NovelToon NovelToon
Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Menikahi tentara
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.

Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.

"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."

Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

Ke Rumah Eyang

Pesan Keisha hanya terdiri dari dua kata.

Saya terima.

Arya membalas dengan alamat dan waktu, seolah sejak awal sudah tahu ia akan menyerah sebelum tiga hari berakhir.

Sore berikutnya, Keisha berdiri di samping mobil hitamnya di Bandung Utara sambil meremas tali tas. "Saya menerima jadi pacar bohongan, bukan calon istri."

"Saya mengerti."

"Satu bulan. Tidak lebih."

"Sudah dicatat."

"Dan uang muka biaya Mama ditransfer setelah pertemuan ini."

Arya menunjukkan layar ponsel. Bukti transfer sudah ada. Jumlahnya membuat Keisha diam beberapa detik.

"Saya membayar pekerjaan, bukan membeli kepercayaan," katanya.

Keisha memasukkan ponsel ke tas. "Bagus. Karena kepercayaan saya tidak dijual."

Mereka berlatih cerita selama perjalanan singkat menuju rumah. Pertemuan pertama di rumah sakit harus diubah menjadi versi yang pantas didengar keluarga.

"Kita bertemu saat Anda kontrol," kata Keisha. "Lalu bicara karena Anda pasien yang cerewet."

"Saya tidak cerewet."

"Anda bertanya soal gel lima kali."

"Karena dokter saya hampir mengoleskannya ke tempat yang salah."

Telinga Keisha memanas. "Bagian itu tidak perlu masuk cerita."

"Akhirnya kita sepakat pada sesuatu."

Mereka menetapkan bahwa Arya meminta nomor Keisha setelah kontrol kedua, lalu beberapa kali minum kopi. Tanggal dibuat sederhana. Tempat dipilih yang benar-benar mereka kenal. Tidak ada kisah cinta berlebihan yang mudah runtuh.

"Siapa yang menyatakan perasaan dulu?" tanya Keisha.

"Saya."

"Kenapa harus Anda?"

"Karena keluarga saya tidak akan percaya Anda mengejar saya."

Keisha menatapnya tajam. "Percaya diri sekali."

"Realistis."

Mobil berhenti di depan rumah berpagar tinggi yang dikelilingi pohon tua. Bangunannya tidak memamerkan kemewahan dengan kaca atau marmer berlebihan. Justru ketenangan, halaman luas, dan petugas yang membuka gerbang tanpa bertanya membuat Keisha sadar tempat itu bukan rumah orang biasa.

"Katanya keluarga Anda sederhana," bisiknya.

"Saya tidak pernah bilang begitu."

"Anda juga tidak bilang rumahnya punya lebih banyak kamar daripada bangsal rumah sakit."

Arya turun dan membukakan pintu untuknya. "Senyum. Kita sedang jatuh cinta."

"Saya ingin menaikkan tarif."

"Terlambat."

Di ruang tamu, Ratna duduk tegak dengan setelan lembut warna biru tua. Di sebelahnya, Eyang Menur yang sebelumnya hanya dilihat Arya melalui layar kini hadir dengan kebaya sederhana dan tatapan yang langsung menilai Keisha dari kepala sampai kaki.

Keisha memberi salam, lalu menyalami tangan keduanya dengan hormat.

"Jadi ini perempuan yang membuat cucuku akhirnya ingat jalan pulang?" tanya Eyang Menur.

"Namanya Keisha, Eyang," jawab Arya sebelum Keisha sempat membuka mulut. "Dia dokter di RSUD Bandung."

Ratna menatap putranya. "Kamu tidak pernah cerita."

"Bunda tidak pernah bertanya tanpa membawa foto Vanya."

Suasana menegang.

Keisha tersenyum tipis. "Kami memang belum lama dekat, Bu. Arya ingin memastikan dulu sebelum mengenalkan saya."

Jawaban itu bukan bagian dari latihan, tetapi Arya menerimanya tanpa perubahan wajah.

"Berapa lama?" Ratna mengejar.

"Tiga bulan," jawab Keisha.

"Empat," jawab Arya bersamaan.

Keisha ingin menendang kakinya.

Arya mengambil cangkir. "Tiga bulan sejak saya meminta nomornya. Empat bulan sejak pertama bertemu."

Kebohongan itu ditambal begitu mulus hingga Eyang Menur mengangguk puas.

"Siapa yang jatuh cinta dulu?"

"Arya," jawab Keisha cepat.

"Dia," jawab Arya pada saat yang sama.

Semua mata beralih kepada Keisha.

"Maksudnya," Keisha memperbaiki sambil tersenyum kaku, "dia yang bicara dulu. Saya yang lebih dulu sadar."

Eyang Menur tertawa. "Bagus. Perempuan harus berani mengakui perasaannya. Arya ini terlalu dingin. Kalau menunggu dia mencair sendiri, kamu keburu jadi nenek."

Untuk pertama kalinya Keisha melihat Arya tidak punya jawaban. Laki-laki itu hanya menghela napas dan menuangkan teh untuk Eyang.

Gerakan kecil itu membuat wajahnya tampak berbeda. Bukan pria menyebalkan di warung, melainkan cucu yang tahu persis berapa banyak gula yang boleh diminum neneknya.

Ratna belum luluh. "Keluargamu di mana, Keisha?"

Keisha menahan napas. "Mama saya dirawat lama di rumah sakit. Ayah angkat saya mengurus perusahaan keluarga."

"Dirawat karena apa?"

"Tidak sadar sejak kecelakaan empat tahun lalu."

Sorot Eyang Menur melunak. "Kamu yang menjaganya?"

"Iya, Eyang. Mama yang membesarkan saya. Sekarang giliran saya tidak meninggalkannya."

Ratna dan Eyang saling pandang. Keisha tidak tahu bahwa satu jawaban jujur itu jauh lebih meyakinkan daripada seluruh naskah cinta mereka.

Seorang pelayan membawa kudapan. Arya tanpa bertanya memindahkan piring gorengan pedas ke dekat Keisha dan menjauhkan kue terlalu manis dari Eyang. Ia hanya pernah melihat Keisha memilih gorengan pedas di warung, tetapi detail itu menempel di ingatannya.

Keisha meliriknya. Arya tetap menatap lurus.

Eyang Menur menangkap pertukaran kecil itu dan tersenyum.

Ratna belum selesai menguji. "Kamu tahu pekerjaan Arya membuatnya sering pergi?"

"Tahu, Bu. Dia bilang banyak dinas."

"Kadang tidak bisa memberi kabar. Kadang pulang hanya untuk pergi lagi."

Keisha melirik Arya. Bagian itu tidak ada dalam naskah, tetapi ia mengenal jenis kesepian tersebut. Jadwal jaga dokter juga tidak mengenal hari libur.

"Saya tidak akan meminta dia meninggalkan tanggung jawab," jawabnya. "Tapi kalau dia sengaja menghilang tanpa kabar, saya juga tidak akan diam saja."

"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Eyang Menur, tertarik.

"Mencarinya, memastikan dia selamat, lalu memarahinya setelah pulang."

Tawa Eyang pecah lagi. Bahkan salah seorang pelayan menunduk untuk menyembunyikan senyum.

"Cocok," putus sang nenek. "Arya butuh orang yang berani memarahinya. Semua orang terlalu takut pada wajahnya."

"Eyang," tegur Arya.

"Apa? Wajahmu memang seperti pintu besi."

Keisha menggigit bibir agar tidak tertawa. Arya menangkapnya dan menyipitkan mata.

Ratna memperhatikan mereka. Kekakuan di bahunya perlahan berkurang. "Kalau nanti ada masalah dengan Vanya, kamu akan bagaimana?"

Pertanyaan itu lebih tajam daripada yang lain.

Keisha menaruh cangkir. "Kalau masa lalu Arya benar-benar selesai, saya tidak punya urusan dengan Vanya. Kalau belum selesai, saya akan pergi. Saya tidak berebut laki-laki dengan siapa pun."

Arya menoleh penuh. Jawaban itu juga bukan akting.

"Sudah selesai," katanya, suaranya rendah dan tegas. "Tidak ada yang perlu diperebutkan."

Ratna akhirnya mengangguk, meski hanya sedikit. Keisha belum tahu apakah ia baru lolos ujian atau justru melangkah lebih jauh ke dalam jebakan.

"Kapan keluargamu bisa datang?" tanya Ratna.

Keisha hampir tersedak teh. "Datang untuk apa, Bu?"

"Bertemu keluarga kami."

"Kami baru berpacaran."

Ratna menekan tangan ke dadanya. "Bunda tidak tahu berapa lama lagi kesehatan Bunda bertahan. Bunda hanya ingin melihat Arya punya pendamping sebelum terlambat."

Arya menatap botol obat yang sengaja diletakkan di meja. "Bunda sehat saat memarahi saya tadi pagi."

"Sekarang Bunda lemah."

Eyang Menur menepuk lutut Ratna, tetapi bukannya menghentikan, ia justru memandang Keisha penuh harap. "Kalau niatnya baik, tidak perlu menunggu terlalu lama."

Keisha mencari bantuan pada Arya. Untuk pertama kalinya, pria itu tampak sama tidak siapnya.

Ratna mengambil keputusan sebelum siapa pun bisa menyela.

"Nggak usah pacaran lama-lama. Kita langsung lamaran saja."

Keisha dan Arya menoleh satu sama lain dengan keterkejutan yang sama.

1
paijo londo
Yee si mantan datang ngeclaim kalo Arya punyanya g malu tuh muka badak padahal udah ditolak ma Arya juga🤦🤦
paijo londo
asyiiik Keisha masuk ke sangkar emasnya Arya 😍😍😍moga2;g ada perceraian
paijo londo
ya ampun pertemuan pertama yg menggelikan bikin jantung bedebar🤭🤭🤭salah diagnosis lagi🤦🤦
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!