Intan adalah gadis yang lugu dan baik hati, dia selalu membantu ibunya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah rumah mewah. Intan bersama ibunya hanya orang biasa yang tidak memiliki keluarga dan beruntung mereka bertemu dengan bu Ratna yang membawa mereka kerumah nya dan bekerja di sana.
Ratna yang berusia 18 tahun itu nampak cekatan membantu ibunya. Sikap sopan dan paruhnya membantu Ratna dan suami Agung begitu menyukai Intan, 5 tahun sudah berlalu kini intan sudah beranjak menjadi gadis dewasa.
Di mana kisah yang tidak pernah dia bayangkan akan terjadi, kisah pencinta dan tanpa restu akan terlibat dalam kehidupan nya.
Saat pertemuan nya dengan anak tunggal keluarga Wicana yang sudah menampung nya dan ibunya selamat bertahun-tahun lama nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lembayung Senjaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Mana Dia
Seorang pria sedang berdiri menatap hamparan gedung besar yang menyala dalam kegelapan. Dia membuka hudie nya mengikat semua rambut panjang nya dengan ikat rambut.
" Sepi sunyi selalu seperti ini setiap hari, tidak terasa sudah berjalan hampir setengah hidup ku. Apa mereka masih mengingat jika ada seorang anak yang menunggu untuk di jemput pulang?. " Gumam nya pelan mata nya tajam namun kosong.
Hidup sendiri selama belasan tahun membuat nya merasa jika orang lain tidak penting dalam hidup nya, dia tumbuh jadi seseorang yang sulit di tebak sulit di kendalikan dan sulit berbaur dengan orang lain.
Dia tidak kesulitan dalam keuangan dia punya segalanya dia mambu berbuat apapun yang dia mau, namun sepanjang hidupnya dia merasa sendiri dan kesepian walaupun dia berada di tengah tengah sebuah keramaian.
***
Intan memilih diam duduk di ruang tamu sembari menunggu Mahendra bangun dari tidurnya. Gadis itu nampak sibuk dengan ponselnya melihat beberapa rumah yang sederhana dan memikirkan untuk membeli nya untuk dirinya dan ibunya.
" Rumah ini sederhana di tengah-tengah desa yang asri, harganya juga lumayan murah tabungan ku lebih dari cukup untuk memulai hidup baru sama ibu. Mungkin bulan depan aku akan minta izin untuk berhenti dari rumah Cendana. " Gumam Intan pelan.
Gadis itu menyimpan nomor ponsel pemilik rumah itu besok dia berencana untuk menghubunginya dan melihat langsung tempat itu.
" Kenapa tidak membangun ku?. " Gumam Mahendra dengan suara serak keluar dari kamar.
Intan langsung mematikan ponselnya melihat kedatangan Mahendra.
" Intan fikir kak Mahen capek jadinya gak aku banguin, jadi kita mau pulang kapan?. " Gumam Intan melihat Mahendra yang meneguk minuman kaleng sampai habis.
" Pulang sekarang juga gak papa, hujannya udah reda. Sudah malam juga takutnya nanti bik Ami nyarin dan di kira kamu kemana aja sama aku. " Intan mengangguk. Mereka pun segera bergegas turun dari Apartemen dan pulang ke rumah.
Jam sudah menujukan lebih dari jam 10 malam. Udara di luar benar benar dingin sedang mereka tidak memakai pakaian panjang atau sebuah jaket sebagai pelindung tubuh nya, kulit intan sudah memucat menahan dingin.
Tiba tiba tangan Mahendra menjulur meminta agar gadis itu memeluk nya. Tubuh Intan seperti tersengat saat tubuh nya menyentuh punggung Mahendra.
" Peluk aja gak papa, udara nya dingin banget setelah hujan. Tubuh kamu juga udah dingin banget.. " Ucap Mahendra pelan.
Intan menurut memeluk tubuh Mahendra dengan erat dan dia mulai merasakan kehangatan itu meski dadanya kembali berdetak kencang, Intan menyadar kan kepalanya pada punggung Mahendra seperti sepasang kekasih yang sedang menikmati malam.
" Apa tidak ada dengan posisi seperti ini kak?. " Celetuk Intan.
" Gak papa, emang kenapa?. "
" Intan takut pacar kak Mahendra akan cemburu dan beranggapan jika aku terlalu dekat dengan mu. " Mahendra terkekeh pelan.
" Lili gak di Indonesia juga kok, ada pun dia gak perlu cemburu sama kamu. Kamu tu udah seperti adik perempuan ku yang memang harus aku lindungi kan. " Intan diam mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Mahendra.
Motor itu berjalan sepanjang jalan mengikut jalanan yang mulai sepi. Sedangkan Intan dan Mahendra sibuk dengan pikiran mereka sendiri, hening dengan hembusan angin yang semakin dingin menerpa tubuh mereka.
2 Jam kemudian
Motor Mahendra berhenti di depan garasi dan langsung di sambut oleh Ami ibu Intan yang nampak tergopo gopo menghampiri mereka.
" Kalian dari mana saja, kenapa baru pulang selarut ini?. " Seru menghampiri Intan yang nampak pucat.
" Maaf buk, Intan janji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. " Gumam Intan menyesal.
" Iya bik, maaf jika Mahendra tidak mengajak Intan makan di apartemen mungkin gak akan terjebak hujan. " Timpal Mahendra.
" Ya sudah tuan muda, sebaiknya anda segera membersihkan diri bibik takut tuan muda sakit. Bibik dan Intan permisi. " Gumam Ami menarik tangan Intan pelan untuk segera pergi ke rumah khusus yang di sediakan untuk mereka.
Mahendra menatap kepergian mereka dengan helaan nafas.
" Hemz, apa bik Ami akan memarahi gadis itu?. " Gumam Mahendra pelan.
" Buk, jangan marah Intan hanya mengikuti Kak Mehan dan kami tidak melakukan apapun kok. " Gumam Intan melihat sang ibu yang nampak berbeda.
" Ibu tidak ingin kamu terjebak di sini Intan, ibu takut hubungan kalian ini semakin jauh dan menimbulkan sesuatu... " Intan menatap ibunya tidak percaya jika wanita itu akan mengatakan hal itu.
" Buk, Intan dan kak Mahen baru bertemu 2 hari dan hari ini dia hanya meminta Intan menemani nya saja. Kenapa ibu berfikir seperti itu, ibu gak perlu khawatir Intan gak akan terjebak dalam perasaan emosian dengan kak Mahen buk.. Intan tahu kok konsekuensi nya. " Ami menghela nafas.
Dia bukan tidak percaya pada putri nya itu tapi dia sedang waspada mengingat Intan tidak pernah dekat dengan siapapun dan sekarang dia dan anak majikan nya itu bisa langsung sedekat itu membuat dirinya khawatir.
" Maafin ibu Intan. "
" Ibu gak usah minta maaf, Intan tahu semua juga demi kebaikan Intan. "
" Ibu sudah bilang pada nyonya Ratna tentang keinginan kita untuk pergi nak dan dia menyetujui nya, mungkin tidak secepatnya tapi setidaknya nyonya sudah mengizinkan. " Intan mengangguk dia juga sudah memilih tempat yang nyaman untuk mereka tinggali.
" Besok Intan mau ke desa B buk, di sana ada rumah yang deket dengan perkampungan dan tempat nya masih begitu asri Intan menyukai tempat itu. Harga nya juga murah sisanya bisa untuk menyambung hidup kita. "
" Benarkah itu Intan, baguslah ibu mendukung mu besok kamu lihat lihat dulu tempat nya. " Mereka larut dalam kegembiraan mereka sendiri di rumah itu.
Mahendra yang sudah selesai mandi hanya mengenakan celana tidur panjang tanpa baju, pemuda itu berdiri di depan cermin menatap pantulan tubuh atletis nya yang sempurna.
" Di mana dia sekarang?. " Gumam Mahendra pelan menatap kosong ke arah cermin.