Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Suasana di dalam kafe kembali ramai seperti biasa. Bau kopi dan kue yang baru dipanggang lagi-lagi mengisi udara, bikin suasana kerja terasa akrab banget. Aku sudah masuk kerja lagi sejak dua hari lalu, dan rutinitas lama pun berputar kembali. Arjun tetap datang di jam yang sama, duduk di meja nomor tujuh, memesan teh tarik kesukaannya, dan sesekali menyapa atau mengobrol sebentar kalau keadaan lagi sepi.
Tapi ada yang beda sekarang. Cara dia menatapku atau ngomong sedikit lebih terbuka dan akrab, mungkin karena setelah cerita soal kakek dan masa kecilnya kemarin, rasanya jarak di antara kami jadi makin dekat banget. Bukan dekat yang aneh, tapi rasanya kayak kami udah saling tau rahasia dan kisah hidup masing-masing, jadi ngobrolnya makin enak dan santai.
Sore itu hari sudah mulai gelap, lampu-lampu jalan di luar mulai menyala satu per satu. Jam kerja aku pun habis. Sambil melepas celemek dan merapikan barang-barang pribadi di balik meja kasir, aku melirik ke arah meja nomor tujuh. Arjun masih ada di sana, tapi dia nggak langsung pulang kayak biasanya. Dia duduk tenang, matanya menunggu, sepertinya memang sengaja menunggu aku selesai kerja.
Pas aku berjalan keluar dari balik meja, dia langsung berdiri dan menyambutku dengan senyum lebar.
"Kerjanya capek nggak hari ini? Kelihatannya ramai banget dari tadi," sapanya ramah, berjalan beriringan sama aku menuju pintu keluar.
"Cukup capek sih, lumayan banyak yang datang. Tapi biasa aja kok, udah terbiasa," jawabku sambil menghela napas panjang, menikmati udara malam yang segar pas pintu terbuka.
Kami berdua berjalan pelan di trotoar, langkah kami sama santainya. Biasanya sih sampai di depan kafe aja kami sudah pisah jalan, dia ke arah toko rempahnya, aku ke arah rumah. Tapi hari ini, dia tetap jalan di sebelahku, nggak ada tanda-tanda mau belok ke arah lain.
Aku menoleh bingung.
"Lho, kamu nggak pulang ke rumah? Kok ikut jalan terus sih?"
Arjun tertawa pelan, tangannya menggaruk belakang lehernya yang kelihatan agak canggung tapi senangnya nggak bisa disembunyikan. Dia menatapku dengan mata berbinar cerah.
"Begini lho Aira... sebenarnya dari kemarin aku udah mau ngomong sesuatu sama kamu, tapi aku nunggu waktu yang pas banget. Dan kayaknya malam ini waktu yang paling tepat deh."
Dia diam sebentar, menyusun kata-katanya pelan-pelan biar nggak bikin aku kaget atau salah paham.
"Kemarin pas kita ngobrol di bawah pohon, kan aku udah cerita panjang lebar soal kakek aku, soal gimana besarnya pengaruh dia buat aku, dan betapa berartinya dia di hidup aku. Nah... pas pulang dari situ, aku cerita semuanya ke kakek aku. Aku cerita soal kamu, soal gimana kamu dengerin cerita aku dengan sopan dan tulus, gimana kamu penasaran sama budaya aku, dan gimana kamu selalu menghargai segala hal kecil yang aku ceritain."
Arjun mendekat sedikit, suaranya makin lembut dan bersemangat.
"Dan tau nggak? Kakek aku malah penasaran banget sama kamu. Dia bilang, jarang banget ada anak muda, apalagi yang bukan dari budaya kami, yang mau dengerin dan menghargai warisan leluhur kami kayak gitu. Dia pengen banget ketemu, pengen ngobrol langsung sama kamu. Dia bilang, dia punya banyak cerita lagi yang mungkin bakal seru kalau didengerin sama kamu."
Dia menunjuk arah jalan yang sedikit berbelok ke kiri, bukan arah rumahku.
"Jadi... aku di sini bukan mau nemenin kamu pulang lho, tapi aku mau ngajak kamu. Boleh ya? Sekarang kita mampir sebentar ke rumahku? Cuma buat ketemu kakek aku aja. Nggak usah lama-lama kok, sekadar salam kenal, dengerin cerita dikit, terus nanti aku anter kamu pulang sampai depan pagar rumah kamu. Gimana? Mau nggak?"
Jantungku berdenyut agak kencang karena kaget. Aku nggak nyangka bakal diajak sejauh itu. Ketemu kakeknya? Sosok yang paling dia hormati dan cintai? Rasanya ada rasa gugup, takut salah tingkah, takut nggak cocok, tapi di sisi lain rasa penasaran dan rasa senang jauh lebih besar. Aku kan udah sering banget denger cerita soal dia, pengen banget rasanya lihat sosok bijak yang ngebentuk Arjun jadi sebaik ini.
"Emangnya... boleh banget gitu aku datang? Aku nggak bawa apa-apa lho. Takutnya aku ganggu waktu istirahat beliau atau aku bikin salah tingkah di sana," jawabku ragu-ragu.
Arjun langsung menggeleng cepat, tangannya sempat menyentuh lenganku pelan buat nenangin.
"Tenang aja, nggak ada aturan kaku kok. Di budaya kami, tamu itu adalah keberuntungan. Ada pepatah kami bilang,'Tamu itu sama seperti Tuhan yang datang berkunjung'. Jadi kehadiran kamu aja udah jadi kehormatan banget buat kami, nggak perlu bawa apa-apa, nggak perlu sungkan. Kakek aku orangnya asik banget, ramah, dan bikin siapa aja yang ngobrol sama dia langsung merasa nyaman. Dia pasti senang banget lihat kamu."
Melihat ketulusan di mata Arjun, rasa ragu di hatiku perlahan hilang diganti rasa antusias. Aku mengangguk pelan.
"Ya udah... boleh deh. Aku penasaran banget sebenernya sama beliau. Pengen tau sosok yang selalu ada di setiap cerita kamu itu kayak apa sih orangnya."
Arjun langsung tersenyum lebar banget, senang banget sampai matanya menyipit.
"Asik! Ayo ayo,kakek aku udah nunggu-nunggu nih. Rumahku nggak jauh kok, cuma lima menit jalan kaki dari sini, letaknya persis di belakang toko rempah itu."
Kami pun berjalan berdua menyusuri jalan yang makin sepi. Di sepanjang jalan itu Arjun kasih tau aku apa aja yang harus aku perhatiin nanti, tapi semuanya santai aja. Dia bilang nanti kalau masuk rumah, nggak ada wajib pakai baju khusus atau gimana, yang penting sopan dan senyum aja udah cukup.
Dia juga bilang kalau di rumah itu ada banyak sekali hiasan, lukisan, dan benda peninggalan yang punya cerita masing-masing, nanti boleh dilihat-lihat.
Sambil jalan, aku mikir dalam hati. Rasanya aneh tapi indah banget ya. Baru kenal beberapa bulan, tapi rasanya kami udah masuk ke bagian hidup masing-masing yang paling dalam. Mulai dari sekadar pelayan dan pelanggan, jadi teman ngobrol, sampai sekarang aku diundang masuk ke rumahnya, ketemu orang yang paling berharga buat dia.
Dan rasanya masih sama persis kayak biasanya: nyaman, kagum, dan senang. Nggak ada rasa lain, nggak ada rasa yang bikin bingung. Cuma rasa penasaran aja, pengen banget ketemu sosok yang ngebentuk Arjun jadi cowok yang penuh makna dan kebijaksanaan kayak gini.
Langkah kami pun berhenti di depan sebuah rumah tua berwarna krem yang asri banget. Halamannya luas, banyak tanaman bunga di pinggirannya, dan aroma khas rempah serta dupa samar-samar tercium dari balik pagar kayu yang terbuka sedikit.
Arjun menoleh ke arahku, tersenyum sekali lagi buat kasih kekuatan.
"Yuk, masuk. Kakek udah nunggu di teras depan. Siap-siap ya, nanti banyak banget pertanyaan lucu dari dia."
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan pelan sambil tersenyum mantap. Hari ini bakal jadi satu lagi kenangan indah sama Arjun, aku yakin banget.