponselku mengajak makan siang hari ini di rumah Ashcroft. Lord Ashcroft juga akan ada di sana. Jangan lupa datang menggantikanku."
Emma membaca pesan itu perlahan.
Lalu mengembuskan napas panjang.
"Benar juga..."
Ia hampir melupakan undangan itu.
Semalam terlalu banyak hal yang memenuhi pikirannya.
Mulai dari Ralph.
Hingga insiden memalukan di kamarnya.
Emma kembali membaca pesan berikutnya.
"Aku tahu ini tidak mudah. Lord Ashcroft pasti akan menyambutmu seperti biasa. Tapi... mungkin Ibu tetap akan bersikap dingin. Jangan terlalu dipikirkan."
Emma tersenyum hambar.
"Justru itu masalahnya."
Ia belum pernah bertemu wanita yang melahirkannya.
Selama ini ia hanya mengenal wajah perempuan itu dari foto yang pernah diperlihatkan Ella saat mereka berada di kapal pesiar.
Cantik.
Elegan.
Tatapan matanya dingin.
Bahkan dari sebuah foto pun Emma tidak merasakan kehangatan seorang ibu.
Berbeda dengan Ella.
Ella masih memiliki harapan.
Masih ingin mempertahankan hubungan dengan wanita itu.
Emma tidak.
Baginya...
Perempuan itu adalah seseorang yang memilih memisahkan kedua anaknya untuk menjalani kehidupan baru.
Emma menatap keluar jendela.
Tangannya perlahan mengepal.
"Aku tidak merindukannya."
gumamnya lirih.
"Sama sekali tidak."
Yang ada hanyalah pertanyaan yang selama bertahun-tahun tidak pernah mendapatkan jawaban.
"Kenapa?"
"Apa semudah itu meninggalkan anakmu sendiri?"
Dadanya mulai terasa sesak.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena amarah lama yang kembali muncul.
Emma menundukkan pandangannya.
Tangannya terasa dingin.
Sedikit gemetar.
Hal itu jarang sekali terjadi.
Ia tidak takut bertemu siapa pun.
Namun kali ini...
Ia takut tidak mampu mengendalikan emosinya.
Bagaimana kalau wanita itu berbicara seolah tidak pernah terjadi apa-apa?
Bagaimana kalau ia bersikap acuh, seperti yang selama ini diceritakan Ella?
Emma tidak yakin bisa tetap diam.
Ponselnya kembali bergetar.
Pesan terakhir dari Ella muncul.
"Kalau Ibu mengatakan sesuatu yang membuatmu kesal, jangan bertengkar. Ingat, sekarang kau adalah Ella."
Emma menatap kalimat itu cukup lama.
Lalu tersenyum tipis.
Senyum yang lebih mirip ejekan kepada dirinya sendiri.
"Tenang saja."
bisiknya pelan.
"Aku akan berusaha menjadi Ella."
"Meski aku tidak yakin bisa memaafkan wanita itu... bahkan sebelum bertemu dengannya."
Emma meletakkan ponselnya.
Hari itu, untuk pertama kalinya sejak pertukaran identitas dimulai, ia akan duduk satu meja dengan ibu kandungnya sendiri.
Bukan sebagai Emma Taylor.
Melainkan sebagai Ella Ashcroft.
Dan Emma tahu...
Pertemuan itu akan menjadi ujian terberatnya sejauh ini.
Sepuluh menit kemudian...
Pintu kamar kembali terbuka.
Emma melangkah keluar setelah selesai bersiap.
Ia memilih gaun selutut berwarna krem dengan potongan sederhana namun elegan, dipadukan mantel tipis berwarna putih gading.
Rambut pirang pendeknya ditata rapi ke belakang, memperlihatkan anting mutiara kecil yang membuat penampilannya terlihat anggun tanpa berlebihan.
Sepasang sepatu hak rendah melengkapi penampilannya.
Modern.
Elegan.
Tetap mencerminkan seorang Lady Alexander.
Sebelum keluar kamar, Emma kembali membaca pesan terakhir Ella.
"Jangan datang dengan tangan kosong. Mampirlah membeli bunga atau kue. Lord Ashcroft selalu menganggap itu bentuk sopan santun saat berkunjung."
Emma mendesah pelan.
"Banyak sekali aturannya..."
Meski menggerutu, ia tetap memasukkan dompet ke dalam tas.
"Aku akan membeli bunga."
gumamnya.
"Bukan untuk wanita itu."
"...untuk Lord Ashcroft."
Setidaknya pria itu telah membesarkan Ella selama bertahun-tahun dengan baik.
Itu sudah cukup membuat Emma menghormatinya.
Di ruang makan...
Ralph masih duduk di kursinya.
Secangkir kopi di depannya sudah hampir dingin.
Mr. Howard berdiri tidak jauh darinya sambil sesekali melirik jam dinding.
"Tuan..."
"Rapat Anda tiga puluh menit lagi. Sekertaris anda baru saja menghubungi."
"Aku tahu."
"Kalau berangkat sekarang pun akan sedikit terlambat."
"Aku tahu."
Jawaban Ralph tetap singkat.
Namun ia sama sekali tidak bangkit.
Tatapannya justru mengarah ke tangga.
Seolah sedang menunggu seseorang.
Tak lama kemudian...
Suara langkah kaki terdengar.
Ralph mengangkat kepalanya.
Emma turun dengan langkah tenang.
Begitu melihatnya...
Tatapan Ralph berhenti selama beberapa detik.
Wanita itu memang selalu berpakaian rapi.
Namun hari ini ada sesuatu yang berbeda.
Mungkin karena gaun berwarna terang itu.
Mungkin karena rambut pirangnya yang tertata lebih rapi.
Atau...
Mungkin karena cara Emma berjalan dengan penuh percaya diri.
Ralph tidak dapat menjelaskannya.
Yang jelas...
Sulit baginya untuk mengalihkan pandangan.
Emma yang menyadari Ralph sedang memperhatikannya langsung mengangkat sebelah alis.
"Ada apa?"
Ralph baru tersadar.
"Tidak ada."
Emma mendekati meja.
"Kau belum berangkat?"
"Belum."
"Kupikir kau selalu berangkat lebih pagi."
Ralph menyesap kopinya yang sudah tidak lagi hangat.
"Biasanya begitu."
"Lalu kenapa hari ini masih di rumah?"
Ralph terdiam sesaat.
Bahkan ia sendiri tidak memiliki jawaban yang masuk akal.
Ia hanya...
Menunggu Emma turun.
Tanpa sadar.
Tanpa alasan yang jelas.
"Ada sedikit waktu untuk bersantai dan menikmati sarapan pagi ini."
jawabnya akhirnya.
Emma tidak terlalu memikirkannya.
Ia mengambil segelas jus lalu meminumnya beberapa teguk.
"Aku juga akan keluar sebentar. Mungkin akan pulang lebih lama."
Ralph menatapnya.
"Hendak ke mana?"
"Ada janji makan siang."
"Mampir membeli sesuatu dulu."
"Sepertinya aku akan membeli bunga."
Ralph sedikit mengernyit.
"Bunga?"
Emma mengangguk.
"Ya tentu saja sebagai buah tangan."
Ralph mengingat jadwal hari itu.
Benar.
Hari ini Ella memang dijadwalkan makan siang di kediaman Lord Ashcroft.
Ia hampir lupa.
"Aku bisa meminta sopir mengantarmu."
"Tidak perlu."
Emma menjawab cepat.
"Aku bisa mengurusnya sendiri. Aku sudah cukup dewasa melakukan apapun juga."
Ralph mengangguk pelan.
Ia sudah menduga jawaban itu.
Wanita di hadapannya memang tidak suka bergantung kepada siapa pun.
Mr. Howard kembali melirik jam.
"Tuan..."
"Kini Anda benar-benar harus berangkat."
Barulah Ralph berdiri.
Ia mengambil jasnya.
Sebelum melangkah pergi, tatapannya kembali jatuh kepada Emma.
"Hati-hati di jalan. Jika kau memerlukan sesuatu kau bisa menghubungi ku kapanpun juga."
Emma sedikit terkejut.
Ucapan itu terdengar sederhana.
Namun belum pernah ia dengar dari Ralph sebelumnya.
Ia hanya mengangguk singkat.
"Kau juga harus berhati-hati dijalan. Semoga harimu berjalan lancar Ralph."
Ralph berjalan menuju pintu utama.
Langkahnya tetap tenang seperti biasa.
Namun di dalam mobil nanti...
Ia baru akan menyadari satu hal.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Ia terlambat berangkat bekerja.
Bukan karena rapat.
Bukan karena urusan bisnis.
Melainkan karena tanpa sadar ia memilih menunggu istrinya turun, hanya untuk melihatnya beberapa menit sebelum memulai hari.
mulai ngikuti sepertinya menarik