Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.
Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.
"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.
Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Malam mulai menyelimuti rumah megah itu. Suasana begitu tenang, hanya terdengar suara pendingin ruangan yang berdengung pelan.
Di dalam kamar utama, Tara baru saja selesai mandi. Rambutnya yang masih basah dibiarkan terurai, sementara tubuhnya dibalut jubah mandi putih yang diikat rapi di pinggang. Ia mengusap rambutnya dengan handuk kecil sambil berjalan keluar dari kamar mandi.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Kenzo masuk dengan langkah tenang. Jas yang sedari tadi dikenakannya kini hanya disampirkan di lengan. Namun, begitu mengangkat kepala, langkahnya langsung terhenti. Tatapan keduanya bertemu, Tara membeku di tempat.
Kenzo pun sama terkejutnya. Ia sama sekali tidak menyangka Tara baru selesai mandi. Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Tara adalah orang pertama yang memalingkan wajah. Refleks, ia merapatkan kedua sisi jubah mandinya meski pakaian itu sudah terikat dengan rapi.
"A-aku nggak tau kalau kamu akan masuk," ucapnya pelan, berusaha menyembunyikan rasa canggung.
Kenzo berdeham pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain agar Tara merasa lebih nyaman.
"Aku juga nggak tau kamu sedang di dalam, aku pikir kamu di kamar anak-anak,"
Kenzo meletakkan jasnya di atas sofa dekat pintu sebelum berkata dengan nada datar, "Maaf, seharusnya aku mengetuk pintu dulu."
Tara mengangguk singkat, "nggak apa-apa ini kamar Tuan Kenzo, Tuan bisa masuk kapan aja," ujar Tara.
"Bisa nggak, kalau di rumah jangan terlalu formal, kamu bisa memanggil aku lebih akrab," pinta Kenzo, wajah Tara langsung bersemu merah. Meskipun begitu Tara belum terbiasa dengan sikap Kenzo yang terlihat normal, karena biasanya pria ini akan bersikap cuek dan sombong.
"Aku, ambil pakaian dulu," ujar Tara cepat.
Tanpa menunggu jawaban, ia segera membuka lemari, mengambil pakaian tidur, lalu kembali masuk ke kamar mandi untuk berganti. Sementara itu, Kenzo mengembuskan napas pelan sambil memijat pelipisnya.
"Sepertinya tinggal serumah akan lebih sulit dari yang ku bayangkan," gumamnya lirih.
Beberapa menit kemudian, Tara keluar dengan piyama panjang berwarna biru muda. Rambutnya kini sudah setengah kering. Ia melirik sekilas ke arah Kenzo yang sedang berdiri di balkon membelakanginya.
"Aku sudah selesai."
Kenzo menoleh dan mengangguk pelan, "kalau begitu aku pergi mandi dulu,"
Kenzo memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti kamar.
"Setelah aku mandi, nanti kita makan malam bersama."
Tara mengangguk pelan, "iya."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Kenzo melangkah masuk ke kamar mandi. Tak lama kemudian, suara gemericik air mulai terdengar dari balik pintu. Tara mengembuskan napas pelan. Ia duduk di tepi ranjang, berusaha menghilangkan rasa canggung yang masih menyelimuti dirinya.
Ponselnya yang berada di atas nakas tiba-tiba bergetar. Tara segera meraihnya. Sebuah notifikasi dari Divisi Legal De Luca Group muncul di layar.
Kening Tara langsung berkerut. Ia membuka berkas elektronik yang dikirimkan kepadanya. Matanya bergerak cepat membaca setiap baris. Kliennya, tertulis dengan nama Kenzo Roman De Luca, nama itu membuat Tara terdiam. Tara melanjutkan membaca. Sedangkan perkaranya adalah, gugatan terhadap Farhan atas dugaan perundungan, pencemaran nama baik, serta tindakan yang merugikan anak di bawah umur.
Tangannya perlahan menegang. Lembar berikutnya menampilkan identitas korban. DJ sana tertulis nama Mateo Roman dan Alisya Roman, keduanya adalah anaknya sendiri, dan itu membuat kedua mata Tara membelalak.
"Apa?"
Dadanya berdegup lebih cepat, dia kembali membaca seluruh isi berkas itu dari awal, memastikan dirinya tidak salah melihat. Klien yang harus ia bela adalah suaminya sendiri. Sementara, korban dalam perkara itu adalah kedua anak mereka, Tara menelan ludah pelan.
Di bagian akhir berkas, tercantum nama pihak tergugat beserta kuasa hukumnya. Farhan, nama itu membuat Tara membeku.
"Farhan..." gumamnya lirih.
Tatapannya berubah tajam, seakan berusaha mengingat sesuatu yang pernah terjadi. Nama itu terasa begitu tidak asing di telinganya.
Di balik pintu kamar mandi, suara air masih terus mengalir. Sementara itu, Tara tetap memandangi layar ponselnya, menyadari bahwa kasus pertamanya di De Luca Group ternyata langsung menyeret keluarganya sendiri ke dalam ruang sidang.
Belum sempat Tara mencerna seluruh isi berkas perkara itu, ponselnya kembali bergetar nama Maya terpampang di layar. Tanpa menunggu lama, Tara segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Maya."
[Tara, akhirnya kamu angkat juga.] Suara Maya terdengar lega, tetapi masih dipenuhi kecemasan. [Ada sesuatu yang harus kamu tau,]
Tara langsung duduk tegak, "ada apa?"
[Hari ini Mateo dan Alisya dibully di sekolah.]
Wajah Tara seketika memucat, "apa?"
[Iya, untung saja Tuan Kenzo datang tepat waktu. Kalau nggak, aku nggak tau apa yang akan terjadi.]
Jantung Tara berdetak semakin cepat.
[Tapi masalahnya nggak berhenti di situ,] lanjut Maya. [Akh dengar Tuan Kenzo memutuskan untuk menuntut pihak pelaku.]
Tara menoleh ke arah berkas perkara yang masih terbuka di layar ponselnya.
"Aku sudah membaca berkasnya."
[Kalau begitu kamu sudah tau siapa yang dituntut?]
Tara mengangguk pelan, meski Maya tidak bisa melihatnya.
"Iya, Farhan."
[Katanya dia juga salah satu pengacara terbaik kota ini, banyak orang yang kagum padanya. Tara kalau besok kasus ini naik, yang dihujat bukan keluarga De Luca tapi kamu. Karena, banyak orang yang tidak kenal kamu siapa, tetapi mereka tentu nggak akan berani menghujat keluarga De Luca,]
Tara terdiam, bukan keputusan Kenzo untuk menuntut pelaku yang membuatnya terkejut. Jika menyangkut keselamatan Mateo dan Alisya, ia tahu Kenzo tidak akan tinggal diam. Yang membuatnya benar-benar terguncang adalah satu nama itu, yaitu Farhan.
Nama yang selama ini berusaha ia lupakan.
[Tara?] panggil Maya pelan karena tidak mendapat jawaban.
Namun, Tara sama sekali tidak menyadarinya. Pandangannya kosong menatap layar ponsel, sementara pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan.
[Tara, kamu masih di sana?]
Tidak ada jawaban, lima menit telah berlalu sejak Maya terakhir berbicara. Panggilan itu akhirnya terputus dengan sendirinya, tetapi Tara masih terpaku di tempatnya, bibirnya bergerak pelan mengulang nama yang terus terngiang di kepalanya.
"Farhan..."
anknya di biarin aja
bini nya tangannya ga mau dilepas 🫣🤣🤣
dasar...mantan jomblo 40 th🙄
aku suka keributan ini
asal kau di sisi ku dan memegang erat tangan ku
semua akan baik baik saja 😍