Area 21+
🌸🌸🌸
"How damn you are Naraya."
Naraya terdiam cukup lama berdiri di balkon kamarnya, memandangi langit mendung dan memikirkan nasib hidupnya yang jungkir balik hanya dalam waktu semalam.
Tepat dihari kelulusannya diterima disalah satu Universitas ternama di kota A, Naraya harus menerima kenyataan pahit. Naraya akan dijodohkan dengan Harris. Padahal setahu Naraya, Harris adalah kekasih kakaknya sendiri yaitu Nadira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulanseptember, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Side Of Nadira
Naraya dan Harris sempat berciuman lagi di dapur saat mereka ingin mengambil minum. Harris yang sudah tau perasaan Naraya tak bisa lagi untuk menahan hasratnya. Jadilah didapur itu mereka bukannya bergantian minum, malah saling bertukar saliva.
Mereka berhenti ketika nafas sudah mulai habis. Sesaat setelah ciuman itu berhenti Harris buru-buru menarik Naraya keluar dari dalam apartemennya. Jika lebih lama lagi mereka berdua di apartemen entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dan disinilah mereka kini berada, didalam mobil Harris dalam perjalanan menuju rumah Naraya.
"Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan Cakra." Haris berucap dengan raut wajah tidak suka, ia masih mengingat dengan jelas foto-foto yang dikirimkan nomor baru itu.
Sedangkan Naraya, dia malah sebaliknya. mendengar kecemburuan Harris membuatnya melayang kemana-mana.
"Aku sama Cakra cuma temenan." Jawab Naraya dengan senyum yang terkulum.
"Tidak ada istilah teman antara pria dan wanita." Kukuh Harris.
Naraya mulai cemberut, sepertinya ini lebih dari kata cemburu, yaitu posesif.
Posesif adalah sifat yang membuat seseorang merasa menjadi pemilik. Dengan kata lain, orang dengan sifat ini merasa bahwa pasangannya adalah miliknya, sehingga ia akan melakukan apa pun agar tidak kehilangan pasangannya.
"Katanya harus saling percaya." Naraya mulai cemberut.
"Aku percaya dengan mu, tapi aku tidak mempercayai Cakra." Harris posesif.
Naraya semakin cemberut, Cakra adalah sahabatnya. Dia dulu sangat membenci wanita yang meninggalkan teman-temannya demi sang kekasih, bahkan Naraya mengutuk kelakuan seperti itu. Masa iya, sekarang Naraya kemakan omongannya sendiri?
Naraya mulai memikirkan bagaimana caranya agar Harris tetap mengizinkannya berteman dengan Cakra. Jika Naraya adalah Selena pasti ini hanya akan menjadi perkara yang mudah.
"Aku akan jaga jarak dari Cakra, tapi jangan suruh aku berhenti berteman dengannya." Ucap Naraya memelas. Setelah lama berpikir Naraya tetap tidak menemukan ide. Memohon sajalah, pikir Naraya akhirnya.
"Dengan satu syarat." Ucap Harris sambil menghentikan mobilnya. Kini mereka sudah sampai didepan gerbang rumah Naraya. Harris tidak mampir, karena itulah dia menghentikan mobilnya disini.
"Apa? mau peluk? mau cium? sini." Goda Naraya dengan senyum manisnya dan wajah yang ceria.
Harris hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Jika kita sedang berdua, panggil aku sayang." Ucap Harris serius.
"Sayang?" Ulang Naraya dengan wajah yang langsung berubah datar.
"Tapi kenapa cuma pas lagi berdua aja? Pasti Harris nggak mau Nadira tau. Gue beneran ngerasa jadi selingkuhan." Batin Naraya merana.
Melihat perubahan raut wajah Naraya, Harris tau bahwa kini pasti Naraya sedang berpikir buruk lagi tentangnya.
"Bukan karena Nadira, ku pikir kamu terlalu canggung untuk memanggilku sayang didepan semua orang." Jelas Harris.
"Tapi jika kamu ingin memanggilku sayang didepan semua orang aku tidak akan melarang, apalagi didepan Cakra." Ucap Harris dengan senyumnya.
Mendengar penjelasan panjang lebar Harris akhirnya senyum Naraya kembali. Sepertinya Harris bisa membaca pikiran orang, tebak Naraya.
***
Dua Hari lagi ujian semester ganjil di kampus ABC akan dilaksanakan. Naraya dan Nadira memang 1 jurusan di kampus itu, tapi mereka beda kelas. Jadwal ujian mereka banyak yang tidak sama, Hanya beberapa matakuliah saja yang memiliki jam sama.
Hari ini Nadira seperti biasa, setelah pulang kuliah dia akan mengurung dirinya sendiri di kamar untuk belajar.
Nadira ingin menjadi yang terbaik dikampusnya kini, dia ingin membanggakan kedua orang tuanya. Dan yang paling penting adalah menunjukkan kepada semua orang betapa tidak bergunanya Naraya.
Tes!
Satu tetes darah keluar dari hidung Nadira jatuh tepat diatas bukunya.
Nadira tidak terkejut sedikitpun, ini bukan yang pertama kali baginya. Semenjak dia SMA ini sering terjadi, apalagi penyebabnya jika bukan karena kelelahan. Malam tadi Nadira tidur larut malam, bahkan paginya pun dia melewatkan sarapan.
Bagi Nadira hidupnya hanya untuk dua hal, yang pertama ambisinya untuk mengalahkan Naraya dan yang kedua adalah memiliki Harris.
Dengan perjuangannya selama ini, ia yakin sudah mengalahkan Naraya. Nadira jauh lebih baik dari segi manapun dibanding Naraya.
Tapi memiliki Harris? itu masih menjadi tujuannya saat ini. Nadira ingin marah dan ingin sekali menunjukkan kekecewaannya saat pertama kali mengetahui perihal perjodohan Naraya dan Harris.
Tapi itupun tak bisa Nadira lakukan. Yang bisa Nadira lakukan hanyalah menunjukkan sisi baiknya didepan semua orang.
Jika Nadira marah dan kecewa ia hanya akan menyakiti dirinya sendiri. Ia tidak makan, tidak tidur dan hanya sibuk dengan buku-buku.
Hanya Grace lah sahabat satu-satunya yang bisa menerima Nadira sebagai dirinya sendiri, itulah yang masih disyukuri Nadira hingga kini.
Nadira berjalan perlahan ke arah meja hias untuk mengambil beberapa tissue. Setelah mendapatkan tissue, Nadira ingin mengambil minum yang sudah disediakan Renata tadi di atas nakas.
Namun baru beberapa teguk Nadira meminum air itu kepalanya terasa berdenyut sangat sakit, hingga tanpa sadar Nadira menjatuhkan gelas itu.
Pyar!
Nadira memegangi pinggiran tempat tidur untuk menyeimbangkan tubuhnya yang seperti akan ambruk.
"Tidak! Aku tidak boleh sakit! Aku harus belajar". Batinnya.
"Sayang, kamu kenapa nak?" Ucap Renata khawatir melihat keadaan Nadira.
Renata langsung membuka pintu kamar Nadira ketika terdengar ada barang yang pecah. Saat itu Renata sedang mengganti bunga segar di salah satu vas bunga lantai 2 rumahnya.
Dan betapa terkejutnya ketika ia melihat Nadira yang seperti menahan sakit. Keringat dingin dikeningnya tidak bisa ditutupi lagi.
"Raya!" Renata berteriak memanggil Naraya. Kamar Narayalah yang paling dekat dengan kamar Nadira.
"RAYA!" Ulangnya dengan suara yang lebih keras.
Mendengar teriakan Renata, Naraya langsung bergegas menghampiri kamar Nadira.
"Mami, Dira kenapa?" Cemas Naraya.
Renata dan Naraya pun saling membantu untuk membaringkan Nadira ditempat tidur. Karena terlalu cemas bahkan Renata dan Naraya tidak merasakan lagi kakinya yang tertusuk kecil pecahan gelas.
"Sayang kamu panggil bik Tum dibawah untuk membereskan pecahan gelas. Mami akan telpon Om Jonath." Perintah Renata dan Naraya menurut.
Om Jonat atau Jonathan adalah adik ipar Renata yang pertama, sekaligus menjadi dokter keluarga Kohler.
"Mami, Dira baik-baik saja. Mungkin dira hanya kelelahan." Ucap Nadira dengan suara yang sangat lemas.
"Iya sayang, tapi kamu harus tetap diperiksa om Jonath, beberapa minggu lalu kamu juga mimisan kan? lebih baik sekarang kamu menurut apa kata Mami." Renata mengelus sayang tangan Nadira.
Akhirnya Nadira menurut, Nadira juga yakin bahwa dia hanya kelelahan saja.
20 menit menunggu dan akhirnya Dokter Jonathan datang. Ia Memeriksa Nadira dengan sangat teliti.
"Kak, sebaiknya sekarang kita bawa Nadira kerumah sakit. Hanya pemeriksaan biasa saja, agar Kak Nata tidak terlalu kepikiran." Ucap Dokter Jonathan berusaha tenang.
"Tidak usah Om, Nadira baik-baik saja." Bela Nadira.
"Sayang, lebih baik kita menurut apa kata Om Jonath Nak." Renata mencoba memberi pengertian.
Naraya yang melihat keadaan Nadira seperti itu entah kenapa hatinya menjadi ngilu, sakit, sungguh dia tidak tega.
"Paksa aja Mi, dia kalo dibaikin nggak bakal mau." Ketus Naraya.
🌸🌸🌸🌸🌸
Hai hai hai reader ku zeyeeng bala otor sholeha, jangan lupa LIKE, FAVORIT, RATING 5 + VOTE yaa..
Ai Lap You, cium 😙😙
penasaran banget cerita Selena -Kris tapi knpa g lanut lagi kak??
horrang kaya mah bebas yah thorr..😁🤭