Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.
Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.
Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.
Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Pesona sang Calon Pengantin
Hari demi hari berlalu tanpa terasa, berputar secepat roda yang menggelinding di turunan. Waktu pelaksanaan pernikahan antara Kinanti Larasati dan Baskara Dirgantara kini sudah berada di depan mata, tinggal menghitung hari yang bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Segala urusan administrasi yang rumit, berkas-berkas permohonan, hingga urusan surat-menyurat di Kantor Urusan Agama (KUA) perlahan tapi pasti mulai rampung diselesaikan.
Namun, seiring dengan makin dekatnya hari sakral tersebut, cobaan hidup yang menerpa Kinanti justru datang bertubi-tubi tanpa jeda. Hampir setiap hari, tanpa absen satu kali pun, ponsel pintarnya yang retak selalu bergetar menerima kiriman pesan singkat bernada ancaman. Natasha, sang calon anak tiri, terus-menerus membombardirnya dengan hinaan, makian, dan kata-kata kasar yang menyakitkan hati.
Meski begitu, mental Kinanti terbuat dari baja yang ditempa kemiskinan. Tidak sekalipun gadis sembilan belas tahun itu membalas atau memedulikan teror pesan tersebut. Setiap kali notifikasi itu muncul, Kinanti hanya akan menatap datar ke arah layar ponselnya, lalu menguncinya kembali tanpa riak emosi. Baginya, membalas pesan kekanak-kanakan itu hanya akan membuang-buang tenaganya yang berharga.
Selama setengah bulan terakhir, intensitas pertemuan Kinanti dengan Baskara bisa dihitung dengan jari. Mereka hanya bertemu jika ada urusan penting yang mendesak, seperti saat fitting baju pertama atau ketika harus menandatangani berkas di KUA. Itu pun, komunikasi di antara mereka berjalan sangat formal dan seperlunya saja. Tidak ada obrolan basa-basi, tidak ada gurauan, apalagi pertanyaan manis layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.
Dan hari ini, setelah hampir dua minggu penuh tidak saling bertatap muka, mereka dijadwalkan untuk bertemu kembali di sebuah butik gaun pengantin mewah di pusat kota untuk menjalani fitting kedua. Kinanti yang dijemput langsung oleh sopir pribadi Baskara duduk diam di kursi belakang mobil mewah, sama sekali tidak menyadari bahwa ada kejutan tak terduga yang tengah menantinya di dalam butik tersebut.
Ada satu hal yang tidak disadari oleh Kinanti, bahwa selama setengah bulan ini, Baskara diam-diam memberikan perhatian penuh pada aspek fisiknya. Pria matang itu mendatangkan terapis, ahli perawatan tubuh, dan paket perawatan lengkap langsung ke rumah sederhana Kinanti untuk merawat tubuh gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Hasilnya sungguh luar biasa. Kinanti yang pada dasarnya sudah terlahir cantik dengan kulit langsep yang bersih dan rambut hitam panjang bergelombang, kini bertransformasi total. Efek dari perawatan intensif itu membuat kulitnya tampak jauh lebih sehat, cerah, dan bersinar. Telapak tangannya yang dulu kasar, melepuh, dan kering akibat terlalu sering bersentuhan dengan deterjen pakaian murahan, kini telah kembali mulus, halus, dan teramat lembut saat disentuh. Wajahnya yang polos tanpa cela kini terlihat kian memukau dan memancarkan aura keanggunan yang alami.
Bukan hanya perawatan tubuh, Baskara juga mengirimkan lemari penuh berisi pakaian-pakaian baru yang sangat layak dan berkelas untuk calon istrinya. Kinanti yang dulu hanya terbiasa mengenakan baju kaos longgar dengan warna yang sudah pudar memutih, kini menjelma menjadi sosok yang sangat anggun. Pakaian-pakaian itu melekat sempurna, mempertegas bentuk tubuhnya yang proporsional.
Sore itu, untuk datang ke butik, Kinanti memilih mengenakan sebuah dress berwarna cokelat anggun dengan panjang sedikit di bawah lutut. Potongan gaun itu mengekspos betisnya yang putih bersih secara sopan. Rambut hitam panjangnya yang tebal sengaja dia urai bebas, jatuh bergelombang di bahunya. Tanpa perlu polesan riasan yang tebal dan menor, Kinanti hanya menyapukan sedikit pemerah pipi tipis dan pemulas bibir berwarna natural untuk memberikan kesan segar dan merona pada wajah alaminya.
Mobil mewah yang membawanya akhirnya berhenti tepat di depan sebuah butik dengan dinding kaca yang megah. Kinanti turun dari mobil dengan langkah anggun, lalu mendorong pintu kaca butik tersebut hingga menimbulkan denting bel kecil yang khas.
Di dalam butik, Baskara sudah duduk menunggu di atas sofa kulit. Awalnya, pria itu masih menatap fokus ke arah layar ponsel pintarnya, memeriksa beberapa surel pekerjaan. Namun, begitu mendengar suara pintu terbuka, Baskara mengangkat kepalanya secara perlahan untuk melihat siapa yang datang.
Detik itu juga, napas Baskara seolah tertahan di tenggorokan. Pria matang itu terpaku, matanya melebar sedikit menunjukkan rasa terkejut yang amat sangat. Perubahan fisik yang terjadi pada Kinanti benar-benar di luar ekspektasinya.
Skema perawatan yang dia bayar mahal ternyata berhasil mengeluarkan seluruh potensi kecantikan tersembunyi dari gadis desa itu hingga membuatnya tampak begitu memesona dan berkelas.
Namun, hanya ada satu hal yang sama sekali tidak berubah dari diri Kinanti,tatapan matanya yang datar, dingin, serta pancaran ketidaksukaan yang amat kentara terhadap pernikahan paksa ini.
Ternyata, sore itu Baskara tidak datang sendirian. Di sudut ruangan lain, Natasha tampak sedang duduk sembari memegang segelas minuman. Entah karena dorongan apa, hari ini remaja manja itu bersikeras dan memaksa untuk ikut papanya pergi ke butik.
Begitu Natasha menoleh dan melihat sosok Kinanti yang melangkah masuk, gelas di tangannya hampir saja terlepas. Natasha membeku di tempatnya dengan mata membelalak tidak percaya. Dia benar-benar syok. Selama ini, dia membayangkan gadis desa bernama Kinanti yang setiap hari dia teror dengan kalimat makian adalah sosok gadis udik, dekil, berwajah jelek, dan miskin yang bisa dia injak-injak harga dirinya kapan saja.
Namun, pemandangan di depannya mematahkan semua ekspektasi buruknya. Gadis yang berdiri di dekat pintu itu justru terlihat teramat sangat cantik, bahkan jauh lebih anggun daripada teman-teman sosialitanya di sekolah internasional. Natasha kini menyadari satu hal dengan dada yang bergemuruh kesal: kata-kata kasarnya yang menyakitkan selama setengah bulan ini ternyata sama sekali tidak mampu mengusik ketenangan gadis berkelas di depannya ini.
Kinanti pun sebenarnya sedikit terkejut saat matanya menangkap siluet Natasha yang duduk di sudut ruangan. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan sang peneror pesan di tempat ini. Namun, dengan kedewasaan mental yang dia miliki, Kinanti berhasil menguasai keterkejutannya dalam hitung detik. Wajahnya kembali berubah menjadi sedatar dinding es.
Tanpa memedulikan keberadaan Baskara ataupun memberikan teguran sepatah kata pun pada calon suaminya, Kinanti melangkah lurus melewati pria itu begitu saja. Dia tahu Baskara pasti hanya akan menatapnya dengan pandangan dingin yang biasa, dan Kinanti sama sekali tidak memiliki niat untuk membuang-buang waktunya yang berharga untuk sekadar berbasa-basi.
Kinanti berjalan menghampiri seorang wanita paruh baya yang merupakan penanggung jawab pakaian pengantin di butik tersebut.
"Mbak, baju pengantin saya apa sudah siap untuk dicoba?" tanya Kinanti dengan nada suara yang teramat sopan dan lembut.
Karyawan butik itu tersenyum ramah dan membungkuk sedikit. "Oh, iya, silakan Mbak Kinanti. Baju pengantinnya sudah kami siapkan dan digantung di dalam kamar ganti eksklusif di sebelah sana. Mbak bisa langsung masuk sekarang untuk mencobanya."
Pelayan itu kemudian menoleh ke arah Baskara yang masih duduk terdiam menatap punggung Kinanti. "Untuk Mas-nya juga boleh kalau mau sekalian fitting kedua hari ini. Jas pengantin eksklusif Anda sudah kami siapkan di ruang sebelah," ucap pegawai butik itu dengan sikap yang sangat profesional.
Kinanti mengangguk kecil, lalu melangkah masuk ke dalam bilik kamar ganti yang luas dengan dinding berlapis beludru. Di dalam ruangan itu, sebuah gaun pengantin berwarna putih brokat dengan potongan yang sangat elegan sudah tergantung anggun. Dengan bantuan dua orang pelayan butik, Kinanti mulai mengenakan gaun tersebut. Gaun itu melekat sempurna di tubuhnya yang ramping, mempertegas siluet pinggangnya, dan bagian bawahnya menjuntai indah di atas lantai.
Saat tirai kamar ganti dibuka lebar, suasana di luar ruangan seketika mendadak senyap.
Baskara yang baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan setelan jas hitam formal yang sangat pas di tubuh tegapnya, langsung menghentikan langkahnya. Pria itu berdiri terpaku di tengah ruangan, matanya tidak berkedip menatap sosok Kinanti yang berdiri di depan cermin besar. Kinanti tampak seperti seorang putri sejati dari negeri dongeng. Gaun putih itu berpadu sempurna dengan kulitnya yang bersinar dan rambut gelombangnya yang hitam legam. Ada getaran aneh yang mendadak menyerang dada Baskara sebuah perasaan protektif yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Namun, momen magis itu langsung dirusak oleh suara dehaman ketus dari arah belakang. Natasha bangkit dari tempat duduknya, melangkah mendekati Kinanti dengan melipat kedua tangan di dada. Sifat angkuhnya kembali bangkit setelah rasa syoknya mereda.
"Cih, hanya karena memakai gaun mahal dan tubuhmu dirawat dengan uang Papa, jangan mengira kamu sudah setingkat dengan kami ya, Gadis Kampung," bisik Natasha dengan nada suara yang sengaja direndahkan agar tidak terdengar oleh pelayan, matanya menatap tajam pantulan wajah Kinanti di cermin. "Kamu itu tetap saja anak buruh cuci yang miskin. Gaun ini tidak akan bisa mengubah asal-usulmu yang rendah."
Mendengar hinaan langsung di depan wajahnya, Kinanti tidak berkedip. Dia tidak membalas dengan makian atau teriakan histeris. Perlahan, Kinanti membalikkan tubuhnya, berdiri dengan anggun di dalam balutan gaun indahnya, lalu menatap lurus ke dalam mata Natasha dengan pandangan yang sangat tenang namun menghujam dalam.
"Kalau asal-usulku serendah itu di matamu, Natasha..." ucap Kinanti dengan nada suara yang sangat tenang, dingin, namun terdengar jelas di seluruh ruangan. "Lalu kenapa papamu yang terhormat ini sampai rela mengemis dan memohon kepada orang tuaku agar aku mau memakai gaun ini? Tanyakan pada papamu, siapa sebenarnya yang membutuhkan pernikahan ini."
Mendengar jawaban telak yang keluar dari bibir ranum Kinanti, wajah Natasha seketika memerah padam karena malu dan marah. Remaja itu mengepalkan tangannya, kehabisan kata-kata karena skakmat yang diberikan oleh gadis yang selama ini dia remehkan.
Baskara yang menyaksikan seluruh interaksi tersebut dari kejauhan tidak melangkah maju untuk membela anaknya. Sebaliknya, seulas senyuman tipis yang penuh kepuasan kembali terukir di wajah tampannya. Keberanian Kinanti untuk membalas gertakan Natasha tanpa perlu menurunkan harga dirinya membuat Baskara semakin yakin bahwa gadis di depannya ini adalah sosok yang tepat untuk menjinakkan keangkuhan di rumahnya kelak.
Pria itu melangkah maju, memposisikan dirinya tepat di samping Kinanti di depan cermin, membuat Natasha reflek melangkah mundur dengan kesal. Baskara menatap pantulan mereka berdua di cermin sepasang calon pengantin yang tampak sangat serasi namun dipenuhi oleh tembok pembatas yang tebal.
"Pernikahannya sudah siap. Dan kau, Kinanti... tidak akan pernah bisa lepas lagi dariku," bisik Baskara rendah di dekat telinga Kinanti, mengunci takdir mereka yang tinggal menghitung hari.