Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6.Kenzo Selalu Menegur, Anisa Selalu Melawan
Sejak pagi itu, suasana di dalam kelas XI-2 seolah berubah menjadi medan pertempuran yang tak bersenjata. Di mana pun Kenzo berada, di sanalah aturan ditegakkan dengan ketat tanpa ampun. Dan setiap kali Kenzo membuka mulut untuk menegur, hampir dapat dipastikan Anisa akan ikut bersuara, menyanggah, dan menentangnya. Seakan telah menjadi hukum alam yang tak tertulis: Kenzo selalu menegur, dan Anisa selalu melawan.
Pagi itu baru saja dimulai. Jam pelajaran belum berbunyi, namun Kenzo sudah berkeliling memastikan setiap siswa telah berdiri di tempatnya masing-masing untuk menyambut kedatangan guru. Ketika melihat Anisa sedang asyik merapikan buku di atas mejanya dan belum ikut berdiri, Kenzo segera melangkah mendekat dengan wajah yang sudah menampakkan ekspresi ketegasan yang biasa.
"Belum berdiri juga?" tegur Kenzo dengan suara rendah namun terdengar tegas di telinga Anisa. "Sudah bel masuk. Segera berdiri. Kamu ini selalu saja yang terakhir bergerak."
Anisa mengangkat wajahnya perlahan, menatap lurus ke arah mata Kenzo tanpa sedikit pun merasa takut atau segan. Tangannya masih sibuk menata buku terakhir ke dalam tumpukan, baru setelah itu ia berdiri perlahan sambil menatap balik dengan tatapan yang tak kalah tajam. "Aku baru saja merapikan buku yang jatuh, bukan sengaja lalai. Kamu lihat saja sepotong kejadian, lalu langsung menuduh seenaknya. Apakah adil begitu caranya?" jawab Anisa dengan nada tenang namun penuh ketegasan, seketika membuat Kenzo terdiam sesaat karena disanggah begitu saja di hadapan teman-teman yang lain.
Kenzo mengerutkan keningnya. "Aturan tetaplah aturan. Saat bel berbunyi, semua harus sudah siap berdiri. Alasan apa pun bukan pembenaran untuk melanggar ketertiban," ujarnya tak mau mengalah, mempertahankan sikapnya yang seakan selalu memegang kendali penuh.
"Aturan dibuat agar tertib, bukan untuk menindas tanpa melihat alasan yang sebenarnya," balas Anisa cepat. "Kalau semua orang menuruti perkataanmu tanpa berani bicara sedikit pun, bukankah berarti kita hanya seperti boneka yang digerakkan sesuka hatimu?"
Suara mereka yang saling bersilang pendapat itu sempat membuat beberapa teman di sekitarnya melirik ke arah mereka sambil menahan senyum. Sudah menjadi pemandangan yang lumrah pagi itu—dua orang yang tak pernah sejalan pikirannya, saling bersitegang di tempat yang sama. Kenzo menatap Anisa dengan napas yang tertahan, menahan kekesalan yang mulai kembali merembes di dadanya. Namun ia tak sempat menjawab lebih jauh karena guru wali kelas pun masuk ke dalam kelas tak lama kemudian.
Namun pertikaian mereka tak berakhir begitu saja. Saat jam istirahat tiba, Kenzo kembali menegur Anisa karena menaruh tasnya di atas laci meja yang menurutnya terlalu menonjol dan dapat mengganggu jalan yang dilewati teman-teman. Sekali lagi Anisa tak tinggal diam. "Tas ini tidak menghalangi siapa pun. Kamu hanya sengaja mencari-cari kesalahanku saja," katanya tegas sambil menggeser tasnya sedikit, bukan karena takut pada Kenzo, melainkan agar perdebatan itu tak berlarut-larut mengganggu orang lain.
Begitu saja terus berulang sepanjang hari itu. Saat Anisa sedikit berbicara dengan teman sebelahnya saat jam pelajaran kosong, Kenzo langsung menegur dengan wajah kaku. Dan Anisa pun pasti akan menyanggah bahwa suaranya tidak berisik dan tidak mengganggu siapa pun. Saat Kenzo meminta semua orang untuk membersihkan meja masing-masing sebelum pulang, Anisa justru menanyakan alasan di balik perintah itu yang menurutnya belum tentu tepat waktunya. Setiap kata yang keluar dari mulut Kenzo, seakan memiliki kekuatan untuk langsung memancing sanggahan dari bibir Anisa.
"Kamu ini... kenapa selalu saja melawan ucapanku?" tanya Kenzo suatu kali saat mereka berdua masih tertinggal di dalam kelas, sedang membersihkan papan tulis bersama sesuai jadwal piket. Suaranya terdengar lelah bercampur kesal, seakan tak habis-habisnya menghadapi gadis yang satu ini. "Aku menegur itu demi ketertiban bersama. Bukan untuk menyalahkanmu secara pribadi. Tapi kenapa setiap kali aku berbicara, kamu seakan sudah bersiap untuk menentang?"
Anisa berhenti sejenak mengelap papan tulis, lalu berbalik menatap Kenzo yang berdiri tak jauh darinya. Cahaya matahari sore yang mulai meredup menyinari sebagian wajah mereka, namun tak sedikit pun melembutkan ketegangan yang terasa di udara.
"Karena caramu menegur selalu dengan nada memerintah dan sikap seakan kamu paling benar sendiri," jawab Anisa jujur, suaranya terdengar tenang namun menusuk tepat sasaran. "Kamu menegur tanpa mendengar penjelasan lebih dulu. Kamu menyalahkan tanpa melihat keadaan yang sebenarnya. Jika saja kamu berbicara dengan cara yang lebih baik, mungkin aku pun tak akan merasa perlu untuk melawan. Tapi lihatlah dirimu, Kenzo. Selalu tinggi hati, selalu merasa paling benar. Siapa yang mau diam saja diperlakukan seperti itu?"
Kenzo terdiam mendengar penuturan itu. Kata-kata Anisa terasa seperti batu yang jatuh ke air tenang di hatinya, menimbulkan riak yang tak kunjung usai. Selama ini ia memang terbiasa dihormati dan dituruti perkataannya. Hampir tak ada yang berani menentang pendapatnya. Namun Anisa... gadis inilah yang pertama kali berani berdiri tegak di hadapannya, menatap matanya lekat-lekat, dan menyampaikan segala hal yang tak pernah dikatakan orang lain kepadanya. Meski kesal, entah mengapa Kenzo tak bisa sepenuhnya menyangkal kebenaran di balik ucapan Anisa.
"Aku..." Kenzo hendak berkata sesuatu, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan. Ia menatap wajah Anisa yang menunggu jawabannya dengan tatapan jujur dan tak berpura-pura. Namun rasa gengsinya kembali menguasai diri, membuatnya tak sanggup melontarkan kata maaf atau sekadar mengakui kemungkinan bahwa dirinya pun bisa keliru. "Sudahlah. Lanjutkan pekerjaanmu. Jangan sampai kita pulang terlambat karena terus berdebat seperti ini."
Kenzo pun berbalik pergi meninggalkan Anisa, melanjutkan tugasnya di sisi papan tulis yang lain tanpa menoleh lagi. Namun sejak saat itu, sesuatu berubah sedikit saja. Di dalam hati Kenzo, kini mulai tumbuh kesadaran yang enggan ia akui secara terang-terangan: bahwa Anisa bukanlah sekadar siswi yang suka melanggar aturan atau sengaja menentang perkataannya. Bahwa mungkin saja, caranya menegur selama ini memang terlalu kaku dan kurang memberi ruang bagi orang lain untuk menjelaskan.
Namun di permukaan, semuanya masih tetap sama. Kenzo tetaplah Kenzo yang selalu menegur dengan ketegasan yang tak berubah. Dan Anisa tetaplah Anisa yang selalu melawan dan menyanggah setiap kali merasa diperlakukan tidak adil. Seperti dua kutub yang tak akan pernah bisa bersatu, mereka terus saling bersilang pendapat setiap hari, tanpa menyadari bahwa dari pertikaian yang terus-menerus itulah, perlahan tumbuh kebiasaan untuk selalu saling memperhatikan satu sama lain.
BERSAMBUNG.....