NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik Tuan Mafia

Gadis Desa Milik Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vinna naa

Bagi dunia luar, Justin Devano Ardiansyah adalah perwujudan dari malaikat maut. Sebagai pemimpin tertinggi The Ardiansyah Syndicate, dia adalah pria berdarah dingin yang menguasai dunia bawah tanah ibu kota dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan darah, pengkhianatan, dan kemewahan yang hampa. Namun, sebuah konspirasi besar dan pengkhianatan anak buahnya membuat Justin terdesak, terluka parah, dan terdampar di sebuah desa terpencil yang jauh dari peradaban kota.

Di sanalah ia merangkak ke sebuah gubuk bambu milik Kimberly seorang gadis desa yatim piatu yang hidup sederhana sebagai penjual jamu tradisional keliling.

Kimberly tidak tahu siapa pria bertato naga yang sekarat di dapurnya. Yang dia tahu, pria itu membutuhkan pertolongan. Dengan ketulusan dan keberanian yang murni, Kimberly merawat sang mafia, menjahit lukanya dengan alat seadanya, dan memberikan ketenangan yang belum pernah Justin rasakan sepanjang hidupnya. Mata polos dan ketulusan Kimberly berhasil mencairkan gunun

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinna naa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Aroma Dapur Di Ruang Tengah

Sinar matahari pagi yang hangat perlahan menembus celah-celah gorden sutra di ruang tengah mansion Ardiansyah.

Waktu baru menunjukkan pukul delapan pagi. Suasana rumah terasa tenang, hanya diiringi suara kicauan burung dari arah taman belakang dan denting pelan peralatan dapur dari arah belakang.

Justin duduk di sofa kulit hitamnya yang besar. Wajahnya sedatar papan tulis, tanpa ekspresi, dengan sepasang mata elang yang menatap tajam ke arah layar laptop di pangkuannya.

Jari-jemarinya yang kokoh sesekali bergerak mengetikkan instruksi taktis untuk laporan pengapalan distrik utara.

Meskipun hanya mengenakan kemeja santai berwarna abu-abu gelap dengan kancing atas yang terbuka, aura intimidatif yang dingin tetap melekat kuat pada tubuhnya, pria itu adalah definisi dari ketegasan yang tak tersentuh.

Di seberang meja marmer, Kimberly duduk bersila di atas karpet bulu, gadis desa itu mengenakan pakaian rumahan yang bersahaja, rambut hitamnya digulung rapi ke atas menggunakan jepitan badai bermotif kayu.

Di depannya berserakan beberapa wadah plastik kecil, seikat daun serai yang baru dipetik, dan beberapa rimpang temulawak serta kunyit yang masih menyisakan sedikit tanah kering.

Dengan telaten, Kimberly menggunakan pisau kecil untuk mengupas kulit kunyit, sesekali jemarinya yang kuning karena getah tanaman itu mengusap hidungnya, meninggalkan coretan kecil berwarna jingga di sana.

"Mas Justin," panggil Kimberly tanpa menoleh, fokus memotong temulawak menjadi irisan tipis.

Justin tidak langsung menjawab, matanya masih menatap barisan angka keuangan di layar laptop, namun perhatiannya sudah terbagi sepenuhnya pada suara lembut istrinya.

"Ya?" jawabnya pendek.

"Minggu depan Danu ada libur semester pendek selama tiga hari. Dia tanya lewat pesan singkat tadi subuh, katanya boleh tidak kalau dia main ke mansion ini? Katanya dia kangen masakan rumah," ucap Kimberly, kini mulai mengikat serai menjadi simpul-simpul rapi.

Justin menghentikan gerakan jemarinya di atas papan ketik, dia mengalihkan pandangan matanya yang dingin ke arah Kimberly.

Wajah tampannya sama sekali tidak menunjukkan penolakan ataupun persetujuan yang berlebihan. Bagi seorang pemimpin tertinggi organisasi bawah tanah, membawa orang luar ke dalam kediaman utama selalu melibatkan protokol keamanan yang rumit, namun, Danu adalah keluarga Kimberly.

"Suruh Marco yang menjemputnya ke asrama minggu depan," ucap Justin dingin, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke layar laptop.

"Pastikan dia tidak membawa barang-barang yang tidak diperlukan ke rumah ini." Kimberly langsung mendongak, senyuman manisnya merekah instan hingga matanya menyipit.

"Iya, Mas. Terima kasih, ya. Nanti biar aku yang bilang ke Marco biar tidak usah pakai baju kaku seperti agen rahasia saat menjemput Danu. Kasihan anak orang bisa ketakutan di depan gerbang sekolah."

Justin hanya berdeham pendek sebagai respons, wajahnya tetap datar, tetapi di dalam dadanya, ada rasa hangat yang merayap setiap kali melihat binar kebahagiaan di wajah istrinya.

Waktu terus berjalan perlahan. Jam dinding besar berdentang menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit.

Udara di dalam ruang tengah mulai dipenuhi aroma khas rebusan herbal yang mulai menguar dari arah dapur belakang, tempat Bi Minah sedang merebus air gula jawa untuk campuran minuman herbal.

Tiba-tiba, langkah kaki yang ritmis dan berat terdengar dari arah koridor lobi depan. Marco melangkah masuk dengan setelan jas hitam formalnya yang kaku.

Pria bertubuh kekar itu berhenti tepat tiga langkah di samping sofa Justin, lalu membungkuk hormat dengan ekspresi wajah yang sama datarnya dengan sang bos besar.

"Tuan Besar," panggil Marco dengan suara berat yang teratur, nada suaranya penuh dengan rasa hormat dan ketegasan militer.

"Informan dari distrik barat baru saja mengirimkan laporan fisik mengenai pergeseran logistik di gudang penyimpanan nomor empat. Ada beberapa ketidaksesuaian data yang membutuhkan verifikasi langsung dari Anda."

Justin menutup laptopnya dengan ketukan pelan yang tegas, dia bangkit berdiri, postur tubuhnya yang jangkung seketika memberikan tekanan wibawa di ruangan tersebut.

"Kael sudah memeriksa alur finansialnya?"

"Sudah, Tuan. Kael menemukan ada keterlambatan pencatatan dari pihak ketiga," jawab Marco sigap, posisinya masih tegak berdiri menanti instruksi selanjutnya.

Justin mengangguk sekali. Pandangan matanya yang tajam kembali beralih pada Kimberly yang masih asyik dengan potongan kunyitnya.

Pria itu melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangannya yang besar untuk mengusap coretan jingga di ujung hidung Kimberly dengan ibu jarinya secara perlahan.

"Aku harus ke ruang kerja bawah tanah sebentar dengan Marco. Jangan ke mana-mana," ucap Justin dengan nada datar namun sarat akan proteksi yang mutlak.

Kimberly mendongak, menepis pelan tangan Justin sambil tertawa kecil.

"Iya, Mas. Ini juga kunyitnya sudah selesai aku kupas. Sebentar lagi aku mau ke dapur belakang untuk menyaring air rebusannya. Mas Justin jangan lupa minum air putih yang banyak di bawah tanah, di sana kan tidak ada ventilasi udara segar."

Justin tidak membalas dengan kata-kata, dia hanya memberikan tatapan mata yang dalam sebelum berbalik dan berjalan diikuti oleh Marco yang melangkah tegap di belakangnya menuju ruang kerja.

Jarum jam bergerak lambat, menunjukkan pukul sebelas siang, sinar matahari di luar rumah kaca kini terasa lebih terik, memantul di atas permukaan kolam renang besar di halaman belakang.

Di dalam dapur utama yang luas dan bersih, Kimberly sedang sibuk menyaring cairan berwarna kuning pekat dari panci stainless steel besar ke dalam beberapa botol kaca steril.

Bi Minah berdiri di sampingnya, membantu menyiapkan kain saring putih.

"Nyonya Besar, ramuan yang ini khasiatnya untuk apa?" tanya Bi Minah penasaran sambil mencium aroma segar yang menguar dari botol kaca.

"Ini jamu kunyit asam encer, Bi. Tapi sengaja aku tambahkan sedikit kayu manis dan kapulaga. Mas Justin itu kalau bekerja sering lupa waktu dan makannya tidak teratur. Ramuan ini bagus untuk menjaga dinding lambungnya supaya tidak kena maag karena keseringan minum kopi hitam pahit itu," jelas Kimberly dengan telaten, menyeka peluh kecil di pelipisnya menggunakan punggung tangan.

"Aduh, Nyonya... Tuan Besar itu beruntung sekali punya istri seperti Nyonya. Dulu, sebelum ada Nyonya di rumah ini, kalau Tuan Besar sedang stres mengurusi organisasi, ruang makan ini seperti kuburan. Tidak ada yang berani bersuara, dan makanan dari koki Perancis sering dibiarkan dingin begitu saja di meja," kenang Bi Minah sambil menggelengkan kepalanya perlahan.

Kimberly tersenyum kecil, menatap cairan kuning di dalam botol, dia tahu betul bagaimana suaminya menyembunyikan seluruh beban kekuasaannya di balik wajah datar yang dingin itu.

Dunia bawah tanah yang penuh darah dan intrik mungkin menjadi tempat Justin bertarung, tetapi di dapur ini, dengan ramuan sederhana dan ketulusan, Kimberly membangun benteng pertahanan untuk menjaga kesehatan pria itu.

Setelah selesai mengemas tiga botol jamu, Kimberly meletakkannya di atas nampan kecil bersama dengan dua gelas kaca bening yang diisi beberapa balok es batu kecil.

Dia berniat mengantarkannya langsung ke ruang kerja Justin, bagi Kimberly, seberapa kelam pun dunia di luar sana, Justin tetaplah suaminya yang membutuhkan segelas kesegaran di tengah hari yang gerah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!