NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno

Terlempar Ke Zaman Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Transmigrasi / Ruang Ajaib
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Jia Li adalah seorang dokter genius dari modern. Meski begitu, keluarganya sendiri tidak pernah menghargainya dan lebih menyayangi kakak laki-laki nya yang menjadi pengangguran.

Tepat setelah Jia Li selesai melakukan operasi. Sebuah tamparan menantinya di pintu keluar. Awal dari segalanya.

Jiwa Jia Li terseret ke zaman kuno, lebih tepat nya memasuki raga Lin Jia. Lin Jia adalah putri dari Kaisar Lin Dong dan selir kedua. Diam - diam di belakang Kaisar. Lin Jia di remehkan karena tidak memiliki Elemen apapun dalam tubuhnya.

Namun semua berubah saat jiwa Jia Li menempati raga Lin Jia. Berkat bantuan sistem dan ruang ajaib. Jia Li akan mengubah takdir Lin Jia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi Ketiga

Pagi itu, Aula Ruang Makan di dalam istana tampak begitu megah.

Di atas meja hidangan, uap tipis dari sup herbal dan daging sapi panggang masih mengepul hangat, namun kehangatan itu sama sekali tidak menyentuh hati orang-orang yang duduk mengelilinginya.

Semua mata tertuju pada Pangeran Lin Tian dan Putri Mahkota Lin Jia dengan tatapan tajam. Berbeda dengan Kaisar Lin Dong yang menatap keduanya penuh cinta dan ketulusan seorang Ayah.

"Pangeran Lin Tian, Putri Lin Jia... besok akan diadakan Hari Perburuan Agung Kekaisaran. Apakah... kalian berdua berniat untuk ikut serta?" tanya Kaisar Lin Dong, suaranya yang berat dan penuh wibawa bergema, seketika membuat semua yang berada di sana menghentikan kegiatan mereka.

Semua orang disana saling pandang, jelas tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Semua tau, jika Pangeran Lin Tian dan Putri Mahkota Lin Jia tidak pernah mengikuti hari perburuan Kekaisaran. Alasan nya? Tentu saja karena mereka tidak memiliki kemampuan apapun.

"Hari perburuan?" ulang Lin Jia, alisnya bertaut halus seraya menatap sang ayah dengan tatapan yang tenang.

Kaisar Lin Dong mengangguk pelan, tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum menjatuhkan informasi berikutnya. "Hutan Wanshou," tambah sang Kaisar singkat.

Putri Lin Zhu yang tadi sempat terkejut, segera meletakkan cangkir tehnya hingga menimbulkan suara berdenting tajam, lalu berdehem anggun sebelum membuka suara dengan nada yang dibuat selembut mungkin.

"Ayah, mohon maaf sebelumnya... tapi itu sepertinya ide yang... buruk. Hutan Wanshou bukanlah wilayah perburuan biasa, tempat itu jauh lebih berbahaya, dan aku hanya khawatir Kak Lin Jia akan terluka di sana. Hewan-hewan roh yang mendiami wilayah dalam hutan itu sangat ganas dan tidak mengenal ampun," kata Putri Lin Zhu seolah dia peduli.

Jika Putri Mahkota Lin Ju sejak awal sama sekali tidak bisa menyembunyikan ketidaksukaan serta kebencian mendalam pada Lin Jia, maka Putri Lin Zhu adalah kebalikannya—dia selalu terdengar manis dan penuh perhatian di permukaan, namun setiap kalimatnya menyimpan racun yang perlahan menikam dari belakang.

Melihat celah untuk menjatuhkan, Pangeran Lin Zhang pun mengangguk setuju dengan dagu yang terangkat angkuh.

"Perburuan nyata di medan liar jauh berbeda dari sekadar duduk di balik meja nyaman dan menyusun strategi perang... setidaknya," Pangeran Lin Zhang sengaja menjeda kalimatnya, memutar bola mata untuk menatap Pangeran Lin Tian dan Lin Jia dengan senyum meremehkan yang amat kentara. "Mereka yang memutuskan untuk menginjakkan kaki di Hutan Wanshou harus memiliki kultivasi yang matang dan menguasai lebih dari dua elemen dasar agar bisa bertahan hidup."

Kini giliran Putri Mahkota Lin Ju yang mengangguk anggun, melirik Ayahnya sebelum menimpali ucapan Pangeran Lin Zhang.

"Ayah, aku tentu tahu dan sangat menghargai fakta bahwa mereka baru saja berjasa besar bagi kekaisaran dengan menangkap komplotan pencuri tempo hari. Tapi jelas, menghadapi binatang roh yang buas dan monster mistis di Hari Perburuan adalah sesuatu yang sama sekali berbeda," cetusnya dengan nada merendahkan yang dibungkus kepedulian palsu.

"Ju'er benar, Ayah... jika mereka memaksakan diri untuk ikut, aku takut bukannya mereka yang membawa pulang hewan buruan. Sebaliknya, justru mereka yang akan berakhir mengenaskan dan menjadi santapan empuk bagi hewan roh di sana," sang Putra Mahkota Lin Dui menimpali, menyunggingkan senyum sinis yang penuh kemenangan, seolah-olah membayangkan nasib buruk kedua saudaranya itu adalah sebuah hiburan.

Suasana ruang makan mendadak mendingin saat Kaisar Lin Dong melayangkan tatapan tajam dan menusuk ke arah keempat anaknya yang baru saja bicara, seolah meminta mereka untuk tidak meneruskan lidah mereka bergerak lebih jauh.

"Kalian semua terlalu meremehkan saudara kalian sendiri," kata Kaisar Lin Dong dengan nada rendah yang dipenuhi rasa tidak suka yang amat jelas.

"Bukan maksud mereka untuk meremehkan, Suamiku... mereka hanya terlalu khawatir pada keselamatan saudara mereka," sela Permaisuri Li dengan cepat, menyentuh lengan Kaisar dengan gerakan membujuk yang anggun untuk meredakan amarah suaminya, meskipun di dalam lubuk hatinya, wanita itu sedang tersenyum sinis menyaksikan ketidakberdayaan dua anak selir itu.

Tak ingin ketinggalan momen, Selir Gu yang duduk tidak jauh dari sana juga ikut bersuara, "Lagipula, kita semua ini tahu, Yang Mulia. Pangeran Lin Tian dan Putri Lin Jia... sama sekali tidak memiliki keahlian elemen apa pun di dalam tubuh mereka."

Di tengah keriuhan perdebatan yang meremehkan itu, Lin Jia hanya terdiam. Ia duduk dalam ketenangannya yang dingin, mengabaikan tatapan merendahkan mereka. Tiba-tiba, sebuah suara berdengung nyaring dan sangat akrab berbunyi di dalam kepalanya.

(Ting! Misi ketiga diaktifkan!) seru suara sistem mekanis di dalam benaknya.

(Pergilah ke Hutan Wanshou... temukan Pohon Jiwa 1.000 tahun untuk melaksanakan sebuah keinginan.) lanjut suara misterius itu.

(Hadiah: Elemen Tanah aktif.)

Kedua sudut bibir Lin Jia terangkat membentuk senyuman tipis yang misterius. Mendapatkan elemen baru di dunia kultivasi ini adalah kunci untuk mengubah takdirnya. Ia mengangkat wajahnya, memandang sekeliling ruangan dengan tatapan yang jauh lebih tenang namun tegas.

"Terima kasih atas kepedulian kalian..." ucap Lin Jia, suaranya yang tenang berhasil memecah keheningan dan membuat seluruh pasang mata di ruangan itu menatap ke arahnya. "Tapi... aku juga ingin merasakan sesuatu yang... berbeda dan menantang. Aku akan ikut dalam perburuan itu."

Pangeran Lin Tian tertegun mendengar keberanian adiknya. Ia menatap lekat-lekat mata Lin Jia sebelum akhirnya ikut bersuara dengan tegas. "Aku juga akan ikut, Ayah! Aku tidak ingin menjadi pria yang lemah, terus dipandang sebelah mata, dan menjadi beban bagi keluarga ini."

Pernyataan tegas Pangeran Lin Tian membuat mereka tersentak. Mereka yang tadi sibuk merendahkan secara halus langsung tersedak ludah mereka sendiri, sama-sama berdehem canggung dan memalingkan wajah karena merasa tertampar oleh sindiran sang Pangeran.

Melihat kobaran semangat dan perubahan sikap dari kedua anaknya, Kaisar Lin Dong tentu saja merasa bangga dan senang. Meskipun ada sedikit rasa khawatir di lubuk hatinya, ia tersenyum lebar.

"Baiklah! Persiapkan diri kalian untuk hari perburuan besok!" titah Kaisar Lin Dong dengan nada mutlak, mengakhiri kalimatnya tanpa menerima bantahan.

1
Cty Badria
up lg ni hadiah /Rose/
Mydar Diamond
lanjuutt upnya mungkin calon suami masa depan telah di temukan🤔
Dewiendahsetiowati
apakah ini calon imam Lin Jia
Hendri Wirawan
bagus....lanjutkan
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Anonim
ceritanya bagus, masih awal tapi menarik buat dibaca. lanjut semangat yaaa/Determined//Rose/
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. semangat✍️👈😍☺
Ardella Ardellaarcell
lanjut
Dania
semangat tor di tunggu upnya
Ardella Ardellaarcell
lanjut kak bgus crita'y😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!